
Bela berdiri di depan cermin, dia sudah siap untuk makan malam bersama Agam, dengan dress biru muda dan wajah yang sudah full makeup siap untuk berangkat. Bela menyilangkan tangan di dadanya, merasa aneh dengan penampilannya malam ini.
"Ini norak sekali Bela, kamu hanya akan makan di apartmen Agam, bukan di resto mewah!"
Ejeknya kepada dirinya sendiri. Kemudia dia mengmbil kapas dan dituangkannya cairan pembersih wajah. Di usapkan kapas itu ke setiap bagian dari wajah Bela, sampai tidak tersisa satupun makeup di wajahnya.
Kemudian ia membuka kembali lemarinya, memilih baju santai untuk menggantikan dress cantik yang saat ini di pakainya.
"Lihat Bel, ini sudah cukup, pas untuk makan malam di unit tetangga!" Pujinya saat melihat cermin dengan penampilan barunya.
Ting.....
Bela memijit Bel yang tepat di depannya, Tak lama Agampun membukakan pintu untuk Bela
"Kenapa tidak langsung masuk, akukan sudah bilang, kodenya tanggal ulang tahun kamu."
"Iya aku tahu. Tapi aku maunya kamu yang buka." Ucap Bela mengedipkkan kedua matanya.
Agampun tersenyum melihat tingkah lucu Bela seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa makanannya sudah siap?" Tanya Bela mendaratkan dirinya di atas kursi makan.
"Pas sekali, makan malam sudah siap!" Agam menata pasakannya satu persatu di atas meja.
"Wwahh...."
"Ini enak banget loh Gam, sepertinya masakan kamu semakin enak!" puji Bela kepada kekasihnya
"Masakan aku dari dulu enak sayang!" Agam membelai rambut Bela.
"Iya, iya, lain kali giliran aku yang masak, kamu pasti kaget dengan kemampuan masakku!" Bela menyombongkan dirinya, dia ingin menunjukan kemampuannya yang meningkat selama jauh dari Agam.
"Oke sayang, aku tunggu!"
Merekapun melanjutkan makan malam dengan saling bercanda gurau. Melupakan semua permasalahan yang belum menemukan solusinya sama sekali.
Setela merasa kenyang Bela membawa piring kosong untuk ia cuci.
"Karena kamu sudah masak, Sekarang giliran aku cuci piring ya!" Usulnya.
"Jangan, biar aku saja. kamu duduk cantik disini!" Namun Agam merebut piring yang ada di tangannya, dan menyuruh Bela untuk duduk saja dan membiarkannya mencuci piring.
"Baiklah."
__ADS_1
Bela melihat tangan dan punggung agam yang terus bergerak, mengingatkan kembali kenangan diantara mereka.
"Gam, apa kamu ingat, dulu juga kita seperti ini!"
"Mana mungkin aku lupa hari itu. Tapi aku bahagia untuk hari ini!"Mana mungkin Agam melupakan hari itu, hari dimana hatinya terasa sakit harus menolak cinta dari orang yang ia cintai.
"Iya aku juga bahagia, semoga semua ini cepat kita lewati." Bela mengahmpiri Agam, tangannya di masukan kesela-sela diantara tangan Agam yang terus bergerak. merasakan kehangatan punggung Agam.
"Bel, kamu dengar suara itu?" Tanya Agam, mematikan kran air untuk lebih jelas mendengarnya.
"Suara apa?" Tanya Bela yang tidak mendengar apapun.
"Sepertinya ada yang mengetuk pintu apartmen kamu!" Agam mendengar ada yang mengetuk keras pintu, namun bukan pintu unitnya.
"Gak mungkin, aku gak ada janji dengan siapapun." Jawan Bela, memang dirinya tidak mempunyai janji dengan siapapun, apalagi hanya sedikit yang tahu alamat tempat tinggalnya yang baru.
"Coba kamu dengar lagi!"
Merekapun memfokuskan pendengarannya, membuka telinga lebar-lebar. melangkahkan kaki lebih dekat kearah pintu untuk lebih jelas mendengarnya.
"Iya betul, Tapi siapa?" Tanya Bela bingung, dia mendengar suara apartmennya di ketuk tapi dia tidak bisa menebak siapa yang bertamu malam-malam.
Merekapun membuka pintu unit Agam, untuk melihat siapa tamunya itu.
"Kalian.. , apa yang kalian lakukan?!" Bentak David, membuat Bela tersentak dan menundukan kepalanya. "Kalian tinggal bersama?"
