
Agam tidak bisa diam saja, pasti ada alasan mengapa Bram ingin segera menikahkan anaknya dengan Bela. Agam sangat curiga kepada Bram dan Daniel. Mungkin Daniel tidak sepenuhnya tahu tentang Bram. tapi setidaknya dia mengetahui tujuannya.
Agampun mengambil Hpnya, dia menelephon orang kepercayaannya terkait penyelidikan tentang Bram.
"Hallo, Apa kamu sudah menemukan sesuatu?"
"Maaf Pak Agam, Saya belum menemukan apapun. Karena informasi terkait Pak Bram sangat tertutup. Namun ada satu hal yang perlu anda ketahui tentang penghargaan 20 tahun lalu."
"Apa yang terjadi 20 tahun lalu?"
"Penghargaan itu jatuh pada tangan yang salah!"
"Maksud kamu pak Bram bukan pemenang yang sebenarnya?"
"Iya, rupanya ada sesorang yang bermain curang!"
"Siapa Dia? Apakah Pak Bram?"
"Itu yang masih saya selidiki."
"Gali lebih dalam lagi tentang Bram, dan cari hubungan Bram dengan keluarga Davinson!"
"Baik pak!"
Agam menutup telphonnya.Dia harus mencari tahu tentang penghargaan 20 tahun lalu dari Papanya. sebab pada hari yang sama perusahaan papanya hancur dalam satu malam.
Agam kembali kedalam untuk menemui David. Dia akan mencari tahu dari David tentang Bram.
"Daniel mana, bukannya tadi dia keluar mengejar kamu mas?" tanya Reyna yang melihat Agam masuk seorang diri.
"Daniel harus mengantar Bela pulang. jadi mereka titip salam untuk kamu." Ucapnya berbohong, padahal Tadi mereka sedikit beristegang. dan membuat Daniel Pergi membawa Bela tanpa pamit.
"Vid bisa kita bicara sebentar!" Agam meminta David untuk berbicara di dalam ruangannya.
Awalnya Agam menanyakan tentang hubungan Bela dan juga Daniel. Awal mula kenapa mereka bisa di jodohkan dan juga tentang pernikahan yang mereka sebutkan tadi.
"Vid kenapa loe gak bilang kabar bahagia ini?" Tanya Agam.
"Kabar apa Gam?" David yang bingung malah balik bertanya.
"Pernikahan?" Tanya David lagi memberi kode.
"Hahaha... loe tenang aja. gw emang ada rencana kasih tahu loe, karena gw juga butuh bantuan loe!" David menyadari maksud Agam, dia pun tertawa karena wajah serius Agam yang seakan David menyembunyikan tentang pernikahan ini.
"Bantuan apa?"
"Dua minggu lagi mereka akan bertunangan, gw mau loe bantu gw mempersiapkan semuanya."
__ADS_1
"Vid. apa loe yakin dengan Daniel, silsilah keluarganya dan semacamnya, loe udah tahu semua?" Agam memperingati David tentang keluarga Bram, Krena Agam sangat menaruh curiga kepada Bram.
"Dia anak Bram Gam, dan gw sangat yakin. Lagi pula hubungan keluarga Davinson dengan Bram sudah terjalin puluhan tahun, dan dengan menikahkan mereka adalah sebagai pengikat hubungan.!"
"Dimana loe kenal pak Bram?"
"Dia sahabat Ayah, dan Ayah juga sangat mempercayainya. Dan juga Pak Bram sudah banyak mendaptkan bantuan dari Ayah. Secara pribadi sih gw gak begitu dekat dengan pak Bram. tapi dia adalah satu-satunya orang yang dekat dengan Ayah. dan gw menghormatinya!"
Agam sangat menyimak setiap kata yang di ucapkan David. Sebab dia yakin akan menemukan sesuatu dari cerita David.
"Oke vid. gw siap bantu loe!" Agam akan membantu David, lebih tepatnya mencari celah untuk menggagalkan pernikahan Bela.
"Thanks Gam. loe emang sahabat gw!"
...※※※※...
"Kalau aku boleh tahu, Ada apa antara kalian? Kenapa Agam sampai marah seperti tadi?" Tanya Daniel yang sudah sangat penasaran dengan mereka. Karena Agam yang begitu mencintai Bela berubah menjadi membenci Bela.
"Kamu gak perlu tahu Dan, yang jelas hubungan aku dan Agam sudah berakhir!" Jawab Bela tetap tidak ingin memberi tahu Daniel.
"Baiklah, kalau kamu masih tidak nyaman denganku!" Daniel menepikan mobilnya, dan keluar dari dalam mobil.
"Bukan begitu Dan!" Bela pun ikut menysul Daniel.
"Kenapa? biasanya kamu selalu terbuka! Kenapa sekarang tidak? seharusnya dengan hubungan ini kita semakin dekat dan semakin terbuka satu sama lain!"
"Baiklah Bel, aku akan tunggu sampai kamu bisa menjelaskan semuanya." Uacap Daniel membalas pelukan Bela.
"Ayo kita pulang!" Ajak Bela menarik tangan Daniel untuk masuk kedalam mobil.
Di dalam perjalanan hanya diam yang menemani mereka. Berkaki-kali Daniel melirik ke arah Bela, namun Bela hanya sibuk dengan Hpnya, Sepertinya Hpnya lebih menyenangkan dari pada mengobrol dengan Daniel.
