Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Cemburu


__ADS_3

Bela terbangunkan oleh suara dering handphonenya yang sedari tadi terus berbunyi. dengan mata yang masih mengantuk Bela melihat Hpnya, Ternyata yang sedari tadi menelponnya adalah Agam.


"Hallo Gam??" Dengan suara khas bangun tidur.


"Kamu baru bangun? maaf ya aku membangunkan kamu."


"Kenapa Gam, ini kan masih pagi?"


"Coba kamu buka jendela kamu!"


Bela turun dari kasurnya mengikuti arahan dari Agam. Dia membuka gordeng jendelanya dan melihat Agam yang melambaikan tangan kearahnya. Bela pun tersenyum melihat Agam yang sangat bersemangat di pagi hari.


"Gam, ngapain kamu di depan rumahku sepagi ini?" Tanya Bela penasaran. Tapi di dalam hatinya sangat senang, mengawali pagi harinya dengan melihat wajah lelaki yang di cintai.


"Aku ada perlu dengan David, tapi sebelum menemuinya aku ingin melihat kamu dulu."


Langsung saja Bela mematikan Hpnya lalu berlari keluar rumah.Karena masih pagi hari Bela tidak khawatir jika David mengetahuinya, karena David pasti masih di dalam kamarnya.


"Masuk!" Agam membukakan pintu mobilnya.


"Aku masih ngantuk Gam." Keluh Bela manja kepada Agam.


"Kamu bisa tidur sebentar di sini?" Agam membawa kepala Bela bersandar di pundak kirinya.


"Kamu sangat cantik." Ucap Agam sambil membelai rambut Bela.


"Apa sih Gam, aku belum mandi tau...."


"Ya justru itu, kamu sangat cantik ketika tidur bahakan sampai kamu bangun pun masih tetap sangat cantik."


"Ah... kamu gombal Gam." Bela tersipu mendapatkan pujian dari Agam.


"Gam, ikut aku. kita keluar dari sini." Ajak Bela, merekapun keluar dari mobil Agam.


"Mau kemana?" Tanya Agam yang penasaran.


"Ayo... sebelum papa keluar kamarnya." Tarik Bela, agar Agam cepat mengikutinya. Tidak ada yang bisa Agam lakukan kecuali mengikuti kemana Bela akan mengajaknya, dengan harapan David tidak akan muncul tiba-tiba dan mengetahui ini semua.


"Silahkan masuk..!" Bela membukakan pintu kamarnya, membiarkan lelaki dewasa masuk kedalam kamarnya. Agam adalah laki-laki pertama selain papanya yang masuk kedalam kamar Bela.


"Ini kamar kamu?" Agam melihat ke sekeliling kamar yang sangat besar, bahkan kamarnya pun tidak sebesar ini.


"Lucu..." Ucap Agam kepada fhoto Bela saat SMP.


"Agam sini, kembalikan..." Bela yang menyadari fhotonya di ambil Agam memaksa Agam untuk mengembalikannya, dengan meraih fhotonya yang sengaja di angkat tinggi oleh Agam.


"Gak akan." Ucap Agam menjahilinya.


"Ayolah Agam... " Bela yang tidak mau kalah terus meraih foto di tangan Agam dengan sedikit meloncat.


"Aku ingin foto ini, Boleh kan?"

__ADS_1


"Terserah kamu!" Akhirnya Bela mengalah dan membiarkan fhotonya di miliki Agam.


"Gam...." Panggil Bela memecah keheningan suasana di kamar itu l.


"Ada apa?"


"Reyna pernah mengatakan, kalau kalian berpisah kamu pasti kehilangan perusahan yang telah kamu besarkan sendiri?" Bela mengutarakan yang di fikirkannya akhir- akhir ini.


"Kapan Reyana mengatakan itu semua? Lebih baik kamu jangan fikirkan omongan Reyna." Agam berjalan mendekaat ke arah Bela yang duduk di atas kasur.


"Gam, aku mau kamu mengatakan kebenarannya." Bela meraih tangan Agam yang berdiri di depanya, menatap kedua matanya meminta Agam lebih jujur kepadanya.


"Iya, yang Reyna katakan benar. Tapi kamu tidak usah khawatir, aku sudah siap kehilangan perusahaan itu, itu hanya sebgaian dari perusahaanku, masih ada bisnisku yang lainnya." Agam duduk bersimpuh di depan Bela.


"Apa kamu tidak akan menyesalinya?"


"Untuk apa aku menyesal. Karena di balik semua itu ada kamu Bela. aku tidak mungkin menyesal memilikimu. justru aku bahagia."


"Gam, jika papa menentang hubungan kita, apa yang akan kamu lakukan?" Bela kembali memberikan pertanyaan yang sulit kepada Agam.


"Aku akan memperjuakan kamu Bela.sampai David merestui kita." Agam mencium kedua tangan Bela.


Bela memegang kedua pipi Agam, menatap lekat lelaki yang di cintainya


"Jangan pernah meninggalkanku Gam, meskipun aku yang memintanya."


"Aku tidak akan meninggalkan mu Bela. Apapun yang terjadi aku selalu ada untuk kamu." Agam dan Bela mendekatkan bibirnya, menyatukan semua rasa cinta dan kerinduan. perasaan cinta yang tulus dirasakan oleh keduanya. rasanya tak ingin menyudahi ini semua. Tapi, mengingat matahari semakin menaik, Bela menarik Bibirnya hingga terlepas dari penyatuan.


