
Setelah lama Agam menunggu hasil dari penyelidikannya selama ini, Akhirnya semua itu berbuah manis. Ada titik terang, kebenar yang mulai terungkap.
Berawal dari orang suruhannya Agam menyelidik kediaman orang tua Reyna, sebelum mereka semua pindah ke ibukota. Disanalah Agam menemukan seorang saksi yang tahu mengenai peristiwa saat perusahaan papanya hancur.
Tanpa sepengetahuan Bela, hari ini Agam akan menemui saksi tersebut, dan mengungkap kebenaran yang sebenarnya.
"Pak Agam, anda sudah datang!"
"Dimana orang itu?" Tanya Agam, dia ingin segera menemui dan menanyakan cerita yang sebenarnya.
"Dia ada di dalam pak."
Agampun berjalan melewati lorong untuk menuju ruangan yang di maksud.
Saat dia membuka pintu, terlihat seorang pria paruh baya mungkin umurnya sama dengan papanya, duduk di atas kursi roda.
"Apa yang membuat anda ingin mengungkapkan ini semua?"
"Itu sudah lama terjadi, saya pikir saya harus mengungkapkan kebenaran yang saya tahu, sebelum saya meninggal, karena saya menanggung beban itu Selama hidup saya, apalagi saya sudah tidak muda lagi, saat ini yang sayang tunggu hanya kematian."
Pria paruh baya di depan Agam saat ini adalah karyawan di perusahaan orang tua Reyna. Pada waktu itu dia di tugaskan untuk memata-matai kantor Davinson dengan berpura-pura menjadi karyawan disana dengan maksud mempelajari tentang cara Davinson tetap konsisten dengan bisnisnya. Dia sangat mengetahu tentang persaingan antara Davinson dan Harizon. pada suatu hari dia menemukan sebuah file penting tentang perusahaan Harizon.Lalu dia melaporkannya kepada papa Reyna.
Papa Reyna yang sangat peduli kepada sahabatnya yaitu pak Bram, ingin membatu Bram memenangkan penghargaan, yang pastinya akan berdampak positif bagi perusahaan Bram. Akhirnya papa Reyna meminta karyawannya unyuk mencuri file yang di simpan Davinson.
Dari sanalah Bram bisa memenangkan nominasi itu, namun papa Reyna tidak menyangkah bahwa file yang di curinya akan menghancurkan sebuah perusahaan yang sudah cukup sukses itu. Karena waktu yang mendesak membuat Papa Reyna tidak sempat membaca isi file tersebut. dan sebagai rasa tanggung jawabnya dia merangkul Harun dan menyembunyikan semua faktanya. Bahkan membiarkan Harun dengan prasangkanya sendiri.
"Baiklah, saya mengerti. bisakah anda juga menceritakan hal ini kepada satu orang lagi? seseorang yang seharusnya tahu tentang ini semua." Tanya Agam. dia ingin membawa pria di hadapannya ini ke hadapan papanya.
"Saya, bisa menceritakannya lagi, karena saya ingin bebas dari rasa bersalah ini!"
"Terima kasih, mari ikut saya!"
Agampun membawa pria itu ke rumah orang tuanya, dia ingin papanya mendengar kebenaran dari mulut saksinya langsung. Menyudahi semua prasangka, kebencian dan kemarahan kepada keluarga Davinson.
Sampailah mereka di rumah Harun. Menjelaskan tujuan Agam dengan membawa seorang pria asing kerumah orang tuanya.
__ADS_1
Kebenaran tinggalah kebenaran, saat semua yang bersangkutan sudah tidak ada lagi di dunia ini. hanya rasa penyesalan yang tersisa, bertahun-tahun hidup dengan kebencian dan kemarahan kepada seseorang yang bahakan tidak melakukan kesalahan apapun. Mengucapkan kata maaf pun terasa percuma. karena tidak ada yang akan mendengar permintaan maafnya.
"Papa restui kamu menikah dengan cucu Davinson, mungkin hanya itu satu-satunya cara untuk penebusan ini semua." Ucap Harun setelah mendengar kesaksian pria paruh baya itu.
"Terima kasih pah, aku harap papa mau melamarkan Bela secara resmi untukku!" pinta Agam, Karena itu syarat yang David ajukan.
"Apapun itu papa siap. Atur saja semuanya!" Harun sudah benar-benar melunak, mungkin karena mendengar cerita dari pria yang menjadi saksi tadi, menunggu kematian. sama halnya dengan harun yang sudah tak muda lagi, mengingat sejarah kedekatannya dengan anak laki-laki satu-satunya yang tidak pernah akur. Mungkin inilah satu jalan untuk mendekatkan diri, meraih pundak anaknya sendiri.
