Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Siapa Wanita Itu


__ADS_3

Tok...tok...tok...


Daniel mendatangi kamar Hotel Bela. Dia ingin memastikan bahwa Bela ada di dalam.


Namun yang di lihat Daniel hanyalah pasangan yang telah menghabiskan malam bersama di kamar Bela.


"Kalian masih disini? Bela mana?" Tanya Daniel kepada kedua orang yang masih dengan muka kusutnya.


"Semalam dia tidak...." Jawab Adit terpotong, Maya menyela ucapan Adit dengan mengatakan kebohongan kepada Daniel.


"Bela pulang kerumahnya, Apa yang kamu fikirkan?"


Tanya Maya mengalihkan pembicaraan Daniel. Dia terpaksa berbohong untuk kebaikan semuanya. Terlebih lagi untuk kebaikan sahabtnya.


"Aku hanya takut jika Bela semalam bersama pria itu!"


Jawab Daniel mengusap wajahnya kasar.


"Lebih baik kamu kembali, buang semua fikiran buruk tentang Bela. Belajar berfikiran positif dan lebih mempercayainya!"


"Yang Maya katakan benar Dan, jangan samakan Bela dengan Risya. Mereka berbeda."


"Siapa Risya? Paramugari itu?" Tanya Maya yang merasa asing dengan nama itu.


Daniel mempunyai kisah hampir mirip dengan yang di alami pasangan Agam dan Bela. Namun perbedaannya adalah Daniel merelakan Risya untuk memilih kebahagiaanya sendiri.


Awalnya mereka adalah pasangan yang paling di idamkan oleh pasangan yang lainnya. seorang pilot dan pramugari dua pekerjaan yang saling membutuhkan. sama halnya dengan kehidupan nyata mereka. Namun itu tidak cukup, karena Risya bertemu dengan seorang pria yang mungkin lebih membuatnya bahagia.


Selama tiga bulan sikap Risya berubah, sampai pada puncaknya Risya membuat pengakuan bahwa dirinya mencintai orang lain. Disana lah Daniel hilang separuh harapannya. Dia sama sekali tidak membeci Risya justru Daniel menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa membuat Risya bertahan dengannya.


Sebagai bentuk pengorbanan dirinya Daniel membiarkan Risya pergi dengan pilihanya sendiri. Bahkan Daniel mengantarkan Risya tepat kehadapan Prai teraebut.


Daniel tidak ingin kisahnya terulang lagi bersama Bela. Dia ingin menjadikan Bela yang terakhir untuk dirinya.


...※※※※...


Rangga Di bantu Bela untuk sampai kedalam rumahnya. Memang cukup sulit karena gaun yang Bela kenakan, membuatnya tidak leluasa untuk melangkah.


"Terimakasih Bel atas perhatian kamu. Sekarang kamu bisa pulang dan beristirahat!" Saran Rangga, karena pasti Bela kelelahan karena semalaman menjaganya di rumah sakit.


"Aku gak bisa meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini." Ucap Bela tidak mendengarkan Rangga.


"Tapi disini justru kamu yang memprihatinkan Bela. Kamu terlihat seperti calon pengantin kabur!" Ejek Rangga karena melihat penampilan Bela yang berantakan.


Bugh...


Bela memukul bahu Rangga


"Aaw...!" Teriak Rangga keaakitan


"Sorry, aku kebiasaan." Bela terkekeh melihat Rangga kesakitan.


"Kamu lapar? Kita pesan makanan ya, karena aku lapar sekali!" Keluh Bela memegang perutnya.


Kemudian Bela membuka Hpnya untuk memesan makanan. Tak lupa Bela juga menghubungi Maya untuk mengantarkan pakaianya.


"Sorry ya Ngga, seharusnya kamu makan makanan rumahan, agar cepat sembuh. Tapi aku gak bisa masak." Ucapnya sedikit berbisik.


Rangga menahan tawanya. Dia sudah memperkirakan itu sejak mereka di kampung. Wanita seperti Bela mana ada yang bisa masak. Bahakn cara menyalakan kompor saja dia mungkin tidak tahu.


