
Semalam Jery mengurung dirinya di kamar, dia bingung keputusan apa yang akan diambilnya, apakah dia pura-pura tidak tahu, atau menceritakan semua yang dia tahu kepada Agam.
Bela yang selama ini dia kenal adalah Bidi wanita yang sangat di cintai sahabatnya. dan lagi Bidi sudah menikah, itu artinya Bela sudah menikah karena mereka adalah orang yang sama, cincin yang melingkar di jarinya ternyata cincin pernikahan. Tapi Julie tidak pernah menceritakan apapun tentang Bela.
"Apa aku harus menceritakan ini semua kepada julie dulu atau aku langsung saja memberi tahu Agam?"
Jery khawatir,Jika Agam tahu Bahwa Bela ada di perusahannya, apakah dia akan bahagia atau itu menambah luka di hatinya.Jery sangat di buat pusing dengan kenyataan yang ada.
tok...tok...tok...
Jery mengetuk pintu kamar Agam, ia memutuskan untuk menceritakan semua yang diketahuinya kepada Agam.
"Gam, udah tidur?" Tanya Jery di depan pintu.
"Ada apa?" Agam membuka pintu dan langsung menanyainya.
"Bisa bicara, sebentar!" Jery berusaha tenang untuk mulai bicara kepada Agam.
"Kenapa Jer, kok tegang gitu?"
"Eeemmm.... gini gam," Tiba-tiba Jery ragu, dia merasa keputusannya adalah salah.
"Ugh... sorry gam, gak jadi, aku lupa!" Jery tidak bisa memberitahu Agam, dia akan memastikannya terlebih dahulu. bisa saja itu semua salah.
"Jer, jery....!" Agam mengerutkan keningnya, dengan tingkah Jery yang aneh.
Setelah membatalkan niatnya untuk mengungkapkan kepada Agam, Jery mengambil kunci mobilnya, Dia akan menemui Julie untuk meminta saran dari kekasihnya itu.
Jery memijit Bel begitu sampai di depan pintu apartemen Julie.
"Jery, ini jam berapa?" Julie membukakan pintu sambil mengomel, karena kedatang Jery ditengah malam.
"Sorry, tapi aku tahu kamu belum tidur!" Tebak Jery, kebiasaan kekasihnya ini selalu tidur dini hari.
"Ya, memang aku belum tidur!" Julie mengiyakan, karena Jery paling tahu kebiasannya.
Julie berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, tentu saja Jery duduk sambil memainkan remot tv.
"Sayang, seberapa dekat kamu dengan Bela?" Tanya Jery.
"Hhhmmm...cukup dekat untuk berbagi Rahasia. Ada apa dengan Bela? Ada yang kamu sembunyikan?" Tanya Julie sambil memberikan minuman yang ada di tangannya.
"Kamu ingat, dulu aku pernah bilang saat pertama kali melihat Bela?"
"Ya, kamu bilang kalau Bela nampak tidak asing, kamu pernah lihat dia sebelumnya. dan hari itu juga aku sangat cemburu mendengarnya!"
"Ya pasti kamu ingat hari itu!" Hari itu Jery dan Julie sempat bertengkar.
"Memangnya kenapa? kamu ingat sesuatu tentang Bela?"
"Ya, sekarang aku ingat dimana aku pernah bertemu dengan Bela. Aku Bertemu saat dia menjemput Agam yang sedang mabuk."
__ADS_1
"Waw... itu berarti mereka ada hubungan? atau Bela adalah wanita yang selama ini Agam cari?" Tanya Julie semakin menyimak ucapan kekasihnya.
"Ya, dan Agam sangat mencintai wanita itu. dan ajaibnya Bela berada di sekitarnya."
"Lalu apa masalahnya sayang?"
"Masalahnya, aku bingung apakah harus mengatakan sejujurnya, atau biarkan takdir sendiri yang mempertemukan mereka?"
"Menurutku, serahkan semua pada takdir. Masalah Agam marah atau tidaknya bagaimana nanti saja!"
"Tapi ada satu hal lagi, wanita yang Agam cari sudah menikah. Apa Bela juga sudah menikah?"
"Lebih tepatnya hampir menikah."
"Hampir menikah?"
"Aku gak bisa kasih tahu kamu, aku harap kamu ngerti!" Julie tidak bisa mengatakan lebih jauh lagi, dia berjanji untuk merahasiakan semuanya.
"Aku ngerti, aku hanya memastikan saja, wanita itu adalah Bela."
...※※※※...
Suasana di ruangan Julie sangat tenang, semua anggota tim sedang membuat laporan tentang rencana pekerjaan untuk awal tahun baru. Mereka diminta untuk memberikan ide-idenya.
"Selamat pagi semua!" sapa Agam
Semua karyawan mengalihkan padangannya kepada bosnya yang datang menyapa, mereka tersenyum seraya membalas sapaan Agam.
"Julie, apa semua tim hadir?"
"Maaf pak, ada satu orang yang izin datang terlemabat!" Agam melirikan matanya ke kursi kosong di pojok ruangan ini.
"Baiklah!"
"Oke semuanya, karena saya sangat puas dengan laporan tim pemasaran untuk tahun ini. bagaimana kalau kita makan malam bersama!"
