Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Nyamuk Dalam Hubungan


__ADS_3

Kembali masuk kerja setelah menghabiskan masa cutinya, membuat Bela bersemangat, kembali melakukan aktvitas sibuknya mampu meringankan Beban permasalahan yang saat ini sedang dilaluinya. kisah percintaan yang belum di restui kedua keluarga, membuat pikiran dan hatinya sesak.


"Pagi semuanya!" Sapanya kepada rekan setim yang sudah lebih dulu datang.


"Wah, bawa apa?" Tanya Rekannya saat Bela memberikan satu kantung pelastik yang di bawanya.


"Sedikt oleh-oleh, silahkan di nikmati!" Ucap Bela, seblum duduk di kursi kerjanya.


"Ini enak loh, Terima kasih Bel!" Ucap salah satu rekannya.


"Nes, kamu gak mau coba itu?" Tanya Bela yang melihat Nesa hanya duduk tidak ikut mencicipi oleh-olehnya.


"Aku gak selera!" Jawab Nesa pergi meninggalkan ruangan.


Merasa Bingung dengan sikap Nesa, Belapun menanyakan kepada rekan yang lain.


"Nesa kenapa?"


"Kurang tahu!" Jawab beberapa dari mereka.


Bela merasa bingung dengan sikap Nesa, baru kali ini Nesa sangat tidak ramah kepadanya. Bela merasa Nesa kesal karena dirinya, enatah apa sebabnya, yang jelas Bela harus segera meluruskannya. Diapun meninggalkan mejanya untuk mencari Nesa.


Bela melihat Nesa sedang di dalam pantry, perlahan dibukanya pintu pantry, Kemudian Bela masuk, Berpura-pura membuat kopi untuk dirinya sendiri.


"Kamu kenapa Nes, apa ada masalah?" Tanya Bela sopan.


"Gak usah sok peduli." Ucap Nesa dengan jutek.


"Sorry, aku hanya khawatir saja, karena tidak biasanya kamu seperti ini!"


"Munafik!"


Bela semakin bingung dengan kekesalan yang Nesa tunjukan untuk dirinya. apalagi Nesa sudah mengeluarkan kata-kata kasarnya.


"Apa maksud kamu Nes?"


"Jangan pura-pura tidak tahu, aku selama ini selalu menceritakan dia, bagaimana perasaanku untuk dia, dan kamu orang yang paling tahu itu!"


"Nesa, aku benar-benar nggak ngerti maksud kamu!"


"Cukup, buang wajah polos itu!" Uacp Nesa sebelum pergi meninggalkan Bela.


"Ada apa Bel, kenapa Nesa?" Tanya Julie yang melihat Nesa keluar dengan wajah kesal.


"Aku Nggak tahu kak, dia tiba-tiba marah gak jelas seperti itu!"


"Apa karena itu dia marah? Di apartmen Agam tempo hari!" Julie menebak sikap Nesa berubah karena kejadian saat mereka makan malam bersama di apartmen Agam.


Belapun memutar kembali ingatannya. Ya, padahari itu Agam mengejar dirinya dan meninggalkan Nesa bersama Jery dan Juli.


"Arghh..., Sorry kak, aku kejar Nesa dulu!" Bela berniat meluruskan kesalapahaman anatra mereka berdua, namun Julie mencegahnya.


"Jangan Bel! Biarkan saja dulu, lagi pula ini bukan salah kamu! yang ada dia akan terus membenci kamu, apa lagi kamu dan pak Agam kembali bersama."


"Kak Julie sudah tahu?"


"Hhhmmm...,bagaimana aku tidak tahu itu, sedangkan kamu sendiri yang memberitahukan semua lewat sosial media kamu, meskipun kamu tutupi wajahnya dengan stiker love, aku tahu bahwa pria itu adalah Agam!" Bela terkejut mendengar Julie sudah mengetahuinya padahal dirinya belum menceritakan kepada siapapun


"Hhuhh.... aku pikir, aku salah post photo." Bela menghebuskan nafasnya lega.


"Terus apa yang terjadi?" Tanya Julie penasaran kelanjutan cerita cinta antara Bela dan Agam


"Nanti aku cerita, oke!" Bisik Bela di telinga Julie, dan berlari pergi meninggalkan Julie dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


...※※※※...


