
David yang sedang mengerjakan laporan kantornya, di Kegetkan dengan kedatangan Bram yang mendadak.
"Selamat pagi pak David!" Sapa Bram memasuki ruangan David.
"Pak Bram, kebetulan sekali. Ada yang bisa saya bantu." Tanya David menghampiri Bram dan mempersilahkannya duduk.
"Sebenarnya, kedatangan saya kesini ingin membicarakan tentang anak-anak kita." Ucap Bram mengawali pembicaraannya.
"Anak-anak? Apa yang terjadi dengan mereka?" Tanyanya. David menjadi lebih serius mendengarkan yang akan Bram katakan.
"Saya rasa mereka sudah sangat dekat, dan terlihat sangat cocok. Saya ingin menjadikan Bela sebagai menantu saya, lagi pula mereka sudah sama-sama dewasa. Dan Belapun sudah di usia yang cukup untuk menikah!"
"Menikah? Saya belum terfikirkan ke arah sana! Lagi pula apakah mereka saling mencintai?"
"Bukankah anda juga menikah diusia yang sangat muda sekali! Tidak ada salahnya kita lebih mendekatkan mereka, rasa cinta bisa datang karena seringnya bertemu!"
"Saya tidak bisa memutuakan, karena yang akan menjalankan itu semua adalah Bela."
"Saya harap bisa berbesanan dengan pak David. terlebih lagi hubungan kita yang sudah berjalan sangat lama. Dan dengan adanya pernikahan, bisa menambah erat hubungan kekeluargaan kita. Saya rasa itu juga yang Davinson inginkan!" sangaja Bram membawa nama Davinson dengan harapan pertemanannya dengan Davinson bisa mempengaruhi keputusan David.
"Saya mengerti dengan maksud pak Bram. Dan Ayah pasti ingin cucunya bahagia."
"Terimakasih pak David. Saya harap anda segera menghubungi saya untuk pertemuan dua keluarga."
"Baik pak Bram, nanti setelah saya bicara dengan Bela."
"Baik Pak David, saya permisi."
Bram merasa puas dengan respon yang David berikan. Dia yakin David akan menyetujuinya karena David sangat menghormatinya.
...※※※※...
"Hai Bel, ceria sekali hari ini?" Tanya Maya begitu melihat Bela keluar dari ruangan dosen dengan wajah berseri-seri.
"Mesti donk!" Jawbnya, sambil merangkul Maya.
"Ya jelas lah, jalan skripsi loe muluuusss banget kaya jalan tol!"
"Emang skripsi loe kenapa?"
"Ini loe liat sendiri!" Maya menujukan tugas sekripsinya yang jauh dari kata rampung.
"Gak usah khawatir, gw juga banyak yang belum selesai kok!" Ucap Bela berusaha tetap rendah hati.
"Bela liat itu! Tunjuk Maya kepada seorang laki-laki yang sedang di kerumuni banyak mahasiswi.
Itu Rangga kan?" Tanya Maya yang membuat Bela memfokuskan lagi pandangannya pada kerumunan itu.
"Iya deh itu dia!" Ucapnya Begitu melihat ada Rangga yang menjadi pusat tengahnya.
"Mau kemana?" Tanya Maya saat Bela akan menghampiri Rangga.
"Loe gak liat Rangga lagi di rayu-rayu mahasiswi kecentilan itu."
"Aduh Bela, loe mau bikin gosip di kampus?" Maya memepringati Bela. Karena gosip di kampus sangat cepat menyebar. Apa lagi yang akan bela hadapi adalah mahasiswi - mahasiswi baru.
Bela melanjutkan langkahnya mendekati Rangga tanpa mendengarkan omelan Maya.
"Sayang, kamu sudah selesai? Tanya Bela memecah kerumunan yang mengelilingi Rangga. Bela mendapatkan tatapan tajam dari para mahasiswi yang bersama Rangga.
Tak hanya itu, Ranggapun membuka matanya Lebar dengan bibir sedikit mengangkat. Mendengarkan Bela memanggilnya sayang.
