
Reyna merayakan tahun barunya bersama Arka dan juga kedua orang tua Agam, Reyna sengaja mendekati keluarga harun, karena dia yakin bahwa harun tidak akan menelantarkannya. karena selain orang tuanya bersahabat, harun juga merasa berhutang budi.
Saat ini Reyna tengah membantu mantan mertuanya di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi bersama. Cukup sering dia berkunjung ke rumah harun, apalagi jika soal Arka, meskipun bukan cucu kandungnya, keluarga harun sangat menyayanginya, mungkin karena di usia mereka yang sudah tua, mereka mengharapkan kehadiran malaikat kecil di tengah-tengah mereka. hal itu di jadikan kesempatan bagi Bela untul lebih mendaptkan simpati dari mereka.
"Apa benar kemarin Agam datang berkunjung?" Tanya Reyna, karena Arka sempat bercerita bahwa dia bertemu dengan seorang laki-laki di rumah harun.
"Iya Agam kemarin kesini, dia bertemu papanya!"
"Apa dia melihat Arka? Apa dia marah?" Tanyanya pura-pura khawatir kepada anaknya.
"Dia bertemu Arka, nampaknya dia masih menyayangi Arka, terlihat jelas saat mereka berdua berinteraksi"
"Syukurlah, Agam tidak membenci Arka!"
"Apa kamu ingin kembali lagi dengan Agam?" Tanya mama Agam, dia dan suaminya masih berharap Anaknya bisa kembali bersama Reyna. selain karena hutang budi, Reyna juga merupakan anak sahabatnya.
"Itu tidak mungkin terjadi, Agam sangat membenciku!" Ucap Reyna, dia memasang wajah sedih, mencari simpat dari mama Agam.
"Maafkan Agam ya Rey, sebenarnya tante juga kecewa terhadap kamu, tapi saat melihat Arka, perasaan tante bahagia, Namun sepertinya Agam tidak begitu itu, seharusnya Agampun merasakan hal yang sama, apalagi dia yang lebih menyayangi Arka!"
"Agam benar kok tan, Reyna dan Arka memang pantas di perlakukan seperti itu!"
"Tidak sayang, melihat perubahan kamu, tante jadi ingin kamu kembali dengan Agam, tante janji akan membujuk Agam agar bisa menerima kalian lagi."
Reyna tersenyum penuh kemenangan, mendapat simpati dari kedua orang tua Agam, adalah permulaan yang baik. Apalagi saat ini Agam masih sendiri. Perceraian mereka sudah lama terjadi, jika Agam belum juga muncul dengan seorang wanita itu artinya tuhan masih memihak kepadanya.
...※※※※...
Bela masih tertidur pulas di pelukan Agam, walaupun cahaya matahari sudah bersinar, memasuki setiap celah di kamarnya. Namun pasangan yang baru saja meresmikan hubungan tak juga segera memulai aktivitasnya.
Agam yang semakin mengeratkan dekapannya, membuat tubuh Bela semakin nyaman dan tak ingin segera bangun dari tidurnya.
"Apa kita tidak akan bangun? bukankah hari ini kita akan pergi jalan-jalan?" Tanya Bela yang masih dengan mata tertutup.
"Aku masih ingin seperti ini!" Jawab Agam dengan mata yang enggan dibukannya.
Bela perlahan membuka mata dan mendongkakan wajahnya, sehingga terlihat wajah Agam yang masih terpejam.
__ADS_1
Bela tersenyum memandangi Agam yang masih mengantuk karena semalam mereka menghabiskan waktu sampai pagi hari. Di kecupnya dagu Agam, Karena itu yang paling dekat dengan bibir Bela.
"Kita tidur lagi saja sayang!" Ajak Agam, saat Bela mulai mengganggu tidurnya.
Agam membelai-belai rambut Bela Agar Bela tertidur kembali.
"Agam, apa kami tidak akan melepaskan aku?"
"Tidak akan, karena aku masih ingin memelukmu!"
Bela menyadari bahwa tidak mudah melawan Agam, Diapun mengalah dan kembali membenamkan wajahnya di dada Agam. Agampun tersenyum karena Bela akhirnya mengikuti keinginannya.
Bukannya tak ingin mengajak Bela menikmati liburannya, namun rasa kantuknya tak kunjung hilang, dan juga Agam ingin lebih lama tidur dengan memeluk Bela.
"Tapi, Aku lapar Gam, apa kamu juga melarang aku untuk makan?"
Agam segera melonggarkan pelukannya dan lekas bangun dari tempat tidur.
"Maaf sayang, tunggu sebentar, aku akan buatkan sereal."