"Bagaimana dengan mama?" Tanya Agam menunggu persetujuan dari mamanya.
"Mama bisa apa lagi, kalau papa sudah mengambil keputusan." kebiasaan mamanya yang tak pernah hilang, dibalik kata-kata yang acuh Agam tahu mamanya pasti sangat peduli kepadanya.
Agam tersenyum memeluk Harun, Kini Agam merasa lega karena syarat dari David perlahan mulai terpenuhi.
...※※※※...
"Gak mungkin Tan, gak mungkin orang tuaku yang menyebabkan itu semua." Reyna menyangkal semua kebenaran yang diapun baru mengetahuinya.
Mama Agam sengaja datang untuk memberi tahu Reyna tentang kebenran dari orang tuanya, karena jika Reyna menampakan diri di hadapan Harun, pasti dia akan mendapatkan makian dari harun.
"Itu pasti hanya akal-akalan Agam untuk mendaptakan restu kalian. Bukakah orang tuaku yang membantu om Harun memulai bisnisnya lagi?" Reyna berpikir itu adalah ide Agam. untuk membuatnya jauh dari keluarganya dan juga untuk mendaptkan restu pernikahaanya dengan Bela.
"Bukankah sudah tante jelaskan tadi. Tante mohon jangan datang kerumah lagi." Ucap mama Reyna sebelum pergi, keluar dari rumah Reyna.
Reyna yang kesal menyapu apapun yang ada di meja depannya.
"Aarrggghh....!" Teriak Reyna yang memenuhi ruang tamunya.
Seakan sudah tidak ada harapan lagi untuk kembali bersama Agam, apa lagi sekarang dia sudah tidak ada orang yang mendukungnya lagi.
Beban hidup menjadi sebatang kara,harus bekerja dengan memiliki satu orang anak balita, ditambah lagi gugatan dari Harun atas perusahaan yang saat ini dia kelola.Membuat Reyna ingin pergi jauh dari kehidupan yang mencekiknya perlahan.
...※※※※...
Tring....
__ADS_1
Suara Bel apartmen Bela berbunyi, Agam sudah berdiri menunggu pintu itu terbuka, meskipun dia tahu kode kunci aparteman Bela.
Bela membuka pintu dan tekejut ternyata yang datang adalah Agam, kemudian Belapun membalikan Badannya masuk kedalam tanpa menyapa Agam.
"Kamu ngambek?" Tanya Agam yang mengikuti Bela masuk.
"Menurut kamu?" Tanya Bela dengan acuh.
"Sorry...!" Ucap Agam dengan memasang wajah imutnya di depan wajah Bela.
Bela yang melihat itu menahan tawanya, seorang pria dewasa bermuka imut sungguh membuat perutnya geli.
"Iiihhh.... nyebelin!" Bela mengusap wajah Agam dan langsung memeluk tubub Agam.
"Aku kangen kamu, tahu." ucap Bela kemudian.
"Aku juga kangen, dan aku punya kabar baik!"
"Apa itu?" Tanya Bela menarik diri dari pelukan Agam.
Agam memegang kedua bahu Bela, menatap Bela dengan tajam, terlihat bola mata yang berbinar menanti kabar bahagia yang akan Agam ucapkan.
"Orang tuaku sudah merestui hubungan kita!"
"Serius gam? sumpah aku seneng banget!" terlihat senyum lebar yang Bela berikan.
"Sayang, ayo kita pulang, dan mulai mempersiapkan pernikahan kita disana!" Ajak Agam kepada Bela, sontak saja Bela terdiam dan kembali menatap kearah Agam.
"Tapi kita akan kembali lagi kesinikan? pekerjaan kita ada disini!" Bela tidak ingin Agam mengalah demi dirinya. meninggalkan pekerjaan untuk dirinya.
Bela menatap bola mata Agam, menunggu jawaban yang akan Agam berikan.
"Kita akan menetap disana, dan aku mengambil alih perusahaanku dulu!"
"Apa? kamu kembali ke perusahaan itu? Selamat sayang!" Ucap Bela memberi pelukan selamat.
__ADS_1
Bela sangat tahu bahwa perusahaan itu adalah jiwanya Agam, disana sudah tercurah keringat dan air mata Agam dalam mengembangkan perusahaan itu selama bertahun-tahun. Dan mendengar kabar itu Bela sangat senang.