
Bela sudah selesai dengan tugas kampusnya, menyelesaikan KKN di desa, membawa kesan tersendiri untuknya. Apalagi disana kekeluargaannya masih sangat kental, hanya saja ada satu orang yang membuat Bela tidak ingin kembali lagi ke desa itu.
Hari ini Bela meminta Agam untuk menjemputnya di kampus. Bela butuh relaksasi. sudah hampir dua bulan dirinya tidak menjalnkan rutinitas paginya. Rasanya semua badan terasa kaku.
Agam turun dari mobil, menatap lurus kearah Bela. langkahnya sangat Berat, Agam berharap tidak pernah ada pertemuan seperti ini. melihat Bela yang melambaikan tangan dan menyerukan namanya, juga sangat bahagia ketika melihat kedatangan dirinya, kebahagian yang murni.wajah polosnya yang sama sekali tidak mengetahui apa yang sudah terjadi selama kepergiannya.
"Aku sangat merindukan kamu Gam." Bela Memeluk Agam erat. Agam hanya diam tidak merespon kata rindu yang Bela ucapkan. Agam terlalu fokus mencari cara untuk memberitahu Bela, karena menurutnya semakin cepat maka semakin Baik.
"Apa kamu tidak merindukan ku Gam?" Bela balik bertanya. Karena sedari tadi Agam hanya diam.
"Aku juga sangat merindukanmu sayang."
Bela menarik dirinya melepaskan pelukan Agam.
"Ada apa? kenapa kamu terlihat sedih Gam?" Bela merasa ada kesediah di setiap sentuhan Agam.
"Aku baik-baik saja. justru aku senang hari ini." Agam sangat piawai menyembunyiakan kesedihannya.
Mereka pun masuk kedalam mobil. Agam membaringkan jok mobilnya agar Bela merasa nyaman dan beristirahat. Dalam perjalanan mereka hanya diam saja. hanya keheningan yang ada. Di lihatnya Agam dari ujung mata Bela. Agam menyetir dengan tanpa expresi, bela tidak bisa menebak apa yang saat ini dirasakannya. Bela merasa ada yang berbeda dari Agam.
"Kamu yakin baik-baik saja?" Bela menyentuh lengan Agam, memeprtanyakan kembali pertanyaan yang sama.
Agam membelai rambut Bela. menyembunyikan semua rasa sakitnya di balik senyumannya.
"Kamu tidak usah khawatir, aku baik baik saja."
Bela kembali menghembusakn nafasanya kasar. perasaannya masih ragu dengan jawaban Agam.
Setelah sampai depan rumahnya Bela langsung menuju kamar dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur, dia sangat merindukan kamarnya. mencoba memejamkan matanya, mencari ketenangan, namun dia terbayang kembali wajah Agam. wajah sendu agam. meskipun dia tutupi dengan senyumannya, tapi mata tidak pernah berbohong.
Bela segera mandi, menyegarkan dirinya dari rasa lelah karena perjalanan. meskipun saat ini tubuhnya butuh istirahat, tapi Bela tidak bisa jika hatinya tidak ikut beristirahat.
Bela melajukan mobilnya menuju kantor Agam, bela yakin saat ini Agam pasti ada di kantornya.
"Pak Agam tidak bisa di ganggu." Ucap sekretarisnya
"Saya mohon, izinkan saya untuk masuk."
"Maaf ini sudah perintah pak Agam, dia Tidak ingin ada yang menganggunya."
Bela terus saja memaksa membuak hendel pintu ruangan Agam, namun sekretarisnya tetap gigih menghalangi jalan Bela. Karena dia nanti pasti akan di marahi bosnya.
__ADS_1
Bela mendorong sekretaris itu hingga terjatuh.
"Aaaww...." Pekiknya merasa keaakitan
"Uppss... Maaf" Bela tersenyum penuh kemenangan.
Cklek....
Bela membuka pintu, masuk kedalam dan menutupnya kembali.
Bela melihat Agam duduk di kursi kerjanya, menatap keluar jendela, entah apa yang di lihatnya. Dia bahkan tidak membalikan badannya, padahal dia mendengar ada seseorang yang memasuki ruangannya.
"Saya sudah bilang, saya tidak ingin di ganggu!" Tegurnya dengan keras.
Bela terperanjat, mendengar suara Agam menusuk telinga siapaun yang mendengarnya. Namun, dia tetap ingin berada di dekat Agam. Dengan langkah perlahan, Bela mendekati Agam, di putarnya kursi Agam hingga menghadap dirinya. Kemudian Bela menjatuhkan kedua lututnya, duduk bersimpuh memeluk lutut Agam.
"Aku merasakan sesuatu Gam, aku tahu kamu tidak baik-baik saja." Tak terasa bela menetskan airmatanya membasahi lutut Agam
Agam memegang kedua bahunya, membantunya untuk berdiri. dan membawa Bela kedalam pelukannya.
"Ada sesuatu yang harus kamu tahu." Bisiknya di telinga Bela.
