Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Aku Merindukamu


__ADS_3

Agam berdiri di balik pintu Apartemen Bela, tangannya hendak memijit Bel yang berada tepat di depannya. Namun dia jatuhkan kembali tangannya, Agam urungkan niatnya, Kemudian dia pergi untuk pulang ke tempat Jery.


"Baru datang Gam" Tanya Jery yang sedang menikmati kopi di ruang makan.


"Kenapa loe gak ngasih tahu gw, kalau Bidi bekerja di perusahaan kita?"


Jery menelan ludahnya, dia sudah memperkirakan Agam akan marah dengan hal ini.


"Gw berniat memberitahukan itu, tapi sebelum itu gw mau mastiin dulu, apa dia benar Bidi Atau bukan, karena dia berbeda dengan Bidi yang pernah gw lihat. Sorry!"


Agam tidak bisa menyalahkan Jery,benar yang Jery katakan, dia tidak mengenali Bela.


"Loe gak salah, memang loe gak akan langsung mengenalinya."


"Terus kalau loe sudah tahu, kenapa gak datang di makan malam tadi?"


"Tadinya gw berniat terus bersembunyi darinya, tapi, gw gak sengaja bertemu dia. Kebetulan dia tinggal tepat di depan apartemen gw." Jawab Agam lirih.


"Maksudnya loe menghindarinya jadi loe memutuskan untuk tidak datang, tapi ternyata loe ketemu dia di depan apartemen loe. Sumpah Gam menurut gw ini takdir. loe memang di takdirkan untuk bertemu kembali dengan dia!" Ucap Jery sangat bersemangat.


"Bukan Takdir Jer, hanya kebetulan. Lagi pula dia tidak tahu kalau gw atasannya di kantor. biarkan tetap seperti itu!"


"Loe gak akan menunjukan keberadaan diri loe di kantor?


"Iya, karena gw takut dia merasa tidak nyaman. dan juga gw gak mau ganggu rumah tangganya, karena gw gak yakin bisa kontrol diri, kalau harus selalu bertemu dia."


"Dia belum menikah Gam!" Ucap Jery kelepasan. Harusnya itu menjadi rahasia Jery dengan julie saja. Namun dia merasa dirinya telah melakukan kebenaran.


"Dia sudah menikah Jery, gw lihat jelas undangannya!"


"Tidak pernah ada pernikahan, itu yang julie katakan."


"Apa yang sebenarnya terjadi, jika tidak ada pernikahan, Kenapa mereka tinggal bersama?"


"Kenapa gam? Julie gak mungkin bohong!" Jery terus myakinkan Agam.


"Gw harus tanya julie langsung!" Agam hendak pergi lagi, namun Jery memcegahnya.


"Ini sudah malam gam, loe bisa tanya julie besok!"


Agam menuruti apa yang Jery katakan, dengan langkah gontai dia meninggalkan ruang makan dan masuk kedalam kamarnya.


...※※※※...


"Bu julie, anda di tunggu di ruangan pak Agam!" Suara telphone dari sekertaris Agam.


"Baik, saya segera kesana!"


Julie pun meninggalkan mejanya menuju ruangan Agam. Julie sudah memperkirakan maksud Agam memanggilnya, karena semalam Jery sudah menceritakan semuanya.


"Silahkan duduk!"


Julie duduk di sofa ruangan itu. Meski sudah mengenal agam lama dan Agam juga sahabat Jery, tetap saja Julie canggung jika berada di dekat Agam. sosok yang selalu serius dalam pekerjaannya. seorang atasan yang di segani julie.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Apa benar bela belum menikah?" Tanya Agam dalam hati, namun Agam merasa tidak benar menanyai Julie tentang Bela.

__ADS_1


"Saya minta data kinerja karyawan magang kita!"


"Baik pak, saya akan bawakan!" Jawab Julie dengan mengerutkan keningnya.


"Aneh, jery bilang agam akan menayakan tentang pernikahan Bela, tapi dia hanya meminta data, kalau hanya meminta data biasanya lewat telphon."


