Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Cinta Kita Nyata


__ADS_3

Kepala Agam terasa berat, dia mencoba duduk dan menyadarkan diri dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dimana ini?" Mata Agam menelusuri setiap sudut ruangan kamar Bela.


"Bela..." Ucapnya, saat melihat Bela tertidur di sebelahnya.


"Kamu sudah bangun Gam?" Menyipitkan mata melihat kearah Agam. Bela terbangun karena merasakan pergerakan di atas kasurnya.


"Kenapa aku ada disini?" Tanya Agam yang tidak mengingat sama sekali kejadian semalam.


"Aku yang bawa kamu kesini, aku bingung harus membawa kamu kemana, lain kali jangan minum terlalu banyak, susah tau membawa kamu masuk kedalam rumah." Keluh Bela sambil menarik selimut menutupi keseluruh tubuhnya.


"Terimakasih ya..." Agam membelai punggung Bela.


"Gak gratis, pokonya kamu punya hutang ya Gam"


"Baik, Maafin aku, pasti kamu kesulitan membawa aku kesini. aku akan membayarnya, Apapun yang kamu inginkan aku turuti. Tapi, sekarang aku harus pulang."


"Tunggu dulu!" Bela mencekal tangan Agam, saat Agam akan bangun dari duduknya.


"Apa?" Agam menoleh heran.


"Kamu lupa, di bawah ada papa. tunggu sampai papa berangkat kerja, baru giliran kamu pulang." Agam hampir saja melupakan bahwa dirinya saat ini berada di kamar Bela.


"Apa kamu tidak akan bangun?" Agam tersenyum jahil.


"Aku masih ngantuk Gam, ini gara-gara aku harus mengurus orang mabuk." Keluhnya lagi.


"Iya, ini semua karena aku, aku minta maaf ya..., tapi tidak mungkin kamu membawa aku sendiri masuk kedalam kamar ini, siapa yang membantu kamu?" Tanya Agam begitu menyadari bahwa tidak mungkin Bela menggendong dirinya masuk kedalam kamar Bela.


"Daniel. Aku meminta bantuannya."


"Dia lagi? Kenapa harus dia?" Agam tidak suka saat Bela menyebutkan nama Daniel.


"Apa aku harus meminta bantuan papa untuk membawa kamu kesini. Sebenarnya ada apa Gam, kenapa kamu sangat tidak suka Daniel?" Bela merasa setiap dirinya membahas Daniel pasti Agam akan kesal.


"Karena dia...., Sudahlah kamu tidak akan mengerti."


"Bagaimana aku bisa mengerti, sedangkan kamu tidak bisa menjelaskannya." Akhirnya Bela kesal juga dengan Agam. Dia menahan teriakannya karena khawatir jika terdengar papanya.


"Aku tidak suka kamu dekat dengan dia." Jawab Agam tegas.


"Tapi kenapa Gam, dia baik dan juga dia mengetahui tentang kita."


"Kamu menceritakannya, Apa kamu tidak berfikir dia akan memberitahu David? Agam tidak percaya, Bela menceritakan hubungannya kepada orang baru.


"Tidak mungkin, aku mempercayainya."


"Sshhiitt....." Umpat Agam, Agam berdiri menjahui Bela.


"Gam, aku berharap kamu akan bersikap baik kepada Daniel. Aku tidak ada perasaan apapun kepadanya. Aku mencintai kamu." Bela mendekat kepada Agam, memberi pengertian, Agar Agam lebih mengenal Daniel lebih jauh lagi.


"Tapi Bela aku cemburu, Aku khawatir dia akan merebut kamu dariku. sementara hubunga kita Belum jelas arahnya."


"Tapi cinta kita jelas agam, cinta kita nyata." Bela memeluk Agam dari Belakang. Dia myakinkan Agam bahwa cinta mereka memang benar dan sangat nyata.


"Mari kita menikah setelah perceraianku. Aku akan menghadap David." Agam membalikan Badannya, menggenggam tangan Bela. Dia harus segera membuat keputusan, agar Bela segera menjadi miliknya, sehingga tidak ada peluang bagi laki-laki lainnya.

__ADS_1


"Apa kamu yakin akan bertemu dengan papa." Tanya Bela menatap mata Agam.


"Ya, aku yakin. Aku akan meminta kamu secara baik-baik."


"Tapi, jika papa menolak?"


"Kamu tidak usah khawatir aku akan mengurus itu semua." Agam membawa Bela kedalam pelukannya.


tok...tok...tok...


"Bela, kamu tidak akan turun sarapan?" Bela spontan mendorong Agam setelah terkejut mendengar suara papanya memanggil.


"Iya pah, Bela turun sekarang" Jawab Bela panik.


"Kamu bisa mandi dulu, handuk ada di sebelah situ, Aku turun dulu." Langsung saja bela memberitahu letak barang yang akan di butuhkan Agam di kamarnya. Sebelum turun menyusul papanya untuk sarapan. sedangkan Agam menuruti semua intruksi yang Bela berikan dan pergi mandi.


Setelah selesai, Agam keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang begitu fresh, walaupun masih memakai pakaian kemarin.


Setelah David berangkat kerja, Bela pun menyiapkan makanan untuk Agam sarapan dan masuk kedalam kamarnya membawa kopi hangat dan nasi goreng untuk Agam sarapan.


"Kamu sarapan dulu, papa sudah berangkat, Aku mandi dulu nanti aku akan antar kamu mengambil mobil di klub semalam." Tutur Bela.


"Siap komandan."


...※※※※...


