Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Aku Kangen Kamu


__ADS_3

Agam merasa ada yang janggal dari papanya. Sepertinya Dia sudah melewatkan sesuatu, tapi Dia tidak menyadari itu, sampai pertemuannya dengan Harun, barulah Agam menyadari ada yang aneh dengan papanya.


"Ada hubungan apa papa dan David?" Agam termenung memikirkan semua kemungkinan yang ada.


Agampun menelphon seseorang meminta bantuan untuk menyelidikinya.


"Kamu cari tahu ada hubungan apa antara David Davinson dengan Harun Harizon."


"Baik pak, saya akan segera menghubungi kembail."


Agam menutup telphonnya. Dia duduk kembali di kursinya masih dengan perasaan bingung.


Cklek...


Suara pintu ruanganya terbuka membuat Agam melirik kearah pintu, dan di sana ada Reyna yang sedang Berdiri menyilangkan tangannya.


"Aku dengar kamu sudah menemui papa mas?" Tanyanya seakan-akan Agam telah kalah.


"Iya, Dan aku masih tetap dengan keputusanku."


"Maksud kamu, kamu akan tetap menceraikan aku mas?" Reyna Kaget dengan ucapan Agam. Dia tidak menyangka Agam lolos dengan mudahnya. Dia sangat tahu kalau papa Agam sangat otoriter.


Agam menganguk, dia masih santai di mejanya. sedangkan Reyna sudah mulai gusar karena rencananya gagal lagi.


"Pasti papa tidak setuju kan, pasti papa menentangnya?"


"No. papa hanya diam saja, mungkin dia setuju kita bercerai."


"Mana mungkin. Aku tahu papa juga tidak ingin kehilangan perusahaan ini. Apa yang sudah kamu katakan mas? tipuan apa yang kamu gunakan?"


"Rey sudah berapakali aku bilang, jika ingin bertengkar bukan disini, ini kantor Rey."


"Memangnya kenapa, kamu sangat peduli terhadap image kamu disini. sedangkan kelakuan kamu saja tidak mencerminkannya. Biar semua orang tahu kalau kamu adalah tukang selingkuh. lelaki brengsek. yang menceraikan istrinya memilih gadis muda belia."


Agam sudah kebal dengan segala makian dari Reyna. Dan dia pun tidak menanggapinya. menurutnya dia akan membuang-buang waktu menanggapi makian Reyna. Kemudian Agam beranjak dari ruangannya meninggalkan Reyna yang teriak memanggil namanya untuk tetap tinggal di dalam ruangan.


"Kamu mau kemana mas? mas Agam...."


Reyna yang marah dan kesal menghancurkan barang -barang yang ada di meja kerja Agam.


...※※※※...


Bela melihat Agam sudah berada di depan kampusnya. ia pun berlari menghampiri.


"Agam, ngapain kamu disini?"


Agam menarik tangan Bela sampai tubuh Bela menabrak tubuhnya. Dia memeluk erat tubuh Bela.


"Gam, Ada apa?" Tanyanya yang merasa aneh dengan perlakuan Agam.


"Sebentar saja, biarkan aku seperti ini." Bela menuruti kata Agam, dia hanya pasrah dan berharap tidak ada yang melihat dan mengenalinya. apa lagi saat ini Bela masih di lingkungan kampus.


Agam melepas pelukannya. "Sudah makan?" Tawar Agam.


Bela menggelengkan kepalanya. "Belum."


Agam Memegang tangan Bela, membawanya kesebrang jalan. Disana ada tempat makan enak yang biasa para mahasiswa datangi.


"Kamu tahu juga tempat ini Gam?"


"Jelas, dulu aku sering kesini!"


"Ah... iya aku lupa. kamu dan papa lulusan terbaik kampus ini."


"Dan kamu berikutnya." menyentuh hidung Bela gemas.


"Gam, apa kamu tidak akan menceritakan apa yang terjadi?"


"Hhhmmm... aku hanya ada sedikit masalah. dan hatiku membawa samapi ke depan kampus ini. Aku perlu melihat kamu Bel. Setidaknya kamu bisa menenagkan hati ini."


