
Agam berdiri dengan terus menolehkan kepalanya ke belakang, tiga puluh menit pesawat yang akan di naikinya lepas landas, namun kehadiran wanita yang di tunggunya belum juga ada. Dia melihat di sekelilingnya, nampak beberapa pasangan sedang asik bercanda gurau sambil menunggu untuk keberangkatan. Sedangkan dirinya masih di landa kecemasan, karena menunggu wanita yang di cintainya.
Akankah Bela akan menerima ajakannya, atau memang Bela sudah enggan kembali menjalin hubungan dengannya. pikiran itu yang terus menguasai kepalanya.
Agam kembali duduk untuk menenangkan kecemasannya, Jika memang bela menerima ajakannya, berarti dia sudah berada di bandara. Agam yakin Bela akan datang, dia percaya apa yang dirasakannya sama dengan yang Bela rasakan.
Agam kembali melihat jam di tangannya, Waktunya hanya tersisa 20 menit lagi, Agam harus segera naik kedalam pesawat. Beberapa orang sudah meninggalkan kursinya. Kini gilirannya yang harus segera masuk namun, langkah kaki Agam berat untuk berjalan.
Baru beberapa langkah meninggalkan tempat duduknya, terdengar suara dari arah belakangnya.
"Maaf, aku terlambat!" Agam terpaku, dan perlahan dia menolehkan kepalanya kearah datangnya suara itu.
Agam memegang kedua bahu Bela, dia merasa sedang bermimpi melihat Bela ada di depannya.
"Ini kamu Bela? Aku pikir kamu tidak akan datang!" Tanyanya, sambil menarik Bela kepelukannya. Agam sangat senang, dia tidak percaya, sosok yang di tunggunya datang.
"Aku Datang gam, ayo kita pergi bersama!" Ajak Bela yang membuat Agam segera meraih tangan Bela dan di genggamnya. Dengan saling berpegangan, Merekapun masuk kedalam pesawat.
...※※※※...
"Bagaimana, Kamu sudah mengantar Bela?"Tanya David saat asistennya sudah sampai di kantornya.
"Sudah pak. oh ya pak, saya ingin menanyakan sesuatu." Asisten David sangat tegang, namun dia harus menanyakannya, karena sangat mengganggu pikirannya.
"Silahkan!"
"Ini tentang Agam, apakah hubungan anda sudah membaik?"
David merasa aneh asistennya menanyakan tentang Agam. Karena David sudah tidak tahu lagi kabar Agam, kini David tidak memiliki sangkut paut apapun lagi dengan Agam.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan dia?"
"Maaf pak, sudah satu tahun ini saya tidak mendengar anda menyebutkan namanya!" Ucap Asisten itu, sambil menyiapkan kalimat yang tepat. Dia meras bersalah telah menyembunyikan tentang pertemuan Bela dengan Agam. Dia tidak ingin membohongi tuannya.
"Aku tidak tahu pasti, hanya saja beberapa orang mengatakan dia menjual saham perusahannya setelah bercerai. Sejujurnya saya sangat prihatin, namun saya tidak bisa melupakan penghinannya."
"Sebenarnya saya...."
"Ada apa? kenapa kamu seperti orang bingung? Apa ada yang kamu sembunyikan?"
"Maaf pak, sebenarnya tadi saya seperti melihat orang mirip dengan Agam, makanya saya kepikiran dan menanyakan ini semua." Jawab asisten David berbohong.
Sebenarnya dia ingin bicara jujur mengenai Bela yang bertemu kembali dengan Agam, namun dirinya sudah berjanji tidak akan mengatakan itu kepada David.
"Setidaknya untuk saat ini dia tidak akan bertemu dengan Bela. Keberadaannya di singapura adalah langkah tepat menjauhkan Bela dari Agam."
"Maaf pak, anda salah, mereka telah bertemu kembali, dan sepertinya mereka masih saling mencintai."
__ADS_1
"Saya permisi dulu!" Ucap asisten David undur diri.
...※※※※...
"Kita satu kamar?" Tanya Bela dengan sorot tajam.
"Terpaksa! mau bagaimana lagi, ini sudah hotel ke tiga yang dekat dengan menara Eifel!"
Mereka kehabisan tempat menginap, karena mereka pergi di musim liburan, semua hotel penuh dan terisis satu hotel yang hanya tersisa 1 kamar saja.
"Kenapa kamu gak reservasi dulu sebelumnya Gam?" Tanya Bela lagi, dia kesal, karena agam tidak menyiapkan liburannya dengan sempurna.
Agampun bingung, dia tidak terpikir akan sepenuh ini.
"Aku lupa, aku kira sudah semua! Bagaiaman? Apa kita cari lagi?"
"Gak bisa gam, kakiku gak sanggup lagi!" Bela tidak sanggup lagi, tubuhnya sudah lelah, dia ingin segera beristirahat.
"Jadi kita ambil ya kamar ini?"
Belapun mengangguk setuju.
Merekapun mengikuti pelayan hotel yang menujukan arah menuju kamar yang sudah di pesannya.
Tibalah merek di sebuah kamar mewah, karena hotel tempat mereka menginap adalah hotel bintang lima.
