Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Laki-Laki Pemarah


__ADS_3

Agam duduk di depan layar laptopnya, melihat beberapa foto yang ada di folder laptopnya. mengingat kembali momen di setiap gambarnya. Kenangan-kenangan bersama Bela masih jelas terasa.


"Apa yang sedang kamu lakukan Bela?" membelai wajah Bela di layar laptopnya.Untuk kedepannya hanya itu yang bisa Agam lakukan.


tok.... tok... tok...


Semua lamunanya buyar, saat mendengar suara pintu di ketuk. Agam pun langsung mepersilahkan masuk.


"Papa. Ada perlu apa kesini?" Tanya nya saat yang datang adalah Harun.


"Papa hanya ingin memberi kamu selamat, karena sebentar lagi akan menjadi ayah." Harun memeluk Agam.


"Terimkasih pah."


"Lalu, bagaimana dengan dia? Kamu berhasil mencampakannya?" Tanyanya dengan senyum lebar, menampakan semua giginya yang rapih.


"Maksud papa? Mencapkan bagaimana?" Tanya Agam heran.


"Tujuan kamu memang itu kan, kamu hanya ingin membuat dia menderita."


"Bagaimana papa bisa berfikiran seperti itu? aku tulus mencintainya!" wajah Agam memerah saat mengerti arti ucapan harun.


"Bagaimana kamu bisa mencintainya, sedangkan dia adalah keturunan Davinson?" Harun takalah emosinya dengan Agam.


"Apa salahnya Dengan keluarga itu? Kenapa papa sangat terobsesi dengan keluarga Davinson."


"Karena mereka yang membuat kita seperti ini, mereka lah yang menghancurkan perusahaan papa, sehingga kamu harus bersusah payah membangun perusahaan sendiri, sedangkan yang lainnya hanya meneruskan kejayaan orang tua mereka."


"Apa ini penyebab konflik berkepanjangan itu?" Agam merendahkan suaranya. Sekarang dia mengerti alasan papanya sangat membenci keluarga Davinson.


"Iya, papa yakin Davinson di balik ini semua dan anaknya yang menikmatinya!"


"Mungkin itu hanya keyakinan papa. David juga berjuang keras dengan perusahaanya pa!"


"Cukup kamu membela shabat kamu. harusnya kamu curiga kepada mereka, bukan malah berteman baik. kamu sedang di manfaatkan Gam."


Harun pergi dengan kemarahanya, meninggalkan Agam yang masih berdiri mematung, setelah mendengar semua yang di sembunyikan papanya selama ini.


Agam tidak percaya dengan tuduha papanya kepada David. karena di sudah mengenal David belasan tahun, bila di bandingkan dengan Harun. Agam lebih banyak menghabiskan waktu dengan David.


...※※※※...


"Gimana kabar kamu sekarang?" Tanya Maya saat masuk kedalam kamar Bela.


"Aku baik May, kemarin aku memang butuh sendiri, aku butuh berfikir untuk menentukan langkahku kedepannya."


"Apa yang sudah terjadi?"


"Ternyata selama aku tidak disini, hubungan Reyna dan Agam membaik. Karena Reyna sedang hamil dan dia mengklaim itu anak Agam.Reyna adalah wanita berjiwa bebas, Dia sudah terbiasa tidur dengan laik-laki lain selain Agam. Kemarin aku memikirkan semua kemungkinan yang ada."


"Maksud kamu Reyna hamil anak orang lain?" Maya terkejut mendengar kebenarannya, wajar saja sahabtnya menjadi depresi, karena bela sudah menata masa depan dengan Agam.


"Iya, aku yakin itu. sebab sudah lama mereka tidur terpisah. Dan pada saat itu Agam sudah mantap untuk Bercerai, tidak mungkin dia mendatangi Reyna."

__ADS_1


"Apa kamu masih mengharapkan Agam?" Tanya Maya memastikan, yang maya inginkan adalah Bela segera move on dari Agam, sajak awal dirinya tidak setuju jika Bela dekat dengan Agam.


"Aku mencintainya May, Setidaknya aku harus memberi tahu dia kebenarannya." Bela kembali meneteskan airmatanya. hatinya sangat sensitif jika itu tentang Agam. Cintanya untuk Agam memenuhi hatinya. sampai dirinya merasa sesak karena tidak dapat lagi mengungkapkannya.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan menemui Reyna. Dan aku akan membuat Reyna mengakui kebohongannya." Bela Berdiri hendak melakukan rencananya.


"Tunggu Bel! Cegah Maya memegang tangan Bela.


Jangan sekarang, ingat kondisi kamu!"


"Tapi kapan Maya. Gw gak mau kehilangan Agam." Bela berteriak marah, Dengan cepat Maya memeluk shabatnya, mencoba menenagkan.


"Kita cari waktu yang pas. lihat diri loe sekarang!" Maya menarik Bela untuk berdiri di depan cermin


"Apa loe mau nunjukin keadaan loe yang seperti ini, Menurut loe Reyna akan bereaksi seperti apa?" Tanya Maya, agar Bela kembali seperti sebelumnya, selalu bersikap Rasional.


Belapun memandang dirinya di cermin, kelopak mata ya menghitam, bibirnya yang kering. tubuhnya yang tak terurus. lesu tidak ada semangat dalam dirinya.


"Aku harus kembali, aku harus merebut agam kembali."


Kemudian Bela mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Maya tersenyum, melihat Bela sudah mulai gesit seperti biasanya.


Bela keluar dengan kesegaran yang berbeda Dibuka lebar lemari pakaiannya, untuk memeilih pakaian yang akan dia gunakan.


