
Ini hari pertama Bela bekerja, pagi hari Bela sudah siap dengan seragam formalnya. Baru kali ini Bela memakai pakaian serapi ini. Sedikit pengap namun masih terasa nyaman di pakai, mungkin karena perasaan gugupnya yang membuat pakaiannya terasa sesak.
"Bela....!" Teriak Sheila memanggil-manggil Bela.
Bela membalikan badan dan melihat teman sekamarnya sedang berlari mengejar dirinya.
"Ada apa?" Tanyanya menaikan kedua alisnya.
"Hp kamu ketinggalan!" Ucap Sheila sambil menggoncangkan Hp Bela.
"Upps..." Bela tersenyum sambil merutuki dirinya sendiri.
Sheila menggelngkan kepalanya melihat Bela yang terlihat sangat gugup.
"Thanks ya sheil, gak biasanya aku ketinggalan ini!"
"Coba kamu tarik nafas dan hembuskan perlahan"Bela mengikuti apa yang di intruksikan sheila berulang-ulang kali.
"Oke Sheil, aku berangkat dulu."
"Jangan lupa ulangi kalau kamu gugup lagi!"
"Oke!" Bela membentuk jarinya melambangkan oke.
Menaiki transportasi umum untuk sampai kantor merupakan kebiasan baru Bela. Dia harus terbiasa dengan ini semua. Karena jika mengandalkan taksi bisa-bisa uang hasil kerjanya satu bulan, hanya cukup untuk membayar taksinya selama sebulan juga.
Namun kebiasan baru ini tidaklah buruk karena Bela bisa melihat kebiasaan lingkungan sekitar apa lagi di tempat baru pasti banyak perbedaan dari tempat sebelumnya.
Disinilah Bela berdiri tempat di depan gedung perusahaan yang akan mempekerjakannya. Bela memperbaiki tatanan rambut wajah dan pakaiannya sebelum melangkahkan kaki masuk kedalam menemui bagian personalia untuk mengambil tanda pengenalnya.
"Selamat pagi, saya Bela karyawan magang disini." Sapa Bela masuk kedalam ruangan yang di tunjukan security di depan gedung tadi.
"Kamu datang ingin mengambil ini?" Tanya Seorang pria dengan suara berat dan memberikan tandan pengenal bertuliskan nama Bela.
"Iya!" Jawab Bela berusaha tetap Ramah. Sebenarnya Bela sedikit ketakutan, melihat pria tersebut. Karena dari segi perawakannya yang besar dan juga suaranya yang sesuai dengan ukuran badannya.
"Cepat Mereka sudah menunggu kamu!" Ucapnya lagi menambah ketegangan yang Bela rasakan.
Setelah berpamitan dari ruang itu Bela berlari masuk namun dia di bingungkan dengan dua arah yang berbeda, dia bingung harus berjalan kearah mana, Cerobohnya Bela tidak menanyakan itu sebelumnya.
"Dduuh... aku harus kearah mana ini? apa aku harus kembali lagi kebawah?"
"Bela..." Bela menoleh saat namanya di panggil.
"Kak julie, eh... maaf, bu julie!" Ucapnya tersenyum karena bertemu orang yang ia kenal di kantor asing ini.
"Pasti kamu bingung, ayo ikut saya, kita kearah kanan, kalau kearah kiri itu ruang Ceo kita!" Ucap Julie, sepertinya dia mendengar ucapan Bela saat tadi kebingungan.
"Selamat pagi semaunya, perkenalkan rekan baru di tim kita." Julie memperkenalkan Bela kepada timnya. Karena Bela berada di tim marketing dengan julie sebagai managernya.
__ADS_1
semua orang di ruangan itu menatap kearah Bela, dengan senyuman yang terpancar di setiap wajah mereka menandakan bahwa Bela di terima sebagai salah satu dari bagian tim.
"Selamat pagi, saya Bela. Mohon bimbingannya!"
Belapun menyalami satu persatu rekan setimnya semuanya berjumlah 5 orang termasuk dirinya, Dan dua diantaranya laki-laki.
