Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Siasat Reyna


__ADS_3

Agam harus segera kembali kejakarta. Dia harus kembali mengurusi pekerjaanya. Sudah puluhan kali sekretarisnya menelphon namun di mengabaikannya. Agam sudah menebak pasti sekretarisnya menyuruh agar Agam segera pulang.


Bela mengantar kepulangan Agam. Padahal Dirinya masih ingin berlama-lama dengan Agam. Bela merasa bebas berkeliaran bersama Agam di singapura. karena tidak ada satupun yang akan mengenali mereka.


"Sayang, aku pulang ya,kamu baik-baik disini." Ucap Agam membelai pipi kanan Bela.


"Padahal aku sudah sangat nyaman berdua sama kamu disini." Bela memeluk manja Agam. dia tidak ingin melepas pelukannya.


"Aku tunggu kamu di jakarta. Aku mencintaimu."


Agam mencium pucuk kepala Bela. Langkah kakinya sangat Berat, meninggalkan Bela yang masih ingin bersamanya.


Bela hanya menatap sedih kepergian Agam. ingin rasanya berlari menarik Agam kembali, namun Bela mengerti ada pekerjaan yang membutuhkan dirinya.


"Duuhh.... di tinggal lagi." Ejek Maya dari arah belakang Bela. Maya memecahkan semua kesdihan Bela karena kepulangan Agam.


"Maya... usil deh." Cubit Bela di lengan Maya. Bela kembali tersenyum, terhibur dengan celotehan Maya.


"Loe gak akan cerita kejadian malam itu di Apartment Daniel?"Tanya Maya sepanjang perjalanan.


"Loe udah tau May?" Tanya Bela heran, karena Bela belum mengatakan apapun tentang kejadian malam itu kepada sahabatnya.


"Daniel ada cerita dikit. Ada apa? gw kaget loh Agam seperti itu!"


"Dia punya alasan May. Dan memang gak terjadi apapun."


"Apa alasan nya? Cemburu?"Maya menebak, kemungkinan yang bisa membuat Agam marah, karena selama Maya mengenal Agam, juga mendengar semua cerita dari Bela, Agam sangat tidak suka pertengkaran,Bahkan dengan istrinyapun Agam selalu menghindari pertengkaran.


"Bisa dibilang seperti itu. Agam marah karena rencana papa yang akan menjodohkan Aku dengan Daniel!"


"Loe di jodohi Bel?" Teriak Maya kaget. Dia sama sekali tidak pernah menyangkan akan ada perjodohan. apalagi di jaman yang sudah sangat moderen seperti sekarang ini.


"Buka seperti itu, hanya sepihak. ngerti kan?" Bela sulit untuk menjelaskannya.


"Iya gw ngerti. Om David punya selera yang bagus." Ucap Maya mendukung keinginan papa Bela.


"Maksud loe Agam kurang bagus gitu?" Bela kesal mendengar perkataan Maya.


"Gw gak bilang gitu. mungkin Agam bagus di kasur. Ha...ha...ha..." Maya terkekeh melihat wajah Bela yang seketika langsung kesal.


"Hheehhh.... mulut loe May." Dilemparnya tisu ke wajah maya.


"Sorry Bel." Ucap Maya yang masih terkekeh.


...※※※※...


Begitu mendarat, Agam langsung menemui klien, untuk meeting yang sempat tertunda kemarin. Dia juga harus menjadwalkan ulang semua rapat- rapatnya yang tertunda. Memang demi orang yang di cintainya Agam rela berkorban banyak hal, termasuk pekerjaanya.


"Jadwal ulang semua rapat untuk hari ini!" Perintah Agam kepada sekretarisnya.


"Baik Pak." Lalu Agam masuk kedalam ruanganya. Beberapa menit kemudian Agam kembali ke meja sekretarisnya.


"Apa kemarin ada yang masuk keruangan saya?" tanya kepada sekretarisnya. dia tidak menemukan berkas perceraian yang akan dia berikan kepada Pengacaranya.


"Tidak ada pak." jawab sekretarisnya berbohong, karena sebelumnya Reyna sudah mengancam akan memecat dirinya jika kedatangan Reyna di ketahui Agam.


Agam kembali masuk keruangnnya dan memcarinya kembali.