Saat ini Reyna sangat marah, setelah kemarin dia mendaptkan amplop berisikan surat perceraiannya yang di kirimkan kurir ke rumahnya.


Ini adalah penghinaan baginya. Bagaimana bisa kurir yang mengirimkannya. bahkan jika Agam sendiri yang memberikannya itu adalah penghinaan untuk Reyna.


"Apa pak Agam ada?" Tanya Reyna kepada sekertarisnya.


Reyna membuka pintu ruangan Agan tanpa mengetuknyan.


"Apa maksud dari surat ini?" Reyna melemparkan amolop coklat itu ke depan muka Agam.


Kemudian Agam mengambilnya lalu ia membukanya.


"Kamu belum menandatanganinya!"


"Jangan harap aku akan melakukan itu. Itu tidak mungkin terjadi, aku tidak akan membiarkan kamu bebas bersama perempuan ****** itu."


"Apa yang kamu harpakan Rey, aku akan tetap menceraikan kamu."


"Kamu tidak bisa berbuat semaumu Gam. Aku sudah memberitahu kedua orang tuamu masalah perceraian ini, kamu hanya tunggu bagaimana papa akan bertindak."


Reyna meninggalkan kantor Agam dengan amarah yang masih memuncak.


Benar saja yang Reyna katakan, Agam mendaptkan telphon dari orang tuanya agar segera menemui mereka.


...※※※※...


Ini adalah hari terakhir Bela masuk kampus sebelum masa liburan tiba. Bela masih bingung akan merencanakan liburannya di mana. Karena liburan kali ini akan sangat menyibukan dirinya karena dia harus memulai persiapannya untuk KKN.


"Bela....Akhinya libur juga, loe ada rencana kemana? Bali, lombok atau kita ke Luar negri?" Tajya Maya penuh semangat.


"Gw belum ada rencana May."

__ADS_1


"Hhhmmm.... Adit sih ngajak gw ke singapura!"


"Ada apa dengan singapura?" Tanya Bela, biasanya merka menghabiskan waktu hanya di dalam negri karena menyesuaikan dengan jadwal penerbangan Adit.


"Karena jadwal penerbangan Adit ganti."


"Maksud loe, dia akan lebih banyak tinggal di singapura?


"Iya, tapi sementara sekitar 3 bulan. 'Gimana, singapura aja?" Maya sangat butuh jawaban Bela segera.


"Hhhmmm oke, setuju."


"Kita berangkat lusa?"


"No. Gw belum persiapan, lu enak begitu datang langsung ke tempat Adit. lah gw gimana?"


"Ya loe ikut gw Bel." Ajak Maya.


"Gila loe, gw gak mau." Bela langsung menolak ajakan Maya. Dia tidak bisa membayangkan apa jadinya bila harus satu temoat dengan mereka, yang ada Bela disuguhi pemandangan- pemandangan yang menggelikan.


"Jadi kapan?" Kesal Maya keoada Bela.


"Setelah gw mempersiapkan semauanya."


...※※※※...


Mobil Agam sampai di pekarangan rumah orang tuanya. Kemudian dia masuk kedalam rumah yang sudah lama dia tidak kunjungi.


"Selamat siang mah,Apa kabar?" Agam memeluk mamanya. meski Nela bukan ibu kandung Agam, tapi dialah wanita yang menguris Agam sejak kecil.


"Kamu sudah di tunggu papa kamu di ruanganya." Ucap Nela setelah melepas kangen karena sudah sangat lama Agam tidak mengunjunginya.


tok...tok...tok...


"Masuk!" suara Harun dari dalam ruangannya.


"Duduk!" Agam langsung duduk di hadapan Harun. hubungan keduanya memang sedikit renggang setelah perjodohannya dengan Reyna.


"Apakah benar yang Reyna katakan?"


"Aku tidak tahu Reyna mengatakan apa kepada papa, Tapi aku tidak akan merubah keputusanku."


"Demi gadis ini, kamu mau melepas perusahaan kamu. Perusahaan yang telah kamu besarkan bahkan kamu rela menerima perjodahan dengan wanita yang sama sekali tidak kamu cintai semata-mata demi perusahaan ini? Papa ingin kamu tinggalkan gadis itu dan kembali kepada Reyna."


"Tidak pah. aku sudah yakin dengan keputusanku. Dan juga papa harus menepati syarat yang pernah aku ajukan saat menerima perjodohan itu."


"Bahwa papa tidak akan mencampuri semua urusan kamu? Begitu mau kamu Gam? Tidak bisa Agam, kamu tidak bisa mengambil keputusan seorang diri."


"Iya, Rupanya papa ingat, jadi Agam ingin papa menepati janji itu!"


"Tidak Bisa Agam. Kamu harus sadar, papa mengerti, mungkin saat ini kamu hanya sedang ingin bermain dengan gadis muda. Papa yakin kamu akan cepat bosan dan meninggalkan gadis itu. Cukup kamu hanya bermain dan kembali kepada Reyna."


"Papa anggap aku apa? aku bukan laki-laki berengsek seperti papa tuduhkan. Lagi pula Bela bukan gadis sembarangan. Dia adalah putri David Davinson!"


"Siapa kamu Bilang? David Davinson!" Harun tersenyum saat mengulang menyebut nama David.


"Ada apa pah?" Tanya Agam yang menyadari peribahan sikap papanya.

__ADS_1


"Kamu boleh pergi!" Agam keluar dari ruangan Harun dengan bingung. Dia bertanya-tanya, ada apa dengan papanya yang berhenti mendebat dirinya setelah mendengar nama David di sebutkan.


__ADS_2