"Bela, kamu harus menghadap Pak Jery dia adalah General manager di perusahaan ini!" Ucap Julie mengajak Bela menuju ruangan pak Jery.
"Jery... Apa dia orang yang sama dengan kekasih kak julie?" Pertanyaan itu terbesit begitu saja saat Julie menyebutkan nama yang sama.
"Apa dia Jery...." Tanya Bela berbisik,
"Ssttt...." Julie menempelkan telujuk di bibirnya, Bela mengerti dengan maksud Julie. Ternyata Kekasih Julie adalah Jery,GM perusahan ini.
"Saya antar kamu sampai di sini, silahkan kamu memperkenalkan diri sendiri kepada pak Jery." Julie menepuk bahu Bela memberi semangat, sebelum dirinya pergi kembali keruangannya.
tok...tok...tok...
"Silahkan masuk!" Suara Jery jelas terdengar dari dalam sana.
"Selamat pagi pak!" Sapa Bela begitu memasuki ruangan Jery.
"Pagi, kamu karyawan magang baru?" Tanya Jery ramah.
"Iya pak, Saya Bela Davinson." Bela merasa gugup, Karena Jery menatap dari ujung kepala sampai ke ujung kaki Bela.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanya Jery lagi, karena Jery merasa tidak asing dengan wajah Bela.
"Ah... ya semalam. Baiklah Bela, Kamu bisa menyesuaikan jadwal kerja dan kuliah kamu dengan bu julie. Namun kamu tidak di izinkan mengambil cuti selama satu tahun pertama kamu. Apakah kamu sudah tahu hal itu?"
"Sudah pak, bu Julie sudah memberitahukan itu!"
"Baiklah silahkan kembali ke pekerjaan kamu!"
"Baik pak, saya permisi!" Bela keluar dan kembali menuju meja kerjanya.
Sepeninggalan Bela, Jery masih saja berfikir pernah bertemu dengan Bela sebelumnya. Namun bukan semalam, karena semalam Jery sama sekali tidak menoleh kearah Belakang saat di perkenalkan julie. Jery mencoba mengingat, terlihat jelas kerutan di keningnya, menandakan Bahwa Jery sedang mengingat sampai kedalam memorinya. Namun dia tidak menemukan kapan dirinya pernah bertemu dengan Bela. Namun tetap saja dia merasa wajah itu terasa tidak asing.
"Apa mungkin karena dia cantik jadi aku berfikir pernah bertemu sebelumnya. sadar Jery apa yang baru saja kamu katakan. Julie lebih cantik dari Bela!" Jery menyadarkan dirinya kembali, dan dia benar-benar buntu."
...※※※※...
Agam duduk termenung di kantornya, mengingat permintaan Reyna yang tidak masuk akal, Rasanya aneh Reyna meminta Hak untuk Arka sedangkan Arka saja masih balita. Dan itu selalu Reyna ucapkan berulang- ulang kali, hampir satu bulan ini Reyna selalu menuntut itu. Walaupun Agam sudah memberikan setangh yang di milikinya, Tapi yang Reyna inginkan semuanya. Dengan berbagai macam tudingan yang diberikan.
Agam lelah selalu di tuding berselingkuh padahal dia sudah berusaha menjadi suami setia. Ia akui hatinya belum sepenuhnya untuk Reyna Tapi di saudah memberikan apa yang selayaknya seorang suami Berikan. Dengan sikap Reyna yang sangat berlebihan timbul kecurigaan Agam tentangnya.
"Kenapa aku merasa Reyna menyembunyikan sesuatu, tapi apa itu? Aku harus mencari tahu semuanya!"
Agam meraih Hpnya, dia menghubungi orang kepercayaannya untuk menyelidiki tentang istrinya.
__ADS_1
"Kamu cari tahu tentang istri saya. Saya merasa Reyna sedang menyembunyikan sesuatu!"
"Baik pak!
Panggilanpun Berakhir, Agam meletakan Hpnya kembali di meja kerjanya, dan mulai memeriksa berkas yang sudah menumpuk.
