Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Berusha Menemukanmu


__ADS_3

Satu tahun bukan waktu yang sebentar, sudah seharusnya Bela bangkit dari segala bentuk kesedihannya, Bela masih menimbang-nimbang saran yang di berikan Julie.


"Benar yang dikatakan Julie, aku harus segera menempati Apartmen itu, jika terus dibiarkan saja pasti akan semakin berdebu dan rapuh."


Bela mengepak semua barang-barang di kamar asramanya. Sebelum pindah Bela harus membersihkan dulu aparteman yang akan di tempatinya.


flashback


David untuk kesekian kalinya terbang ke singapura menemui putrinya, untuk membujuk Bela pulang ke indonesia. David tahu bahwa Bela sedang dalam masa terburuknya. dia ingin selalu berada di samping putrinya. ingin menemaninya. menyesal telah membiarkan Bela jauh darinya.


"Sayang, ikut papa pulang!" Ajak David saat sampai di asrama Bela.


David tidak mengetahui bahwa Bela di singapur tidak hanya sedang menjalankan S2nya dia pun bekerja. Jadi Bela mempunyai tanggung jawab pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.


"Aku tidak ingin pulang pah, aku tidak punya tujuan lagi!"


"Ada papa, tujuan kamu adalah bersama papa!"


"Tidak pah, aku tidak bisa pulang sekarang! entah kapan waktunya. Tapi aku janji, papa tidak usah khawatir, aku disini akan baik-baik saja."


"Bela, tidak baik terus larut dalam kesedihan!"


"Aku tahu pah, biar aku mencari cara sendiri untuk menyembuhkan diri."


David tidak tahu harus membujuk Bela seperti apa lagi. Tapi mendengar jawaban yakin dari mulut Bela, rasa khawatir Davidpun berkurang.


"Baiklah, kalau itu keputusan kamu, tapi setidaknya kamu bisa tinggal di apartmen pemberian Rangga, dia sangat menginginkan kamu menempati apartmen itu!"


"Nanti aku pikirkan pah!"


Flashback end


Tak hanya Julie, papanya pun ingin Bela menempati hadiah terakhir dari Rangga.


"Apa kamu akan segera pindah?" Tanya sheila yang melihat Bela mengepak barang-barangnya.


"Sorry, aku tinggal kamu sendiri, lagi pula kamu juga akan segera keluar dari asrama ini."


"Iya tetap saja, kamu yang pergi lebih awal!" Ucap Sheila kesal.


"Kamu tenang saja, aku akan sering berkunjung!"


"Janji ya. Terus, kapan kamu meninggalkan asrama ini?"


"Minggu depan, karena aku harus membersihkan apartemen itu terlebih dahulu. ya ampun sheil, aku ada janji temu dengan jasa pembersih." Karena terlalu asik mengepak Barang-barangnya, Bela hampir melupakan janji temunya dengan jasa pembersih yang akan membersihkan apartemennya.


"Selalu deh begitu, pelupa!" Ejek sheila dengan kebiasaan Bela yang ceroboh dan pelupa.


"Aku pergi dulu ya!"


...※※※※...


Agam sudah menemukan tempat yang cocok untuk dia tinggali, Jadi dia akan segera pindah dari rumah Jery ke Aparteman barunya.

__ADS_1


Dulu Agam pernah memiliki sebuah apartmen, apartemen yang penuh kenangan, namun dia menjualnya ketika hubungannya dengan Bela berakhir. Rasa kesal dan benci yang di rasakan pada waktu itu sedang memuncak sampai dia harus membuang semua kenangan bersama Bela.


Agam turun dari mobilnya, untuk berjalan menuju apartmen barunya. hatinya bergetar, aliran darah di sekejur tubuhnya menjadi panas.


"Bela..." Ucap Agam lirih, Agam melihat wanita yang mirip Bela lewat tepat di sebrang jalan sana.


Agam berusaha mengejarnya, mencoba melewati beberapa kendaraan yang melintas, namun kendaraan yang berlalu lalang menghalangi langkahnya.


"Aku yakin itu kamu!"


Matanya terus mengikuti kemana wanita itu melangkah. Sampai Agam masuk di kawasan Aparteman yang sama dengan aparteman yang akan di belinya. Namun entah kemana wanita itu berbelok,dia hilang di persimpangan koridor Aparteman ini.


"Aaaarrgghhh, pergi kemana dia?" Teriaknya frustasi.


Agam mengacak-acak rambutnya, dia kesal karena kehilangan jejaknya.


"Apa mungkin itu kamu Bela?"


Berapakalipun Agam memikirkan dirinya kembali ragu dengan apa yang baru saja di lihatnya, dia khawatir bahwa dia sedang memandang semua wanita dalam wajah Bela. Agam benar-benar di buat gila karena Bela.


"Mungkin aku salah, tidak mungkin kamu ada disini, kamu pasti sedang bahagia bersama suami kamu!"


Agam kembali fokus dengan niatnya berada di sana, dia akan melihat - lihat apartmen barunya. dan letaknya tepat pada saat dia kehilangan wanita yang mirip Bela tadi.


"Selamat siang pak Agam, bagaimana anda sudah ada keputusan untuk mengambil unit ini?"Tanya agen real estate, meminta kepastian dari cliennya.


Agam masih penasaran dengan wanita tadi, Agam menyangka dia juga tinggal di kawasan ini. Itu membuat Agam semakin yakin mengambil unit ini untuk dia tinggali.


