
Hari yang cukup berat Bagi Bela, cukup menguras emosinya. Bela mengisi air ke dalam bathub untuknya berendam. Dia masih memikirkan saran yang Rangga berikan, Apapun alasannya, memang sejak awal hubungannya dengan Agam adalah salah. Apalagi saat ini Agam sangat bahagia dengan calon buah hatinya. Setelah melihat video yang Reyna perlihatkan, Bela menemukan sosok lain dari Agam. Bela yakin, jika Agam menyayangi calon anaknya, kenapa tidak nantinya di juga akan menyayangi ibu sang anak.
Bela tidak mau membuat Agam menunggu lebih lama, dengan harapannya yang belum pasti. Dengan masih menggunakan Bathroob Bela meraih Hpnya untuk menghubungi Agam.
"Hallo gam, kamu lagi di mana?" Tanyanya begitu Agam mengangkat telphonnya.
"Aku masih di kantor Bel!" Jawab Agam senang. Setelah sekian lama akhinya Bela ada menghubungi dirinya.
"Aku perlu ketemu kamu sekarang! Bisa?" Ajak Bela.
"Bisa. Aku jemput kamu ya!"
"Jangan. kita bertemu di resto xxx, sekalian makan malam!" Agampun menyetujui keinginan Bela.
"Baiklah, see you dear!" Agam menutup telphonnya, dia sudah sangat senang, karena dia akan kembali dengan Bela.
Bela ingin terlihat cantik di malam terakhirnya bersama Agam, dia ingin melewati malam bersama pria yang di cintainya, setelah itu dia siap melepas Agam.
Dengan menggunakan dress selutut, dan juga sepatu highhells, dengan tatanan rambut di ikat seperti ekor kuda. Bela melihat cermin yang memantulkan dirinya kemudian berbicara kepada dirinya sendiri.
"Kamu pasti Bisa Bela!"
Bela membawa dompet kecilnya. Pakaiannya malam ini sudah sesuai dengan tempat yang akan dikunjunginya.
Mobil Bela sudah sampai di depan resto mewah, tempat mereka akan bertemu. Bela sangat gugup, Tiba-tiba dia ragu dengan keputusannya. Tapi di ingat kembali kata-kata Rangga tentang konsekuensi yang akan di dapatnya juga berdampak pada yang lainnya. Bela tidak ingin merusak kebahgaiaan seorang anak. Karena dia merasakan sendir, harus tumbuh tanpa kasih sayang ibu. walaupun ada papanya yang selalu ada untuknya. Tapi tetap saja yang di inginkan seorang anak adalah kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuannya.
Setelah meyakinkan dirinya kembali, Bela perlahan memasuki resto tersebut. Bela di sambut ramah pelayan resto tersebut dan di tunjukan tempat yang sudah di booking Agam.
Agam berdiri saat melihat Bela berjalan dengan anggun mendekati dirinya. Agam terpesona melihat Bela sangat cantik malam ini.
"Malam Gam!" Sapanya tersenyum manis kepada Agam.
"Wow... kamu sangat cantik malam ini!" Agam mencium punggung tangan Bela.
"Kita makan dulu ya Gam!" Ajak Bela
Bela langsung membuka buku menu dan memesan makanannya.
Bela berusaha tetap tenang di depan Agam, padahal jantungnya berdebar sangat kencang. Jika ada orang yang memeprhatikan, mungkin mereka beranggapan Bela dan Agam pasangan yang sempurna. Karena terlihat dari luar mereka memang pasangan yang saling merindukan. terlihat jelas aura cinta terpancar dari keduanya.
"Gam, sudah waktunya aku mengatakn ini semua."
"Aku mendengarkan!"
"Kamu minta aku untuk lebih jujur dengan hubungan kita, terlebih lagi jujur untuk diriku sendir. Aku masih sangat mencintai kamu, itu tidak bisa aku pungkiri. Namun aku juga tidak ingin menjadi pilihan di hidup kamu. Aku mundur, aku tidak akan memperjuangkan cinta ini, karena kita ini salah Gam. Aku mohon kamu menghargai keputusanku. Aku yakin kamu bisa bahagia bersama istri dan anak kamu nanti. Dan aku pasti akan bahagia dengan siapaun pasanganku nanti."
"Aku tidak mengharapkan ini Bela!" Digenggamnya tangan Bela.
"Aku mohon, ini keinginanku, tanpa rasa benci tanpa rasa marah, dan tanpa rasa dendam. aku benar-benar ingin melepaskan kamu."
__ADS_1
Agam hanya terdiam, dia tidak bisa mengiyakan semua keingnan Bela.
"Boleh aku mencium kamu untuk yang terakhir?"
Bela mengangukan kepalanya tanda menyetujui keinginan Agam.
Agam meraih tengkuk kepala Bela dengan kedua tangannya, di ciumnya lembut kening Bela. tak teras airmata Agam jatuh membasahi pipi Bela.
Bela berusaha tidak menangis di depan Agam, Dia tidak ingin Agam menjadi ragu dengan keputusannya.
Bela Beranjak dari duduknya, tidak lupa pelukan Terakhir di berikannya untuk Agam. kemudian Bela pergi meninggalkan agam yang masih termenung menatap kepergian dirinya.
