
Bela berlari di koridor kampus, setelah mendengar dari beberapa mahasiswa, bahwa Rangga sudah mulai masuk untuk memberi mata kuliah kepada mahasiswanya.
Dan ternyata benar. Rangga sedang berdiri menjelaskan di depan puluhan mahasiswa yang sudah menunggunya selama 2 minggu.
Rangga tersenyum saat menyadari kedatangan Bela. Dia memberi kode melalui tangannya untuk menunggunya sebentar.
Tak lama, semua isi kelasnya bubar, yang menandakan bahwa mata kuliahnya telah selesai. Bela melangkah masuk mendekati Rangga yang masih membereskan buku-bukunya.
"Ada apa? Kenapa kamu menatap seperti itu?" Tanya Rangga yang melihat Bela hanya tersenyum menatap dirinya.
"Aku hanya tidak menyangka bisa melihat kamu menggunakan kedua kaki dan tangan kamu lagi dengan Baik!"
"Kamu berlebihan Bela. Aku hanya cedera ringan. Dan itu bisa kembali normal seperti sekarang ini!"
Ucap Rangga merangkul Bela, dan digiringnya keluar dari kelas.
"Berarti hari ini kamu bisa antar aku ke butik dong?" Tanya Bela memastikan Rangga tidak melupakan Rencana pada hari kemarin.
"Gimana ya?" Rangga menempelkan tangan di dagunya
"Kok mikir dulu?" Tanya Bela cemberut.
"Hahaha....! Bercanda Bel!" Ucap Rangga mengusap pucuk kepala Bela.
Sontak saja Bela memukul ringan Bahu Rangga.
Karena tidak ada hal lain lagi yang mereka kerjakan di kampus, mereka pun memutuskan untuk segera berangkat ke butik.
Namun saat di parkiran kampus Bela kaget melihat Rangga yang kembali mengendarai motornya setelah kejadian kecelakaan kemarin.
"Kamu naik motor Ngga?" Tanya Bela menaikan kedua alisnya.
"Iya, memang kenapa?" Tanya Rangga kembali.
"Kamu gak bisa naik motor lagi Ngga, apa kamu lupa kamu baru saja kecelakaan dengan motor ini?" Bela memarahi Rangga sambil menunjuk motor yang di taikinya.
"Bela, itu hal yang wajar. Tapi bukan berarti aku kapok tidak ingin naik motor lagi. Mobil sekalipun bisa mengalami kecelakaan, Lantas apa mungkin kita berhenti menaiki mobil? kan tidak mungkin! kita pasti menggunakannya kembali." Rangga mencoba memberi pengertian kepada Bela. Namun Bela sama sekali tidak mendengarkan Rangga.
"Gak bisa Ngga, motor beda dengan mobil. Lebih baik kamu naik mobil aku!"
Bela menyuruh Rangga turun dari motor dan menaiki mobilnya. Kemudian Bela menginjak gas meninggalkan parkiran kampus.
"Kenapa kesini? Bukannya kita akan ke butik?" Tanya Rangga yang mendapati mobil berhenti di depan gedung showroom mobil.
"Iya, tapi sebelum itu, kita pilih mobil untuk kamu dulu!" Ajak Bela kepada Rangga.
__ADS_1
"Aku gak butuh mobil Bela, aku masih bisa menggunakan motor! Rangga tetap tidak mau turun dari mobil.
"Kamu butuh mobil Ngga. naik motor boleh, tapi sesekali saja. Lagi pula kamu harus punya mobil, Karena aku terbiasa naik mobil!" Bela turun, membuka paksa pintu mobil dan menarik tangan Rangga masuk kedalam showroom mobil. melihat-lihat beberapa mobil yang ada di dalamnya.
Rangga sama sekali tidak paham tentang mobil. Berbeda dengan motor, dia sangat paham betul. Yang ada Rangga hanya mengikuti kemana Bela melangkah, dari mobil satu ke mobil lainnya. Sempat juga beberapa kali Rangga di paksa masuk ke sisi kemudi, mencoba duduk dan memegang setir merasakan nayaman tidaknya mobil tersebut.
"Menurut aku, yang ini lebih cocok untuk kamu Ngga!" Tunjuk Bela pada sebuah mobil suv putih.
"Tapi Bel, aku gak butuh mobil!" Tolak Rangga kesekian kalinya. Tapi Bela selalu mengabaikannya. Bela tidak mendengar protes Rangga sama sekali. Dia justru masuk kedalam kantor showroom untuk menyelesaikan semua pembayarannya.
Dengan terpaksa Rangga menyerahkan Kartunya untuk membayar mobil baru yang di pilihkan Bela. Padahal Dia masih belum ada niatan untuk membeli mobil. Meskipun keuangannya sudah mampu untuk Rangga membeli apapun yang dia inginkan. Tapi Rangga sudah terbiasa hidup dengan sederhana. Dia hanya akan membeli barang sesuai kebutuhannya.
"Selamat Rangga, Akhirnya kamu membeli mobil pertama kamu!" Ucap Bela mengulurkan tangannya.
Rangga menghembuskan Nafas berat menerima uluran tangan Bela.
"Ngga, percaya kepadaku, kamu gak akan menyesali hari ini. Karena ini ada manfaatnya. Salah satunya kita bisa jalan bareng pake mobil kamu!" Ucap Bela mengusap - usap lengan Rangga.
"Iya, terimkasih sudah membantu memilihkan mobil pertama aku." Ucap Rangga tersenyum.
Rangga memang tidak akan pernah menyesalinya. justru dia sangat menikmati hari ini. Melihat antusias Bela memilih mobil.
