Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Bela vs Reyna


__ADS_3

Reyna melihat Bela beranjak dari tempatnya menuju toilet, dia ingin menyapa Bela sementara mereka ada di tempat yang sama.


"Mas aku ke toilet dulu ya!" Izin Reyna kepada Agam.


"Mau aku antar?" Tawar Agam.


"Gak usah mas, aku bisa sendiri!" Reyna sempat kaget dengan tawaran Agam. Bagaimana mungkin Agam mengantarnya ke toilet, sedangkan ada Bela di sana, yang ada Bela akan tebar pesona kepada suaminya.


Reyna masuk kedalam toilet wanita, disana hanya ada mereka berdua, karena terlihat semua pintu toilet terbuka.


Reyna memposisikan dirinya, berdiri di samping Bela yang sedang membasuh tangannya.


"Hai Bel, Apa kabar?" Tanya Reyna basa-basi.


"Aku Baik!" Jawab Bela datar.


Belapun berbalik akan meninggalkan toilet dan mengacuhkan keberadaan Reyna.


"Baguslah hubungan kalian sudah berakhir. Bagaimanapun kamu sudah kalah. Pada akhirnya Agam tetap memilih aku dan anak ini." Ucap Reyna sambil mengelus perutnya yang semakin besar.


Bela menoleh dan membalas omongan Reyna.


"Oh ya, aku kalah? Kamu salah! justru aku yang meminta Agam untuk tetap bersama kamu dan anakmu. Kalau dia harus memeilih jelas dia akan bersamaku!" Ucap Bela sebelum meninggalkan toilet.


"Bela tunggu!" Reyna mengejar Bela sampai kakinya menginjak sesuatu yang membuat dirinya terjatuh.


Aaaawwww..... Jerit Reyna kesakitan.


Bela yang mendengar suara jeritan, berbalik kembali menuju toilet.


"Tan, apa yang terjadi?" Tanya Bela menghampiri Reyna. Bela sangat panik melihat Reyna yang terduduk dilantai dengan darah yang mengalir di kakinya.


"Bela tolong tante!" Rintihnya menahan kesakitan.


Bela yang panik keluar dari toilet meminta bantuan.


"Tolong, ada ibu hamil jatuh di kamar mandi!" Teriaknya pada siapapun yang mendengarnya.


Beberapa pelayan mengikuti Bela menuju toilet, Begitu pun Agam yang mendengar teriakan orang minta tolong langsung berlari menuju sumber suara.


Agam harus melewati beberapa orang untuk sampai ke dalam toilet. Dan dia melihat Bela sedang memegangi istrinya yang lemas karena sudah mengeluarkan banyak darah.


"Reyana....!" Teriak Agam memdekati Reyna dan Bela.


"Apa yang telah kamu lakukan?" Tanya Agam dengan Nada tinggi kepada Bela.


Bela terkejut mendapta teriakan Dari Agam, yang seolah-olah menuduh dirinya yang telah membuat Reyna seperti ini.


Bela hanya diam tidak menjawab pertanyaan Agam, menjelaskanpun percuma karena Agam pasti tidak mempercayainya.

__ADS_1


Tatapan mata Agam sangat menusuk di hatinya, Kata -kata yang di ucapkan, bagaikan belati yang merobek hatinya.


Rangga yang juga mendengr teriakan dan melihat orang-orang berlari kearah toilet, dia menjadi khawatir, dia takut sesuatu terjadi dengan Bela, karena pada saat itu Bela sedang berada di toilet. Rangga melihat apa yang Agam lakukan kepada Bela. Kemudian dia mendekati Bela yang tertegun dengan arah pandangan mata menatap Agam tak berkedip.


"Harusnya anda berterimaksih karena Bela yang ada dan meminta pertolong, bukan marah meneriakinya!" Ucap Rangga menatap tajam mata Agam. Kemudian Rangga membantu Bela Berdiri dan membawa Bela meninggalkan tempat itu.


"Apa kamu Baik-baik saja?" Tanya Rangga memastikan keadaan Bela.


"Aku baik-baik saja, aku hanya..." Bela sulit menjelaskan keadaanya kepada Rangga. yang jelas hatinya sangat sakit, mendapat tuduhan dari Agam. mungkin jika dari orang lain dia tidak akan sesakit ini.


Rangga membawa Bela kepelukannya. Rangga mengerti saat ini pasti Bela sangat terkejut. Ada dua peristiwa yang mengguncangnya hari ini.


"Semua akan baik-baik saja. Apapun yang suaminya katakan, Itu tidak penting. yang terpenting kamu sudah berusaha untuk menolongnya."


"Makasih ya Ngga!"


...※※※※...


Agam sedang menunggu dengan gelisah, Dia tidak tahu bagaimana nasib calon anak yang di kandung Reyna. Apakah bisa terselamatkan atau tidak.


"Pak Agam, dengan terpaksa kami harus mengeluarkan Bayinya. Pak Agam silahkan tandtangani surat persetujuannya!"


"Apa bayinya baik-baik saja?"


"Bayi dan ibunya sedang keritis. mengingat usia kehamilan bu reyna baru memasuki 7 bulan dan bu Reyna sudah mengeluarkan banyak sekali darah. Jadi saya tidak bisa memastikan. Tapi saya akan berusah semaksimal mungkin. saya permisi." Ucap dokter begitu selesai memeriksa Reyna.


