
Sudah dua bulan Bela tinggal di asrama kampus. Dan sudah satu minggu Bela memulai aktifitas kampusnya. Dia mempunyai teman baru, meskipun beda jurusan tapi mereka teman satu kamar. Dia adalah sheila, kebetulan juga mereka sama-sama dari indoneaia, meskipun beda daerah.
Dan selama dua bulan ini Bela belum juga menerima pemberitahuan dari perusahaan xyz, tentang lamaran pekerjaannya. apakah diterima ataupun di tolak. Sebenarnya Bela sudah rela jika memang dirinya tidak di terima bekerja di sana. Setidaknya Bela masih bisa bekerja di perusahaan lain atau di perusahaan papanya. Bahak bisa juga ikut membantu Rangga di perusahaanya.
"Beluma ada juga?" Tanya Sheila yang melihat Bela selalu mengcek Hpnya.
Bela menggelngkan kepala dan mengantongi kembali Hpnya.
Sheila sebenarnya merasa aneh melihat Bela. dia berasal dari keluarga kaya tapi masih ingin bekerja di perusahaan orang lain, jelas-jelas sangat mudah bagi Bela jika ingin pekerjaan. Tinggal meminta orangtuanya maka semua beres.
Tiba-tiba Hp Bela berdering, Bela langsung merogoh kantong celananya dan menjawab panggilan yang sejak lama di tunggunya.
"Selamat siang, dengan saudari Bela. Selamat, anda di terima bergabung di perusahan xyz. Kami tunggu kedatang anda pada hari senin."
Setelah menerima telphone, Bela bertriak kegirangan. Lalu memeluk satu-satunya orang yang berada di dekatnya saat itu.
"Aaaa... sheila, akhirnya aku di terima kerja!"
"Selamat ya, aku tahu kamu pasti di terima disana.Kapan hari pertama kamu kerja?" Tanya sheila penasaran.
"Senin besok. secepat itu!" Rasa tidak percaya Bela tunjukan, karena begitu sampai ke jakarta Bela harus langsung berangkat kembali ke singapura.
"Bukannya kamu akan pulang ke jakarta malam ini?"
"Iya, karena aku besok akan wisuda. Itu berarti aku harus kembali sebelum hari senin."
"Oooh... padat sekali!"
"Iya, tapi aku gak bisa ninggalin wisuda aku!"
Minggu yang sibuk untuk Bela, namun bela sudah tidak sabar ingin cepat bertemu dengan kedua orang tua Rangga. Meskipun Bela sudah pernah mengenalnya, tapi memperkenalkan diri sebagai calon menantu mereka punya kebahgaiaan tersendiri bagi Bela.
...※※※※...
Bela sudah siap dengan balutan kebaya biru mudanya. dengan di temani David, Bela mengikuti prosesi wisudanya.
Setelah acara selesai, Barulah Bela berkumpul dengan teman-temannya. Berfoto ria, mengabadikan moment yang tidak akan pernah terulang lagi.
"Akhirnya kita lulus bareng!" Peluk maya bahagia.
Bela menyudahi pelukannya, dan menarik tangan maya.
"May, ikut gw!"
"Kemana Bel?"
"Gw kenalin loe ke seseorang yang saat ini spesial buat gw!"
Sampailah Bela di depan Rangga yang sedang menunggu Bela keluar dari aula kampus.
__ADS_1
"Kenalin may, calon suami gw!" Ucap Bela memperkenalkan Rangga kepada sahabtnya.
"Loe dan Rangga?" Maya tertegun melihat Bela melingkarkan tangannya di lengan Rangga tanpa rasa canggung ataupun malu.
Kemudian Maya memukul bahu Bela berulang kali, karena kesal menjadi orang yang terakhir tahu hubungan mereka.
"Kenapa loe baru kasih tahu gw sekarang, loe jahat Bel."
"Sorry, loe tahu gw di singapura lagi sibuk-sibuknya!"
"Tapi Bel, gw seneng, akhirnya loe menemukan kebahagiaan loe!"
"Gw juga beraharap loe akan segera mengikuti langkah gw!"
"Gw masih gk ngerti kenapa Adit belum juga nglamar Gw!"
"Loe harus sabar, mungkin Adit masih mempersiapkan untuk masa depan kalian. gw yakin begitu dia siap, dia pasti langsung nglamar loe!"
"Thanks ya Bel, kadang gw ngrasa Adit gak serius dengan hubungan ini!"
"Kalau dia gak serius gak mungkin dia menghabiskan waktunya untuk loe May."
"Bela kita semakin dewasa saja!" Ucap Maya memuji Bela.
Maya yang datang bersama orang tuanya, harus berpisah dengan Bela untuk berkumpul lagi dengan orang tuanya.
"Sayang, papa duluan ya, papa harus mempersiapkan acara nanti malam!" David menghampiri Bela untuk berpamitan pulang.
"Baik om."