"Agam.... Kamu bikin nangis deh" Bela terharu dengan ucapan Agam, sampai menitikan air mata.


"Maaf sayang...." Agam menyeka air mata Bela dengan tangannya.


"Kamu langsung pulang?" Tanya Agam begitu mereka selesai makan.


"Gak Gam, aku mau ke kantor papa dulu."

__ADS_1


"Hati-hati, aku langsung balik ke kantor lagi." Agam kembali memeluk Bela sebelum masuk kedalam mobilnya menuju kantor."


Setelah kepergian Agam, Bela duduk termenung di dalam mobilnya. dia memikirkan masalah apa yang membuat Agam sampai seperti itu.


Dia merasa Agam sangat kesal dan marah saat sebelum memeluknya dan seperti yang di katakannya, begitu memeluk Bela semua amarahnya mereda. Bela pun merasakannya.


Bela menginjak gasnya, melajukan mobil sampai di depan kantor David.


Bela masuk melewati beberapa karyawan yang menyapanya.


"Hai papa!" Sapanya saat membua pintu ruangan David.


"Ada apa sayang?" Tanya David. Karena jarang sekali bela berkunjung ke kantornya.


"Pah Maya ngajak Bela liburan di singapura, Boleh kan pah Bela ke singapur?" Bela langsung mengutarakan tujuan dirinya mengunjungi David.


"Kapan, dan kamu akan tinggal dimana?"


"Lusa pah, Rencananya kami akan tinggal di tempat temannya Maya."


"Papa akan pesankan tiket untuk kalian."


"Makasih pah, eemmm... papa memang terbaik."


Bela memeluk David. Dia sangat senang karena papanya menyetujui liburannya kali ini.


...※※※※...


Bela tengah bersantai di ruang tv menonton acara kesukaannya sambil di temani secangkir coklat panas. Ada David yang turut menemani Bela. Karena malam ini adalah malam minggu, jadi David bisa bersantai dengan anak satu-satunya yang di ketahui David sedang jomblo.


"Ini, tiket pesawat, kalian bisa segera berangkat."


David menyerahkan dua lembar tiket penerbangan jakarta - singapura.


Bela melihat waktu keberangkatannya menuju singapura.


"Besok sore pah?" Tanyanya terkejut, dia tidak menyangka akan berangkat secepat itu, karena persiapannya pun belum sepenuhnya bela siapkan. Masih banyak brang bawaan yang Belapun bingung harus di bawa atau tidak. dan juga ada beberapa yang harus di belinya.


"Bukankah kamu ingin segera berangkat?"


"Hehehe.... iya pah."


"Om Bram tahu Bela akan ke singapura?


"Iya, papa memberitahunya!"


"Jangan bilang papa juga memberitahu Daniel?" Tanyanya dangan harapan papanya tidak melakukan itu.


"Iya. setidaknya papa tidak terlalu khawatir karena ada Daniel disana. papa sudah titipkan kamu."


"Aaaa.... papa..." Teriak Bela kesal.


"Kenapa sayang, papa salah? apa papa menggagalkan surprise kamu?"


"Surprise apanya?" Tanya Bela dengan cemberut.


"Bukankah tujuan kamu kesana untuk bertemu Daniel kan?" David Bingung dengan reaksi Bela.


"Ah... sudahlah." Bela beranjak dari temapat duduknya. Bela tahu bahwa papanya salah faham, tapi Bela juga tidak tahu bagaimna cara menjelaskannya kepada David.


"Bel mau kemana?"


"Tidur." Ucap Bela sambil menjauh meningalkan David.


"Maaf papa gak tahu."


"hhhmmm"


"Tapi, ini acaranya belum selesai."


"Papa tonton aja sendiri." Jawabnya acuh.


Bela meninggalkan David menuju kamarnya. Saat ini Bela sedang kesal, karena papanya sudah mebuatnya merasa malu. Bela merasa canggung ketika ingin menghubungi Daniel, untuk meminta maaf atas sikap papanya.