"Ngga pah, bukan seperti itu!" Jawab Bela berusaha menyangkal apa yang David tuduhkan.
"Memangnya apa yang biasa dilakukan dua orang dewasa di tempat yang sama." Ucap Agam yang memancing amarah David, dengan mata lebar dan rahang yang mengeras, David mencengkram leher baju Agam.
"Apa yang sudah loe lakukan kepada Bela?" Tannyanya penuh penekanan.
Bela yang melihat itu, berteriak meminta David untuk melepaskan Agam.
"Masuk!!!" Bentak David lagi.
"Lebih baik kamu masuk Bel!" Dengan suara yang tertahan agam meminta hal yang sama.
mereka ingin Bela masuk ke apartemennya meninggalkan semua masalahnya kepada para pria yang sedang bersitegang itu
"Lebih baik kita juga masuk, bicarakan secara gentle!" Saran Agam yang membuat David melepaskan cengkramannya, dan masuk kedalam apartmen Agam.
Agam menarik nafasnya dalam, setelah David melepasa cengkraman yang membuat dirinya kesulitan bernafas.
__ADS_1
Setelah melihat David masuk, agampun mengikutinya,
"Keputusan kami tidak bisa di ubah. kami saling mencintai dan akan segera menikah. hanya satu yang kami inginkan yaitu restu dari kamu sebagai orang tua Bela." Ucap Agam mencoba meyakinkan David.
"Jangan harap. karena itu tidak akan pernah terjadi!"
"Apa alasannya? apa karena aku yang bercerai atau karena usiaku yang tidak muda lagi?" Tanya Agam menatap mata David tajam.
"Banyak alasan lainnya juga!" Ucap David membuang mukannya.
"Apa itu? kenapa tidak kamu sebutkan satu-persatu? apa alasan yang tidak bisa kamu sebut itu sebanding dengan kebahagaiaan Bela?"
"Dia bisa bahagai meskipun tidak dengan kamu!"
"Kamu salah vid. hanya aku yang bisa buat dia bahagia! dulu dengan Daniel dia hanya berpura-pura, mungkin rangga bisa membuat Bela bahagia, namun itu jika mereka bersama, saat bela sendiri dia merasa kosong, sepi. karena sejak awal memang kebahgaiannya bersamaku!"
David tidak dapat berkata-kata lagi, memang yang di katakan Agam adalah kebenaran.
"Aku sangat mencintai Bela dulu maupun sekarang. dan kamu tahu itu. hanya saja kamu menutup mata."
David beranjak meninggalkan Agam yang masih ingin terus membujuknya.
"Jangan coba-coba kamu sakiti Bela!" Ucap David sebelum keluar dari apartmen Agam.
David telah mengambil keputusan, keputusannya mungkin tidak sesuai dengan yang di inginkannya, tapi dia berharap itu yang terbaik untuk anak satu-satunya.
Setelah keluar dari unit Agam, David mengetuk pintu unit anaknya, dia yakin saat ini anaknya sedang gelisah menunggu apa uang telah terjadi.
"Pah, apa yang papa lakukan kepada Agam?"Tanyanya Begitu membukan pintu untuk David. Terlihat jelas di wajahnya, dia sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu.
"Apa yang kamu suka dari dia, sampai kamu sangat mencintai dia?" Bukannya menjawab David berjalan masuk dan balik bertannya kepada Bela.
"Bersama Agam, Bela merasa nyaman, merasa terlindungi, merasa berarti. Agam selalu tahu apa yang Bela inginkan tanpa Bela ucapkan. Pah ada dua lelaki di hidup Bela yang sangat bela cintai, ada papa dan juga Agam, Bela minta papa merestui Bela dan Agam, agar Bela bisa tetap mencintai kalian." Ucapnya perlahan mendekat dan duduk bersimpuh memeluk lutut papanya.
David dapat melihat begitu besar rasa cinta yang dimiliki Bela untuknya maupun Agam. Dirinya sadar selama ini telah membuat putrinya menderita sendiri.
"Lakukan apa yang kamu inginkan, asal kamu bahagai!" Ucap David mengusap lembut kepala Bela.
Bela mencerna apa yang di dengarnya,
"Papa merestui hubungan aku dan Agam?" Tanyanya seakan tidak percaya dengan ucapan David.
"Segera adakan pernikahan sebelum papa berubah pikiran!"
__ADS_1
"Makasih pah, Bela sayaaang papa!" Bela memeluk erat David, ia sangat berterimkasih kepada papanya,