Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Malam Yang Panjang


__ADS_3

Agam dan Reyna duduk tepat di hadapan Bela. Melihat Langsung kemesraan mereka membuat Bela sangat jengah.


Agam berkali-kali mengalihkan pandangannya kepada Bela. Berkali-kali juga pandangan mereka berpas-pasan. Nampak sorot kerinduan terlihat jelas di mata mereka.


"Selamat pak Agam dan bu Reyna atas kehamilannya." Ucapan selamat terlontar dari ibunya Daniel.


"Sama-sama Bu Bram!" Jawab Agam sambil melirik kearah Bela. Agam ingin melihat Reaksi Bela, namun Bela mengalihkan pandangannya tidak peduli.


"Berapa bulan usianya?" Tanya ibunya Daniel kembali. sambil mengusap perut Reyna.


"Lima bulan Bu, sangat lama kami menantinya."


"Akhirnya, tidak sia-sia perjuangan kalian, banyak di luar sana yang harus berpisah karena tidak memiliki anak."


"Iya, saya bersyukur, akhirnya akan ada malaikat kecil di keluarga kami, iya kan sayang?" Tanya Reyna yang melihat Agam mengalihkan fokusnya. dan lebih fokus melihat Bela di sebrang sana.


"I-iya." Jawab Agam terbata.


Bela merasa gerah berada disana, apa lagi harus mendengarkan obrolan Reyna dan Agam yang membuat dirinya semakin jengkel.


Bela berdiri dari duduknya, dia berniat akan meninggalkan meja. Namun dia melihat Pak Bram membawa seorang pria untuk di kenalkan. Bela terkesima melihat pria yang di kenalnya, namun dalam wajah yang berbeda. Ternyata hanya dengan memakai stelan jas rapi mampu merubah pesona seseorang. Dan pria itu adalah pemilik sisa kursi di seblah kiri Bela.


"Rangga! ngapain dia disini?" Ucapnya dalam Hati.


Ternyata tak hanya Bela, Agampun terkejut melihat Rangga berada di tengah-tengah mereka. apalagi Rangga terlihat sangat akrab dengan Pak Bram.


Bela kembali duduk di kursinya dia urungkan niat untuk meninggalakn meja itu, sekarang Dia lebih penasaran dengan sosok Rangga sebenarnya.


"Perkenalkan pria muda kita di balik peluncuran produk kali ini." Ucap Bram penuh semangat.


"Malam semuanya, saya Rangga wijaya." Rangga membungkukan badannya sopan, memeperkenalkan namanya.


"Ah... ini yang selalu di sebut pak Bram di setiap rapatnya! saya David." Puji David, mengulurkan tangannya.


"Pak Bram pun selalu menyebut nama Anda, pak David." Ucap Rangga menyambut uluran tangan David.


"Dan itu anak saya, Bela Davinson." Tunjuknya kearah Bela.


Bela teraenyum sambil mengangukan kepalanya. Bela berharap Rangga akan pura-pura tidak mengenalnya.


"Hai Bela. Kita bertemu lagi!" Dan ternyata salah. Rangga justru menyapanya. Bela memejamkan matanya memendam kekesalan.


"Rupanya kalian sudah saling kenal!" ucap David mengedipkan sebelah matanya kepada Bela.


David melanjutkan memperkenalkan Rangga kesemua orang yang berada di meja ini.


"Sebelah kanan, ada Pak Agam, beserta istrinya."


"Pria yang tadi siang, ternyata sudah beristri!"


Rangga tersenyum ramah kepada Agam dan juga Reyna. Mengingat kejadian tadi siang di taman kampus, rasanya tidak pantas di lakukan pria bersuami.


"Pasti ada sesuatu di antara mereka." Tebaknya dari semua anlisanya.


Rangga duduk tepat di sebelah kiri Bela. Melirikkan mata kearah kanannya, melihat Bela. kemudian tersenyum.