"Hallo Dan, sorry aku ganggu kamu."


"Gak kok Bel, apa kabar kamu?"

__ADS_1


"Aku baik, gini Dan, aku mau...." Ucapannya terpotong.


"Aku tahu kok, kamu mau liburan di sini kan, kamu boleh kok tinggal di apartmenku, kebetulan ada dua kamar, lagi pula aku jarang pulang kok bel."


"Aduh Dan, aku gk enak. Aku selalu merepotkan kamu."


"Santai aja Bel. kamu mau aku jemput di bandara? kebetulan aku landing besok siang. kamu berangkat sore kan?"


"Iya Dan, jam 4 sore. Tapi aku di jemput pacar temenku Dan. Nanti aku kabarin lagi kalau sudah sampai di sana."


"Iya, kamu langsung telphon aku begitu sampai ya."


"Makasih ya Dan, aku ngerpotin kamu terus."


"Itu kan gunanya teman Bel."


Bela dan Daniel tertawa sebelum menutup telphonnya masing-masing.


Tak lama Bela mendengar suara mobil berhenti, dia berlari menuju jendela untuk melihat siapa yang datang pada malam hari.


"Siapa jam segini kesini, Apa temannya papa?"


Mobilnya tidak terlalu kelihatan oleh Bela,Tetapi Bela melihat seorang pria berjalan. Dia sangat mengenal pria tersebut. walaupun hanya sekelibat.


"Ngapain Agam kesini?"


Bela tidak tahu kalau papanya sedari tadi sedang menunggu Agam. kalau Bela tahu pasti Bela masih tinggal di ruang tv.


Bela kembali ke kasur meraih Hpnya.


KENAPA GAK KASIH TAHU AKU, KALAU KAMU MAU KESINI?


Chat dikirmkan kepada Agam


AKU KANGEN KAMU.


Bela yang senang akan kedatang Agam, keluar dari kamarnya. dan ternyata dia tidak melihat Agam maupun papanya ada di ruang tamu, ruang keluarga ataupun ruang makan.


KAMU ADA DI MANA?


Dia kembali mengirim chat kepada Agam.


Bela kesal karena chatnya belum di baca Agam.


"Baca dong Gam."


"Bela, papa kira kamu sudah tidur?" Tanya David yang mengagetkan Bela.


"Bela haus pah." Jawabnya yang sedari tadi menatap mata Agam penuh arti. Agam hanya tersenyum melihat Bela terkejut. Dia tahu kalau bela sedang mencarinya.


"Papa akan minum kopi dengan Om Agam di taman belakang."


"Bela ke kamar lagi pah." Bela langsung berlari menaiki tangga dengan tatapan mata tak mau lepas dari Agam.


Bela kesal karena tidak mendapatkan kesempatan berdua dengan Agam.


Tring....


suara notif di Hp Bela.Rupanya balasan yang Bela tunggu dari Agam.


MAAF SAYANG, TADI DI RUANG KERJA DAVID.


Akhirnya Agam membalas chat dari Bela.


TELAT.


Balasan bela dengan emot cemberut. Bela melemparkan Hpnya ke atas kasur. Dan bersiap untuk tidur. Dia tidak berharap lagi untuk bertemu dengan Agam.


Cklek.


Bela bangun dan melitik kearah pintu. Dan Dia melihat Agam sedang berjalan menghampirinya.


"Agam ngapain kamu kesini?" Tanya bela dengan panik. Dia takut ketahuan papanya.


"Aku kangen kamu Bel!" Agam memeluk Bela. memang tujuannya bertemu David adalah karena ingin bertemu Bela.


"Sudah sana keluar, nanti ketahuan papa Gam!" Bela mendorong Agam agar cepat meninggalkan kamarnya. Bela takut papanya akan curiga.

__ADS_1


"Iya sayang. Mimpi indah yah!" Agam membelai Rambut Bela. Lalu pergi meninggalkan kamar Bela.


Bela tersenyum senang, Bieginilah orang jatuh cinta, hanya pertemuan yang sekejap bisa membuat hati sangat bahagia.


__ADS_2