"Gam, sepertinya papa akan keluar dari kamarnya." Bela sedikit panik. Agam pun merapihkan bajunya dan bersiap menemui David.


...※※※※...


Hari ini adalah pengumuan hasil UAS, Bela sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil jerih payahnya selama ujian kemarin.


"Bel loe udah liat papan pengumuman?" Teriak Maya begitu melihat Bela.


"Belum, udah ada? Tanya Bela, karena sedari tadi


dirinyapun sedang menunggu.


"Udah, ayo..." Maya menarik tangan Bela sampai kedepan papan pengumuman yang sedaahg di kerumuni mahasiswa lainnya.


"Selamat Bela... loe dapat Nilai A." Teriak Maya lagi, saat melihat nama Bela ada di urutan teratas.


"Masa..." Bela tak percaya, meskipun dirinya sudah memperkirakan tapi tetap dia tidak percaya sebelum melihatnya langsung. Lalu Bela menerobos beberapa mahasiswa untuk melihat langsung namanya.


"Betul may... aaahh gw seneng banget, kalau loe may?" Bela kembali melihat papan pengumuman untuk melihat nama shabatnya.


"Makanya may, loe lebih giat lagi belajarnya!" Saran dan nasehat Bela setelah melihat hasil UAS Maya.


"Iya, cerewet deh..." Jawab Maya dengan bibir cemberutnya.

__ADS_1


Tring....


Tiba-tiba Hp Bela berbunyi. Ternyata Bela mendaptkan pesan whatsapp dari nomor yang tidak dia kenal.


Hai Bela, ini no aku, Daniel. Bisa kita ketemu siang ini, aku tunggu kamu di cafe xxx.


Ternyata itu adalah nomor Daniel. Bela langsung membalas pesan whatsappnya.


Kamu dapat no aku dari siapa? Kebetulan hari ini aku gak bawa mobil. Apa kamu bisa jemput aku di kampus? Aku tunggu di depan gerbang kampus.


"May, gw duluan ya, kebetulan gw ada janji." Izin Bela kepada Maya.


"Oke Bel."


Bela bergegas menuju depan gerbang kampusnya menunggu Daniel. Bela merasa Daniel adalah sosok laki-laki yang asik di ajak mengobrol. Bela bisa menjadikan Daniel teman curhatnya seperti Maya, tapi versi laki-lakinya.


Tak lama sebuah mobil putih berhanti tepat di sampingnya. Kemudian Daniel keluar dari dalam mobil menghampiri Bela.


"Hai, nunggu lama?" Daniel menghampiri Bela lalu membukakan pintu mobil untuk Bela.


"Gak kok," Jawab Bela sambil masuk kedalam mobil Daniel.


Tanpa Bela sadari, ada Agam yang melihat Bela bersama Daniel masuk kedalam mobil. Rencannya Agam akan memberi kejutan kepada Bela. Dia datang untuk menjemput Bela tanpa sepengetahuan Bela. dan ternyata yang Agam lihat sesuatu yang sangat Agam Benci. Yaitu Bela masuk kedalam mobil laki-laki lain.


Agam memutuskan untuk memgikuti kemana Daniel membawa Bela pergi. Dan ternyata mereka berhenti di sebuah cafe.


Agam melupakan pekerjaannya, dia kembali menunda rapat untuk bisa melihat Bela dengan Daniel.


Sudah 30 menit berlalu Agam masih saja memata-matai Bela dari kejauhan.


"Apa yang kalian Bicarakan? Ayo Bela pergi dari situ, mengapa lama sekali kalian mengobrol. Aku tidak suka melihat kamu tertawa di depan laki-laki lain."


Agam semakin geram dengan pemandangan yang sedari tadi di lihatnya.Lalu Agam turun dari mobil, Kemudiam masuk kedalam cafe untuk menghampiri Bela dan Daniel.


"Bela..." Panggil Agam menghampiri meja yang di tempati Bela dan Daniel.


"Agam, sedang apa kamu di sini?" Tanya Bela yang merasa aneh dengan kehadiran Agam yang mendadak.


Merasa tidak enak hati dengan Daniel, Bela menarik tangan Agam untuk menjauh dari Daniel.


"Apa kamu mengikutiku Gam? apa yang sebnaranya kamu lakukan di sini?" Tanya Bela yang sedikit kesal.


"Harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu pergi berdua dengan Daniel?"


"Apa aku harus menjelaskan semua yang aku lakukan dan dengan siapa aku pergi? Kamu tidak bisa seperti ini Gam. Aku hanya makan siang bersama. lagi pula ini hari terakhirnya disini."


"Apa hubungan kalian sedekat itu sampai mengadakan acara perpisahan?" Tanya Agam yang menambah Bela semakin kesal. Tidak biasanya Agam seperti ini.


"Aku tidak mengerti dirimu Gam. kamu seperti anak kecil." Uacp Bela terlontar begitu saja.


Bela pergi meninggalakan Agam dan kembali menemui Daniel.

__ADS_1


"Maafkan aku Dan, lebih baik kita pergi dari sini!"


Bela menarik tangan Danie meninggalkan cafe itu Daniel hanya menurut mengikuti Bela dengan kebingungan, Daniel mulai curiga bahwa ada sesuatu antara Bela dengan Agam. Tapi Daniel tidak berani mempertanyakannya, Dia akan menunggu sampai Bela menceritakan kepadanya.


__ADS_2