__ADS_1
"Ayo kita pulang!" Bela menggengam tangan Rangga menjauhi dari kerumunan. Tatapan ketidak sukaan dari para mahasiswi itu sangat menusuk, meskipun tidak terlihat karena membelakanginya tapi sangat terasa.
Rangga hanya menurut dan mengikuti Bela sampai parkiran.
"Sayang, sepertinya panggilan itu cocok!" Rangga mengolok-olok Bela, karena telah memanggilnya sayang.
"Iih... Rangga! Bela memukul bahu Rangga dengan keras.
"Aaww..." Tariak rangga memegangi bahunya
"Sorry....sorry, sakit ya?" Usap Bela di bahu Rangga.
"Bercanda kok!" Ucap Rangga yang membuat Bela kesal.
Oh ya, mobil kamu mana?" Tanya Rangga, karena tidak melihat mobil Bela berada di parkiran.
"Aku gak bawa mobil!"
"Naiklah. Aku antar pulang, atau kita makan siang? Kamu belum makan siangkan? Tawaran Rangga, Yang langsung di setujui oleh Bela.
"Boleh deh! Jawab Bela mengiyakan. Karena kebetulan dia juga sudah sangat lapar.
"Sebelum itu, kamu pakai dulu helm ini!" Rangga memakaikan helm di kepala Bela.
Hari ini sangat kebetulan Rangga membawa helm cadangan. Entah mengapa dia ingin membawa dua helm. mungkin karena hal ini akn terjadi tanpa Rangga rencanakan.
"Masih ingat cara naiknya?" Tanya Rangga kemudian.
"Masih dong!" Jawab Bela langsung menaiki motor Rangga dan tidak lupa Bela melingkarkan Tangannya di pinggang Rangga.
Rangga tersenyum saat pinggangnya di peluk Bela.Ternyata bela tidak melupakan semua intruksinya.
Rangga menjalankan motor dengan pelan. Karena khwatir Bela kan ketakutan dan juga ingin lebih berlama-lamaam dengan Bela.
"Terserah kamu, aku ngikut aja!"
"Di depan sana ada restoran enak, bagaiman?"
"Boleh Ngga!"
Motor rangga di parkirkan tepat di depan Restoran. Tak lupa dia membantu Bela untuk melepaskan Helmnya.
"Pusing Ngga kepalaku!" Keluh Bela memegangi kepalanya yang terasa berat, karena sudah memakai helm.
"Maaf ya, itu karena helm ini bukan ukuran kepala kamu, nanti kita beli yang pas di kepala kamu!" Rangga mengusap kepala Bela. Dia sama sekali tidak sadar dengan reaksi tangannya.
Mereka pun masuk dan memilih duduk di kursi paling pojok, selain lebih dekat dengan jendela tempat itu juga lebih jauh dari kursi-kursi yang lainnya.
Sambil menunggu makananya, Bela membuka laptopnya untuk memeriksa kembali tugas sekripsinya.
"Apa aku boleh lihat?" Tanya Agam mendongkakan kepalnya melihat ke arah laptop Bela.
"Boleh!" Bela menggeser duduknya agar Rangga lebih mudah untuk melihatnya.
"Tema yang sangat menarik!" Ucap Rangga setelah membacanya.
"Oh ya, Thanks!" Bela menoleh ke arah Rangga, Dan Tatapan mereka bertemu, Bela menela silvanya melihat wajah Rangga yang sangat dekat. Tiba-tiba fikiranya kembali mengingat ciuman malam itu.
"Good job!" Ucap Rangga menatap tajam Bela, lalu tersenyum.
Bela menghembuskan nafasnya ketika para pelayan datang mengantarkan makanan mereka. dan membuat suasana canggung Bela menjadi cair kembali.
__ADS_1
...※※※※...
Agam masih saja duduk termenung, memikirkan hubungannya yang harus berakhir dengan Bela, Agam masih tidak ingin melepaskan Bela, sampai kapanpun.
Mungkin Bela pergi meninggalkannya, Ataupun Bela mempunyai hubungan baru dengan orang lain. Tapi Agam Bertekad tidak akan pernah melepaskan Bela. Akan selalu ada Bela di hatinya.
