Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
EGOIS


__ADS_3

Malam ini Agam tidak bisa memenjamkan mata, dia hanya menatap langit-langit kamarnya. Agam menolehkan kepalanya, melihat Reyna yang sudah tertidur pulas. memandangi wajah istrinya yang saat ini sedang mengandung. Meski belum timbul rasa cinta kepada Reyna, Namun Agam sangat mengingnkan kehadiran anaknya, darah dagingnya, hatinya terus bergetar saat menyentuh perut Reyna. Agam sangat menantikan kehadiran buah hatinya.


Namun apa yang terjadi malam tadi, diluar kendalinya. Melihat Bela berciuman dengan laki-laki lain, seketika mendidih hati Agam. wanita yang di cintainya harus bermesraan dengan laki-laki selain dirinya.


Ingin sekali Agam bersikap egois, memiliki dua orang wanita dalam hidupnya.


"Aku tidak ingin kehilangan kamu Bela!"


Agam bangun dari tempat tidurnya. Dia mengendap- endap keluar dari kamarnya, dia khawatir Reyna terbangun.


Dilihatnya jam di dinding ruang tamu menunjukan pukul 4 dini hari. Kemudia dirinya keluar dan membawa mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya.


Berhentilah Agam di depan rumah David. Dia bingung bagaimna cara agar dapat masuk ke rumah tersebut. Sudah satu jam Agam mencari cara. Sampai mataharipun sudah menampakan sinaranya, Agam yakin penghuni rumah itu sudah bangun termasuk Bela.


Agampun keluar dari mobilnya. dia meminta di bukakan gerbangnya kepada satpam dengan alasan ada sesuatu hal yang memdesak. Tanpa curiga Agampun dipersilahkan masuk.


Lalu dia masuk melalui pintu Dapur dengan mengendap-endap seperti pencuri. Dia sempat bersembunyi ketika bertemu para Art.


Sampailah Agam di depan tangga yang mengarah ke kamar Bela, Agam bergegas menaikinya, sebelum David keluar dari kamarnya yang terletak tidak jauh dari tangga.


Agam menarik nafasnya sebelum membuka pintu kamar Bela. Di gengamnya handel pintu yang diyakini tidak terkunci itu, dan benar saja dugaannya. memang kebiasaan Bela tidak mengunci pintu kamarnya.


Agam pun masuk kedalam kamar Bela, dan mengunci pintunya dari dalam. Begitu masuk Dia melihat Bela masih tertidur. Mungkin Bela lelah karena acara semalam.


Agam mendekatkan dirinya lebih dekat dengan wajah Bela, di singkirkannya helaian-helaian rambut yang menghalangi wajah cantikya.


Bela yang merasakan ada nafas lain di depan wajahnya, membuka matanya perlahan. Dia berkali-kali mngedipkan matanya, tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dia takut ini adalah mimpi, mimpi yang begitu jelas. Melihat Agam.


Bela langsung bangun dan menjauh ketika sadar bahwa dirinya tidak sedang bermimpi, bahwa di hadapannya adalah sosok nyata.


"Agam, apa yang kamu lakukan di kamarku?" Teriak Bela spontan.


Agam langsung menutup mulut Bela dengan tangannya, dia takut ada orang yang mendengar teriakan Bela.


Dan benar saja, David datang mengetuk pintu, menanyakan apa yang terjadi di dalam kamar.


"Sayang, kenapa kamu berteriak?"


Bela mencoba memgontrol nafasnya, sebelum menjawab pertanyaan papanya.


"Tidak ada apa-apa pah, hanya seekor cicak!"


Jawabnya berbohong.


"Syukurlah, Ya sudah papa tunggu di bawah!" David kembali turun meninggalkan kamar Bela.


Bela menatap mata Agam tajam. dengan jari telunjuk mengarah tepat di depan wajah Agam.


"Apa yang kamu lakukan disini?"

__ADS_1


"Kamu tenang dulu, aku hanya minta waktu untuk mengatakan semuanya."


"Apa lagi yang ingin kamu katakan, bukankah semuanya sudah jelas!" Bela menghindar ketika Agam mendekat.


"Aku mohon dengarkan aku!"


"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi dari mulutmu. Sudah cukup. kata-katamu hanya akan menambah luka di hatiku Gam!" Ucap bela menahan airmatanya.


"Aku fikir akan mudah setelah mengakhiri hubungan kita, tapi ternyata aku tidak bisa. Aku masih memikirkan kamu. Aku masih mencintai kamu Bela. Aku tidak ingin kita berakhir seperti ini."


"Bukankah kamu yang memutusakn ini semua.Ini keinginan kamu Gam!" Bela membelakangi Agam, dan menghapus airmata yang berhasil lolos.


"Aku ingin kita jujur satu sama lain. Bela, aku tidak siap kehilangan kamu, karena aku sangat mencintai kamu. Apa kamu masih mencintaiku?" Tanya Agam meraih kedua pundak Bela.


"Aku ingin kamu lebih jujur kepada diri kamu sendiri, kepada hati kamu." Agam menatap kedua bola mata Bela.


"Aku tidak tahu Gam, Aku tidak tahu perasaanku saat ini kepada kamu, Yang jelas aku tidak ingin melihat kamu lagi." Bela memalingkan wajahnya. dia tidak ingin Agam melihat kebohongan yang ada di matanya.