Julie kembali menuju meja kerjanya, untuk menyiapkan yang Agam perintahkan tadi. Saat akan menuju ruangannya, Julie berpas-pasan dengan Bela.


"Kak Julie, sorry aku telat datang!" Ucap Bela tersenyum.


"No problem!" Balas Julie yang juga ikut tersenyum.


"Aku traktir makan siang, oke!" Bisiknya sebelum meninggalkan julie.


"Oke!"


"Mau kemana?" Tanya Julie yang melihat Bela akan keluar ruangan lagi.


"Pantry, mau aku bikinkan minum?"


"es teh satu!"


Bela mengedipkan sebelah matanya. Setelah menyimpan tas dan buku kuliahnya, Bela berjalan menuju pantry, moodnya sedang baik karena dia mendaptkan nilai bagus di kampusnya.


Bela membuat dua es teh untuk di bawa ke ruangannya. Namun tangannya tiba-tiba menjadi lemas, badannya kaku seketika. Melihat sosok yang sudah berdiri tegak di depannya, dia melupakan pertemuannya semalam. dia pikir itu hanya kebetulan dirinya bertemu, mengingat Agam yang juga sering mengunjungi negara ini. Dia mengira peluang bertemu kembali dengan Agam sangat kecil sehingga dia tidak mempermasalahkan itu.


Prang....!


Nampan yang berisi dua gelas es teh jatuh terlepas dari tangan Bela. Bela langsung berjongkok memunguti serpihan beling yang berceceran tepat di bawah kakinya.


"Aaaww..." Bela memekik tatakala jarinya tergores serpihan beling itu.


Bela terperangah, dia hanya diam saja saat Agam melakukannya.Dia tidak bisa membohongi dirinya, perasaan itu muncul kembali. setelah sekian lama namun perasaan ini tetap ada.


Bela menarik paksa tangannya, dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Agam tetaplah pria yang harus dia hindari.


"Jangan kemana-mana, aku ambilkan kotak p3k dulu!" Agam meraih pundak Bela, dan menyuruh Bela untuk duduk di kursi.


Bela tidak bisa menolak itu semua, lagi dan lagi Bela tidak bisa berkutik jika di depan Agam.


Agam datang kembali dengan membawa kotak p3k. Dia meraih jari Bela, kemudian ditempelkan plaster untuk menutupi lukanya. Agam dengan sangat hati-hati melakukan itu semau.


Bela hanya diam saja, matanya tak lepas melihat wajah Agam. wajah yang tidak pernah berubah.


"Terima kasih!" Ucap Bela berdiri hendak pergi ketika Agam telah selesai mengobatinya.


"Apa kamu tidak akan menanyakan apapun?" Agam masih berharap Bela menanyakan sesuatu kepdanya, walaupun hanya menanyakan kabar dirinya.


"Apa yang harus aku tanyakan? kamu terlihat baik-baik saja, sepertinya kamu sudah bahagia!" Gumamnya.


Bela tidak menggubris pertanyaan Agam, dia meneruskan langkahnya, namun rupanya dia kalah cepat, Agam sudah menarik tangan Bela, dan dibawa kedalam pelukannya.


"Aku sangat merindukanmu!"


Tubuh Bela menjadi lemas, dia tidak memiliki tenanga untuk berontak untuk melepas pelukan Agam, seolah-olah dia juga merindukan sosok yang saat ini memeluk erat dirinya.


Tak terasa airmata Bela menetes, Dia mersakan rindu yang agam rasakan. Bela merasa Agam datang untuk menguatkan dirinya. karena setelah kepergian Rangga, Bela sangat membutuhkan sosok yang bisa membuat dirinya bangkit kembali, membuat dirinya bersemangat untuk menjalani hari-harinya.

__ADS_1


"Apa selama ini kamu baik-baik saja?"Tanya Agam melonggarkan pelukannya. Dia menatap lekat wajah Bela.


"Aku baik-baik saja! satu hal lagi, saat ini kita berada di kantor, aku tidak ingin ada gosip-gosip jelek tentang kita!"


"Baiklah, Ikut keruanganku!" Agam menarik tangan Bela menuju ruangannya.