"Bukankah kamu akan kebutik? ini sudah hampir sore Bel!" Rangga mengingatkan tujuan Bela sebnarnya adalah fiting baju pengantinnya.
...※※※※...
Sudah hampir dua jam Daniel menunggu Bela di butik.Pada awalnya Daniel tidak bisa menemani Bela untuk fitting baju. Namun dia berganti jadwal dengan rekannya, agar tidak melewatkan moment penting bersama Bela.
Semula Daniel datang kerumah Bela, namun Bela tidak ada di rumah. Lalu Daniel mencoba menghubungi Bela, tapi Bela tidak mengangkatnya telphonnya. Sampai Daniel harus menanyakan kepada David, keberadaan Bela.
David memberithaukan kepada Daniel, bahwa Bela akan langsung menuju butik setelah keluar dari kampus. Namun sedari tadi Daniel menunggu belum juga ada tanda-tanda kedatangan Bela. Bahkan Bela sudah keluar dari kampusnya dua jam yang lalu.
Daniel sudah lebih dulu fitt0ing tuxedonya. Kini dirinya menunggu Bela sambil menikmati kopinya.
Dari arah depan masuklah Bela bersama Rangga dengan obrolan lucunya, sehingga membuat Bela tertawa.
Mendengar suara tawa Bela, Daniel menolehkan kepalanya, kebetulan posisi Daniel membelakangi pintu masuk butik tersebut.
Daniel yang melihat Bela semakin akrab dengan Rangga mengepalkan tangannya. Dengan mata menyala menatap kearah dua orang yang belum sadar ada Daniel yang sedari tadi melihat tajam ke arah mereka.
Daniel Berdiri begitu Bela semakin dekat dengannya.
"Bela...!" Panggil Daniel penuh penekanan. sontak saja kedua mata Bela dan Juga Rangga melirik bersamaan.
"Daniel, Kenapa kamu disini?" Tanya Bela terkejut melihat daniel yang sudah menatap tajam kearahnya.
__ADS_1
"Kenapa? Bukan kah kita memang akan fiting baju pernikahan? Terus kenapa kamu datang bersama dia?" Tanya Daniel menujukkan telunjuk kearah Rangga.
"Bel, sepertinya aku pulang saja, lagi pula sudah ada Daniel di sini." Sela Rangga.
"Ngga tunggu dulu, Bawa ini!" Bela memberikan kunci mobilnya untuk di bawa Rangga pulang.
"Sorry...!" Ucapnya tanpa bersuara.
Rangga mengambil kunci mobil Bela dan pergi meninggalkan butik.
"Kenapa kamu seperti itu kepada Rangga, aku jadi merasa bersalah kepada dia Dan!" Ucap Bela saat Rangga sudah tidak ada.
"Terus, bagaimana dengan aku? Apa kamu merasa bersalah? Kamu tahu aku sudah menunggu dua jam disini." Daniel balik bertanya.
"Aku gak tahu kalau kamu datang. Kamu sendiri yang bilang kalau jadwal kamu padat, dan kamu gak akan bisa nemenin aku untuk fitting baju."
"Nyatanya aku bisa Bela. Bahkan aku kerja extra untuk mengambil libur di hari ini. Tapi apa yang kamu lakukan. kamu justru datang dengan pria lain. Apa kamu tahu bagaimana perasaan aku?" Daniel sangat marah. dia cemburu karena dengan mudahnya Bela mengganti peranan dirinya kepada orang lain.
"Sudah aku bilang, aku gak tau kalau kamu bisa datang!"
"Bukan masalah datang atau tidaknya, yang aku tanyakan, kenapa harus bersama Rangga? Kenapa tidak maya? Kamu akan menikah denganku Bel, bukan dengan Rangga."
"Aku tahu. kita yang akan menikah.Tapi...." Ucap Bela terpotong saat ada pelayan butik menanyakan kepastian waktu fitting.
"Maaf Pak, bu apakah kita jadi untuk fiting hari ini?" Tanya salah satu pelayan butik, yang mampu menunda perdebatan mereka.
"Jadi mba. maaf, tunggu sebentar lagi!" Ucap Daniel sopan.
"Baik pak, kami tunggi di dalam!" Ucap pelayan itu dan pergi meninggalkan mereka.
"Sudahlah kita masuk dulu!" Ajak Daniel kepada Bela, agar memulai fiting baju pengantin untuk Bela.
"Ayo...!" Ajaknya lagi, saat menoleh melihat Bela belum melangkah dari tempatnya untuk mengikuti Daniel.
"Kamu saja, aku sudah gak mood lagi." Jawab Bela melangkah kekuar dari dalam butik.
"Bela, gak bisa gitu dong. kita harus selesaikan hari ini. aku tidak punya banyak waktu lagi." Ucap Daniel mengejar Bela.
"Kamu saja. aku bisa datang lagi nanti." Bela sama sekali tidak menghentikan langkahnya. dia terus menjauh menuju pintu keluar Butik.
"Bela tunggu. Aku minta maaf.Maaf aku terlalu berlebihan tadi. Aku mohon kita kembali kedalam!" Tangan Bela di cekal Daniel. Daniel harus mengalah, jika sama- sama keras mungkin pernikahan ini tidak akan pernah terjadi.
Bela diam sejenak, memikirkan apakah dirinya terlalu egois. Sedangkan Daniel sudah meluangkan waktu untuk ikut mengurus pernikahan mereka.
"Aku juga minta maaf!" Ucap Bela berbalik dan meraih gengaman tangan Daniel. Lalu mereka masuk kedalam butik kembali.
__ADS_1