__ADS_1


Bela masih terkejut dengan adanya Rangga di sebelahnya. Seolah melupakan Kejengkelannya terhadap Agam, kini Bela merasa hatinya berdesir. sampai irama jantungpun terdengar di telinganya. Bela menjadi gugup seketika.


"Dimana kalian bertemu?" satu pertanyaan akhirnya keluar dari bibir Agam. lebih tepatnya Agam ingin mengorek lebih dalam hubungan anatar Bela dan Rangga.


"Ya, ceritakan pertemuan kalain, sepertinya kalian cukup dekat." Timpal Reyna. yang juga sengaja Agar Agam menyadari bahwa semua sudah di jalannya masing- masing.


"Eeemm, Sebenarnya aku...." Bela gugup ketika akan menjelaskannya, karena memang tidak ada yang spesial dari dirinya dan Rangga.


"Bisa di bilang kami cukup dekat untuk sekedar menanyakan kabar setiap hari." Bela membelakan matanya mendengar ucapan Rangga, karena tidak sesuai dengan kenyataanya.


"Rangga adalah anak kepala desa di tempat aku tugas kampus kemarin. kami tidak sengaja bertemu." Bela kembali meluruskan ceritanya.


"Iya seperti itu, dan saling bertukar kabar ketika kembali ke jakarta." Lagi-lagi Rangga mengarang cerita. kapan dirinya saling bertukar kabar dengan Rangga yang ada saling maki. karena seringnya bertemu.


"Sepertinya saya melewatkan obrolan yang seru." ucap Bram, menjadi penyelamat Bela dari karangan-karangan yang mungkin akan lebih aneh lagi dari Rangga.


"Pak David, saya sarankan anda untuk lebih mengenal pak Rangga. Banyak ide berlian yang dia miliki. kalian tahu pak Rangga adalah wajah pengusaha muda untuk bulan depan di majalah bisnis."


Rangga adalah anak dari kepala Desa. Namun dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di jerman. dengan ketekunannya. Dia menyelseaikan kuliah dan pulang dengan membawa rencana bisnisnya.


Dia memberanikan diri membuka perusahaannya sendiri dengan beberapa investor asal jerman. naik turun dalam dunia bisnis sudah di lewatinya sejak di jerman. Bahkan di sinipun dia terus berusaha agar perusahaan kecilnya, kelak akan menjadi perusahaan besar seperti yang di impikannya.


Bela dan Daniel pamit untuk mencari udara segar, sebenarnya mereka melarikan diri dari obrolan yang sudah tidak di mengertinya lagi.


"Rangga. Kenapa kamu tidak pernah memyebutkan nama itu Bel?" Tanya Daniel menatap penuh curiga.


"Karena gak penting Dan. Sangat tidak penting." Jawab Bela dengan Datarnya. Bela masih memandang langit malam yang indah, karena banyak bintang yang memamerkan kerlipnya.


"Sepertinya kalian ada kecocokan." Bela menoleh menatap Daniel.


"Kenapa?"


"Kamu harus tahu ya Dan, setiap aku bertemu dia yang ada hanya pertengkaran."


"Kenapa seperti itu? Mungkin ada kesalahpahaman yang belum terselesaikan!"


"Aku gak ngerti dan. aku rasa aku gak pernah buat salah sama dia."


"Bukan tidak pernah, tapi tidak menyadarinya." Sela Rangga memotong pembicaraan mereka.


"Kamu nguping ya?" Tanya Bela kesal.


"Aku kebetulan lewat, suara kamu saja yang jelas terdengar."


"Tuh kan Dan kamu lihat sendiri, gimana aku gak kesel tiap ketemu dia!" Tunjuk Bela mengadu kepada Daniel. Daniel hanya tersenyum menahan tawanya.


"Aku tinggal ya, sepertinya kalian perlu meluruskan sesuatu." Daniel sengaja meninggalkan Bela, agar bisa bersama Rangga.


"Jangan terlalu memaksakan. Dia sangat keras kepala." Bisik Daniel, Menpuk bahu Rangga sebelum pergi.


Tinggalah Bela bersama Rangga. Awalnya mereka hanya diam dengan fikirannya masing-masing.


sampai Bela memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu.