Bela membelakan mata ketika dirinya diajak masuk kedalam ruangan yang bertuliskan 'ruang CEO'. Karena apa yang di curigai Bela benar, bahwa CEO perusahaan ini ternyata Agam yang sama.


"Kamu CEO disini?" Tanya Bela saat sudah masuk kedalam ruangan.


"Iya. Apa kamu tidak mencari tahu sebelum melamar ke perusahaan ini?


"Aku tidak tahu sama sekali!" Jawab Bela sambil mendartkan tubuhnya duduk di sofa.


"Tapi pada akhirnya kamu tahu!"


"Bagaimana kabar Arka? pasti dia sudah semakin besar!"


"Kami sudah bercerai, Arka ikut dengan Reyna, Ternyata Arka bukan anak kandungku, aku menyesali itu semua. Dan aku berhutang maaf kepada kamu, jika saja dulu aku memilih kamu, mungkin ini semua tidak akan terjadi, dan kita pasti sudah bahagai!"


Flashback


Agam membawa pulang hasil test DNA yang dilakukannya tanpa spengetahuan Reyna.


Dia melempar kertas itu kepada Reyna.


"Katakan Arka anak siapa?" Bentak Agam.


"Ada apa mas, pertanyaan apa itu, dan ini kertas apa?" Dengan bingung Reyna membuka kertas yang Agam lemparkan tadi.


"Tunggu mas, ini pasti salah, Arka anak kita mas. darah daging kita!"


"Cukup Rey kamu tidak usah berbohong lagi. bukti ini sudah jelas. Selama ini kamu hanya membodohiku. aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mari kita bercerai!" Ucap Agam meninggalkan Reyna.


Tak sampai di situ, Reyna berlari mengejar Agam, dia menahan Agam dengan memeluk sebelah kaki Agam.


"Mas, tunggu.... aku tidak bermaksud membohongi kamu! maafkan aku mas!" Reyna memohon pengampunana dari Agam.


"Lepaskan rey! aku sudah tidak ingin melihat kamu lagi di rumah ini. silahkan pergi dari sini!"


"Tidak bisa. Rumah ini milik aku dan Arka, kamu lupa kamu sudah memberikan semua milikmu untuk Arak." Reyna Bangkit dan balik membentak Agam.


"Ternyata ini tujuan kamu dari awal, kamu hanya ingin harta kekayanku saja.Tapi aku sudah membatlkan semua itu."


"Apa maksudnya mas?"


"Kamu lupa perjanjian itu, menurut perjanjian kamu tidak akan mendaptakan satu persenpun. tapi aku masih berbaik hati. aku sudah siapkan satu rumah untuk kamu tinggali bersama Arka. dan juga uang asuransi pendidikan untuk Arka, walau bagimanapun aku tulus menyayangi Arak."


"Aaaaa..... kamu jahat mas, kamu ingkar, kamu sudah janji memberikan semua milik kamu untuk Arka!" Reyna menjadi tidak terkontrol, dia terus berteriak memaki Agam.


"Ya aku pernah membuat janji seperti itu, namun janji itu untuk anak aku, untuk darah dagingku, tapi ternyata Arka bukan anak kandungku. Silahkan pergi dari sini selagi aku masih bersabar!"


Flashback end


"Sudahlah itu masa lalu, akupun sudah memaafkan kamu. Kita tidak bisa mengulang waktu sudah yang terjadi. Keputusan kamu dulu benar, kamu memilih keluargamu, karena kamu pria yang bertanggung jawab."


"Kamu semakin dewasa, aku senang melihatnya!" Agam sangat kagum melihat Bela.

__ADS_1


"Sepertinya aku terlalu lama meninggalkan mejaku, aku harus kembali. Permisi!"


Bela pamit, keluar dari ruangan Agam. Perasaannya campur aduk, mendengar kenyataan di balik perceraian Agam dengan Reyna, entah harus senang atau sedih. yang jelas Bela meyakini sebaik-baiknya kita menyembunyikan kebohongan, suatu saat kebohongan itu pasti akan terungkap.


__ADS_2