"Justru aku yang sangat berterima kasih, karena kamu sudah banyak membantu aku!"

__ADS_1


"Bel, sambil menunggu makanan, lebih baik kamu mandi. kamu bisa pakai baju aku untuk sementara, sampai Maya mengantarkan baju kamu."


"Apa aku boleh pakai baju kamu?"


"Silahkan, pilih lah yang muat di badankamu, Sepertinya kamu sudah tidak nyaman dengan gaun itu!"


"Iya, aku sangat sesak sekali, Tunggu ya, aku akan kembali lagi!" Ucap Bela masuk kedalam kamar Rangga.


Bukannya segera memilih pakaian dan mandi, justru Bela membaringkan tubuhnya di atas kasur milik Rangga. Bela tidak menyangka akan berada di dalam kamar ini lagi.Hampir saja matanya terpejam dengan kenyamanan yang di rasakannya.


Bela membuka lemari Rangga memilih pakaian apa yang cocok untuk di pakainya sementara. Dia mengambil satu buah kaos dan celana. Namun nampaknya celana Rangga kebesaran di pinggangnya. Dan juga kausnya tidak cukup panjang untuk menutupi bagian bawahnya.


Lalu Bela meletakan kembali keduanya dan memilih satu kemeja yang cukup panjang, yang akan menutupi bagian bawahnya.


Namun Bela mendapatak kendala lainnya. pakaian dalam yang di pakainya tidak mungkin di lepas dan meminjam milik Rangga. Terpaksa Bela menggunakannya lagi dari pada harus menggunakan kemeja milik Rangga tanpa pakain Dalam, itu akan jelas nampak terlihat dari luar.


Rangga menatap Bela keluar dari kamarnya tanpa berkedip. Kemeja yang awalnya terlihat biasa saja, bisa lebih menarik setelah di pakai Bela.


"Makanannya sudah datang?" Tanya Bela saat melihat satu buah pelastik di meja dekat Rangga. Sebenarnya Bela sedikit tidak nyaman dengan pakainnya.


"Ya, ayo kita makan dulu!" Ajak Rangga mengusir semua bayangan-bayang nakalnya.


Wajar bagi Rangga membayangkan hal-hal yang biasa kaumnya bayangkan. apalagi di hadapnnya ada figur yang sesungguhnya.


"Ada apa?" Tanya Rangga yang melihat Bela terus melirik Hpnya.


"Aku menunggu Maya menghubungi!" Jawabnya canggung.


"Kamu gak nyaman dengan pakaian itu?" Tanya Rangga memastikan. Dari gerak-geriknya Rangga tahu bahwa bela sangat tidak nyaman.


"Terlalu pendek Ngga!" Jawab Bela pelan.


Bela pun meraih apa yang diberikan Rangga dan Kemudian membelitkan di pinggangnya.


Suara ketukan pintu terdengar, Bela bergegas membukakan pintu, karena itu pasti Maya yang membawakan pakaian untuknya.


"Kenapa lama sekali?" Omel Bela menarik Tangan maya masuk kedalam rumah.


"Ada Daniel datang, dia nanyain loe pulang apa gak!"


"Terus loe bilang apa?"


"Gw bilang loe langsung pulang ke rumah. Ini terakhir kali ya gw bohingin Daniel!"


"Iya, iya! Sorry, ini yang terakhir!"


"Bagaimana kabar Rangga?" Tanya Maya, Dia juga khawatir saat mendengar Rangga kecelakaan.


"Lihat aja di sana, dia lagi makan,Loe temenin dia, gw ganti baju dulu!" Ucap Bela berlari masuk kembali kedalam kamar Rangga.


...※※※※...


"Bagaimana keadaan Rangga?" Tanya Daniel sambil menikmati makan siangnya.


Hari ini adalah hari terakhir Daniel cuti sebelum dia kembali lagi kepada pekerjaannya. Kali ini Daniel harus meninggalkan Bela lebih lama karena dia sudah mengambil jatah libur bulan depan.


"Rangga baik-baik saja, hanya tangan dan kakinya sedikit terluka!"


"Aku sudah bilang ke papa agar kamu yang mengatur semua acara pernikahan kita!"


