Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
SARAN


__ADS_3

Sesuai dengan yang di janjikan oleh Agam, ia datang ke kantor Bram. Ketika sampai di depan ruangan, ternyata Bram sedang menghadiri Rapat, dan dirinya di minta untuk menunggu di dalam ruangan Bram.


Agam pun di persilahkan masuk dan duduk oleh sekretaris Bram. Agam sempat melihat ada beberpa penghargaan yang telah di raih Bram, termasuk penghargaan 20 tahun yang lalu.


Ada sesuatu yang mengganggu fikirannya saat melihat penghargaan Bram itu.


"Slamat siang pak Agam, maaf sudah membuat anda menunggu!" Bram mengulurkan tangannya menyambut Agam. Agam pun menyambutnya dengan menjabat tangan Bram.


"Tidak masalah pak."


"Soal kemarin malam, saya mohon maaf, sudah membuat anda Risau, Tapi anda tenang saja, saya akan merahasiakannya dari David. Tapi dengan satu syarat!" Ucap Bram langsung memulai pembicaraannya.


"Syarat, sperti apa?" Tanya Agam bingung, Agam sangat Bingung dengan maksud dari Bram, Bram seperti sedang menguji dirinya.


"Pak Agam, anda fokus saja dengan kehamilan istri anda, fokus untuk kelahiran anak anda kelak, Dan jangan mencampuri lagi masalah Bela. Karena saya akan menjadikan Bela menantu saya!" Ucap Bram kembali dengan tersenyum licik.


"Maksud anda, Bela dengan Daniel?" Tanya Agam, dengan mengerutkan keningnya. Dirinya sempat cemburu tapi akalnya masih bisa berfikir. Agam menyadari ada sesuatu dari maksud Bram.


"Ya. saya akan melamar Bela untuk Daniel, jadi saya harap anda tidak lagi mengkhawatirkan Bela karena akan ada Daniel yang menjaganya." Peringatan Bram kepada Agam. Agam mengepalkan tangannya memendam semua rasa marahnya kepada Bram.


"Menikahkan mereka, sepertinya anda punya tujuan lain di balik pernikahan itu!" Agam langsung mengutarakan apa yang ada di fikirannya.


"Tujuan seperti apa? saya hanya merasa,mereka sangat cocok." Bram mengelak dari semua tuduhan Agam.


"Mari kita lihat, apa keinginan anda akan teruwujud!" Ucap Agam meremehkan Bram.


Lalu Agam meninggalkan ruangan Bram. Kemudian dia langsung menghububgi orang suruhannya untuk menyelidik Pak Bram. Agam merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Bram. Rahasia besar Bram, Agam harus mengetahuinya. Karena Bram sudah berani mengancamnya. Dan itu akan jadi senjata untuk menggagalkan rencananya.


Pernikahan itu tidak akan terjadi. Agam tidak rela jika Bela sampai menikah dengan Daniel. Bela harus menjadi miliknya seorang, Bagaimanapun caranya.


...※※※※...


Reyna berhasil membuat Hati Bela seperti luka basah yang di siram air. Bela yang sudah sangat terluka, bertambah luka baru yang di buat Reyna.


Bela membutuhkan orang untuk bisa meringankan beban di hatinya. Dia biangun harus bercerita kepada siapa. Karena saat ini Maya pasti sedang sibuk dengan skripsinya, Bela tidak ingin menambah beban fikiran Maya dengan masalah-masalahnya.


Kemudian Bela berniat untuk menelphon Daniel, tapi sayang seribu sayang, laki-laki yang sedang di butuhkan kehadirannya itu ternyata sedang berada di atas awan dengan tanggung jawab yang sangat Besar.


Hati kecilnya membisikan sebuah nama, sampai Bela ingin menutup kedua telinganya jika saja dia tidak sedang berkendara

__ADS_1


"Tidak. Jangan Rangga!" Tolaknya menjawab semua bisikan-bisikannya.


Bela membelokan mobilnya menuju sebuah caffe, Tiba-tiba dirinya merasa gerah berada di dalam mobil dengan fikiran yang berubah 180 derajat menjadi memikirkan seorang Rangga.


Bela duduk sendiri, menatap kaca besar yang mengarah keluar ruangan, sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang, juga orang-orang yang mulai keluar dari gedung- gedung di depannya.Karena ini adalah jam makan siang. Mengingat saat ini dirinya berada di kawasan perkantoran. enatah bagaimana mobil yang di bawanya mengarah ketempat ini.


Bela menyeruput kopinya, sedangkan tangan kirinya tetap asyik bermain Hp. Melihat isi dari media sosialnya. tak lupa Belapun membuat storienya hari ini.


Sampailah dia membuka kontak di Hpnya.


Di lihatnya kontak bernama 'Si pemarah'. Matanya menatap nomor Rangga, dengan di dukung hati kecilnya yang sedari tadi menyerukan nama Rangga.


"Ayo, telphone Rangga!" seruan hatinya.


Namun jarinya ragu untuk menyentuh gangang telphon berwarna hijau itu.


"Bela!" Suara sapaan dari arah belakangnya membuat Bela terkejut, sampai Hp yang di genggamnya terlepas.


"Rrang-ga" Senyumnya canggung.


Rangga langsung memposisikan dirinya di samping Bela, kemudian mengambil Hp Bela yang terlepas dari tangannya.