"Ayo...!" Ajak Bela kepada Maya.


Maya mengerutkan keningnya "Kemana?"


"Kita ngamall!"


David terharu melihat Bela menuruni tangga seperti Bela sebelumnya. senyumnya terus mengembang menyabut Bela yang mendekat kearahnya. Dipeluknya Bela dengan erat.


"Terimaksih sayang, kamu sudah kembali." Diusapnya kepala Bela terus menerus.


"Maafkan Bela membuat papa cemas."


"Tidak sayang, kalian mau kemana?"


"Cari udara segar. Kita pergi dulu pah!" Pamit Bela dan Maya kepada David.


...※※※※...


Bela sudah menenteng tas belanjaan yang begitu banyak, tangan kanan dan kirinya sudah dipenuhi paperbag dari beberapa merek terkenal.


Begitupun Maya tangannya juga di penuhi dengan tas belanjaan tapi bukan miliknya sendiri, ada beberapa milik Bela yang di titipkan kepadanya, karena tangan Bela tidak bisa menampung lebih banyak lagi belanjaan.


"Sorry ya May, loe gw repotin."


"Asal loe seneng aja Bel."

__ADS_1


Brrrukkk.....


Tas belanja yang di bawa Bela jatuh berceceran, karena dirinya bertabrakan dengan seseorang.


"Maaf, aku tidak sengaja" Ucapnya sambil merapihkan belanjaan Bela.


Bela menghentakan kakinya kemudian dengan malas dia berjongkok untuk merapihkan tas belanjaan yang berceceran. Mulutnya mulai mengomel kepada laki-laki yang menebrak dirinya.


"Kalau jalan liat-liat dong, gk lihat apa gw bawa barang sebanyak ini?!"


"Maaf, aku benar-benar gak sengaja." Ucap Laki-laki itu penuh penuesalan.


Setelah belanjaanya rapih, laki-laki itu berdir diikuti Bela yang juga berdiri.


"Bela....!" Ucapnya menyebutkan Nama Bela saat melihat wajah Bela jelas di depan wajahnya.


"Loe lagi, memang kebiasan orang gak pernah berubah." Ucap Bela kesal. Saat bertemu kembali dengan Rangga, orang yang sangat ingin di hindarinya.


"Aku salah, aku minta maaf. setidaknya aku sudah mengakui kesalahku.hargailah sedikit." Ucap Rangga langsung menusk hati Bela.


"Oke, trimakasih. puas?" Bela bergegas menuju mobilnya meninggalkan Rangga, dia tidak ingin berurusan lagi dengan Rangga si pemarah itu.


"Bela, tunggu....!" Rangga berlari mengejar Bela, karena bebrapa tas belanjanya masih di pegang Rangga.


Namun mobil Bela sudah meninggalkan mall teraebut. Rangga menatap bingung tas belanjaan Bela yang tertinggal, Rangga bingung harus mengembalikan belanjaan ini kemana. jangankan alamat, Nomor telphon Belapun dia tidak tahu.


Akhirnya dengan terpaksa Rangga membawa belanjaan Bela ke rumahnya. tapi sebelumnya dia sudah memberikan no telphonnya kepada bagian keamanan mall, berjaga-jagai jika Bela kembali dan menanyakan belanjaannya.


Di lihat dari merek tas belanjaanya, ini semua barang brandit, Rangga sempat mengintip isinya, yang kebanyakan pakaian, dan dia syok melihat setiap harga yang tertera di dalamnya, setara dengan satu buah mobil mewah.


Rangga menaruh belanjaan Bela di kamarnya. tebakannya tentang bela ternyata benar. Dia adalah wanita yang sangat boros dan juga sangat angkuh. Setiap kali mengingat Bela, rangga selalu kesal. karena Bela yang menggagalkan tandernya. miniatur yang akan di presentasekan hancur, karena kecerobohan Bela. Sehingga membuat Rangga kehilangan kesempatan ratusan jutanya.


Rangga adalah seorang pemilik perusahaan kecil di jakarta, dia sedang merintis bisnisnya. Bisnis yang telah di lakoninya sejak di bangku kuliah, sampai sekarang dia memiliki perusahaan atas namanya sendiri.


Di tempat lain, Bela yang sudah sampai di depan rumahnya, sedang menurunkan belanjaan yang ada di dalam mobilnya.


"Ya ampun May, belanjaan gw kok cuma segini?"Bela menanyakan tas Belanjaanya yang berkurang kepada Maya.


Mayapun menghitung kembali dan 10 tas belanjaan Bela hilang.


"Loe ketinggalan Di mana?" Tanya Maya, mencoba mengingat kembali.


"Aarggh... ini semua gara-gara cowok pemarah itu." Kesal Bela saat mengingat tas belanjaanya di pegang Rangga.


Setelah mengingat dimana belanjaannya tertinggal, Bela melajukan mobilnya kembali ke mall teraebut.


Bela turun dan menanyakan prihal belanjaanya kepada securty di sana.


"Tadi Dia menitipkan ini. dan meminta mba segera menghubunginya." Di berikannya sebuah kartu nama kepada Bela.


"Terimaksih pak." uacp Bela menerima kartu nama itu.


"Rangga wijaya, siapa dia? Sepertinya tadi kalian sangat akrab?" Tanya Maya yang mengintip kartu nama itu.

__ADS_1


"Akrab? Gak sudi May! Dia itu laki-laki yang..., udahlah gak penting May, yang ada gw nambah emosi denger namanya." Bela tidak melanjutkan ceritanya tentang Rangga, dan itu membuat Maya sangat penasar.


__ADS_2