David pun meninggalkan Bela bersama Rangga, Karena semua acara telah selesai.
Rangga mengajak Bela untuk pergi mencari makan karena sedari tadi tidak ada satu makananpun yang masuk kedalam mulut Bela.
Rangga pun membawa Bela makan di cafe sekitar kampus. Begitu sampai Bela melihat anak kecil seorang diri keluar dari dalam cafe. di lihat dari cara berjalannya yang masih kaku, bela menyimpulkan bahwa sang anak baru saja bisa berjalan. Bela melirik kesekeliling, namun tidak ada satu orang tua pun yang mengejar anaknya.
"Ngga lihat, anak itu sendirian, bagaimna kalau dia mencoba menyebrang jalan?"
Bela langsung turun dari mobilnya begitu melihat si anak terus berjalan maju menuju jalan raya.
"Aaaaaa...." Teriak Bela saat sebuah mobil menghantam tubuh kecil nan mungil itu, Meskipun mobil sudah mengerem namun tetap saja bagian mobil itu menyntuh seoarang anak sampai terguling.
Bela sudah berlari untuk mencegah kecelakaan itu terjadi. namun dirinya cukup jauh dari anak tersebut di tambah lagi pakaian yang dikenakan hari ini menyulitkan Bela untuk berlari, bahkan berjalanpun sulit.
Bela meraih tubuh mungil itu, nampak darah bercucuran di kepalanya, Bela mencoba menekan tempat darah itu keluar, supaya darahnya tidak terus keluar.
"kalau punya anak kecil tuh dijaga bu, mengapa membiarkannya bermain di pinggir jalan tanpa pengawasan" Teriak beberapa orang yang ada di tempat kejadian.
Bela mendaptkan omelan dari beberapa orang yang berkumpul mengerumuninya.
__ADS_1
Semua orang saling berbisik dan menyudutkan Bela.
Bela sama sekali tidak mendengarkan omongan sekitarnya, dia hanya ingin menyelamatkan anak kecil yang saat ini dipangkuannya.
"Kami bukan orang tua si anak. kami hanya kebetulan melihat dan ingin menolongnya. Jika ada orang tua si anak ini mencari, tolong beritahu bahwa anaknya kami bawa ke rumah sakit xxx." Teriak Rangga kepada semua orang yang berada di sana.
Rangga mengeluarkan Bela dari kerumunan untuk menaiki mobil dan segera membawa si anak ke rumah sakit.
Baju yang Bela kenakan sudah berlumuran darah, sepertinya si anak sudah banyak mengeluarkan Darah.
"Ngga, bagaimana jika anak ini tidak selamat?" Ucap Bela panik.
"Kamu tenang saja, kita akan tahu jika sudah sampai di rumah sakit."
"Siapa orang tua yang tega membiarkan anaknya bermain sendiri di pinggir jalan."
"Kita akan tahu sayang. dan kamu bisa memperingatinya nanti."
"Ngga lebih cepat lagi!"
"Sabar sayang, aku sudah berusaha secepat mungkin!"
Rangga sangat mengerti bahwa saat ini Bela sedang panik, apa lagi tangannya yang sudah berlumuran darah membuatnya bertambah panik.
Bela langsung turun begitu mobil berhenti di depan UGD rumah sakit.
"Dokter.... dokter... tolong anak ini."Teriak Bela memanggil para dokter UGD yang sedang berjaga.
"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Doket menghampiri.
"Anak ini tertabrak mobil dok, tolong selamtkan anak ini!"
"Silahkan ibu kebagian Administrasi dulu." Ucap salah satu suster.
Ketika Bela akan melangkah menuju bagian Administrasi, Rangga mencegahnya.
"Biar aku saja, kamu terus temani anak itu saja!"
Bela mengangguk dan duduk di depan ruang tunggu UGD.
"Apakah anda orang tuanya?" Tanya dokter begitu keluar ruangan.
"Bukan dong, orang tuanya mungkin sedang dalam perjalanan." Ucap Bela, padahal dirinya tidak tahu menahu tentang siapa orang tuanya dan sedang apa saat ini.
"Baiklah, saya harus bertemu langsung dengan orang tuanya." Ucap dokter kembali masuk. Namun Bela kembali bertanya, sehingga dokter pun menghentikan langkahnya.
"Apa anak itu baik-baik saja?"
"Maaf. Saya hanya bisa mengatakan kepada orang tuanya saja. Tapi berkat anda dia di tangani lebih cepat." Bela hanya bisa duduk pasrah, dirinya benar-benar tidak tahu keadaan yang sebenarnya anak itu.
__ADS_1
"Ngga, kenapa orang tua si anak belum juga datang?" Ucap Bela gelisah, karena sudah setengh jam belum juga ada yang mencari anak itu
"Kamu tenang saja mungkin mereka dalam perjalanan." Rangga berkali-kali mencoba menenangkan Bela.