Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Diambang Batas


__ADS_3

Sudah beberapa bulan ini Agam menunggu informasi terbaru tentang perkembangan penyelidikan istrinya. Orang suruhannya sangat sulit mencari sesuatu yang mencurigakan tentang Reyna. selain Naya dan Digta tidak ada orang mencurigakan lainnya yang menemui Reyna.


"Digta.... laki-laki itu, Bawa dia menghadap saya!" Agam memerintahkan untuk membawa Digta, dia berfikir Digta pasti tahu sesuatu.


"Baik pak."


Agam curiga terhadap Digta, karena dia pernah membantu Reyna melakukan kejahatan. Dan Agam berfikir kemungkinan besar ada keterlibatan Digta.


Saat Agam akan membawa buku catatannya dia tak sengaja menyegol tumpukan berkas dan membuat itu terjatuh berantakan di lantai.


"Arrrggghhhh......." Dengan malas Agam jongkong memunguti setiap berkas demi berkas, sampai dia menemukan sebuah kartu undangan yang juga ikut terjatuh.


Tangannya meraih kartu undangan yang jelas tertulis nama wanita yang sangat di cintainya, membuka matanya lebar untuk membaca setiap huruf yang tertulis di atas kertas berwaran emas itu. Seakan tidak percaya dengan yang dilihatnya Agampun mengulang lagi apa yang telah di bacanya.


"Pernikahan Bela Davinson dengan Rangga Wijaya." Agam meremas kartu undangan itu hingga tidak berbentuk lagi, melampiaskan rasa marah dan cemburu karena Bela sudah di miliki pria lain.


"Kenapa kamu tidak memberitahukan saya tentang undangan ini?" Agam melemparkan undangan yang sudah tak berbentuk ke meja sekretarisnya.


Sekretrisnya pun membuka surat undangan untuk melihat undangan siapa yang tidak dia berikan kepada bosnya itu.


"Maaf pak, saya sudah memberitahukan undangan ini, tapi pak Agam menyuruh saya meletakannya di meja pak!"


"Sudahlah, semuanya sudah terlambat!" Agam berbalik dan membanting pintu masuk kedalam ruangannya sendiri.


Tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi peluang untuk Agam bisa bersama Bela. Kini dia yang harus mengubur rasa cintanya. Kini Bela sudah bahagia dengan laki-laki pilihannya, dengan suaminya.


"Tidak seharusnya aku menginginkan milik orang lain!"


...※※※※...


Sesuai rencananya, saat ini sudah duduk Digta dengan tangan terikat dan mata tertutup di hadapan Agam.


"Apa kamu ingat situasi seperti ini?" Ucap Agam duduk di hadapan Digta.


"Siapa kamu, apa yang kamu mau dari aku?" Teriak Digta berusaha lepas dari ikatannya.


"Lucu sekali, melihat kamu berteriak, marah dan bingung dengan keadaan seperti ini. seharusnya perasaan itu kamu rasakan saat dulu menyekap Bela!"


"Bela...! Aarrgghhh.... Apa dia yang di balik ini semua?" Tanya Digta menebak.


"Bukan, Dia tidak ada hubungan apapun dengan semua ini!" Agam membuka penutup mata Digta membiarkannya melihat siapa yang saat ini di hadapannya.


"Agam, apa yang kamu inginkan?" Tanya Ditga begitu melihat Agam.

__ADS_1


"Digta.... sudah lama bukan?"


"Hahaha.... aku tahu apa yang kamu inginkan, tapi kamu salah, aku tidak akan berbagi apapun dengan kamu!" Digta sudah bisa menebak tujuan Agam menyekap dirinya.


"Aku sudah menduga itu sebelumnya, karena kalau itu mudah, aku hanya mendatangi kamu saja, tidak perlu repot-repot menyeret kamu sampai sini!"


"Hahaha... Kamu hebat bisa bertahan lama dengan Reyna, bahkan kamu rela melepas Bela." Ejeknya memancing kemarahan Agam.


"Diam kamu. Sekarang kamu hanya perlu berbagi apa yang kamu ketahui tentang Reyna!" Benar saja, Agam terpancing emosinya. Agam menarik kerah baju yang Digta kenakan.


"Ada harga dari itu semua!" Seolah tidak takut dengan yang akan di lakukan Agam, Digta mencobe bernegoisasi.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Agam yang masih mencengkram Digta.


"Satu milyar, aku rasa itu pantas untuk informasi yang aku ketahui."


"****... kamu mencoba memerasku! kamu belum tahu siapa aku, kamu akan meminta pengampunan atas ini semua." Agam melepas cengkramannya di ganti dengan mencekik leher Digta dengan kedua tangannya.


