
"Hey Bel, nglamunin apa?" Sapa Julie saat jam istirahat.
"Gak kak, aku justru lagi nunggu kak Julie datang."
"Aku yang nunggu kamu, katanya mau bawa es teh, tapi kamu malah duluan ke kantin."
"Maaf kak, sebenarnya tadi aku dari ruangan pak Agam!"
"Apa?! kalian sudah bertemu?" Tanya Julie terkejut. Dia merasa Agam telah melakukan hal yang benar, dan julie sangat senang mendengarnya.
"Kak julie sudah tahu? Bukannya menjawab, Bela malah balik bertanya. Karena Bela tidak pernah menceritakan soal Agam kepada Julie sebelumnya.
"Hanya sekilas, aku baru tahu kalau kamu wanita yang Agam cintai. dan dia cari selama ini."
"Maaf ya kak, aku tidak menceritakan tentang Agam, karena bagiku dia masa lalu dan hubungan kami sangat rumit. Tapi, hari ini kami di pertemukan kembali."
"Bagaimana persaan kamu sekarang, Setelah bertemu dengan Agam?"
"Entahlah kak, aku juga gak ngerti dengan perasaan ini. Tapi dia datang diwaktu yang tepat."
"Kamu ngerasa gak kalau ini bukan kebetulan semata, ini takdir Bela. Coba kamu pikirkan, kamu datang keperusahaan ini atas rekomendasi Rangga, dan juga aparteman hadiah Rangga. Itu mengarah pada satu orang."
"Agam maksudnya! kalau perusahaan iya, tapi apa maksudnya dengan apartemen?"
"Kamu belum tahu, kalau Agam juga tinggal dilingkungan yang sama?"
"Serius kak, agam juga tinggal di lingkungan itu?"
"Iya. ini aneh loh Bel, seolah kalian itu dipertemukan kembali berkat Rangga!"
Julie berpikiran yang terjadi antara Agam dan Bela itu adalah Pesan terakhir Rangga untuk mereka.
"Tapi kak, Agam tahunya aku sudah menikah!"
"Maaf Bel, sebenarnya Jery kelepasan bilang kalau kamu belum menikah. aku sudah buat Jery menjaga rahasia ini.Tapi aku hanya memberitahu sampai situ kok." Julie merasa bersalah kepada Bela, Karena rahasia yang harus di simpan terbongkar.
"Sudahlah kak!"
"Sorry....!" Ucap Julie penuh penyesalan.
"Iya, gak apa-apa kak!"
Bela tidak dapat mengatakan apapun lagi, mau marahpun tidak bisa. Kini Agam sudah mengetahui status dirinya, kemungkinan Agam tidak akan menyerah.
...※※※※...
Ketika sampai di apartemennya, Bela masih memikirkan apa yang di katakan julie saat di kantin kantor tadi siang.
"Apa Benar itu keinginan kamu Ngga?" Ucap Bela bediri di depan photo Rangga.
"Kruck.....kruck...."
Bela memegangi perutnya yang berbunyi.
"Lapar...!" gumamnya.
Bela berlari menuju kulkas, dan ternyata masih kosong, dia lupa belum mempunyai bahan makanan apapun di kulkasnya. Mungkin karena Bela terbiasa tinggal di asrama yang sudah tersaji berbagai makanan.
Bela pun masuk ke kamaranya untuk berganti pakaian, sebelum pergi ke supermarket yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Sambil mendorong troli, Bela memilih beberapa bahan makanan untuk memenuhi troli kosongnya.
__ADS_1
"Yang kanan lebih segar dan juga berisi" Ucap seseorang dari belakng, saat dirinya tengah menimbang-nimbang sayruan di tangannya.
Sontak saja Bela menengokan kepalanya.
"Agam...!" Menarik nafasnya dalam karena bertemu kembali dengan Agam.
"Apa kamu akan memasak?"Tanya Agam ketika melihat troli Bela berisi banyak bahan makanan.