"Ini Hp kamu, Kenapa harus 'Si pemarah'?" Tanyanya, menyerahkan Hp kepada Bela. Ternyata Rangga sempat membaca layar depan Hp Bela.


"Eee... Biar aku ganti!" Bela langsung mengganti Nama Rangga di Kontak Hpnya.


"Biarkan saja, aku hanya tanya, kenapa harus nama itu?" Tanyanya lagi penasaran.


"I-itu karena, setiap kita bertemu, kamu selalu saja marah." Jawabnya gugup, Namun mampu membuat Rangga tertawa.


Bela hanya menatap Rangga penuh tanya. Sikap Rangga yang biasa saja, justru membuat bela menjadi salah tingkah.


"Kenapa rangga biasa saja. apa ciuman itu, baginya hal biasa?"


"Kenapa melamun? Dari tadi loh, aku perhatikan kamu hanya duduk melamun disini!" Rangga menyadarkan Bela yang hanya menatap ke arahnya. Sebenarnya Rangga tidak ada niatan untuk masuk ke cafe itu, kalau saja dia tidak melihat Bela yang sedang melamun di dalam cafe.


"Aku sedang memikirkan sesuatu." Jawabnya berusaha jujur, tapi bukan tentang Rangga melainkan tentang Agam.


Bela bingung harus menjawab apa, dia tidak mungkin menanyakan tentang ciuman mereka kemarin malam.

__ADS_1


"Apa aku boleh mengetahuinya?" Tanya Rangga lagi.


"Sebenarnya aku butuh saran seseorang!"


"Ayo ceritakan, Biasanya saranku selalu berguna!"


Rangga menopangkan dagu dengan sebelah tangannya. Siap untuk mendengarkan Bela.


Bela sempat Ragu untuk menceritakan hubunganya dengan Agam, tapi saat ini dirinya butu saran orang lain. Akhirnya Bela bercerita tanpa menyebutkan nama Agam.


"Sebenarnya aku dalam hubungan yang sulit, aku berada di antara sepasang suami istri. Awalnya mereka akan bercerai, tetapi sesaat akan putusan, istrinya mengandung, jadi mereka batal bercerai. Dan hubungan kami pun berakhir. tapi kemarin dia datang dan mengatakan bahwa masih mencintaiku, dan memintku untuk lebih jujur dengan perasaanku sendiri. Aku bingung, aku terjebak Ngga!" Bela menceritakan semua yang sedang di rasakannya saat ini.


"Jika dia tahu perasaan kamu, apa yang akan dia lakukan?" Rangga menebak, bahwa yang di ceritakan Bela adalah Agam. akhirnya dia mengetahui hubungan Bela dan Agam.


"Dia memintaku untuk kembali."


"Sederhana saja, jika memang kamu mengingikan jadi simpanannya, kembali lagi dengan dia! tapi kamu akan mendaptkan konsekuesinya. kamu akan menyakiti banyak orang, termasuk orang tua kamu dan anak tidak berdosa yang akan mereka miliki. Biasanya si anak tidak akan mendaptkan kasih sayang penuh dari ayahnya, karena sudah terbagi dengan kamu dan juga sang ibu tidak akan fokus dengan anaknya karena dia lebih fokus membenci kamu. Dan si anak kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan penyebabnya adalah kamu juga. Dari situ kamu bisa mengambil kesimpulan sendiri." Rangga menjelaskan panjang lebar sesuai dari pemahaman dirinya.


Bela hanya terdiam setelah mendengar saran dari Rangga.


"Jika menolak ajakannya, Bukankah aku akan menderita?" Tanyanya lagi. Rangga sangat tahu bahwa Bela masih sangat mencintai Agam. Tapi Bela salah menentapkan hatinya. seharusnya tidak untuk pria beristri.


"Jangan. Buatlah dirimu bahagia. karena yang bisa membuat diri kita bahagia di mulai dari kita sendiri, barulah kita bisa menerima kebahgaiaan dari orang lain. Kebahagiaan di dapat bukan hanya dari satu orang saja, bukan hanya dari cinta yang kamu miliki saja. Kamu akan mendaptkan kebahagian dari cinta-cinta yang baru."


Bela mengangguk-anggukan kepala setuju dengan yang di katakan Rangga.


"Sekarang aku mengerti Ngga, rupanya kamu sangat ahli dalam urusan seperti ini?" Pujinya sambil memamerkan gigi pitihnya.


"Cukup mudah." Jawab Rangga menjentikan kedua jarinya sehingga mengeluarkan bunyi.


"Sombong deh."


"Weekend, kamu ada acara?" Tanya Rangga, yang membuat Bela terkejut.


"Hhmm...sepertinya di rumah aja!" Jawab bela menggigit-gigit bibirnya sendiri.


"Mau coba naik motor lagi?" Tawar Rangga sambil melirik jam di tangannya, Rupanya waktu istirahatnya sudah mulai habis.


"Boleh." Ucap Bela spontan. Karena melihat Rangga yang sudah berdiri akan meninggalkan tempat duduknya.

__ADS_1


"Oke, aku jemput! ucapnya berjalan mundur menjauhi Bela. Bela hanya tersenyum melihat tingkah konyol Rangga. Dia tidak menyaka Rangga orang yang sangat mengasyikan juga.


Setelah kepergian Rangga, Bela hanya bisa menggelengkan kepalanya mengingat tingkah Rangga yang lucu.


__ADS_2