"Kenapa kamu sangat membeciku?" Tanyanya membelakangi Rangga.

__ADS_1


"Aku tidak membeci kamu." Jawab Ranga cepat.


"Lalu, kenapa kamu selalu bersikap dingin dan memaki jika kita bertemu?" Bela membalikan Badannya, memberanikan diri untuk saling bertatapan.


"Itu karena, kamu telah menggagalkan aku untuk mendaptkan tender bernilai ratusan juta!" Jawab Rangga jujur.


"Aku melakukan itu? Kapan?" Bela mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat.


"Ingat waktu kita bertabrakan di Bandung?"


"Ah... apa itu sebabnya. miniatur yang berantakan itu?" Tanyanya memastikan.


"Iya." Rangga menganguk.


"Im so sorry, aku gak tahu itu sangat penting buat kamu. aku sangat menyesalinya. Bukannya meminta maaf justru aku memaki kamu. jika jadi kamupun aku akan benci kepada diriku sendiri." Ucap Bela dengan lancar, matanya yang menunduk menandakan bahwa dirinya memang sangat menyesal.


"Kenapa ketawa?" Rangga tertawa melihat sisi lain Bela.


"Kamu lucu" Bela tertegun. dia menatap lekat kedua mata Rangga.


"Dan juga cantik." Ada debaran dihatinya. Rasa ini bisa Bela rasakan kembali.


Mereka saling mendekatkan Bibirnya. Bela memejamkan matanya, merasakan benda kenyal yang menyentuh bibirnya, sangat lembut dan memabukan.


Tiba-tiba tangannya di tarik dari arah belakang, sontak saja mereka menyudahi semua kenikmatan yang mereka rasakan.


"Saya perlu bicara dengan Bela." Dengan jantung yang masih berdebar, Agam membawa Bela menjauh dari Rangga. Rangga tidak bisa mencegahnya, Karena Bela memberikan isyarat memintanya untuk tidak mengikuti kemana mereka pergi.


Namun rasa penasaran Rangga muncul dia tetap membuntuti kemana mereka pergi, karena melihat tatapan marah Agam, Rangga khawatir jika Agam berbuat sesuatu yang akan mencelakai Bela.


"Apa yang akan kamu bicarakan?" Teriak Bela melepaskan cengkaraman kuat tangan Agam.


Bukannya menjawab pertanyaan Bela, Agam justru menarik tekuk kepala Bela, diciumnya Bela dengan rakus, membuang jejak-jejak sisa ciuman Rangga di bibir Bela.


Bela mendorong Agam sekuat tenaga, saat dirinya mulai kehabisan nafas. Tidak ada kenikmatan yang ada hanya kemarahan yang Bela rasakan dari ciuman Agam.


Plak....


Bela menampar pipi Agam saat Agam mendekatinya lagi.


"Aku mohon dengarkan aku!" Pinta Agam mengegmggam kedua tangam Bela.


"Apa yang harus aku dengar?" Bela menarik tangannya, dia tidak mau ada kontak fisik dengan Agam.


"Aku masih mencintai kamu. Aku tidak bisa melupakan kamu Bela."


"Kalau kamu mencintai aku, tidak akan ada anak yang di kandung Reyna Gam!" Bela berteriak, dia tidak peduli, jika ada yang menengarnya. bahkan melihatnya.


"Itu yang sampai saat ini aku bingung. Aku tidak mengingat saat itu." Agam memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Harusnya kamu mengatakan itu kepada Reyna, bahwa kamu tidak merasa menghamilinya. Bukan mengatakan semua itu kepadaku!" Bela masih saja berteriak melepaskan semua, yang harusnya sejak kemarain dia ungkapkan kepada Agam.


Agam tidak dapat berkata-kata lagi. Apapun yang keluar dari mulutnya, hanya akan di tanggapi dengan emosi oleh Bela.


Bela pun pergi meninggalkan Agam. yang tidak dapat menjelaskan apapun lagi kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2