"Ya, seperti yang kamu lihat, aku sedang berbelanja!"Ucapnya kembali mendorong troli meninggalkan Agam. Tak sampai disitu Agampun mengikuti Bela dari Belakang.
"Waaaw....Rupanya kamu sudah banyak perubahan!"
Bela menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Agam.
"Kenapa kamu masih mengikitiku?" Tanyanya dengan nada kesal.
"No. Sepertinya kita menuju arah yang sama!" Bela memutarkan bola mata,dan kembali meneruskan langkahnya. Sementara di belakang, Agam sedang tersenyum gemas melihat wajah Bela yang kesal.
Bela sengaja Berbelok Agar tidak di ikuti terus oleh Agam. dan benar, saat Bela menoleh kebelakang, dia sudah tak di ikuti lagi.
Setelah membayar Belanjaannya, Bela menunggu datangnya Taxi. Namun sebuah mobil putih berhenti tepat di depannya.
"Kenapa dia lagi?" Kesal Bela saat Agam turun dari mobil dan menghampirinya.
"Aku antar kamu!" Tawar Agam hendak mengambil barang bawaan Bela.
"Terim kasih, aku naik taxi saja!"
"Arah kita sama, lebih baik kamu ikut aku!" Agam mengambil alih kantong Belanjaan Bela untuk dia masukan ke dalam mobilnya.
"Tidak ada salahnya menerima tumpangan dari Agam, lagi pula memang kita tinggal di kawasan yang sama!" gumamnya dalam hati.
"Baiklah!"
"Aku turun di depan sana!" Tunjuk Bela.
Agampun menginjak rem mobilnya dan turun, menurunkan semua belanjaan termasuk miliknya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Bela saat agam akan masuk ke arah Aparteman Bela.
"Masuk dong!"Jawab Agam santai. tidak lupa senyum yang selalu dia suguhkan untuk Bela.
Bela bergegas mengimbangi langkah Agam yang sudah mendahuluinya.
"Tunggu Gam, kamu tidak akan masuk ke tempatku kan?" Tanyanya lagi.
"Tidak dong! aku tinggal di depan unit kamu. mau mampir?" Bela terkejut, dia mengira mereka hanya tinggal di lingkungan yang sama saja, tapi ternyata berhadapan.
"Terima kasih, aku harus masak makan malam!" Tolak Bela, Bela bergegas membuka pintu, dia merasa malu karena sudah berpikir berlebihan.
"Tunggu, kamu belum makan malam?" Tanya Agam mencegah Bela masuk kedalam unitnya. Bela menggelengkan kepalanya, dan itu membuat Agam menarik tangan Bela untuk masuk kedalam uintnya.
"Kamu duduk disini, aku siapkan makan malam untuk kamu.Kamu harus lebih peduli terhadap kesehatan kamu Bel!" Agam memaksa Bela untuk duduk di ruang makan dan mengomelinya.
"Aku peduli kok!"
"Kalau peduli, kamu tidak akan makan malam di jam segini."
Bela hanya menurut, meskipun otaknya memerintahakn untuk menolak segala kebaikan yang Agam berikan, tapi hati dan langkah kakinya berlawanan. Alhasil Bela duduk dengan tenang menunggu makannya matang.
"Bagaimana? Enakan?" Tanya Agam saat Bela memasukan satu suapan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Ya, masih sama.eh, maksudku, makanan ini enak!"
Agam tersenyum senang mendengar ucapan Bela. meskipun di ralatnya, tapi Agam tahu bahwa dirinya masih melekat di dalam diri Bela.
"Oh ya,aku dengar kamu menunda pernikahan? kenapa? bukankah undangan sudah tersebar?"
"Kenapa Agam bisa tahu, bukankah hanya kerabat dekat saja yang mendaptkan undangan? apa papa yang mengundangnya, tapi tidak mungkin, atau Rangga?"
Bela mengerutkan keningnya, sebab dia sama sekali tidak pernah mengundang Agam.
