Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

"Ngga, terimakasih untuk hari ini. Ini pengalaman baru yang menyenangkan" Bela memeluk helmnya sambil berterimakasih kepada Rangga.


"Syukurlah kalau kamu senang, lain kali aku ajari kamu bawa motor sendiri. Mau kan?"


"Mau banget!"


"Ok, aku pulang dulu."


Bela melambaikan tangannya melepas kepergian Rangga, Setelah Rangga tak terlihat lagi, barulah Bela masuk kedalan rumah. Tapi Bela melihat Rumahnya dalam keadaan sepi,Biasnya di waktu seperti ini, papanya akan berada di ruang keluarga menonton acara kesukaan mereka. Namun Bela tidak melihatnya.


tok...tok...tok...


"Pah...!" Panggil bela sambil mengetuk pintu kamar David.


"Masuk!" Jawab david dari dalam kamar.


Belapun membuka handel pintu dan mendorongnya, sampai terlihat David yang sudah siap dengan setelan jas rapinya.


"Kamu baru datang?" Tanya David tanpa menoleh, dia masih sibuk memakai dasinya.


"Iya pah, kok papa sudah rapi, mau kemana?" Bela yang melihat David kesusahan dengan dasinya, membantu memakaikannya.


"Kita akan bertmu keluarga Pak Bram, kamu siap-siap. Beri penampilan cantik kamu untuk keluarga calon suami kamu." Pinta David.


"Apa gak terlalu cepat pah? baru saja tadi pagi aku kasih jawaban dan malamnya sudah ada pertemuan." Bela mengerutkan keningnya. Dia merasa pertemuan ini terlalu mendadak.


"Ini keinginan pak Bram. katanya lebih cepat lebih baik."


"Duh... om Bram kaya gak ada hari besok aja." Keluh Bela, sambil merapikan jas David.


"Sudah cepat sana siap-siap. gak enak loh membuat pak Bram menunggu!"


"Iya papa!"


Dengan berat hati Bela melangkah meninggalkan Kamar David untuk bersiap-siap datang keacara yang sudah di janjikan.


Memang sesuatu yang di jalani dengan keterpaksaan sangat tidak membahagiakan.


Sebenarnya Bela enggan untuk datang. Hari ini dirnya sudah lelah karena seharian naik motor. walaupun dia merasa senang tapi tubunya merasa pegal karena duduk seharian.


Walau bagiamanapun pertemuan dua keluarga ini sudah menjadi konsekuensi atas keputusannya. Dan acara-acara berukutnya yang pasti om Bram adakan, dan Bela harus siap turut serta hadir di acara tersebut.


Satu jam yang bela butuhkan berada di kamar mandi sudah selesai. Dia saat ini sedang memilih dress yang cocok untuk menghadiri acara tersebut. Dia membawa satu dress brukat dengan warna peach yang menggantung di lemarinya.Matanya memerah, hatinya memanas melihat Dress itu. Ternyata masih ada saja barang peninggalan Agam yang tertinggal di kamar Bela. kemudian Diremasnya dress tersebut lalu dilemparkannya ke lantai.

__ADS_1


Bela memang sudah membuang semua barang dari Agam termasuk belanjaan yang pernah Agam berikan, Tapi ada satu dress yang masih tertinggal di lemarinya. dan itu membuat Bela kesal.


Jika saja itu bukan dari Agam, pasti dia sudah memakinya malam ini.


Bela berdiri termenung di depan lemarinya, sudah hampir setengah jam dirinya mencari pakaian yang cocok di kenakannya. Sampai Bela mengingat bahwa dirinya punya satu dress yang belum pernah di pakainya.


Dress dengan warna navy, berlengan panjang, Namun namapak terbuka di bagian bahunya. Tak lupa dia juga membuka kotak sepatu High heelsnya. Sepatu yang sempat terbawa oleh Rangga beserta pakaian-pakian yang lainnya.


Sekarang Bela sudah terlihat sempurna. Dia pun keluar dari kamarnya untuk segera berangkat ke tempat yang sudah di janjikan.


Sampailah mereka di depan restoran mewah.Dan ternyata keluarga pak Bram sudah lengkap berkumpul.


Pak Bram dan keluarganya sudah menunggu kedatangan David dan juga Bela.


Disana terlihat Daniel yang sudah sangat tegang menunggu kedatangan Bela. di liriknya berkali-kali jam yang melingkari tangannya. Daniel sangat Cemas, dia khawatir Bela membatalkan semuanya.


Namun kekhawatirannya segera hilang, saat Daniel melihat Bela dan David berjalan mendekatinya.


Daniel melihat Bela dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya.


Entah kebetulan atau memang takdir pakaian mereka nampak senada. Daniel menelan silvanya ketika melihat leher jejang Bela yang menampakan tonjolan garis tulangnya yang menambah kesexyan Bela.


"Hai Dan, Apa kabar?" Tanya Bela memecah khayalan-khayalan nakal Daniel.


Bela Dan David duduk di kursi yang sudah di sediakan. berkali-kali Daniel dan Bela beradu pandangan. Harusnya sudah biasa bagi Bela bertemu Daniel, namun malam ini Dia merasa gugup, mungkin memang pertemuan ini berbeda dari pertemuan-pertemuan biasanya.