"Ya, aku sudah mendengarnya dari papa!" Jawab Bela datar.

__ADS_1


"Kenapa? makananya gak enak?" Tanya Daniel yang melihat Bela hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Aku masih kenyang Dan!"


Daniel melirik jam di tangannya, kemudian dia pun berdiri.


"Sepertinya ini sudah waktunya aku harus berangkat!" Ucapnya memeluk Bela, tak lupa Daniel mencium kening Bela.


"Hati-Hati Dan!" Ucap Bela mengantar Daniel keluar restoran.


Bukanya Bela masuk kedalam mobil untuk pulang, justru Bela kembali masuk kedalam restoran dan memesan makanan dua porsi makanan.


Sedari tadi Bela memikirkan Rangga yang pastinya belum makan siang. Dia tidak bisa makan dengan tenang.


Bela bergegas membawa mobilnya menuju rumah Rangga. Dengan menenteng makanan yang baru saja di belinya masuk kedalam rumah Rangga yang kebetulan tidak di kunci.


Bela merasa seperti di rumah sendiri, tanpa permisi Bela mendorong pintu dan menerobos masuk.


Namun langkahnya terhenti.Dia tercengang, melebarkan kedua matanya. Merasa seperti hatinya sedang di hantam benda tumpul. Bela membalikan Badannya dan dengan cepat keluar dari dalam rumah Rangga.


"Kenapa aku harus pergi? Ada apa ini? Bukankah seharusnya aku tetap menemui Rangga, bukan kabur seperti ini!" Gerutunya dalam hati.


Tanpa Bela sadari Rangga sudah ada di belakangnya, meraih tangan Bela.


"Bela, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rangga yang melihat Bela hanya diam di luar rumah, tak jadi masuk kedalam.


"A-aku ngambil ini, tertinggal di dalam mobil, Tapi sepertinya kamu sudah makan. Kalau begitu aku buang saja!"


"Jangan, kenapa harus di buang." Rangga merebut pelastik yang Bela bawa.


"Kenapa kalian masih di luar?" Tanya seseorang wanita keluar dari rumah Rangga.


Wanita yang sama yang di lihat Bela sedang menyuapi Rangga tadi.


"Dia, Sepupuku, Namanya Hani!" Ucap Rangga kepada Bela yang masih menatap lurus kearah Hani.


"H-hi Aku Bela!" Jawabnya tebata-bata. Mereka saling berjabat tangan memperkenalkan nama masing-masing.


"Ngga, sepertinya aku harus pulang!" Ucap Hani berpamitan kepada Rangga dan juga Bela.


Mata Bela masih menatap Hani sampai dia benar-benar melihat Hani hilang dari pandangannya.


"Mau masuk atau tetap di sini?" Ajak Rangga yang menyadarkan Bela dari lamunannya.Kemudian Bela masuk dengan mendorong kursi roda yang di duduki Rangga.


"Dia itu sepupu aku, dia datang saat mengetahu kondisiku saat ini, mungkin Bapak yang memberitahu Hani, karena kebetulan kami berada di kota yang sama." Rangga menjelaskan semuanya. padahal Bela tidak menanyakan tentang Hani. Mungkin Rangga juga merasakan keterkejutan Bela.


"Dia sudah mempunyai suami dan juga anak!" Ucap Rangga meneruskan penjelasannya.


"Uhhukk..." Bela terbatuk mendengar kalimat yang membuat Bela menjadi seperti orang bodoh.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Rangga memberikan tisue kepada Bela.


"Kenapa kamu menjelaskan semua itu kepadaku?" Tanya Bela menyeka mulutnya.


"Aku tidak mau kalau kamu salah faham!"


"Aku salah faham? Hahaha...!" Bela tertawa, memang benar dirinya telah salah faham.


"Ya, aku gak mau kamu beranggapan aku seperti laki-laki berengsek yang mempunyai banyak wanita!"


"Tenang aja. Aku tahu kamu bukan orang seperti itu!" Ucap Bela. Bela sedikit lega setelah mendengar semua penjelasan Rangga.

__ADS_1


__ADS_2