"Dimana berkas itu? aku yakin aku menyimpannya disini.Kalau gini, berarti Aku harus minta tanda tangan Reyna kembali."


Hari ini Agam sangat lelah sekali. menghadiri rapat dengan beberapa orang dalam satu hari tidak lah mudah. Belum lagi berkas yang akan diserahkannya menghilang. Diapun langsung pulang kerumahnya dengan membawa berkas perceraiannya lagi.


"Kamu sudah pulang mas?" Tanya Reyna beramah tamah, biasnya dia tidak pernah menyapa Agam saat pulang kerja.


"Rey, kamu ada di rumah?" Agam heran melihat Reyna ada di rumah, biasanya Reyna akan ada dirumah pada tengah malam, sedangkan saat ini masih jam 8 malam

__ADS_1


"Ya, hari ini aku hanya di rumah saja. Mau aku buatkan kopi?" Tawarnya lagi kepada Agam.


"Boleh." Agam tidak percaya Reyna akan membuatkan dirinya kopi, jika benar maka ini adalah makanan ataupun minuman yang di buat Reyna pertama kali untuk Agam.


"Rey, bisa kamu tandatangan lagi di berkas ini!" Agam rasa ini waktu yang pas untuk mengutarakan maksudnya.


"Apa itu?" Tanya Reyna seolah -olah tidak tahu, padahal dirinya sudah menebak itu.


"Surat cerai kita. maaf aku menghilangkannya, dan membuat kamu menandtanganinya lagi."


"Baiklah, aku akan keruangan kamu, tapi selesai membuat kopi."


"Aku tunggu di atas."


Tak beberapa lama Reyna datang membawa secangkir kopi untuk Agam.


"Minumlah, sebelum dingin." Reyna meletakan kopi di depan Agam.


Agam pun langsung menyeruput kopi panas buatan Reyna.


"Dimana aku harus tandatangan?"


Agam tidak mendengar pertanyaan Reyna. Dia terus memgangi kepalanya yang terasa berat, pandangannyapun semakin buram.


Reyna hanya tersenyum puas melihat obat yang dia masukan sudah bereaksi.


"Rey, kepalaku berat sekali!"


"Ayo aku bantu kamu berbaring di kamar."


Dengan sisa tenaga Agam, juga di bantu oleh Reyna, Agam menjatuhkan dirinya di tempat tidur.


Reyna menepuk-nepuk pipi Agam, untuk mengecek kesadaran Agam. setelah yakin Agam tidak sadarkan diri, barulah Reyna memanggil Naya untuk membantunya menjalankan rencana ini.


Reynapun menuruti apa yang Naya perintahkan.


"Sekarang loe bikin video, tapi lebih fokus ke agam. Bercerita seolah-olah Agam meminta maaf dan berakhir dengan kalian bercinta."


Reyna pun mengikuti semua intruksi yang Naya berikan.


Reyna berbaring di sebelah Agam dengan tangan Agam yang memeluk tubuhnya, juga kepala Agam yang didekatkan dilehernya. Barulah reyna memulai merekam video seperti yang di perintahkan Naya.


Setelah selesai, Reyna kembali memakai pakaianya, dan juga mereka memakaikan pakaian Agam kembali.


"Gw yakin ini akan berhasil. Tunggu saja Bela, ada saatnya loe lihat vidio ini." Ucapnya dengan penuh kebencian.


"Loe harus kasih pelajaran wanita sialan itu." Naya selalu menduku Reyna, terlebih lagi menyangkut Bela.


"Thanks ya Nay, loe udah bantuin gw." Reyna sangat berterimakasih kepada sahabtnya yang telah membantunya dengan ide berliannya.


...※※※※...


Liburan Bela dan Maya telah selesai. Mereka akan kembali ke rutinitas sebagai seorang mahasiswa. apa lagi ada tugas kampus yang akan mengirim mereka berdua ke desa-desa yang jauh dari keramaian kota.


Bela berjalan dengan mendorong troli yang berisikan setumpuk koper miliknya. Hari-hari terakhir bela di singapura dia sempatkan untuk berbelanja, alhasil dia pulang dengan membawa banyak koper berisi belanjaannya.


"May, loe bareng gw aja. Tunggu Agam jemput."


"Gw naik taksi aja Bel. kitakan gak searah. kasian Agam harus bulak-balik."