"Saya ambil yang ini!"


"Tunggu pak, kalau boleh tahu siapa yang tinggal tepat di depan unit ini?" Agam masih berpikir kalau wanita tadi masuk kedalam unit di depan miliknya.


"Unit depan itu sepasang suami istri! Nampaknya mereka baru kembali, karena sudah satu tahun kosong. saya permisi!"


"Terimkasaih pak"


"Ya. itu jelas bukan kamu!untuk apa kamu berada disini?"


...※※※※...


Bela melihat-lihat isi di dalam apartmennya, setiap ruangan sangat jelas terlihat sentuhan Rangga. Bela tidak berniat untuk merubah apapun. jika begitu maka dia akan pindah lebih cepat dari jadwal yang di perkirakan.


"Saya tidak ingin perubahan, silahkan di bersihkan saja semuanya!"


"Baik bu!"


Bela kembali keluar setelah selesai melihat-lihat isi apartmennya, Bela tidak menambahkan atau mengurangi isinya, yang Rangga siapkan sudah lebih dari cukup dan sangat lengkap. Bela tidak menyangka Rangga sudah menyiapkan semua ini, meskipun kini hanya akan ada Bela yang tinggal di dalamnya.


Jika saja Rangga ada disini, pasti hari ini dia sedang bahagia bersama keluarga kecilnya, atau bahkan dirinya sudah di karuniai sang buah hati.


Agam melihat lagi wanita tadi, terlihat dari pakaian yang digunakannya, entah darimana kemunculannya, dia tiba-tiba sudah berjalan tak jauh di depan Agam.


Dengan langkah cepat Agam berusaha mengejar kecepatan jalannya, Jantungnya berdetak kencang, terlihat jelas dari belakang wanita itu mirip sekali dengan Bela.

__ADS_1


Namun langkahnya kurang cepat, wanita itu sudah menaiki bus, dan terus menjauh dari Agam, Agam tak sempat untuk mengejarnya lagi, posisi mobil Agam sangat jauh dari tempatnya sekarang.


Jika di ingat-ingat kembali, wanita itu mirip dengan wanita yang berjalan di sebelah julie saat di kantor kemarin.


"Apa dia orang yang sama? kenapa aku semakin penasaran."


Agam tidak tahu lagi, dirinya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. tidak biasanya dia merasa seperti ini saat melihat wanita, kecuali dengan Bela. Agam ingin sekali akhir pekan ini cepat berlalu.


tok...tok....tok...


Jery mengetuk kaca mobil Agam, karena dia melihat Agam tak kunjung keluar dari dalam mobilnya.


"Kenapa tidak masuk? Ada masalah?" Tanya Jery ketika Agam menurunkan kaca mobilnya.


"Gak ada!" Agam keluar dan duduk di kursi teras depan rumah Jery.


"Tapi aku lihat kamu melamun di dalam mobil tadi!"


"Aku lagi banyak pikiran!"


"Came on gam, cerita. setidaknya itu bisa meringankan beban kamu!"


Agam bingung apa yang harus dia lakukan, apa dia ceritakan semua kegundahan hatinya kepada Jery. Atau menyimpan saja sendiri kegundahan hatinya.


"Jer, tadi aku lihat cewek mirip Bidi di kawasan apartemen baruku!"


Jery mengenal wanita yang di cintai Agam dengan nama panggungnya, Bidi bukan Bela.


"Serius, dia disini? dengan suaminya?"


"Hanya mirip jer, aku gak bisa mastiin itu orang yang sama, dan aku hanya lihat dia dari belakang!"


"Maksudnya kamu gak lihat mukanya langsung? tapi dari belakang terlihat mirip dia?"


"Iya, seperti itu!"


"Hhhmm ngomong-ngomong Bidi, aku hampir lupa wajahnya seperti apa!"


"Ngapain juga kamu ingat-ingat wajah Bidi!"


"Maksudku, sudah lama aku gak ketemu dia, terakhir kali mungkin waktu kita masih sering main ke klub malam!"


"Kamu ingat,saat ada cewek yang ngaku keponakanku, itu terakhir kamu ketemu Bidi!" Agam mengingatkan Jery tentang terakhir dirinya bertemu Bela.


"Tunggu dulu, waktu itu kan kamu mabuk berat dan ada seorang cewek muda jemput, dia Bidi?" Seakan tidak percaya, Jery menjelaskan ulang kejadian dulu.


"Iya dia Bidi!"


"Dia masih muda banget Gam, beda dengan Bidi yang sering kita lihat!"


"Itu orang yang sama Jer, dia orang yang tidak bisa aku lupakan!" Jery tidak percaya, selama ini dia tidak mengenali Bidi. jelas-jelas sudah setahun ini mereka sering bertemu. Pantas saja Jery merasa pernah melihat sebelumnya. Akhirnya dia mengingat ingatan yang selama ini berusaha diingatnya.


"Kenapa kok bengong?" Tanya Agam yang melihat Jery yang terdiam.

__ADS_1


"Sorry gam, aku kekamar dulu!"


Jery meninggalkan Agam yang masih di duduk di teras depan. Dia bingung dengan ingatan yang baru saja di ingatnya. Dia bingung bagaimana caranya memberitahu Agan tentang ini semua. Bahwa wanita yang sedang di cari Agam ternyata sangat dekat dengan dirinya.


__ADS_2