
Agam tidak tahu harus kemana lagi mencari keberadaan Bela. Ada seseorang yang terlintas di kepala Agam. Akhirnya Agam mengarahkan mobilnya menuju Rumah satu-satunya sahabat yang di miliki Bela.
Tok...tok...tok...
"May, Maya....!" Teriak Agam dari luar rumah.
Maya yang sedang tidurpun terbangun dengan suara ketukan dan teriakan dari luar rumahnya.
"Agam, Ada apa?" Tanya Maya dengan sedikit kesal karena Agam mengganggu tidurnya.
"Kamu tahu dimana Bela?"
"Memang Bela kemana?"
"May please jangan sembunyikan Bela dariku!"
"Kamu ngomong apa Gam? Aku benar-benar tidak mengerti!" Maya memang tidak mengerti dengan yang Agam tanyakan.
"David mengetahui hubungan aku dengan Bela. dan saat ini David membawa Bela entah kemana. Aku sudah sangat buntu. Telphonnya tidak aktif, aku tidak tahu harus kemana lagi, selain menanyakan ini semua ke kamu. dan aku mohon jika tahu sesuatu tentang Bela jangan menyembunyikannya."
"Aku sama sekali tidak tahu keberadaan Bela. hanya saja kemarin dia ada menghubungiku, dia bilang pernikhannya batal, tapi dia tidak tahu alasannya. itu terakhir dia menelphonku. dan hari ini, seperti yang kamu bilang telphonnya tidak aktif." Ucap Maya menjelaskan.
Agam merasa sangat frustasi mencari keberadaan Bela.
"Tapi kenapa kamu mencari dia lagi? bukankah kamu sudah meninggalkannya? Apapun yang saat ini terjadi dengn Bela, harusnya kamu tidak usah peduli lagi!" Tanya Maya dengan nada mengancam.
"Aku tidak pernah meninggalkannya. Dia yang ingin pergi, Dia yang mengakhiri hubungan ini!"
"Kamu salah Gam. Kamu yang membuat Bela pergi. Kamu yang tidak tegas dengan hubungan kalian.Kamu yang tidak bisa memilih. Kamu yang menghancurkan Bela."
"Iya. Aku yang salah. aku yang membuat Bela pergi. Dan aku menyesalinya!"
"Sekarang setelah semuanya terjadi kamu menyesal. setelah kamu benar-benar kehilangan Bela baru kamu muncul dan mencari Bela. Untuk apa? semuanya terlambat. Karena saat ini sudah tidak ada kamu di hatinya!" Ucap Maya kelepasan. Maya memang mengetahu bahwa saat ini Bela sedang menaruh hati kepada seorang laki-laki.
"Apa maksud kamu May, Apakah Bela mencintai seseorang?" Tanya Agam penuh penyesalan.
"Iya. Jadi lupakan Bela sepenuhnya. Jangan hadir lagi di kehidupannya, itu hanya akan membuat Bela menderita!"
Agam memejamkan mata menerima setiap kaliamat yang menyakitkan dari Maya. Apakah salah kalau dirinya masih menginginkan Bela, masih peduli, masih berharap?!
...※※※※...
Tak hanya Agam ternyata ditempat lain, Rangga yang tidak bisa menghubungi Bela menjadi gelisah. karena tak seperti biasanya Bela susah di hubungi.
Rangga mencoba mendatangi David di kantornya, kebetulan Ada pekerjaan yang akan didiskusikannya dengan David.
"Selamat sore pak David!"
__ADS_1
"Selamat sore pak Rangga, silahkan duduk!"
"Bagaimana, apakah anda tertarik dengan yang saya tawarkan?"
"Saya sangat berterima kasih sebelumnya, Pak David telah mempercayakan ini semua kepada saya. Dan saya akan memberikan hasil yang terbaik."
"Sama-sama pak Rangga, saya berharap kerja sama ini akan terus berlanjut dengan project project yang baru."
"Pak David, Boleh saya bertanya di luar pekerjaan?" Tanya Rangga memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan Bela keoada orang tuanya.
"Silahkan!"
"Beberapa hari ini saya tidak bisa menghubungi Bela, apa dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja!" Jawab David. Namun bukan jawaban itu yang Rangga harapkan.
"Sejauh mana hubungan kalian? Saya perhatikan kalian cukup dekat." Tanya David lagi. David mulai penasaran dengan kedekatan anaknya dan pengusaha muda di depannya.
"Iya, memang kami cukup dekat. Namun akhir-akhir ini saya khawatir karena Bela tidak bisa di hubungi.
"Dia tidak ada di negara ini!"
"Bela tidak disini?"