"Oke deh. see you!"


Bela melambaikan tangannya berpisah dengan Maya. Kemudian duduk memainkan Hpnya menunggu Agam.


Tak lama Agam datang. Dari jauh Bela sudah melihat Agam berjalan mendekatinya denga tersenyum.

__ADS_1


"Agam, aku kangen banget." Bela langsung memeluk Agam, tanpa memikirkan kemungkinan ada yang mengenalnya.


"Aku juga sayang." Agam yang juga merasakan kerinduan karena sudah hampir 2 minggu tidak bertemu Bela.


Agam memegang kedua pipi Bela. Sambil menatap wajah wanita yang sangat di cintainya.


"Kamu semakin cantik." Bela tersenyum manis mendapatkan pujian dari Agam.


"Pak Agam!" Sapa seseorang saat melihat Agam dan Bela tengah berpelukan.


Bela yang terkejut langsung melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah sehingga ada jarak di antara mereka.


Seketika suasana menjadi tegang, sebab yang menyapa mereka adalah Pak Bram. Rekan bisnis Agam dan David.


"Pak Bram, apa kabar?" Sapa Agam canggung, namun sebisa mungkin dia bersikap normal.


"Saya Baik. Bukan kah kamu Bela Davinson?" Tanyanya lagi. Namun kali ini di tunjukan untuk Bela.


Jantung Bela berdegup kencang. Bela merasa ini adalah akhir dari semua persembunyiannya.


"S-siang om." Jawabnya gugup.


"Salam untuk Papa mu!" Ucapnya melirik kearah Agam, lirikannya sangat penuh arti. dan Agam mengerti arti dari itu semua.


Baiklah Pak Agam saya duluan."


Lemas sekujur tubuh Bela begitu pak bram meninggalkan mereka.


"Gam...?" Bela menarik ujung jas Agam. Airmatanya sudah membendung.


"Kamu tenang saja, aku yakin Pak bram tidak akan mengatakan kepada Papa kamu." Agam mencoba menenagkan Bela yang sedikit terguncang.


"Aku gak yakin Gam."


"Ayo lebih baik kita pulang!" Di rangkulnya Bela sepanjang perjalanan menuju mobil.


Di perjalanan pulang, Bela masih saja memikirkan pertemuan mereka dengan pak Bram. Bela sempat ingin menghubungi Daniel Agar membantunya namun dia urungkan niatnya, Karena pasti Agam tidak akan setuju.


"Gam,berhenti disini?" Bela menepuk paha Agam, agar segera menginjak rem, menghentikan mobilnya.


"Kenapa? koper kamu banyak loh, masa mau turun di sini?" Tanyanya heran.


"Itu,ada papa." Bela menujuk kearah David yang sedang mengobrol dengan asistennya di dekat pintu gerbang.


Setelah Agam melihat keberadan David, Dia segera menurunkan semua koper Bela sebelum David melihatnya.


"Kamu cepet pulang sana!" Bela mendorong bahu belakang Agam, agar segera menaiki mobilnya.


"Iya sayang, aku pulang dulu." Agampun langsung menaiki mobilnya kembali dan menginjak Gas, melewati David.


David merasa kenal dengan mobil yang baru saja lewat di depannya, kemudian dia melangkah maju untuk lebih memastikan.


"Papa...!" Begitu melihat David keluar, Bela langsung memanggilnya.


"Kenapa papa di pinggir jalan?" Tanya Bela, mengalihkan pandangan David agar tidak melihat ke arah mobil Agam. Karena masih sangat jelas terlihat.


"Sepertinya papa lihat mobil om Agam!" Tunjuknya kearah mobil tadi lewat.


"Gak ada pah, tadi itu Grab car yang bela naiki!" Bela mencari kalimat yang tepat untuk menutupi kecurigaan David.


"Hhmmm, tapi seperti mobil om Agam." David masih yakin dengan apa yang di lihatnya.


"Mungkin cuma mirip pah, Apa papa gak kangen Bela, dari tadi yang di bahas hanya mobil." Bela mengubah arah pembicaraanya.


"Ya dong, Papa kangen banget sama kamu. Apa lagi kamu tidak sekalipun menelphon papa." David memeluk Anak gadisnya yang sudah beranjak dewasa.

__ADS_1


__ADS_2