Tok...tok...tok....
"Masuk....!"
"Maaf pak, Ini ada undangan!" Ucap sekretarisnya memberikan selembar surat undangan pernikahan.
"Simpan saja! Ucap Agam tanpa menoleh kearah sekretarisnya, mata Agam fokus membaca berkas yang saat ini ada di tangannya.
"Baik pak, saya permisi!" Ucap sekretarisnya meninggalkan ruangan bosnya itu.
Surat undangan yang seharusnya di baca Agam tergeletak begitu saja, bahkan saat ini sudah tertimpa berkas yang selesai Agam periksa. entah apakah undangan itu bisa terbaca Agam atau akan terbawa bersama berkas-berkas itu.
...※※※※...
Masalah pernikahan sudah selesai, undangan sudah di sebar, karena hanya keluarga dan kerabat dekat saja yang di undang. Semua yang di pilih Rangga ternyata sesuai dengan keinginan Bela.kecuali Baju pengantin. Karena Bela tidak perlu repot membuat Baju pengantin lagi, Dia akan memakai Baju pengantin yang dulu saat bersama Daniel. Karena itu memang baju impian Bela, namun tetap saja ada yang Bela ubah walaupun hanya sedikit.
Bela menunggu kedatangan Rangga, karena hari ini Rangga akan membawanya ke tempat tinggal mereka setelah menikah. Karena setelah menikah tidak mungkin Bela tetap tinggal di asrama. Rangga telah menghadiahi sebuah Apartmen di singapura. Itu akan menajdi tempat tinggal pertama mereka. Dan hari ini Rangga akan menujukan Apartment itu kepada Bela.
Disinilah Bela berada, duduk menunggun calon suaminya datang. sudah satu jam Bela menunggu namun Belum juga terlihat kedatangan Rangga. Bela mulai cemas di tambah lagi dengan Telphon Rangga yang tidak aktif, bahakan Bela menghubungi David, namun sama saja, papanya tidak bisa di hubungi.
Bela sudah memkirkan berbagai macam hal. Dia bahkan mencari tahu informasi tentang pesawat jatuh ataupun kecelakan pesawat lainnya yang menuju singapura. Namun tidak ada satupun berita seperti itu.
"Apa yang terjadi, kenapa semua orang tidak bisa di hubungi?" Teriaknya dengan beruraian air mata.
Sudah tiga jam dia berada di bandara. Menunggu seperti orang gila, berteriak, menangis namun tidak ada satu orang pun yang memberi kepastian.
Sampai suara dering telphon membuat dirinya sedikit lega, Karena setelah lama menunggu kabar akhirnya ada juga yang menghubunginya.
"Hallo pah... Apa Rangga baik-baik saja? karena sampai saat ini dia belum juga sampai!"
"Bela, kamu harus kuat...."
Mata Bela melebar mendengarkan kata demi kata yang di ucapkan papanya. Tak teras airmatanya berkumpul namun masih terbendung. Rahangnya menegang seketika kakinya menjadi lemas, menopang dirinya sendiripun tidak lagi kuat.
Bela ambruk bersimpuh, Tangannyapun tak sanggup lagi menggengam telphon.
"Bela.... Bela... are you oke?" Teriak David di sebrang sana terdengar pelan. Karena Telphon Bela sudah tidak berada di gengamannya lagi.
Bela tidak sanggup menanggung beban ini sendirian, dia berharap ada seseorang yang menguatkannya, walaupun hanya sekedar mengusap bahunya memberi kekuatan. Namun dia sadar saat ini dirinya hanya seorang diri di negeri ini.
Bela berusaha meraih Telphonnya kembali yang tergelatak tak jauh dari dirinya.
"Iya pah, Bela masih disini." Ucapnya Berusaha tegar.
__ADS_1
"Papa ingin kamu kuat sayang, tunggu papa disana!"
Belea memeluk Telphonnya, dia masih Berharap semua yang David katakan adalah kebohongan.