"Jangan lupa kopinya!" teriak Bela, karena Agam sudah melesat secepat kilat, Bela pun bangun dan bersandar di dipan kasur, menunggu Agam datang dengan semangkuk sereal juga secangkir kopi.
Bersama Agam, Bela akan mengeluarkan semua kemanjaannya.
"Sayang, apa kamu akan terus duduk disana?" Agam memanggil Bela, karena sarapannya sudah siap,
"Iya, aku kesana!" Belapun datang dan duduk di samping Agam, menyantap sarapan paginya, meskipun sudah lewat dari jam pagi.
"Sayang, sebelum ke Singapura, Ayo kita temui orang tuaku terlebih dahulu!"
Uhuk...uhuk....
Bela terbatuk mendengar ucapan Agam, Bela tiba-tiba menjadi khawatir, memang dia sudah memperkirakan pasti ada saatnya dia bertemu kedua orang tua Agam, namun dia tidak menyangka akan secepat ini.
"Apa tidak terlalu cepat?" Tannya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku rasa tidak, aku mau memperkenalkan kamu dulu, sebelum kita menemui David!"
__ADS_1
"Apa kamu juga akan segera menemui papa?"
"Iya sayang, aku ingin secepatnya menikahi kamu, Aku tahu kamu khawatir, tapi percayalah, kita bisa melewati ini semua." Agam merangkul lalu diusapnya pundak Bela. Lalu Bela menyadarkan kepalanya di pundak Agam, Bela sangat khawatir tentang pendapat orang tua Agam tentang dirinya, pasti sedikit banyaknya mereka tahu tentang dirinya dari Agam maupun Reyna. Mengingat hubungan rumitnya dulu, pasti orang tua Agam hanya tahu kejelekan di dirinya.
"Gam, menurut kamu, apa papa dan mamamu akan menerima aku?"
"Tentu saja, karena mereka akan memiliki menantu secantik dan sebaik kamu!"
Bohong jika Agam tidak mengkhawatirkan pertemuan nanti, sebab masalah papanya dengan keluarga Bela saja belum selesai, papanya masih menyimpan kemarahan kepada keluarga Davinson, dan Bela tidak mengetahui itu semua.
Agampun bingun bagaimana cara menjelaskan tentang itu semua, karena Agam tidak ingin Berpisah lagi dengan Bela. Jika nanti orang tuanya menentang hubungan mereka, keputusan Agam sudah bulat, dia tetap akan memperjuangkan Bela. Untuknya yang lebih penting mendapat restu dari David. karena Agam tahu David sangat menyayangi Bela. Berbeda dengan orang tuanya yang sejak dulu sudah menjual anaknya sendiri demi perusahaan.
...※※※※...
Liburan di kota paris sudah berakhir, kota yang menjadi saksi peresmian hubungan Bela dan Agam. Kota yang akan selalu mereka rindukan.
Saat ini mereka berjalan sambil bergandengan tangan, melangkah keluar dari dalam bandara soekarno hata. Mereka telah sampai di jakarta.
"Apa kamu yakin akan menginap di hotel?" Tanya Agam lagi, Agam mengajak Bela beristirahat di rumahnya namun Bela menolaknya dengan cepat.
"Iya Gam, aku gak mau tinggal di rumah kamu!" Jawban yang sama lagi yang Bela berikan.
"Kenapa? itu rumah nantinya akan kita tempati!" Agam masih tidak tahu alasan Bela tidak mau diajak kerumahnya.
"Kamu belum mengerti juga Gam, Aku tidak mau masuk kerumah itu, apa lagi di sana ada kenangan kalian!" Ucap Bela kesal.
"Maksud kamu, karena rumah itu pernah di tempati Aku dan Reyna?"
"Ya seperti itu. Bukankah seharusnya kamu meninggalkan rumah itu, kenapa kamu masih saja tinggal disana?" Tanya Bela lagi, Bela tidak mengerti kenapa Agam belum juga meninggalkan rumah itu.
"Tunggu dulu, kamu salah paham. aku masih disana karena itu adalah rumah pertama aku, bahakan jauh sebelum bersama Reyna. Tapi, jika kamu tidak suka, aku akan menjualnya!"
"Aku tidak meminta kamu menjual itu!" Ucap Bela melipat kedua tangannya di dada.
"Baiklah, kita cari rumah baru untuk kita tempati di sini, apa kita bangun rumah impian kita?"
"Sepertinya itu lebih baik, dari pada harus tinggal di rumah lama kamu." Bela berjalan masuk kedalam Taxi mendahului Agam.
__ADS_1
Agam hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kesal Bela yang menurutnya menggemaskan. Ini adalah pertengkaran pertamanya setelah resmi menjalin hubungan dengan Bela.