"Yeeeyyyyyy.....!!!"sorak sorai semua karyawan di sana.
"Julie, kamu atur semuanya!"
"Baik pak!"
Agam pergi meninggalkan ruangan Julie, dengan wajah kecewa.
Tak lama dari kepergian Agam, Bela masuk dengan masih mendengar sorak gembira dari dalam ruangan.
"Ada apa?" Tannyanya kepada rekan sebelahnya.
"Nanti malam kita semua akan makan malam tim. pak Agam langsung yang mengajak." Bela terdiam, merasakan setiap sendi di tubuhnya mengejang, mendengar namanya di sebut selalu saja membuat reaksi tak terduga di tubuhnya.
"Kamu harus ikut Bel, oh iya, kamu harus tahu satu hal, bos kita masih jomblo!" Ucap rekan kerjanya girang.
__ADS_1
Bela yang sedari tadi masih menyimak pun kaget dibuatnya.
"Jomblo?" Tannya seolah meyakinkan apa yang di dengarnya.
"Iya. Tapi ingat, kamu sudah tunangan loh!" Rekannya menyorot tajam Bela. Dia memperingatkan Bela akan statusnya.
Semua rekan timnya tahu bahwa Bela sudah bertuangan satu tahun lalu, namun mereka hanya tahu sebatas itu, cincin yang melingkar di jarinya hanya alasan Bela untuk setiap laki-laki yang ingin mendekatinya.
Bela benar-benar tidak fokus bekerja, dia memikirkan makan malam nanti, dia merasa tidak siap, dia takut jika harus bertemu pak Agam. Namun Bela selalu meyakini dirinya bahwa bosnya adalah orang yang berbeda dengan Agam yang selama ini dia kenal.
"Bela, tolong berikan berkas ini kepada pak Jery!"
"Baik bu!" Suara Julie memecahkan lamunan Bela. dia pun bergegas mengambil berkas di Meja atasannya itu.
Bela berjalan menuju ruangan Jery, sampailah Bela di persimpangan, Bela melangkahkan kakinya berbelok kearah kanan, sedangkan ruangan Jery ada di sebelah kiri. Bela berjalan perlahan mendekati Ruangan bertuliskan CEO. Dia tidak ingin terus-memerus merasa gelisah. Dia harus melihat langsung apa dia Agam yang selama ini di hindarinya atau hanya Agam dengan nama yang sama.
Bela mendekatkan matanya ke arah kaca kecil yang ada di pintu itu, mengintip siapa sosok Agam di dalam ruangan. Jantungnya berdetak kencang, khawatir ada yang memergokinya, Bela kembali melihat sekeliling, setelah dirasa Aman dia kembali mefokuskan pandangannya,dengan memicingkan sebelah matanya, Bela berusaha melihat wajah di balik berkas yang menghalngi pandangannya.
"Bela, apa yang kamu lakukan?" sontak saja Bela terkejut mendengar namanya di panggil dari arah belakang.Bela membalikan badan dan menunduk merasa bersalah dan juga malu.
"Hhmmm... Ma-af pak," Jawabnya terbata-bata, dengan mata terpejam Bela mencoba mengatur nafasnya.
"Ini saya mengantarkan Berkas untuk pak Jery." Tanpa menatap langsung ke arah Jery Bela memberikan berkas yang tadi di perintahkan Julie.
"Saya permisi." Bela ingin sekali menghilang dari hadapan Jery, Bela tak kuasa mengangkat wajahnya yang memerah. jika saja dia bisa mengulang waktu, dia tidak akan melakukan hal memalukan tadi.
"Bela tunggu!" Bela menghetikan langkahnya.
"Ikut ke ruangan saya!"
Mau tak mau, suka tidak suka, Bela mengekori Jery dari Belakang.
"Bisa jelaskan, sedang apa kamu di depan ruangan CEO?"
"Maafkan saya pak, sepertinya saya tidak menyadarinya, saya pikir itu ruangan anda!"
"Kamu disini sudah satu tahu, tapi kamu tidak juga hapal dimana letak ruangan saya?"
"Saya minta maaf pak, sepertinya saya salah belok!" Alasan-alasan yang tidak masuk akal di lontarkan Bela.
Jery memahami mengapa Bela seperti itu, dan dia semakin yakin bahwa Bela yang ada di hadapannya adalah Bidi yang selama ini Agam cari.
"Baiklah, silahkan kembali!"
"Permisi pak!"
Bela merutuki kebodohannya, dia tidak menyangka akan ada Jery di belakangnya, kalau saja tidak ada, pasti bela sudah tahu sosok CEO misterius itu.
Sedikit kesal entah karena Jery atau karena dirinya sendiri, Bela menuju pantry untuk menenangkan dirinya. Bela berjalan menunduk memasuki pantry, mendartkan tubuhnya duduk di kursi, dan juga membenamkan wajah dia atas meja.
Dia tidak menyadari ada seseorang yang tengah berdiri memperhatikannya sejak ia masuk ke dalam pantry.
__ADS_1
"Ternyata Benar itu kamu, kamu selalu ada di jangkauanku!"