"Iya, Kamu bisa menghubungi nomor ini. itu nomor baru Bela." David memberikan sebuah nomor dan juga alamat. David berharap Rangga bisa membiat Bela melupakan agam.
"Terima kasih pak David."
"Baik om, saya permisi dulu."
...※※※※...
Bela sudah sampai di singapura. ini kali kedua Bela menginjakan kaki di negri singa ini. Papanya salah mengirim Bela kesingapura jika untuk menjauh dari Agam, justru Bela semakin mengingat Agam jika berada negiri ini. Waktu yang di habiskan Bela bersama Agam dulu di negara ini masih jelas teringat.
Bela meletakan barang-barangnya di kamar asrama. Bela tak langsung merapikannya, dia justru berbaring menatap langit-langit kamarnya.
Bermacam-macam bayangan orang yang pernah ada di kehidupannya lewat begitu saja. Bela segera menyadarkan dirinya untuk tidak larut dalam masa lalunya. Karena mulai hari ini Bela harus menata masa depannya sendiri. Mencari kebahagiaanya tanpa merasa terbebani.
Sudah beberapa hari berada di singapura, Bela merasa bosan, karena tidak ada satupun teman yang di milikinya di sana. Satu-satunya teman yang bisa di ajaknya mengobrol hanya Maya.
Bela yang merasakan perutnya lapar, memaksakan diri untuk mencari makanan. dengan hanya membawa dompet kecil, Bela keluar kamar mencari sesuatu yang dapat mengganjal perutnya.
"Bela....!" Suara laki-laki memanggil di tempat asing, Tidak mungkin orang itu memanggil dirinya Namun dari suaranya Bela merasa sangat familiar.
"RANGGA...! Kamu ada disini?" Tanya Bela saat memberanikan diri untuk menolehkan kepalanya.
"Iya, seperti yang kamu lihat aku ada disini."
__ADS_1
"Pasti papa yang kasih tahu kamu!" Tebak Bela mengdeipkan sebelah matanya.
"Iya aku menanyakan keberadaan kamu. Dan om David memberitahu kalau kamu berada di sini."
"Aku seneng kamu ada disini, aku disini sendirian Ngga, gak ada temen ngobrol!"
"Nanti kalau sudah mulai masuk kampus, kamu pasti memiliki banyak teman Bel."
"Oh ya, tawaran aku yang dulu masih berlaku loh!" Ucap Rangga mengingatkan pada rekomendasinya dulu.
"Aku mau Ngga, tapi aku masih belum yakin, apa aku pantas dapat rekomendasi dari kamu."
"Aku merekomendasikan kamu karena aku yakin kamu memenuhi semua kualifikasi yang mereka cari.
"Kamu yakin Ngga?"
"Aku yakin kamu bisa, dan kamu juga harus yakin akan kemampuan diri kamu!"
"Thanks ya Ngga, kamu selalu suport aku!"
"Tapi, kenapa kamu bisa ada disini?"
"Ini semua karena pak Bram. Dia membongkar kedekatan aku dengan Agam. padahal saat ini aku sudah tidak mempunyai hubungan apapun dengan Agam. Papa sama sekali tidak percaya padaku lagi."
Bela mengutarakan kekecewan kepada papanya.
"Terus apa yang akan terjadi dengan pernikahan kalian?" Tanya Rangga yang tidak tahu kabar terkini tentang pernikahan Bela.
"Batal. papa membatalkan semuanya. Aku senang dengan batalnya rencana pernikahan itu. Tapi aku juga sedih karena pernikahan itu akau rancang seperti pernikahan impian aku dan itu semua tidak akan pernah terlaksana."
"Kamu masih bisa melanjutkan rencana pernikahan kamu bel!"
"Siapa calon mempelai prianya Ngga?" Jawab Bela gemas.
"Aku."
uhuk...uhuk...
Bela tersedak ludahnya sendiri, mendengar apa yang Rangga katakan.
"Jangan bercanda masalah pernikahan Ngga. kualat loh!"
"Aku serius Bel. Menikahlah denganku. Aku berjanji akan membahagiakanmu!"
Bela menatap tajam sorot mata Rangga, Rupanya Rangga benar-benar serius dengan lamarannya. Dalam hatinya bersorak untuk segera memeluk Rangga menerima lamarannya.
walaupun tidak ada bunga, tidak ada cincin, tidak ada perayaan, tapi ucapan tegas dari Rangga mampu membuat Bela terbang melayang.
__ADS_1
Sejenak Bela memikirkan jawaban yang akan di berikannya kepada Rangga. Perasaan ini memang sudah di rasakan Bela semenjak dekat dengan Rangga.
"Aku mau Ngga!"