Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Waktu Yang Berlalu


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti tanpa memperdulikan apa yang terjadi dengan setiap orang di kehidupan ini, karena apapun yang terjadi,hidup memang harus terus berjalan. Entah itu kesedihan, kemarahan, kebahagian, kekecewan, setiap manusia pasti merasakan itu semua, namun hidup tidak berhenti sampai di situ, karena banyak hal yang tak terduga menunggu didepan sana.


"Bel, sampai kapan kamu membiarkan apartement itu kosong? ini sudah hampir satu tahun loh!" Tanya Julie, ini bukan pertanyaan pertamanya.


Bela semakin dekat dengan julie, selain sebagai atasannya di kantor mereka juga sering berbagi cerita.


"Aku tidak tahu, aku belum siap pindah kesana!" Jawaban yang selalu Bela ucapkan. Susah sekali membujuk Bela untuk menempati apartmen yang sudah satu tahun belum juga di tempati, bahkan tempatnya pun Bela belum pernah mendatanginya.


"Ini sudah terlalu lama. Menurut aku,Rangga pasti bahagia melihat kamu menerima hadiah terakhir darinya." Seperti biasa Bela tidak banyak merespon Julie jika tentang apartmen itu.


Julie melirik jamnya, dengan terpaksa dia harus mengakhiri istirahatnya.


"Aku ada rapat dengan Jery, duluan ya!" Setelah kepergian julie, Bela pun kembali ke ruangan untuk menyelesikan laporannya, lagi pula waktu istirahat memang sudah selesai.


"Perhatian semuanya, Kita harus segera menyelesaikan semua laporan di tahun ini, pak Jery meminta besok harus sudah selesai, karena Besok CEO kita akan datang untuk memeriksa laporan satu tahun terakhir. Oke semuanya semangat!" Julie datang dengan membawa pengumuman. Tak lupa dia tetap memberi semangat kepada timnya.


"Oh ya Bela, bawa laporan yang telah kamu susun!"


"Baik bu!" Bela langsung membawa laporan yang di maksud Julie.


"CEO?" Tanyanya mengerutkan kedua alisnya.


Mungkin ini akan jadi kali pertamanya Bela merasakan bagaimana CEO langsung yang memeriksa laporannya.


"Iya, dia pemilik perusahaan ini, dia akan datang satu tahun sekali untuk memeriksa seluruh laporan perusahaan. Biasanya di akhir tahun kita semua sangat tegang, karena dia super teliti."


"Hhmmm, aku juga jadi ikut tegang!" Bela merasakan ketegangan dari semua orang di timnya.


"Kamu tenang aja, dia orangnya baik kok!"


"Semoga laporan yang aku buat mulus lus... lus...!" Bersikap optimis bisa mengurangi ketegangan yang dirasakannya.


"Semoga!"


Bela kembali ke mejanya meneruskan mengerjakan laporan yang sebentar lagi selesai.


Kemungkinan beberapa karyawan akan lembur, karena pekerjaan Bela telah selesai, dia bisa pulang di jam normal.


Bela sudah memantapkan diri untuk mengunjungi apratmen yang di hadiahkan Rangga, bersama Julie. Dia dengan tulus hati rela mengantar Bela, teman barunya yang kini menjadi satu-satunya tempat curhatnya.


"Serius Bel ini tempatnya?" Tanya Julie saat mobilnya memasuki kawasan aparteman yang hanya dimiliki kaum beruang.


"Iya, memang kenapa kak?" Tanya Bela yang cuek dengan eksprsi kagum Julie.


"Ini sih kawasan elit Bela. Kamu beruntung bisa dapat disini, karena sangat sulit sekali jika ingin tinggal di kawasan ini!"


Bagi Bela kawasan apartmen ini biasa saja, karena memang dirinya sudah terbiasa dengan kemewahan.


"Menurut alamatnya si betul kak yang ini, ayo turun!" Ajak Bela.


Belapun turun disusul Julie di belakangnya, mencari nomor unit yang sama dengan yang tertulis di alamatnya.

__ADS_1


"Bel, sepertinya yang ini!" Tunjuk julie yang masih kagum bisa bediri di tempat impiannya.


Bela membuka kunci pintu apartmennya, mencari saklar lampu untuk lebih memudahkannya melihat kedalamnya.


Bela terperangah, matanya terbuka lebar, jelas sekali saat lampu di nyalakan, photo dirinya dan Rangga yang berukuran besar mampu membuatnya kembali merindukan sosok yang sudah lama pergi. Rangga sudah memberikan lebih dari yang di harapkannya. Apartmen ini seolah menjadi pengganti kehadiran dirinya.


"Bel, Bela....!" Julie mengguncang tubuh Bela yang hanya diam terpaku menatap photonya bersama Rangga.


"Kak, aku merasakan kehadirannya disini!" Ucap Bela, tak terasa airmata menetes begitu saja.


Kekosongan hati, rasa penyesalan semua itu menjadi kesepian yang panjang di rasakan Bela. Menyesal karena belum memberikan cinta terbaiknya, menyesal karena hanya mempunyai sedikit kenangan. Tidak seorangpun ingin begini, tidak ada yang bisa menyalahi takdir.


"Kamu harus segera tempati apartmen ini, dia sudah lama menunggu kamu, aku yakin jika kamu berada disini kamu akan merasa bahwa Rangga menginginkan kamu yang dulu, kamu yang ceria, kamu yang selalu tersenyum."


Julie sangat ingin membuat Bela kembali seperti dulu. Karena satu tahun ini semua keceriaan Bela hilang. Dia menjadi gadis murung, dia hanya bekerja dan belajar, melupakan semua kesenangannya, kebahagiaanya. Bahkan banyak kaum adam yang mendekatinya, namun Bela sama sekali tidak menanggapinya.


