
Jery dan Julie sedang menikmati moment berduanya, karena pekerjaan akhir tahun yang sangat menguras waktu mereka, sehingga jarang sekali menikmati waktu hanya berduaan saja.
"Sayang, bagaimana kalau nanti malam kita rayakan tahun baru bersama Agam dan Bela, pasti seru banget, walaupun terakhir kali kita kumpul, ada sedikit salah paham."
"Tidak bisa sayang, sepertinya memang kita harus beduaan saja!"
"Kenapa tidak bisa?" Tanya Julie heran.
"Agam pergi ke paris!"
"Paris, disaat orang lain liburan dia mengurus pekerjaan di paris!"
"Bukan pekerjaan, dia liburan di sana sepertinya Bela juga ikut, karena jatah cutinya dia ambil!"
"Apa menurut kamu kali ini mereka akan berhasil?" Tanya Julie kemudian.
"Aku kurang tahu, tapi aku berharap begitu."
"Aku penasaran sesuatu, tentang hubungan mereka dulu!" Julei memang tidak mengetahui tentang masa lalu Bela dengan Agam, karena Bela hanya cerita tentang hubungannya dengan Rangga saja.
"Itu kisah yang sangat panjang. Yang jelas dulu maupun sekarang, mereka saling mencintai. Akupun tidak tahu persisnya seperti apa."
Begitu juga Jery, dia tidak tahu cerita jelas tentang Agam dan Bela, dia hanya tahu saat awal-awal mereka bertemu. atau jika Agam sedang galau.
"Sebagai sahabat, aku ingin mereka bahagia."
...※※※※...
"Kenapa masih duduk disini? bukankah kita akan melihat pesta kembang api?" Tanya Agam yang melihat Bela masih santai duduk di balkon sambil menyeruput kopinya.
"Kita bisa melihatnya dari sini!" Ucap Bela meneguk kembali kopinya.
Semenjak mencium aroma kopi di pantry, entah mengapa Bela jadi menyukai kopi kembali.
"Kamu yakin, kita hanya di dalam kamar saja!" Agam takut salah mengartikan keinginan Bela, karena semua orang yang datang ke kota ini pasti ingin melihat festival kembang api secara langsung.
"Iya, aku yakin, sepertinya disini lebih menyenangkan, aku tidak perlu berdesakan dengan orang-orang, kita bisa menikmatinya disini sambil saling bepelukan!" Bela berdiri dengan menarik tangan Agam menuju pagar balkon dan di bawanya kedua tangan Agam melingkar pingangnya, memeluk dirinya dari belakang.
"Sepertinya kamu sudah pandai merayu!" Ucap Agam berbisik di telinga Bela.
"Banyak dariku yang sudah berbuah Gam, aku bukan Bela yang dulu, bukan gadis remaja yang dulu lagi!"
"Aku suka itu, aku akan lihat perubahan apa lagi yang akan kamu tunjukan!"
Bela membalikan badannya, tangannya membelai kedua pipi Agam, turun menuju leher, dengan mata sendu dan senyuman menggodanya.
__ADS_1
"Apa ini yang kamu nantikan?" Tanya Bela mulai menelusri menuju dada bidang Agam.
"Jangan main-main Bela, aku lelaki normal!" Ucap Agam dengan nafas yang tertahan, Bela membuat Agam menahan hasrtanya sendiri.
"Aku tahu, itu yang selalu kamu katan sejak dulu. Kamu lupa sekarang aku juga wanita dewasa." Ucap Bela meniup telinga Agam. Seketika berdiri bulu-bulu halusnya.
Bela menarik baju Agam untuk mengikuti langkahnya kembali kedalam kamar. Di dorongnya Agam sampai ia terduduk di sisi tempat tidur, Kembali Bela membelai-belai pipi Agam turun sampai keleher Agam, yang merupakan daerah sensitifnya.
Bugh....
Didorongnya Agam kembali, sampai dia terjatuh di atas kasur.
Saat ini Bela tepat di atas agam, namun tubuhnya ia tahan dengan kedua tangannya, sehingga tidak bersentuhan dengan Agam, mendekatkan bibirnya di sisi kiri telinga Agam.
"Sebaiknya kamu cari makanan untuk perayaan nanti malam!" Ucapnya kemudian.
Setengah mati Agam berusaha menahan agar tetap waras dari perbuatan yang nanti akan mereka sesali, tapi ternyata Bela hanya memancingnya saja.
Agampun menarik tangan Bela dan membalik badannya, kedua tangan Bela ditahannya, kini posisi mereka berbalik. Bela terengah-engah, menatap mata Agam tajam.
"Jangan membangunkan jiwa kelaki-lakianku!" Ucap Agam tersenyum nakal. Bela yang terkejut dengan perlawanan kilat dari Agam seketika terdiam membeku, bahkan untuk bernafaspun sulit. karena jarak wajah Agam yang sangat dekat dengannya.
Sepertinya dia berhasil mengerjai balik kekasihnya, Agampun bangun melonggarkan cengkraman tangannya. dia mencoba menarik nafas, mengatur semua kembali kekeadaan normal.