Setalah mengurus semua perizinan oprasi. Akhirnya Reyna di bawa masuk ke ruangan oprasi.


Tak begitu lama oprasi kelahiran anaknya sudah selesai. kemudian Agam di panggil keruangan dokter untuk kabar terbaru kondisi istri dan anaknya.


Reyna dan anaknya selamat, Namun saat ini anaknya dalam pengawasan dokter, karena kelahirannya yang prematur. Dan Reyna masih tidak sadarkan diri. dia perlu banyak tranfusi darah karena banyaknya darah yang di keluarkannya.


Kemudian agam di bawa suster untuk melihat anaknya, walaupun dari kejauhan. Agam hanya bisa melambaikan tangannya di balik kaca besar yang jadi pemisah. matanya berkaca-kaca melihat sosok mungil yang akan jadi penerus dirinya.


"Hi ganteng, ini papa!" Ucapnya sambil menyeka air matanya yang menetes.


Setelah mihat anaknya, agam kembali ke ruangan untuk menemani Reyna. Tak lupa dia juga mengabari orang tuanya tentang kelahiran cucu pertama mereka.


Agam sudah tak sabar menunggu Reyna sadar. dia ingin menanyakan apa yang terjadi di dalam toliet bersama bela. Karena Agam sangat menyesal telah membentak Bela. jika memang bukan Bela penyebab jatuhnya Reyna, Agam akan meminta maaf, dan rela jika harus bersujud di kaki Bela. Tapi jika tuduhannya benar, Agam tidak tahu akan berbuat apa.


...※※※※...


Rangga mengantarkan Bela sampai depan rumahnya. Dia meminta bela agar beristirahat dan jangan memikirkan kejadian tadi. Namun tetap saja bela tidak bisa melupakan kejadian tadi. mungkin kejadian itu tidak akan pernah Bela lupakan. Hari dimana Agam melihatnya dengan penuh kemarahan, hilang semua tatapan cinta yang Agam berikan.


Bela mencoba mengalihkan fikirannya dengan meneruskan tugas skripsinya, Namun Bela tidak bisa fokus mengerjakan tugasnya. Kemudian Dia keluar dari kamarnya, dia ingin menghirup udara malam hari. Saat turun Bela melihat papanya sedang melamun di samping kolam berenang, lalu Bela menghampiri David.


"Apa yang sedang papa fikirkan?" Tanya Bela menghampiri David.


Kebetulan Bela Datang, jadi David akan mengutarakan yang dari tadi ada di fikirannya.

__ADS_1


"Sayang, ada yang papa ingin bicarakan?"


"Ada apa sih pah, kok tegang gitu?" Bela melihat David tidak seperti biasanya.


"Bela apa kamu ingin menikah muda?"


"Menikah muda? Apaan sih pah, Bela gak pernah berfikir sampai sejauh itu!" Menikah sama sekali belum pernah di bayangkan Bela.


"Coba kamu pertimbangkan dulu!" Bujuk David, Karena Bela langusng terlihat tidak setuju.


"Sebenarnya ada apa sih pah?" Tanya Bela lagi, Bela merasa David masih menyembunyikan sesuatu.


"Om Bram melamar kamu, untuk menikah dengan Anaknya." Jawab David berterusterang


"Daniel maksudnya? Gak mungkinlah pah, Bela gak ada hubungan apapun dengan Daniel. Bagaimana bisa om Bram ingin menjodohkan Bela dengan Daniel?"


"Menurut om Bram, Kamu cocok dengan Daniel!"


"Terus apa jawaban papa? Apa papa juga setuju dengan om Bram?" Tanyanya yang sudah sangat kesal.


"Papa belum memberikan jawabn, papa harus tanya kamu dulu."


"Baguslah kalau begitu, karena Bela tidak mau!"


Bela berlari meninggalkan David, menuju kamarnya, di bantingnya pintu dengan keras. Kemudian Bela menghempaskan tubuhnya di atas kasur. menatap langit-langit kamarnya. Belum juga selesai masalahnya dengan Agam Bela harus dihadapakan masalah baru dengan om Bram.


"Apa Daniel tahu tentang Rencana ini?"


"Apa Daniel setuju dengan Rencana ini?"


"Bagaimana kalau daniel setuju?"


Pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan di kepala Bela. sampai Bela tidur terlelap.


...※※※※...


Agam semalam menjaga Reyan, sedangkan kedua orang tuanya harus pulang dan akan kembali pagi ini, untuk menggantikan dirinya berjaga.


Reyna sudah mulai sadar. Dia pun sudah bisa berkomunikasi. Dan ini saatnya Agam menanyakan yang terjadi pada waktu itu. semalam dia sudah penasaran. dan pagi ini dia harus tahu semuanya.


"Mas, Anak kita?" Tanya Reyna begitu sadar.


"Anak kita baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir!" Agam menenangkan Reyna.


"Syukurlah."


"Rey, apa yang sebenarnya terjadi kemarin?" Tanya Agam perlahan.


"Bela mas, Bela sengaja melakukan itu. Mungkin dia marah karena melihat kita di sana." Jawabnya sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


__ADS_2