Sampailah mereka tepat di depan Rumah Bela. Daniel memberhentikan mobilnya dan melirik kearah Bela, yang masih dengan Hpnya, dia belum menyadari bahwa mereka sudah sampai.
"Bel, kamu tidak turun?" Tanya Daniel menyadarkan Bela, bahwa mereka sudah sampai.
Bela menoleh kearah Daniel dan melihat sekeliling, ternyata dia sudah berada di depan rumahnya.
"Kita sudah sampai!" Belapun langsung membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil itu tanpa mengucapkan satu kata paimtanpun kepada Daniel."
Daniel yang melihat Bela seperti itu menjadi kesal. Dia memukul setir mobilnya melampiaskan kekesalannya.
Dan melajukan mobilnya menjauhi rumah Bela.
Sepertinya Daniel butuh usaha extra untuk bisa meraih hati Bela. Awalnya Daniel mengira akan mudah karena mereka sudah dekat sebelumnya,ternyata perubahan status dari teman menjadi sepasang kekasih sangat sulit, terasa canggung dan sungkan.
Daniel langsung curhat kepada Adit dan Maya tentang perlakuan Bela kepada dirinya, dan meminta mereka sebagai sahabat Bela yang sudah lama, untuk memberitahukan Bela agar sedikit memberikan hatinya untuk Daniel.
__ADS_1
Rupanya Agam bawa pengaruh besar untuk Bela. meskipun kedekatan mereka di bilang singkat hanya beberapa bulan, tapi Agam bisa memenuhi Hati Bela.
...※※※※...
Hari pertunangan Bela tinggal menghitung hari saja. Tapi Bela sama sekali tidak bersemangat tentang hari itu. Dia sama sekali belum mempersiapkan apapun.
Hari ini rencananya Bela akan kebutik bersama Daniel, memilih gaun yang akan di gunakan di acara malam nanti. Sulit membuat jadwal hari ini. Menyesuaikan jadwal dengan hari libur Daniel pun sulit. Ada satu waktu Daniel sedang libur, tapi justru Bela yang tidak bisa, karena alasan yang tidak jelas. Namun Daniel masih bersabar dengan Bela. Dia tidak ingin Bela membatalkan pertunangannya karena hal spele, misalnya perbedaan pendapat, atau pun pertengkaran-pertengkaran kecil mereka.
"Bel, Daniel sudah menunggu di bawah" Teriak David di depan kamar Bela.
"Iya pah, Sebentar lagi!" Jawab Bela dari dalam kamar.
Setelah mendaptkan jawaban dari Bela David meninggalkan depan kamar Bela dan melanjutkan aktifitasnya.
Tak lama Belapun turun menemui Daniel yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Apa harus hari ini Dan?" Tanya Bela dengan lemas. Sebenarnya Bela masih tidak mood untuk pergi hari ini.
"Iya, Karena acaranya sebentar lagi, aku mohon Bela, kamu serius menjalani pertunangan ini." Keluh Daniel kepada Bela. sebab Daniel merasa Bela tidak serius menjalani hubungan dengannya.
"Aku juga serius Dan dengan pertunangan kita!" Jawab Bela kesal.
"Tapi kenapa kamu selalu menunda-nunda Bela, Kamu terpaksa menjalani ini?" Daniel juga sudah sangat kesal dengan kelakuan Bela, yang tidak berusaha untuk hubungan mereka.
"Iya, aku terpakas. Karena ini semua bukan keinginanku Dan, ini keinginan orangtua kamu. hari pertunangan, pesta nanti dan semuanya itu mereka yang tentukan. Apa arti aku ini Dan?" Bela mengeluarkan semua yang ada di hatinya.
"Mereka melakukannya demi kebaikan kita Bela!" Daniel meraih bahu Bela mencoba menenangkannya.
"Kebaikan seperti apa? mereka hanya ingin agar kita segera meresmikan hubungan ini. Sedangkan aku saja masih butuh penyesuaian dengan kamu Dan! Ucap Bela dengan suara tertahan.
"Kenapa kalian masih disini? ada apa Bela? suara kamu terdengar sampai ke dalam!" Daniel yang mendengar pertengkaran dua sejoli ini datang dengan maksud ingin menengahi.
"Maaf pah, ini kami akan berangkat!" Ucap Bela pergi meninggalkan Daniel yang masih di dalam.
"Maaf om, kami berangkat dulu!" Pamit Daniel, Daniel Mengejar Bela yang sudah terlebih dulu masuk kedalam mobil. Kemudian Danielpun menyusulnya masuk.
"Bela, aku ngerti persanaan kamu. mungkin ini bukan pertunangan yang kamu inginkan. Tapi aku janji di hari nanti kita menikah, aku akan menyerahakan semuanya ke kamu, pernikahan yang kamu impikan. Kamu bisa mewujudkannya!" Akhirnya Daniel mengerti mengaap selama ini Bela tidak tulus menjalankan ini semua, karena dia merasa pertunangan ini tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.
"Apa kamu yakin Dan, bisa melakukan itu semua, Bagaimana jika nantipun om Bram yang mengaturnya?" Tanya Bela memastikan.
"Kamu tenang saja, pegang janji aku!" Daniel menarik tangan Bela untuk di genggamnya.
Bela menghadap Daniel, dan melihat kedua bola mata daniel, mencari kejujuran dari semua ucpannya.
"Baiklah." Ucap Bela sambil mengembangkan senyumannya. Mencoba percaya dengan Daniel.
"Oke, kita berangkat ya!" Daniel menginjak gas mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Bela.
__ADS_1