Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Mendonorkan Darah


__ADS_3

Cukup lama Bela dan Rangga menunggu, Tiba-tiba ada dua orang wanita datang menanyakan tentang anak kecil yang terlibat kecelakaan.


"Apakah salah satu dari mereka berdua adalah ibunya si anak itu?" Tanya Bela


"Mungkin saja." Jawab Rangga yang juga memperhatikan kedua wanita itu


Bela nampak tidak asing dengan keduanya, namun semakin kedua wanita itu mendekat semakin jelas wajahnya terlihat dan ternyata Bela mengenalinya


"Tante Reyna?"


"Kamu!"


Reyna dan Bela nampak terkejut.


"Apa anak itu..." Tanya Bela namun terpotong oleh tuduhan yang Naya lontarkan kepada Bela.


"Jadi kamu yang menabrak anak Reyna! Sudah berapa kali kamu ingin mencelakai anak Reyna, dulu saat dalam kandungan dan hari ini!"


Namun Rangga menjadi tameng untuk Bela. dia tidak ingin bela disalahkan seperti dulu lagi. jika dulu dia tidak hanya membela sekedarnya saja, maka kali ini Rangga akan membela wanitanya mati-matian.


"Jaga mulut kamu. Bukan kami yang menabraknya. Bela hanya menolong anak itu saja." Rangga mengeluarkan kata demi kata penuh penekanan. Membuat kedua wanita di hadapannya terperangah.


"Sudah nay, kita temui dokter dulu!" Ajak Reyna masuk ke ruang UGD.


"Orang tua anak itu sudah datang, lebih baik kita pulang!" Ajak Rangga menggenggam tangan Belan


"Tunggu sebentar Ngga!" Bela masih penasaran dengan kondisi anak itu dan memilih menunggu sebentar lagi.


Tak berapa lama Reyna keluar dari ruang UGD dengan wajah bingung. Di susul suster di belakngnya.


"Ibu harus segera menemukan darah yang cocok. karena stok di rumah sakit kami sudah habis."


Reyna pun tambah bingung setelah mendengar perkataan suster.


"Maaf sus, memang anak itu kekurangan darah apa?" Tanya Bela ketika Reyna sudah pergi.


"Darah AB. Ibunya bergolongan darah O jadi tidak bisa mendonorkan."


"Bagaimana dengan ayahnya?" Tanyanya lagi.


"Saya kurang tahu, tapi ibu tadi kebingungan mungkin suaminya sedang di luar kota!" Suster itu pun meneruskan langkahnya.


"Golongan darah kamu apa?" Bela melirik ke arah Rangga.


"Aku juga O" Jawab Rangga pelan.


"Sus....!" Panggil Bela lagi.


"Ada yang bisa saya bantu lagi?"

__ADS_1


"Ambil saja darah saya. golongan darah saya AB." Ucap Bela kepada suster tadi.


"Kamu yakin Bel?" Rangga sempat mencegah Bela karena Bela belum makan apapun.


"Iya aku yakin."


"Baik bu, mari ikut saya!"


Bela mengikuti suster menuju sebuah ruangan untu di ambil darahnya. Rangga tidak bisa mencegah kebaikan yang bela lakukan. Justru Rangga kagum namun sedikit cemburu. Dia cemburu karena anak itu adalah anak Agam.


Rangga sempat Ragu harus melihat ini dari sisi kemanusiaan atau sisi yang lainnya. Karena Rangga tahu betul Bagaiman Bela mencintai Agam dulu. Begitupun sebaliknya. Semoga saja yang dipikirkan semuanya salah.


"Sudah selesai? apa pusing?" Tanya Rangga merangkul Bela.


"Gak kok, Kita pulang yuk. sudah hampir sore!"


"Kita makan dulu, kamu belum sempat makan dan juga darah kamu banyak terkuras. pasti kamu saat ini lemas sekali."


Bela mengangguk, menyetujui ajakan makan Rangga, karena seperti yang rangga katakan, tubunya memang sangat lemas. dan dia butuh asupan makanan bergizi.


...※※※※...


Agam yang baru mendengar kabar tentang kecelakaan anaknya langsung datang ke rumah sakit menemui anak dan istrinya.


"Bagaimana kamu menjaga Arka sampai dia tertabarak mobil Rey?" Agam langsung memarahi Reyna yang tidak bisa menjaga anaknya sendiri.


"Aku tidak tahu, aku fikir Arka berada di samping aku!"


"Kenapa kamu selalu saja menyalahkan aku. seharusnya kamu saja yang mengajak Arka bermain tadi." Awalnya memang arka akan bermain dengan Agam, namun Agam tiba-tiba mendaptkan telphon dari kantornya.


"Terus kenapa kamu tidak mengabariku lebih awal. Jika darah kamu tidak cocok pasti darah aku yang cocok untuk arka!"