Bela mengahpus sisa-sisa air matanya. Dan mengikuti kemana Agam akan membawanya, Dan ternyata Agam membawanya kesebuah restoran dengan memesan private room agar lebih nyaman untuk mereka. Bela siap untuk mendengarkan semua yang akan Agam katakan.
"Bela, maafkan aku." Sesuatu yang berawalan kata maaf pasti akhirnya menyakitkan.
"Kamu kenapa Gam?" Bela semakin dibuat tidak mengerti.
Lalu Agam memegang pipi kanan Bela. Pasti Agam akan merindukan pipi ini.
"Dengarkan aku. kamu tahu, aku sangat mencintai kamu." Bela menganggukan kepalanya dengan mata masih menatap bola mata Agam.
Ugh....
Agam kembali mengehmbuskan nafasnya kasar, menguatkan hatinya sebelumengucapkan kalimat yang Agam sendiri tidak pernah mau mengatakannya kepada Bela.
"Tapi, kita tidak bisa bersama. kita akhiri saja hubungan kita sampai disini."
Bela memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya menahan airmata yang tak ingin di tumpahkannya saat ini, dengan berharap telinganya menjadi tuli seketika, agar tidak pernah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Agam. Kata - kata yang membuat dadanya sesak. kata-kata yang membuat hatinya hancur.
"Kenapa kamu seperti ini, bukankah kita sedang baik-baik saja?" Bela menggelengkan kepalanya, menolak semua ajakan Agam.
__ADS_1
"Reyna sedang mengandung anakku."
Seketika tubuhnya lemas, semua tulang-tulangnya tidak mampu menompangnya lagi. Hati Bela jatuh hancur berkeping-keping, semua bayangan masa depan seolah hancur dan hanyut di terjang ombak kejujuran. sebuah kejujuran yang menyakitkan.
Bela menarik tanganya dari gengaman Agam, dengan sisa tenaganya, Bela berlari meninggalkan Agam dengan tangisan yang sudah tak terbendung lagi.
"Bela..." Teriak Agam yang panik dan mengejarnya.
Namun terlambat bagi Agam, Bela sudah membawa mobilnya jauh meninggalkan Agam.
...※※※※...
Agam kembali kekantornya dengan hati kosong, hatinya hampa, seperi gelebung sabun yang pecah jika mendapt sentuhan. Sama seperti hatinya saat ini yang sudah pecah karena perpisahannya.
Agam membaringkan tubuhnya dengan posisi miring. Dia juga sama halnya seperti Bela. menangis tersendu di dalam kantornya, dan hanya dirinya sendir yang bisa mendengar tangisannya.
Hari beralu begitu cepat, Agam terbangun dengan memegang kepalnya yang terasa pusing, mungkin karena seharian ini dia menangis. Di lihatnya jam yang melingkar di tangannya. Rupanya dia sudah tertidur sangat lama.
Agam bersiap untuk pulang kerumahnya, Dia tidak bisa bersikap egois lagi, Ada jiwa baru yang sedang menunggunya. Setidaknya Agam harus tetap semangat demi anaknya.
"Papa datang...!" Ucap Reyna saat melihat Agam datang dengan menenteng cake kesukaannya.
"Papa bawa cake, mama bilang kamu sangat mengingnkan cake ini!" Agam langsung mengusap perut Reyna dan berbicara kepada calon buah hatinya.
"Terimaksih mas, kamu tidak lupa pesenan aku."
"Ayo kita makan." Ajak Agam, untuk Reyna segera membuka cake yang di belinya.
"Aku mau di suapin, Aaa...." Reyna membuka mukutnya, meminta Agar agam menyuapi dirinya.
"Baiklah, mama kamu ternyata sangat manja." Agam kembali mengusap perut Reyaa yang sudah membuncit.
Usia kehamilan Reyna saat ini menginjak bulan ke lima, perut yang semula rata kini sidah terlihat membesar. mereka sudah mengetahui jenis kelamin bayinya nanti. Bahkan perhatian Agam bertambah setelah mengetahui Reyna mengandung anak perempuan.
Kebahagiaan Agam tidak menghilangkan rasa sakit perpisahannya. rasa itu ada, namun Agam simpan untuk mengingat kembali bahwa dirinya pernah membuat wanita yang di cintainya terluka.
"Apa yang mengganggu fikiran kamu mas?" Tanya Reyna saat melihat Agam tak juga menutup matanya.
"Tidak ada, aku hanya membayangkan akan menjadi papa seperti apa aku nanti."
"Kamu tidak usah khawatir, aku yakin anak kita akan bangga memiliki kamu."
__ADS_1
Akhirnya semua yang Reyna inginkan menjadi kenyataan, dia sangat berterimkasih kepada anak yang di kandungnya. Benar yang di katakan Naya, anak ini adalah magnet untuk menarik Agam agar kembali bersamanya. Reyna yakin Agam sudah mengakhiri semuanya dengan Bela. Dan pada Akhirnya seorang istri akan tetap menjadi istri.
"Kenapa kamu yang bengong.Sudah malam, ayo kita tidur." Agam mengusap mata Reyna Agar terpejam kembali.