Sudah satu tahun Bela menutup dirinya, menutup hatinya. Dia tidak lagi merasakan rasa itu, rasa cinta itu hilang seperti ikut terkubur bersama Rangga.


"Kak, kita keluar dari sini!" Bela menarik tangan Julie, untuk mengikutinya.


"Tapi Bel, apa kamu tidak ingin melihat seluruh ruangan disini?"


"Aku gak bisa kak, ayo kita keluar dari sini!"


"Oke, oke ayo!" Dengan terpaksa Julie ikut keluar apartmen. dia mengerti mengapa sulit bagi Bela menerima apartmen ini. Tapi Julie masih berfikir bahwa ini bukan yang diinginkan Rangga.


...※※※※...


"Apa setiap tahun seperti ini?" Tanya Bela kepada rekan satu timnya, karena di akhir tahun tugas tim selesai tersisa tugas manager tim, memberi laporan kepada Ceo.


"Iya, sekarang lumayan. Dulu saat awal-awal perusahaan ini berdiri, Pak Agam setiap bulan datang, dan kita pasti sibuk di akhir bulan."


"PAK AGAM?" Tanya Bela saat nama yang akrab dengan telinganya, terdengar kembali.


"Tidak mungkin, nama Agam pasti bukan hanya dia, banyak Agam-agam yang lainnya."


"CEO kita. dia baik hanya sangat tegas dan teliti, dia juga sedikit pendiam."


"Agam yang aku kenal, dia juga baik tapi Agam tidak pendiam. Pasti beda orang. Aku yakin!"


"Bel kok bengong, kamu dengerin cerita aku kan?" Tegur rekan timnya, yang tengah asik bercerita sedangkan Bela hanya diam tidak merespon sama-sekali. Justru Bela tenggelam dengan fikirannya sendiri.


"Iya aku denger kok!"


Rasa penasaran terus mengusik Bela, meskipun dirinya sudah meyakinkan diri bahwa itu bukan Agam yang dia kenal, namun perasaan gelisah ini terus dia rasakan.


"Bagaimana kalau dia Agam, aku gak mau ada hubungan lagi dengannya, meskipun sebagai atasan dan bawahan, tetap aku gak bisa."


Bela mendekati ruang rapat, mendekatkan matanya, mencari celah untuk melihat kedalam ruangan itu. Namun Bela sama sekali tidak bisa melihat apapun, semuanya nampak buram, Tapi dia tetap berusaha. Sampai dia terkejut dengan panggilan Julie yang tiba-tiba.


"Bela, sedang apa?" Tanya Julie yang melihat Bela mengintip.

__ADS_1


"Bu Julie, aku nunggu kabar rapat ini."Jawab Bela terbata-bata.


"Ayo ikut aku!" Ajak Julie menjauh meninggalkan ruang rapat.


Tak lama dari kepergia Bela dan Julie,seorang pria keluar dari ruang rapat. Dia merasa mengenal wanita yang baru saja pergi.


"Siapa yang ada di sebelah Julie?" Tanyanya kepada Jery.


"Ah, itu karyawan magang kita, mau aku panggilkan?"


"Tidak usah, sepertinya mereka akan ke kantin!" jawabnya meninggalakn Jery yang masih berdiri di depan ruang rapat.


"Bukan kah kita juga akan kekantin?" Tanyanya saat bosnya akan kembali keruangannya.


"Aku langsung ke ruangan saja, tolong bawakan kopi!"


"Baik bos!" Ucap Jery berlari menuju pantry.


Tak lama Jery datang lagi dengan membawa dua cangkir kopi untuk bos dan juga dirinya.


"Kenapa, sepertinya ada yang mengganggu fikiranmu?"


"Entahlah Jer!"


"Apa ini tentang wanita yang bersama julie tadi?" Jery menebak apa yang bosnya fikirkan.


"Aku juga sama seperti kamu saat pertama kali melihatnya. aku seperti pernah melihat dia sebelumnya, tapi sekeras apapun aku berfikir, aku tidak ingat sama sekali!"


"Aku tidak melihat wajahnya, aku hanya melihat punggungnya." Jawab Agam. Dia berharap bisa melihat wajahnya. dan berharap itu adalah oarang yang sama yang saat ini ada di pikiranya.


"Cara dia berjalan mengingatkan aku kepada kamu, apa karena berada dinegara ini, aku jadi teringat kamu."


"Menurut gosip yang beredar sih dia sudah bertunangan, jelas terlihat cincin di jari manisnya, tapi Julie tidak pernah menceritakan itu, jadi aku yakin dia masih singel."


"Dia seperti tipe kamu Gam!" Ucap Jery yang membuat dirinya dapat umpatan dari Agam.


"Gila kamu Jer!"


"Kenapa, apa kamu masih menunggu cinta kamu?" Sudah lama Dia tidak mendengar Agam bercerita tentang wanita yang sangat di cintainya.


"Dia sudah menikah Jer, aku sudah lama tidak melihatnya." Jawab Agam pilu.


"Serius dia sudah menikah? lalu kamu hanya diam saja?"


"Dia sudah bahagia Jer, akupun turut bahagia!"


"Oke kalau begitu, bagaimana kalau kamu dekati saja karyawan magang kita, Dia teman baik Julie! aku yakin dia tidak akan menolak pria seperti kamu!" Jery kembali ingin mencomblangkan Bosnya yang kesepian dengan Bela.


"Aku menolak. aku ingin sendiri dulu!" Jawab Agam tegas.


"Came on Gam, move on!" Jery terus saja memaksa Agam untuk setuju dengan rencananya.

__ADS_1


__ADS_2