Setelah kepergian agam, Belapun bangun dari tidurnya, dengan nafas yang masih tersenggal-senggal, seolah dirinya telah mengikuti lari maraton.
"Dasar duda mesum....!" Teriaknya meluapkan rasa kekesalan karena di jahili balik oleh Agam.
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, Rupanya Agam mengatur makan malam romantis di balkon kamar hotelnya, karena beberapa staf hotel sedang mendekor meja di balkonnya.
Sudah hampir satu jam dari kepergian Agam, namun dia tidak juga muncul, justru yang datang hanyalah satu kotak paket yang di titipkan untuknya.
Belapun segera membuka kotak tersebut, dan ternyata isinya adalah gaun Merah, dengan kertas memo di dalamnya.
"Pakai gaun ini, aku akan datang ketika kamu sudah siap."
Bela tersenyum menatapi gaun merah itu. Dia tidak menyangka Agam menyiapkan ini semua, sebuah pesta perayaan kecil dan juga gaun cantik itu.
Bela bergegas berganti pakaian, tak lupa dia juga merias wajahnya secantik mungkin, dia ingin memberikan yang terbaik untuk Agam.Tak lupa dia menyanggul rambutnya Agar terlihat leher jenjangnya.
Bela berjalan menatap cermin, betapa elegannya Bela dengan balutan gaun itu, Agam memang pandai memilih sesuatu untuk Bela. Ini bukan kali pertamnya mendapat gaun dari Agam, ada beberapa kali. Namun, semua itu sudah Bela buang dulu.
Bela duduk di kursi yang sudah di siapkan, menunggu Agam yang juga belum datang dan juga menunggu pergantian tahun.
Di mejanya sudah tersedia wine, yang mungkin akan mereka habiskan berdua. Sambil menunggu Agam, sesekali Bela meneguk wine tersebut.
__ADS_1
Bela menolehkan kepalanya saat mendengar suara pintu terbuka, Benar saja, Agam sudah datang dengan penampilan yang berbuah saat tadi dia meninggalkan kamari ini.
Kink dia datang dengan memakai jas Rapi, dia benar-benar menyiapkan semuanya.
"Selamat malam, cantik!" Agam meraih punggung tangan Bela untuk di ciumnya.
Bela tersenyum dengan beberpa kali mengedipkan matanya, dia tidak percaya Agam akan muncul dengan serapi ini.
"Kemarilah, sebentar lagi kamu akan melihat langit diatas sana berwarna warni." Agam menuntun tangan Bela untuk berdiri dan berjalan mendekati pagar balkon.
Agam memposisikan dirinya tepat seperti saat tadi Bela mengerjai dirinya. Dengan memegang pinggang Bela dari Belakang, dia mendekatkan dirinya.
"Apa ini sudah waktunya?"
"Iya, kita lihat, satu, dua, dan tiga." Agam menjukan tangannya kelangit kota paris. dan kemudian suara kembang api saling bersautan,
"Cantik sekali." Ucapnya takjub.
"Ya sangat cantik."Balas Agam melirikan matanya ke wajah Bela.
Agam melihat betapa cantiknya Bela bahkan kembang apipun tak membuatnya mengalihkan pandangannya dari Bela.
"Ini sudah waktunya!"
"Untuk Apa?"
"Untuk mengatakan kalimat yang selama ini selalu aku pendam, bahakan dulu aku sempat hilang harapan, bahwa kamu tidak akan pernah mendengar kalimat ini."
"Kalimat apa itu?" Tanya Bela mulai gugup, walaupun hanya mendengar suara Agam di belakangnya mampu membuat jantungnya berdebar.
"Aku ingin menjadikan kamu istri dan masa depanku, Bela Davinson maukah kamu menikah denganku?" Agam membuka sekotak perhiasan dan diperlihatkannya ke hadapan Bela. Dengan posisi yang masih berada di belakang Bela.
Bela menatap tangan Agam yang memegang kotak itu, diapun menoleh kesampingnya, dia ingin melihat wajah orang yang baru saja melamarnya.
"Aku mau!" Jawab Bela menatap mata Agam.
Dengan masih diiringi suara kembang api yang bertaburan di langit Paris, Bela menjawab lamaran Agam dengan yakin. Kali ini dia yakin dan percaya bahwa Agam bisa dan mereka berdua bisa melewati segala rintangan dalam hubungannya.
Belapun berbalik menghadap Agam, mengalungkan lengannya di leher Agam dan mendekatkan bibirnya perlahan, dengan mata tertutup Bela mendapat sambutan dari bibir Agam.
Merekapun larut dalam kebahagiannya, selama ini, moment inilah yang paling mengesankan bagi mereka berdua.
Tak lupa Agam pun menyematkan cincin berlian di jari manis Bela. juga kalung yang berinisal nama mereka.
Sebenarnya Agam sama sekali tidak berniat melamar Bela saat itu, namun dia merasa momentnya cocok dan Bela juga sudah mengutarakan isi hatinya. Agam tidak bisa menunda untuk melamar Bela, disaat mereka berdua sudah menyatakan perasaannya masing-masing.
__ADS_1