
Bela dan juga David sedang menunggu kedatangan Rangga beserta keluarganya. Bela menunggu dengan perasaan takkaruan, jantungnya berdebar kencang tatakala suara mobil berhenti di depan rumahnya.
"Itu pasti mereka!"Ucap David berjalan keluar rumah menyambut kedatangan calon besannya.
"Selamat Datang Bapak dan ibu wijaya!" Ucap David menyambut keluarga Rangga.
"Selamat Malam Pak David" Ucap Pak wijaya membalas sapaan David.
"Silahkan masuk Pak, Bu! Bela juga berusaha seramah mungikin, dia tidak ingin dianggap calon menantu yang tidak punya sopan santun.
David mempersilahkan tamunya untuk masuk dan duduk di ruang tamu, sebelum mereka makan malam. David ingin mengetahui calon Besannya terlebih dahulu dengan obrolan-obrolan santai.
"Apa kabar pak Rt, bu Rt!" Tanya Bela kepada kedua orang tua Rangga.
"Kabar Baik Nak. Tapi apa kamu akan memanggil kami dengan pak, bu Rt?" Jawab Ibu Rangga menggoda Bela.
"Iya Nak, Bapak jadi ingat ketika dulu kamu datang ke desa. Lebih baik panggil kami ibu dan bapak saja, seperti Rangga memanggil kami." Timpal Pak wijaya berkomplot bersama istrinya menggoda Bela.
"Iya pak maaf, Bela hanya sudah terbiasa." Jawab Bela menundukan kepalanya, dia merasa malu. Karena pak Rt memang senang bercanda.
"Betul itu kamu harus mulai membiasakan dengan panggilan itu. Dan juga nak Rangga harus mulai memanggil saya papa!" David tak mau kalah dengan orang tua Rangga. setidaknya dia juga ingin di panggil papa oleh Rangga yang sebentar lagi akan menjadi anak laki-lakinya.
"Baik pah!" Jawab Rangga canggung.Namun tepat di sampingnya terdengar suara tawa keluar dari mulut Bela.
"Hhaaa...." Suara tawa renyah Bela yang langsung disuguhi dengan Bibir rangga yang cemberut.
"Kalau melihat kalian begini, rasanya bapak tidak percaya. Karena dulu Rangga selalu saja marah kalau melihat nak Bela!"
"Iya, ibu juga sampai tidak mengerti mengapa Rangga seperti itu!"
Rangga tertunduk malu saat orang tuanya mengingatkan kenangan yang ingin dilupkannya.
"Apa ada hal semacam itu?" Tanya David penasaran.
"Iya pah, itu waktu kami belum saling mengenal!"
"Kenapa nak Rangga bisa seperti itu?" Tanya David lagi, seolah belum puas dengan jawaban yang bela berikan.
"Apa harus Rangga ceritakan? Padahal Rangga sangat menyesal sering marah-marah ke wanita cantik sebelah Rangga ini!" Jawab Rangga mengeluarkan pujiannya.
"Perlu ibu dan bapak tahu, pada saat itu Bela selalu mengusap dada setiap Rangga selesai marah-marah dan bertanya kepada diri sendiri. Tapi Bela sama sekali tidak tahu kesalah Bela di mana. Sampai pada suatu malam Rangga menceritakan alasannya. Dan Bela mengerti kenapa Rangga seperti itu." Bela menceritakan sekilas tentang perasaannya dulu.
"Maaf ya sayang. Aku benar-benar menyesal!" Ucap Rangga mengusap kepala Bela lembut.
"Rangga memang anaknya selalu berbicara apa adanya. kalau dia tidak suka pasti dia akan mengatakannya. begitu juga sebaliknya.
"Iya saya mengetahui itu.Dari cara Rangga melamar anak saya, sudah terlihat bahwa Rangga sosok yang jujur dan apa adanya."
"Saya sebagai orangtua Rangga sangat berterimakasih, karena pak David sudah mau menerima anak saya dengan segala kekurangannya untuk bersanding dengan Bela, yang pastinya sangat berharga untuk pak David."
"Justru karena Rangga, saya tidak khawatir untuk melepaskan anak saya. Saya yakin anak bapak dan ibu bisa membahagiakan anak saya."
"Saya pun merasakan demikian, saya yakin Bela juga bisa membahagiakan Rangga."
__ADS_1
"Untuk waktu pernikahan apakah ibu dan bapak punya permintaan khusus?" Tanya David mulai kearah pembicaraan serius.
"Tidak ada, kami serahkan itu semua kepada Rangga dan juga Bela!" Jawab orang tua Rangga melirik ke arah Rangga dan juga Bela.
"Bagaimana kalian sudah mempunyai tanggal yang spesial?" Tanya David yang juga memfokuskan pandangan kepada kedua sejoli yang saling bertatapan.
"Belum pah?" Jawab Bela yang masih menatap mata Rangga, karena mereka sama sekali belum menentukan waktu yang pas.
"Baiklah, bagaimana kalau bulan depan? karena saya tidak ingin terlalu lama. bukan kah hal baik harus di segerakan?" Usul David meminta perstujuan orangtua Rangga.
"Kami setuju, tapi biarkan keputusan tetap di tangan mereka!" Lagi-lagi pak wijaya melemparkan keputusan kepada Rangga dan Bela.
Rangga memberi kedipan mata sebagai suatu tanda untuk menjawab usulan dari David.
"Kami juga setuju!" Jawab mereka bersamaan.
Setelah mencapai mufakat. David mengajak Rangga beserta keluarganya untuk menikmati makan malam yang sudah di sediakan David dengan setulus hati.
...※※※※...