"Kamu tahu undangan itu?" Tanya Bela memastikan kembali.
"Iya, ada yang mengantarnya ke kantorku!"
"Itu pasti Rangga. karena semua kerabat yang diundang mendapat informasi tentang kecelakaan itu. Tapi, Agam tidak mengetahuinya!"
Satu hari sebelum kecelakan itu terjadi, undangan sudah di sebar kepada kerabat dekat saja. dan setelah dinyatakan Rangga meninggal, semua yang mendaptkan undangan di beritahu oleh David bahwa pernikahan dengan terpaksa harus dibatalkan, karena calon pengantin pria meninggal.
"Are you oke?" Tanya Agam, saat Bela hanya diam terpaku.
Jika ada yang mengungkit tentang alasannya batal menikah, itu akan membuat Bela kembali mengingat kejadian satu tahun lalu dan itu membuatnya tersiksa.
Bela menyeka air matanya, sebelum bulir airmata jatuh dan Agam melihat itu semua.
"Sorry gam, aku harus pulang!" Ucap Bela segera meninggalkan unit Agam.
Agam merasa ada yang aneh dengan Bela. Menurutnya pertanyaannya tadi tidak salah, dan juga tidak berlebihan.
"Apa yang terjadi, aku tahu tadi kamu menangis!"
Ternyata dugaan Bela salah, Agam melihat semuanya, Agam melihat kesediah dan air mata. Agam mengejar Bela, dia mengetuk pintu unit Bela berulang kali.
"Bel...Bela, buka pintunya!"
"Aku hanya ingin mengantarkan belanjaan kamu yang tertinggal!" Ucap Agam dari depan unitnya.
Bela melupakan belanjaannya tadi, jika di biarkan yang ada sayuran yang baru di belinya menjadi tidak segar. Belum lagi rasa laparnya yang belum tertuntaskan.
Bela menghapus sisa-sia airmata yang membasahi pipinya, dengan terpaksa Bela membuka pintunya sedikit,hanya cukup untuk menguluran tangannya keluar, mengambil belanjaan di tangan Agam. Dia tidak ingin Agam melihat dirinya yang berantakan.
"Sini Belanjaanku!" Ucap Bela, mengulurkan tangannya.
Namun Agam menarik pintu Bela hingga terbuka lebar.
sontak saja Bela memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajah sembabnya.
"Kamu menangis?" Tanya Agam, menelisik wajah Bela. Diraupnya wajah Bela perlahan, sehingga menghadapnya, Agam menatap lekat kedua bola mata Bela.
"Ada apa? apa ada yang salah dengan perkataanku? apa aku tanpa sengaja menyakitimu?" Tanyanya lembut.
"Tidak, kamu tidak salah!" Jawab Bela berusaha menurunkan pandangannya. mengalihkan pandangannya dari tatapan Agam.
"Terus kenapa kamu menangis setelah keluar dari unitku? Rangga menyakiti kamu?" Agam menebak semua kemungkinan yang bisa membuat Bela menangis.
Bela menggelengkan kepalanya dengan semua tebakan Agam.
"Dia sudah pergi, pergi meninggalkan dunia ini, dan itu semua salahku!" Ucapnya lirih.
Agam terkejut mendengarnya, dia sama sekali tidak tahu. Ternyata Bela kehilangan calon suaminya, sosok yang sedang dicintainya.
Agam tahu arti kehilangan itu sendiri, dia tahu itu saat kehilangan Bela. Namun mereka di pisahkan oleh kematian dan itu pasti lebih menyakitkan.
__ADS_1
"Bukan salah kamu, ini semua sudah takdir tuhan. Percayalah, Rangga sudah bahagia disana, dan dia pasti menginginkan kamu juga bahagia disini!"
Agam merengkuh,memeluk tubuh Bela. jelas terlihat betapa rapuh jiwanya. Namun dia menutupi dengan senyumnya selama ini.