David tidak bisa diam saja, setelah mendapti anaknya kembali bersama Agam. Dia merasa harus menemui Bela dan memintanya memikirkan ulang keputusannya. David tidak bisa duduk diam saja di kantornya menunggu dengan tenang tentang langkah yang akan di ambil anaknya. sudah jelas David melihat Bela tidak main-main dengan ucapannya.


Keberadaan Agam saat ini pun David tidak mengetahuinya. Perusahaannya yang dulu, sudah bukan miliknya lagi, benar apa yang di katakan Bela perusahaan miliknya sudah di ambil alih mantan istrinya. dan sekarang David tidak mempunyai kabar terbaru tentang keberadaan Agam.


"Jangan-jangan Agam..., Ini nggak bisa di biarkan." David segera mengambil gagang telphonnya.


"Pesankan saya tiket untuk penerbangan ke singapura, yang tercepat!" David memerintahkan sekretarisnya.


Dengan cemas David menunggu kabar dari sekretarisnya terkait tiket pesawat yang dimintanya, selang beberapa lama sekretarisnya datang dan memberitahukan bahwa dia mendaptkan penerbangan tiga jam lagi.


Setelah mendengar kabar itu David langsung menuju bandara, tanpa membawa apapun, karena di pikirannya saat ini dipenuhui bayangan Agam yang sedang bersama anaknya.


...※※※※...


Bela melakukan peregangan, setelah seharian hanya di depan laptopnya, mengerjakan pekerjaaan yang sudah menumpuk di meja kerjannya. diliriknya jam yang membelit pergelangan tangannya, rupanya waktu sudah menujukan pukul lima sore hari, sudah waktunya untuk pulang.


Rekan setimnya mulai meninggalkan meja kerjanya, hanya tersisa Nesa, Julie dan dirinya yang belum juga meninggalkan meja kerjannya.


Drrtt...drrtt...drrtt...


Bela melirik handphonenya yang bergetar, satu pesan masuk dari Agam, dia pun segara membuka dan membacanya.


Aku kangen kamu, aku tunggu di parkiran!


Bela tersenyum setalah membaca pesan yang Agam kirimkan. Di arah lain tanpa Bela sadari ada Nesa yang terus menatap sinis kearah Bela.


Belapun bergegas merapikan barangnya untuk segera meninggalkan meja kerjanya. Begitupun Nesa yang ikut merapikan barangnya juga, dia melihat Bela yang nampak mencurigakan, dan dia berniat mengikutinya.


Nesa melihat Bela menuju parkiran khusus CEO dan dia sudah menduga itu. Nesa mengepalkan tangannya, merasakan kemarahan di seluruh tubuhnya, ingin dia teriak, menjerit bahakan mengamuk untuk menyalurkan emosinya.


"Bela...!" Panggil Nesa dari arah Belakang Bela, Nesa bergegas berlari menghampiri Bela.


"Nesa, ada apa?" Tanya Bela ramah. dia tidak tahu bahwa saat ini Nesa tengah menahan marahnya.


"Jadi Benar dugaanku, bahkan setelah kamu mendengar setiap curhatanku tentang pak Agam kamu masih bertekad kembali bersamanya tanpa memperdulikan aku."


Bela paham sekarang, sebab Nesa selalu sinis saat melihat dirinya, adalah karena seorang Agam.


"Aku sama sekali tidak tahu kalau selama ini laki-laki yang selalu kamu ceritakan itu adalah pak Agam. Karena aku pun baru mengetahui kalau pak Agam adalah CEO disini."


"Tapi, tetap saja kamu tidak bisa melakukan itu kepadaku Bel."


"Memangnya kenapa? biarkan Bela bersama Pak Agam, lagi pula kamu hanya main-main, mengisi kekosongan kamu setelah putus dengan mantan pacar kamu!" Ucap seseorang yang meotong perdebatan Bela dan Nesa.


"Kak Julie....!" Sapa Bela saat melihat Julie yang datang dan sepertinya Julie sudah mendengar perdebatan antara Nesa dan Bela.


Wajah Nesa berubah seperti kepiting rebus saat mendengar rahasianya di ungkapkan Julie di depan Bela. Niat Nesa yang sebenarnya mendekati Agam adalah untuk pelampiasannya pasca putus dengan kekasihnya.


Dengan menghentakan kaki Nesa pun Pergi meinggalkan Bela bersama Julie.


"Makasih ya kak. Tapi, apa kak Julie tidak akan mendaptkan masalah dari kak Jery?


"Kamu tenang aja, Jery juga sama kesalnya dengan tingkah laku Nesa, jika bukan keluarga sendiri, mungkin Jery sudah meninggalkan Nesa."