"Itu tidak mungkin mas. Kamu dan Arak...." Reyna punya alasan tersendiri mengapa tidak meminta Agam untuk mendonorkan darah.


"Kenapa aku dan Arak?"


"Maksud aku, kami akan lama menunggu kedatangan kamu. Lagi pula saat ini Arka sudah lebih baik!"


"Aku harus berterima kasih kepada oarang yang telah mendonorkan darahnya. siapa orang itu?"


"Aku tidak tahu siapa dia, kamu tanyakan saja ke suster yang menanganinya."


"Apa? kamu bahkan tidak tahu orang itu? kamu benar-benar tidak tahu berterima kasih Rey."


"Cukup, aku lelah selalu disalahkan kamu mas. lebih baik aku pulang. pusing aku mas!"


Reyna sudah sangat kesal selalu disalahkan Agam ia pun meninggalkan Arka bersama Agam di ruma sakit, sementara dirinya menenagkan diri pergi ke klub malam.


Agam sudah sangat lelah menghadapi Reyna. Dia tidak menyangka ada seorang ibu yang tega terhadap anaknya.

__ADS_1


"Sus, saya ingin tanya, siapa yang sudah berbaik hati memberikan darahnya untuk anak saya?"


"Seorang perempuan, namanya kalau tidak salah Bela, Tapi pak Agam tunggu sebentar saya cari berkasnya dulu."


Saat Agam mendengar nama Bela disebut Agam bergeming.


"Mungkinkah itu kamu Bel, malaikat penolong bagi Arka?"


"Ini pak silahkan di lihat." Suster memberikan berkas donor darah milik Arka.


"Bela Davinson" Ucapnya Lirih


"Iya pak, dia datang dengan menggendong Arka, dia terlihat sangat khawatir. Saya sempat mengira bahwa dia adalah ibu dari Arka. Karena perlakuannya seperti seorang ibu terhadap anaknya."


"Terimakasih sus!" Agam memberikan kembali berkas itu keoada suster.


"Jadi ternyata kamu Bel yang sudah menyelamtkan anakku! Ternyata selama ini kamu berada di sekitar aku."


Agam yang sempat mengira Bela sudah tidak ada lagi di sekitarnya mencari Bela kemana-mana, dan sampai saat ini pun dia belum menyerah, tapi nyatanya, Bela yang datang menghampirinya, seolah-olah mengatakan bahwa dia tidak akan berada jauh dari Agam.


Agam menatap anaknya yang tergelaetak lemah.


Agam merasa ada yang janggal dengan semua yang terjadi. Agam sangat tahu bahwa Golongan darah Bela adalah AB itu berarti Arka bergolongan darah sama dengan Bela. tapi kenapa tidak sama dengannya ataupun Reyna.


Agampun memutuskan untuk berkonsultasi kepada dokter tentang kejanggalan yang di rasaknnya.


Menurut dokter ada golongan darah yang sama sekali berbeda dengan orang tuanya, Mungkin Arka termasuk salah satunya. Agam pun di beri pemahaman menyeluruh tentang itu semua. Dan akhirnya dia percaya apa yang di katakan dokter.


"Maaf kan papa ya nak, bagaimana bisa papa meragukan kamu. sudah pasti kamu anak papa!" Ucap Agam mengusap kepala anaknya.


...※※※※...


"Kalian dari mana saja?" Tegur David saat anaknya baru saja datang dan hari sebentar lagi gelap


"Maaf pah, Bela harus siap-siap dulu." Bela langsung berjalan melewati David.


"Tunggu Bela. kenapa pakaian kamu berlumuran darah?" Tanya David lagi saat melihat pakaian yang bela kenakan.


"Tadi ada seorang anak tertabrak. Jadi kami harus membawanya ke rumah sakit." Rangga menjawab menggantikan Bela.


"Kalian menabrak seorang anak?"


"Tidak pah, kami hanya menolongnya saja.


"Syukurlah. Nak Rangga, lebih baik kamu segera pulang. Dan om tunggu kedatangan kamu sekeluarga di sini." Ucap David. karena biasanya menjelang pernikahan atau apapun yang bersifat sakral selalu ada saja masalah. mudaha-mudah itu tidak terjadi kepada keluarganya.


"Baik om, saya permisi dulu." Rangga pun oergi dari rumah Bela.


David sudah menyiapkan makan malam untuk menyambut calon besannya. dibandingkan dengan rencana pernikahan bersama Daniel dulu. David lebih antusias dengan rencana pernikahan Bela dengan Rangga. Karena David bisa mengaturnya sendiri.

__ADS_1


Meskipun Rangga bukan dari keluarga yang kaya raya. Tapi David sangat yakin Rangga bisa membuat Bela bahagia. Pemuda yang bertanggung jawab dalam pekerjaan, menjadi pengusaha muda berkat kerja kerasnya sendiri. Kurang apa lagi Rangga di mata David. Sudah pasti Rangga akan membina keluarganya dengan Baik.


__ADS_2