Bela berjalan menyusuri setiap sudut ruangan kamar hotelnya, bahkan diapun melihat ke kamar mandi, tempat dirinya akan merelaksasikan tubuhnya.
Bela berbaring meluruskan kaki dan punggunya yang pegal, perjalanan panjang pertamanya cukup membuat badanya remuk, karena harus duduk di kursi pesawat untuk waktu yang lama.
"Tidurlah, nanti aku bangunkan!" Ucap Agam, setelah merapikan kopernya.
Niat hati ingin pergi mandi, namun Agam teralihkan dengan melihat Bela yang tertidur pulas bak bayi baru lahir, sangat menggemaskan.
Agam mengusap lembut pipi Bela, Bisa sedekat ini adalah hal yang Agam syukuri, wanita yang satu tahun terakhir hanya ada dalam angannya saja kini tertidur lelap di depannya.
"Kali ini aku janji, tidak akan pernah melepaskan kamu lagi!" Ucap Agam mengecup kening Bela. Kemudian melangkah menuju kamar mandi.
Bela membuka matanya dan tersenyum, rupanya dia mendengar yang Agam ucapkan, karena Bela belum sepenuhnya tertidur.
Dia memegang dadanya, merasakan debaran jantung yang sangat cepat. Rasa kantuk yang tadi menguasainya hilang, kini Bela tidak bisa meneruskan tidurnya lagi.
Diapun berjalan membuka pintu menuju balkon, pemandangan indah meneara Eifel tepat di depannya. Angin sore yang menyapu helaian rambut, menyadarkan Bela tentang kenyataan. keberadaanya saat ini bersama Agam bukan lah sekedar mimpi ataupun angan-angan. Ada konsekuensi dari keputusan yang di ambilnya.
"Apakah aku bisa melewatinya?"
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul dikala Bela termenung, membuat dirinya meragu dengan keputusan yang sudah diambilnya.
__ADS_1
"Bukankah sangat indah?" Agam memeluk Bela dari Belakang. Setelah selesai mandi dia melihat Bela berdiri di balkon.
Bela melepaskan kedua tangan Agam dari tubuhnya.
"Sepertinya gilaran aku untuk mandi." Ucap Bela menjauhi Agam.
Agampun tak ingin berfikiran aneh tentang sikap Bela yang seolah tidak ingin dipeluknya.
"Ya, giliran kamu." Ucapnya pelan.
Sementara Bela mandi, Agam memesan makanan untuk mengisi perutnya, dia akan makan di dalam kamar saja, mengingat perjalanan mereka yang melelahkan.
"Kamu sudah pesan makanan Gam, sepertinya enak!"
Setelah keluar dari kamar mandi, Bela menghampiri Agam dan mengambil satu potong pizza yang Agam pesan.
"Bel, kamu tahukan maksud aku mengajak kamu kesini?" Tanya Agam yang membuat Bela menyimpan kembali pizzanya dan fokus dengan Agam.
"Aku tahu maksud kamu, namun aku tidak yakin apa yang saat ini kita lakukan adalah benar?"
"Apanya yang salah, aku single, kamupun single, kita tidak melanggar apapun!"
Kini mereka tengah duduk saling berhadapan, membicarakan apa yang harus mereka bicarakan sebelum melangkah ketahap selanjutnya.
Untuk lebih meyakinkan, Bela ingin tahu langkah Agam untuk hubungan mereka kedepannya.
"Bagimana dengan papa? apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Bela lagi.
"Aku akan melakukan apapun, sampai David merestui hubungan kita!" Ucap Agam dengan yakin. Karena kali ini dia akan memperjuangkan bela apapun resiko yang akan di hadapinya.
"Kenapa mudah sekali kamu mengatakan itu semua?"
"Aku tahu itu tidak akan mudah, namun kamu harus percaya, aku akan berjuang meminta restu David."
Bela memalingkan wajahnya, dia masih ragu. Dia merasa itu hanya kata-kata manis Agam, agar dia mau kembali Bersama Agam.
"Aku mohon percaya padaku!" Agam mebalikan Wajah Bela untuk menghadap wajahnya, untuk melihat tidak ada keraguan dalam dirinya. Hingga kedua mata mereka bertabrakan, melihat kedalam bola mata mereka masing-masing.
"Aku takut Gam, Terakhir kali aku melihat papa memukul wajah ini." Ucap Bela membelai wajah Agam dengan kedua tangannya.
"Kamu masih mengingat hal mengerikan itu?"
"Bagaimana bisa aku lupa, kamu hanya diam saja, kamu sama sekali tidak membalas setiap pukulan dari papa!"
Bela sangat ingat, hari itu David memukuli Agam, kalau saja dia tidak ada, pasti Agam sudah di buat hancur wajahnya, karena Agam sama sekali tidak melawan David.
"Itu karena David adalah papa kamu, aku tidak bisa melukai orang yang paling penting untuk kamu!" Ucap Agam lirih.
__ADS_1
"Aku mencintai kamu!" Bela memeluk Agam erat.
"Aku juga mencintai kamu, sangat mencintai kamu."