"Ayo katakan apa yang kamu ketahui, apa satu miliar lebih besar dari harga nyawamu sendiri?"


"Leee-pas-kan aku ti-dak bisssa ber-naf-as!" Ucap Digta dengan sisa-sisa nafasnya.


Agam semakin erat mencekik Digta, sampai Digta tak berdaya dan mengalah.


"Anakmu, dia bukan anak kandungmu." Ucap Digta berbisik di telinga Agam.


Dadanya seperti ditusuk benda tumpul mendengar ucapan Digta.


"Apa maksudmu?" Teriak Agam kembali mencekik leher Digta. Dengan sorot mata melihat kedalam mata Digta. mencari kebohongan didalamnya. kemudian Agam perlahan melepaskan tangannya saat melihat tidak ada keraguan dan ketakutan di mata Digta.


"Aku tidak tahu lebih lagi, kamu bisa mencari tahu kebenarannya sendiri. setelah ini jangan pernah ganggu aku lagi."


Agam berjalan menjauh, kakinya terasa berat untuk melangkah, saat ini Agam takut dengan rencananya sendiri. apa ini benar atau akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


"Lepaskan dia!" Perintah Agam sebelum meninggalkan Digta.


Agam membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera sampai di rumahnya. Cara satu-satunya untuk membongkar ini semua adalah dengan melakukan test DNA. Seharusnya Agam melakukan test itu dulu, saat dirinya merasa ragu. Namun niat itu di urungkannya. Kali ini berbeda, Agam akan melakukan test.


...※※※※...


Seperti biasa Reyna mengahabiskan waktunya bersama teman-temannya, padahal dia sudah berjanji akan menjadi ibu sepenuhnya bagi Arka, janji tinggalah janji, selama Agam tidak mengetahuinya dia merasa aman.


Tanpa sepengtahuan Reyna, Agam sudah mengetahui itu semua, namun karena Agam memiliki misi tersembunyi dia membiarkan istrinya melakukan apa yang dia mau.

__ADS_1


"Sepertinya loe sudah tidak mengkhawatirkan Agam?" Tanya Naya yang melihat Reyna kembali berseri seperti dulu lagi.


"Loe tenang Nay, gw main cantik!" Ucap Reyna yang menikmati musik.


Saat ini mereka sedang mengadakan pesta di rumah Naya.


"Loe paling bisa soal ini Rey!" puji Naya.


"Selama mulut-mulut pembantu gw terkunci, gw aman!"


"Ya, semoga mereka tidak menggigit tuannya!"


"Di dunia ini, siapa sih yang gak butuh duit. Diamnya mereka bisa menjadi duit. Itu sangat mudah bukan?"


"Ya, uang memang nomor satu, hahaha!"


Semakin larut dalam kesenangannya, Reyna hampir lupa bahwa ini waktunya untuk pulang.


"Nay, gw harus cepet balik, Karena agam bentar lagi pulang kerja!


Reyna pamit pulang, dia masih bisa menikmati pesta namun sangat tersiksa karena harus pesta tanpa alkohol. Itu bisa membuat Agam mengetahui kebiasaan yang belum Reyna tinggalkan.


Saat sampai rumah ternyata mobil Agam sudah terparkir di depan rumahanya, yang menandakan suaminya pulang mendahulinya.


"Gawat, Agam sudah datang, aku harus mencari alasan!"


Dengan langkah cepat, Reyna memasuki rumahnya. Dia di kagetkan dengan agam yang sudah berada di ruang tamu, duduk dengan wajah dan pakian yang berantakan.


"AGAM....!"


"Kamu dari mana?"


"Susu Arka habis, jadi aku beli di toserba depan tapi disana juga gak ada."


"Apa yang kamu sembunyiakn dariku? apa Arka bukan anakku?"


"Masuk, tadi Arka cari kamu!"


"Kenapa aku tidak bisa menanyakannya langsung? apa aku sendiri belum siap mendengar kebenarannya?"


Ini adalah ketakutan terbesar Agam, dia takut jika ini semua benar. Kasih sayang yang telah dia berikan bahkan dia rela harus kehilangan wanita yang di cintainya. Demi kebohongan yang diciptakan Reyna.


Agam juga takut, jika ternyata yang dikatakan Digta salah. Dia telah meragukan anak kandungnya sendiri. Mencoreng kepercayaan antara anak dan ayah. Meskipun Arka mungkin belum mengerti, tapi dia akan terkuka jika mengetahuinya kelak.

__ADS_1


__ADS_2