"Pak David, seperti yang saya katakan, saya ingin Bela dan Daniel segera bertunangan. saya sudah menetapkan waktunya."


Bela membelakna matanya mendengar keputusan om Bram yang menurutnya terlalu cepat.


"Bukankah kami harus pendekatan dulu om?" Tanya Bela menyanggah perkataan Bram.


"Om fikir kalian sudah cukup dekat, dan juga ada waktu 2 minggu bisa kalian gunakan untuk lebih mengenal. karena akhir bulan ini kita akan mengadakan pesta pertunangan!"


"Pesta? Bela ingin hanya keluarga saja!" Ucap Bela menolak keinginan Bram.


"No cantik. Kita akan mengadakan pesta megah untuk pertunangan kalian, kita harus mengumumkannya. Bukakah begitu pak David?" Dengan senyumannya Bram meminta David untuk setuju dengan keputusannya.


"Ya. saya ikut saja apa yang menurut pak Bram baik."


Bela sangat kesal kepada papanya yang tidak mengusulkan apapun.


"Ingat Bela, kami itu anak David satu-satunya dan juga Daniel anak om satu-satunya. ini akan menjadi pesta yang sangat mewah di tahun ini, sebagai penutup tahun."

__ADS_1


Karena melihat papanya yang setuju dengan semua usulan Bram, Bela pun tidak dapat mengatakan apa-apa lagi.


"Iya Om, Bela ikut aja!" Ucapnya menundukan pandangannya. Dari sana Bela hanya diam saja, mendengar obrolan-obrolan diantara orang tuanya. Bela merasa dirinya tidak di anggap. pendaptanya tidak penting. Apa lagi yang harus bela lakukan selain duduk manis dengan senyuman yang dipaksakan.


Setelah obrolan penting selesai, Barulah mereka semua menyantap makanan yang sudah di sediakan.Berkali-kali Daniel melirik ke arah Bela, Malam ini Bela tidak banyak bicara, Bahakn sedari tadi Bela hanya bicara dengan para orang tua. Daniel belum ada kesempatan untuk Bicara berdua.


"Bel, Bisa kita Bicara?" Ajak Daniel kepada Bela, sontak saja seluruh pasang mata menoleh ke arah Daniel.


Bela menganggukan kepalnya, dia juga meminta izin kepada David dan semua orang yang ada disana.


"Ya, kalian butuh waktu berdua!" Ucap David mengizinkan.


Daniel membawa Bela keluar dari private room. menuju kursi kosong di dekat jendela, masih di dalam restoran yang sama.


"Kamu terlihat murung?" Tanya Daniel, berusaha menatap wajah Bela yang sedari tadi hanya menudnuk, seperti ada yang lebih menarik di bawah sana.


"A-aku baik-baik saja!" Jawab Bela memalingkan wajahnya.


"Bela, apa kamu terpaksa menerima perjodohan ini?"


Pertanyaan Daniel menusuk ke dalam hatinya. Daniel mungkin merasakan ketidaktulusan bela dalam perjodohan ini.


"Ini keinginanku sendiri. Dan, apa kamu juga terpaksa dengan perjodohan ini, kita sama-sama tahu perasaan masing-masing." Bela melemparkan pertanyaan yang sama. Dia juga berhak tahu persaan Daniel tentang perjodohan ini.


"Aku juga menginginkan ini. Bel, ada sesuatu yang harus kamu tahu, dan itu selalu aku sembunyikan."


Daniel menggenggam kedua tangan Bela. Dia menarik nafasnya dalam.


Bela yang semula hanya menunduk, mengangkat kepalnya menatap tajam bola mata Daniel.


"Bela, aku mencintai kamu. Aku janji akan selalu membuat kamu bahagia. Aku tahu persasaan kamu saat ini. Tapi aku tidak menuntut kamu untuk segera membalas cintaku. Aku mau kamu perlahan membuka hati untuk mulai mencintaiku."


Mendengar kata-kata cinta Daniel membuat hati Bela berdesir. jantungnya memompa dengan cepat, mengalirkan darah kesekujur tubuh bela.


"Sejak kapan Dan?"


"Sejak aku melihat kamu untuk pertama kalinya. Tapi saat itu kamu sedang bahagia dengan Agam, jadi aku tidak ingin merusak kebahgaian itu. Dan saat ini Agan hanya memberi kamu luka, itu membuat aku ingin menarik kamu lepas dari Agam. Aku tidak ingin melihat kesedihan lagi di wajah ini." Daniel membelai lembut wajah Bela.


Nafas bela semakin cepat, Bela berusaha untuk tidak terbuai dengan kata-kata cinta Daniel. Namun saat menatap sepasang mata Daniel, dia melihat keseriusan di dalamnya. Apakah ini waktunya untuk lebih menetapkan hatinya untuk Daniel.


"Dan, aku tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi mari kita jalani saja apa yang sudah ada di depan kita. aku bersama kamu.


Setidaknya Bela akan mencobanya, persaannya saat ini, diapun tidak tahu. Dia memang meraskan cinta Daniel, tapi jauh di dalam hatinya dia tidak merasakan apapun. Sebab masih ada seseorang yang mengisi hatinya yang terdalam.

__ADS_1


__ADS_2