Suara dering telphon menyadarkan Agam dari semua lamunannya.
"Hallo Mas, kamu lupa siang ini mau antar aku beli perlengkapan Bayi?" Tanya Reyna begitu Agam mengangkat telphonnya.
"Ya Ampun Rey. Aku lupa, kebetulan kerjaan mas banyak sekali." Harusnya Agam sudah menjemou Reyna, sesuai dengan rencananya tadi pagi, Tapi yang ada, sedari tadi di hanya memikirkan Bela seorang.
"Gak papa mas, aku lagi di jalan menuju kantor kamu, kita berangkat dari sana aja." Ternyata Maya sudah berada di dalam taksi. menuju kantor Agam.
"Ya ide bagus, Hati-hati ya Rey!" Uacap Agam menunutup telphonnya.
Janji Agam kepada Reyna dan juga calon anaknya untuk membahagiakan mereka tidak akan pernah Agam ingkari. Agam akan berusaha membuat keluarga kecilnya bahagia. Walaupun kebahgaiaan dia seutuhnya adalah bersama Bela.
Agam lekas keluar dari kantornya, dia menunggu kedatangan Reyna di depan kantornya.
"Hai mas, nunggu lama ya? Reyna memeluk Agam.
"Ayo kita beli baju untuk kamu sayang!" Ucap Agam mengelus perut Reyna.
Mereka pun masuk kedalam mobil, untuk pergi kesalah satu toko perlengkapn bayi.
Di perjalanan Reyna memegangi perutnya. dia merasa lapar karena belum sempat makan siang.
"Mas, aku lapar!" Keluhnya mengusap perut. Refleks Agampun mengusap oerut Reyna.
"Kamu belum makan Rey?
"Belum mas, tadi aku belum lapar banget.
"Ya udah kita mampir di restoran di depan sana!"
Agam memberhentikan mobilnya di restoran yang di maksud. Merekapun keluar dari mobil. Reyna bergelayut manja di tangan Agam. Keromantisan seperti ini baru di rasakannya semenjak hamil.
Mereka berjalan memasuki Restoran tersebut. Beegitu masuk mereka di sambut pelayan dan di antarkan ke meja yang masih kosong.
"Mas bukannya itu Bela?" tunjuk Reyna kepada sepasang anak muda yang sedang menikmati makanan mereka.
Mata Agam mengikuti kemana tangan Reyna menunjuk. Hatinya merasa sakit, melihat Bela sudah sangat akrab dengan Rangga. Yang membuatnya semakin sakit adalah dia tidak bisa berbuat apa-apa. hanya bisa melihat dari kejauhan dan menerima semua itu.
"Biarkan saja Rey, ayo teruskan makan kamu!" Agam kembali melanjutkan makannya.
"Mas, bukannya itu laki-laki yang ada di pesta pak Bram kemarin?" Tanya Reyna meulai memancing reaksi Agam. dia ingin mengetahui hubungan Agam dengan Bela masih berlanjut atau benar-benar sduah berakhir.
"Iya. Dia Rangga!" Jawab Agam Datar.
"Kamu kenal dia mas?" Tanya Reyna kembali, sambil meneliti reaksi wajah agam.
"Aku gak kenal, aku baru bertemu dia di pesta waktu itu!" Agam memang sedikit BT setelah melihat Bela denga Rangga.
"Mereka sangat cocok deh, terlihat seperti sudah nyaman satu sama lain!"
"Udahlah Rey, kamu fokus saja makan!" Agam semakin cemburu ketika Reyna yang terus-menerus membicarakan Bela dengan Rangga.
"Iya mas, tapi kamu dan Bela sudah berakhir kan mas? aku selalu memendam pertanyaan itu, karena aku takut mendengar jawabanya!" Akhirnya Reuna menanykan yang selama ini di simpannya.
"Kita sudah berakhir. kamu jangan khawatir, aku kan sudah janji akan membahagiakan kamu!" Ucap Agam meyakinkan Reyna.
__ADS_1
"Makasih ya mas!" Ucap Reyna penuh syukur.