"Aku duluan ya kak, sepertinya pak Agam sudah lama nunggu."


Bela bergegas keluar kantor dan menuju parkiran, dan benar saja, disana sudah ada Agam sedang berdiri menunggu dirinya.


"Sorry, udah lama nunggu ya?" Tanya Bela kepada Agam yang menyandarkan tubuhnya di pintu mobil.


"Iya, apa Julie memberikan banyak pekerjaan hari ini? atau aku beri teguran untuk Julie?

__ADS_1


"Apa sih Gam!" Bela memukul lengan Agam.


"Aw... sakit Bel!" Agam mengusap lengannya yang perih.


"lagian kamu gitu."


"Aku becanda sayang, ayo kita pulang sekarang!" Agam membukakn pintunya untuk Bela.


"Kita langsung pulang?" Tanya Bela di tengah perjalanan.


"Iya, malam ini aku akan masak makan malam spesial, Karena tadi selesai rapat aku belanja bahan makanan!"


"Wwaahh... aku gak sabar nunggu masakan dari chef Agam." Ucap Bela penuh semangat.


Diliriknya Bela yang masih teraenyum, Agam merasa sangat bahagia, melihat kebahgaian Nela yang terpancar dari wajahnya. agampun membelai rambut lembut Bela.


Setelah sampai di depan apartemen merekapun masuk kedalam Apartemen masing-masing.


"Aku mandi dulu ya, nanti aku menyusul!" Ucap Bela sebelum masuk kedalam apartmennya.


Bela membaringkan tubunya di atas kasur beristirahat, dipejamkan matanya sejenak meluruskan punggungnya yang seharian hanya duduk di kursi.


Bela terperanjat ketika mendengar pintu Apartmennya terbuka, dia langsung bangun dan keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang datang.


"Agam..."


"Kamu pasti tertidur!" Tebak Agam menerobos masuk,


Bela tertawa karena tebakan Agam benar.


"Aku sudah menduga itu!" Agam masuk kedalam kamar Bela dan menuju kamar mandi, Bela mengikuti Agam dengan mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang akan Agam lakukan.


Dan ternyata Agam menyiapkan air hangat untuk Bela berendam.


"Aku bisa melakukan ini sendiri Gam!"


"Aku tahu, tapi aku ingin melakukan itu untuk kamu!"


Bela senang diperlakuakn seperti ini oleh Agam.


"Apa kamu akan terus berada di sini?" Tanya Bela saat Agam hanya berdiri dan tak kunjung keluar dari kamar mandi.


"Apa Boleh?"


"Agaaaamm....!" Teriak Bela mendorong Agam untuk keluar dari kamar mandi.


Sepertinya Agam sangat tahu apa yang ada di pikirannya, saat tadi dirinya terpejam memang sedang membayangkan ada seseorang yang menyiapkan air hangat untuknya mandi, karena Bela sudah sangat lelah hari ini.


Setelah selesai mandi, Bela merasa tubuhnya ringan kembali, dia pun keluar kamar mandi dan tidak mendapti Agam ada dikamarnya, rupanya Agam sudah kembali ke unitnya, untuk menyiapkan makan malam.


...※※※※...


David sudah mendarat di bandara Changi singapura. jam memunjukan pukul 18.30 belum terlalu malam untuk mendatangi anaknya. Davidpun menaiki taxi menuju aparteman tempat tinggal Bela. David sudah pernah sekali kesana setelah kepergian Rangga.


"Jika kamu masih ada mungkin Bela tidak akan pernah bertemu kembali dengan Agam."


Seperti terjebak di masa lalu, David masih membayangkan jika Rangga masih hidup dan menikah dengan anaknya. David ingat sekali dia langsung mempercayakan Bela kepada Rangga, Bahkan dirinya yakin dengan Rangga sejak pertemuan pertamanya.


Taxi berhenti tepat sesuai dengan alamat yang David berikan. Davidpun turun dan bergegas mencari unit Bela. sampailah David tepat di ujung persimpangan, terdapat dua unit yang saling berhadapan, David sempat bingung memilih dianata kedua unit tersebut.


"Sebelah kanan atau kiri? tanya David kebingungan,


Sepertinya yang ini!" Tunjuk David ke unit yang diyakini benar. Davidpun memijit Bel dan menunggu anaknya membukakan pintu.

__ADS_1


__ADS_2