Pagi sekali Bela sudah berada di depan rumah calon suaminya. Dia berniat untuk mengobrol banyak hal dengan orang tua Rangga.
"Ibu dan bapak mana?" Tanya Bela saat melihat rumah Rangga yang sepi.
"Sudah pulang tadi pagi!" Rupanya Bela kurang pagi untuk bertemu calon mertuanya itu.
"Sudah pulang? Gak diantar?" Tanyanya lagi. mengekor kemana saja Rangga melangkah.
"Mereka gak mau Bel." Jawab Rangga membalikan badannya.
"Apa? kamu mau mengorek masa kecilku kan?" Tanya Rangga menggelitik pinggang Bela. Sontak saja Bela mengeliatkan badannya dan berteriak.
"Aaaa, geli Rangga! Memang kenapa kalau aku ingin tahu masa kecil kamu?" Tanya Bela berjalan mundur menjauhi Rangga.
"Kamu bisa tanya aku saja sayang!" Ucap Rangga yang trus melangkah mendekati Bela.
"Yang ada kamu bagus-bagusin masa kecil kamu!" Bela terus menghindar sampai dirinya menabrak dinding. Merasa tersudutkan bela mngalungkan tangannya di leher Rangga. Menatap Mata Rangga tajam.
"Ngga satu bulan apa gak terlalu cepat?" Tanyanya memasang wajah serius.
"Kenapa? apa yang kamu fikirkan?"
"Ada sesuatu yang belum sempat aku kasih tahu kamu!"
"Apa itu?"
"Aku diterima kerja di perusahaan xyz!"
"Waw... bagus dong cantik, tapi kenapa murung begini?" Rangga sangat bangga kepada Bela, namun wajah murung Bela tidak bisa diartikannya.
"Lalu pernikahan kita bagaimana? siapa yang akan menghandel itu semua, sedangkan aku pasti sibuk kerja dan kuliah!"
"Kamu tenang saja, ada aku! aku akan handle semuanya dan pastinya atas persetujuan kamu! ini pernikahan kita sayang, siapapun yang menghandle ini semua, baik aku ataupun kamu sama saja. aku dan kamu tetap itu adalah kita!"
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa seromantis ini Ngga!" Pujinya sambil berbisik di telinga Rangga.
"Karena kamu patut di perlakukan seromantis mungkin!" Jawaban Rangga yang mebuat Bela semakin meleleh.
"Makasih ya, aku sayang kamu!" Bela memeluk erat Rangga.
"Jadi kapan kamu berangkat kesingpura lagi?" Tanya Rangga melonggarkan pelukannya.
"Malam ini. makanya hari ini aku akan menghabiskan waktuku bersama kamu!"
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" Rangga menatap nakal Bela.
Buughh....
Namun Bela melemparkan bantal sofa yang tepat ada di sebelahnya ke wajah Rangga.
"Ada saatnya Rangga!" Ucap Bela mendorong Rangga dan berlari menghindar dari kejaran Rangga.
Mereka saling tertawa dan saling mengejar sampai suara dering telphon Bela menghentikan langkah kakinya.
Drrrtt...drrrtt...drrttt....
"Siapa?" Tanya Rangga saat Bela hanya menatap layar Hpnya.
Di layar Hanya terpangpang sebuah nomor tanpa Nama, namun Bela sangat hafal dengan nomor tersebut.
"Agam! bagaimana angkat atau jangan?" Tanyanya meminta pendapat Rangga.
"Angkat saja, mungkin dia ingin berterimakasih atas kemarin!"
Dengan izin Rangga Belapun menjawab telphon dari Agam.
"Halo..." Bela menyentuh tombol loudspeakers Agar Rangga juga mengetahui percakapan mereka.
"Bela, bisa kita bertemu. aku ingin mengucapkan terimakasih."
"Kenapa harus bertemu, lewat telphon juga bisa kan?" Tanyanya dalam hati namun mata Bela menatap Rangga meminta persetujuannya lagi. Jika Rangga melarangnya Bela akan menolak ajakan Agam. Namun Rangga menganggukan kepalanya. Membuat Bela mengerutkan keningnya. Dia tidak berfikir akan mengantongi izin Rangga untuk bertemu Agam.
"Baiklah, dimana kita akan bertemu?" Belapun mengikuti arahan Rangga, untuk menemui Agam.
"Kita bertemu di tempat biasa, aku tunggu!" Jawab Agam.
Bela melirik Rangga saat Agam menyebutkan tempat yang biasa dia datangi Bersama Agam. Terlihat Wajah Rangga yang muram namun Rangga segera memalingkannya. Dan itu membuat Bela yakin, bahwa saat ini Rangga sedang cemburu.
"Ngga kamu ikut kan menamani aku menemui Agam?" tanya Bela menggigit-giti kecil bibirnya.
"Aku ikut, tapi aku tidak akan menemani kamu menemuinya!" Jawab Rangga datar. Sebenarnya Rangga tidak ingin terbawa emosi dan melampiaskan kepada Bela. namun hatinya terlanjur terbakar api cemburu. Sehingga dia sulit mengontrol perasaanya.
"Kenapa?
"Karena aku percaya kamu!" Alasan itu yang keluar dari mulut Rangga.
sebenarnya Rangga tidak rela Bela bertemu kembali dengan Agam. Namun dia pernah mengatakan bahwa masa lalu Bela tidak akan mempengaruhi cintanya untuk Bela. Dia hanya ingin tetap pada perkatannya itu. Agam hanya masalalu dan dirinya masa depan.
__ADS_1
"Aku yang tidak percaya dengan diriku sendiri. Bertemu kembali dengan Agam itu selalu ingin aku hindari. Tapi jika aku menolak bertemu dengannya, aku takut kamu menganggap aku belum melupakannya."