"Aku tahu kamu juga merasaakn perasaan yang sama Bela." Agam meraih membalikan wajah Bela untuk kembali melihatnya.


Bela melepaskan diri dari Gam, dan berpindah yempat untuk menjauhinya.


"Terserah, Yang jelas aku tidak mau kita bertemu lagi. silahkan kamu keluar atau aku teriak, biar papa datang dan melihat kamu disini." Ancam Bela kepada Agam.


"Silahkan jika itu yang kamu mau, berteriaklah. Aku siap menghadapi papamu. walaupun aku harus mati di tangan David. aku sudah siap."


Bela memjamkan matanya mendengar kejujuran dari Agam.


"Pelankan suara kamu!" Bela menempelkan telunjuk dibibirnya.


"Kenapa? bukankah ini yang kamu inginkan?"


"Kenapa kamu seperti ini, bukankah lebih mudah jika kita tidak pernah bertemu lagi, kalau seperi ini, bagaiman aku bisa melupakan kamu Gam!"


"Kita tidak harus saling melupakan Bela. Aku mencintai kamu dan kamu mencintai aku!"


"Tidak agam. Kamu ada Reyna. dan calon anak kamu!"


Bela berusaha menyadarkan Agam.


"Iya. tapi aku juga ingin kamu!" Jawab Agam kembali mendekat.


"Hentikan Agam!" Bela melangkah mundur.


Aku tetap tidak bisa!" Tolaknya lagi. Bela berkali-kali menghembusakn nafasnya kasar.


"Jangan menolak Bel, coba kamu fikirkan dulu, tanya hati kecil kamu! Aku akan menunggu."


Tidak ada jawabn, Bela hanya menunduk memikirkan semuanya. menarik nafasnya dalam, sbelum memberi keputusan untuk Agam.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memikirkannya!"


Mendengar Jawaban Bela Agam lebih mendekat dan menarik Bela kedalam dekapnnya.


...※※※※...


Hari ini Bela tidak bisa berfikir, Dia masih memikirkan aksi nekat Agam. Ditinggalnya tugas yang masih menggunung, Bela perlu seauatu yang bisa menenangkan hatinya.


Namun saat akan meninggalkan rumah, Bela mendaptakan pesan dari Reyna.


Hatinya sudah lelah menghadapi Agam tadi pagi, dan siang harinya istrinya minta bertemu.


Akhirnya Bela membawa mobilnyaa datang ke alamat yang sudah Reyna kirimkan.


Reyna mengajaknya bertemu di sebuah taman. Belapun mencari sosok wanita hamil di taman tersebut, dan matanya tertuju pada ibu hamil dengan baju biru muda yang sedang menikmati minumannya sambil duduk di kursi taman.


Bela langsung mendaratkan tubuhnya duduk di samping Reyna.


"Apa yang ingin kamu tunjukan?" tanyanya langsung kepada tujuannya, Karena Bela tidak ingin berlama-lama dengan Reyna.


"Sabar dong, setidaknya nikmati dulu suasana sejuk di sini. udaranya sangat bagus untuk kamu dan juga wanita hamil seperti aku ini." Reyna mengelus perutnya sendiri.


"Ya. tante benar udaranya sangat bagus untuk ibu hamil, apa lagi di kehamilan tante yang beresiko, karena usia ibu hamil yang tidak lagi muda, alias tua." Ejek Bela yang membuat wajah Reyna berubah menjadi merah.


"Kamu tahu, Agam sangat menginginkan anak ini, dia selalu memberi perhatian lebih! Coba kamu lihat ini!"


Reyna menunjukan beberapa vidio yang menampkan Agam sedang bermain dengan perut buncitnya. Dia ingin Bela melihatnya dan sadar bahwa Agam sudah bahagia tanpa dirinya.


"Kamu lihat Betapa Agam sangat menyayanginya!" Reyna memanas-manasi Bela dengan video-video kemesraan mereka.


"Apa tante yakin itu anak Agam?" Tanya Bela yang membuat Reyna membelakan matanya.


"Maksud kamu?


"Siapa tahu itu anak laki-laki lain!"


"Jaga mulut kamu. Aku tahu kamu masih tidak terima Agam meninggalkan kamu, kamu lihat vidio ini."


Reyna yang marah menunjukan vidio yang di buatnya dengan Naya.


"Aku merekamnya saat setelah kami melakukannya, lihat juga tanggalnya. jelas-jelas saat itu kalian sudah dekat kan?"


Bela mengepalkan tangannya, Dia merasa kesal dengan tujuan Reyna menujukan semua video ini kepada dirinya.


Belapun beranjak meninggalkan Reyna tapi seblum pergi Bela ingin memberi Reyna pelajaran Berharga.


"Apa saat bangun pagi, Tante menemukan Agam? Apa Tante tahu semalaman Agam ada dimana?"


Bel pergi dengan meninggalkan pertanyaan - pertanyaan yang jawabanya mengarah pada dirinya.

__ADS_1


"Sial Agam! apa yang kamu lakukan dengan perempuan itu?" Teriak Reyna saat Bela sudah menjauh darinya.


__ADS_2