Agam kembali duduk,. menatap kursi kosong di depannya. yang semula ada sosok yang amat di cintainya, namun sekarang hanyalah kursi kosong yang menyisakan bayangan-bayangnya.
Bela berlari dan langsung masuk kedalam mobilnya. airmata yang di tahannya akhirnya pecah di keheningan malam. Tangisannya yang menemani perjalanan Bela pulang sampai di depan rumahnya.
Bela masuk kedalam rumah dengan tubuh yang lemas, tulangnya sudah tidak kuat lagi menahan tubuh Bela.
...※※※※...
"Kenapa kamu harus memberi kesan indah di perpisahan kita?"
Agam masih berada di resto tersebut, dia enggan meninggalkan sisa-sisa kehadiran Bela di resto itu. Jawaban Bela sangat berbanding terbalik dengan yang diperkirakannya.
Pelayan datang untuk memberitahu Agam bahwa resto itu akan tutup.
"Maaf pak, kami sudah harus tutup" Ucap pelayan resto dengan ramah.
" Baik Pak, tapi setelah itu kami harus segera tutup."
"Bela apa aku bisa hidup tanpa kamu, aku baru merasakan kebahagiaan hidup semenjak mengenal kamu Bel!"
10 menit berlalu, pelayan resto kembali datang untuk mengingatkan Agam. Dengan terpaksa Agam keluar dari tempat itu. Tempat terakhir dirinya bersama Bela. Dan pasti dia akan kembali lagi untuk mengingat kenangan malam ini.
Agam datang kerumahnya tanpa ada semangat sedikitpun. Dia berjalan dengan sangat lemah.
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Reyna yang sangat khawatir melihat Agam pulang sangat larut ditambah lagi keadaanya yang sangat lemas seperti ini.
Ini pertama kali lagi Agam pulang larut setelah kehamilan Reyna.
"Mas, apa kamu baik- Baik saja." Tak ada satupun pertanyaannya yang di jawab Agam.
Tapi Reyna mencoba bersabar, dia fikir Agam sudah melewati hari yang meleahkan dikantornya.
"Kamu istirahat aja mas, aku mau ambil minum dulu!" Saat Reyna akan beranjak, tangannya di pegang Agam. kemudian Agam memeluk Reyna dan kembali menangsi di pelukannya. Reyna menjadi panik dengan sikap Agam.
"Mas, Kamu kenapa, jangan buat aku dan anak kamu cemas!"
Kemudian Agam berjongkok mensejajarkan dirinya deman perut Reyna.
__ADS_1
"Maafkan papa, papa janji akan membahagiakan kalian!"
Reyna tersenyum mendengar yang Agam ucapkan.
...※※※※...
Matahari sudah mulai menjalankan tugasnya, memberi hari baru untuk jiwa-jiwa yang baru pula. Rasanya enggan untuk beranjak dari rasa nyaman ini. kalau saja tidak ada yang mengganggu pagi harinya. pasti sudah melanjutkan berselimut ria di atas kasurnya.
Tok...tok...tok...
"Bela kenapa belum turun untuk sarapan? Bukankah hari ini kamu akan bimbingan?" Teriak David membangunkan anaknya.
Mendengar kata bimbingan Bela langsung loncat dari atas tempat tidurnya.
"Ya ampun pah, Bela lupa pagi ini ada bimbingan." Teriak Bela panik, karena jam sudah hampir menujukan pukul tujuh pas.
Bela segera masuk kemakarmandinya. tidak ada waktu untuk rutinitas paginya. banyak hal yang bela skip untuk mempersingkat waktunya.
"Duh... harusnya papa lebih awal bangunkan aku tadi." Omel Bela menuruni tangga.
Bela menghampri David dan mencium pipinya lalau berjalan ke arah luar rumah.
"Bela, sarapan dulu!" Teriak David lagi memanggil anaknya.
"Gak ada waktu pah!"
David membawa sarapan Bela yang sudah di persiapkannya. karena dia sudah menduga pasti Bela akan melewati sarapannya.
"Ini sarapan kamu, papa antar ke kampus. kamu bisa srapan di mobil." Ucap David tegas dan Bela tidak mungkin menolak perintah David.
Akhirnya Bela menaiki mobil David dan sarapan di dalam mobilnya menuju ke kampus.
"Apa rencana kamu, setelah lulus?" Tanya David tiba-tiba.
Bela bingung menjawab pertanyaan sedrhana yang David berikan, karena Akhir-akhir ini dirinya sibik dengan percintaannya dan lupa menata untuk masa depannya.
"Aku masih bingung pah!"
"Kenapa harus binging? okelah papa kasih pilihan. lanjut S2 atau papa kasih kamu tanggung jawab di perusahaan?"
"Gak ada pilihan lain pah?"
"Pilihan lain seperti apa?"
"Seperti aku hanya jadi anak papa saja!" Bela melingkarkan tangannya di lengan David.
"Kamu tetap anak papa, tapi kamu juga penerus perusahaan ini. Dari sekarang papa harus membimbing kamu, seperti kakek kamu dulu terhadap papa!"
"Baikalah, Bela akan fikirkan kedua pilihan itu!" Jawabnya cemberut, keluar dari mobil David.
__ADS_1
"Fikirkan baik-baik.Papa tunggu keputusan kamu." Ucap David sebelum meninggalkan Bela.