Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Teka Teki


__ADS_3

Agam memarkirkan mobilnya tepat di depan Rumah orang tuanya. Dia sengaja datang untuk menanyakan tentang apa saja yang papanya ketahui mengenai Bram dan Davinson. Banyak teka teki yang belum terungkap, seperti puzzel yang berantakan. Agam sangat yakin bahwa Papanya pasti tahu sesuatu.


"Pagi-pagi sekali kamu kesini? sudah sarapan?" Tanya mamanya saat Agam menghampirinya di dapur.


"Belum mah!" Jawab Agam, mengambil satu potong roti lalu di makannya.


"Pasti saat ini Reyna sangat kerepotan mengurus Arka, sampai kamu tidak terurus!" Ucap mamanya mengelus punggung Agam.


"Papa mana ma?" Tanya Agam begitu rotinya habis.


"Sepertinya papa masih di kamarnya, kamu ada perlu dengan papa kamu?" Mamanya sangat penasaran. Karena jika Agam datang tandanya ada yang penting yang mereka katakan.


"Ya ma, aku harus menanyakan sesuatu! aku keatas dulu ya ma!" Agam meninggaalkan mamanya untuk menghampiri Harun yang nampaknya masih di dalam kamarnya.


tok... tok...tok...


"Pah, Ini Agam!"Ucap Agam dari depan pintu. Harun pun berteriak dari dalam menyuruh Agam untuk segera masuk.


"Masuk!"


Agampun membuka pintu kamar Harun dan menutupnya kembali.


"Pagi sekali Gam?"Tanya Harun yang melihat anaknya datang mengunjungi di pagi hari


"Iya pah, ada yang ingin Agam tanyakan!" Agam menghampiri Harun dan duduk di kursi sebelahnya.


"Apa yang kamu ingin ketahui? Davinson lagi? papa tidak ingin membahas dia lag!" Tebak Harun asal.


"Bukan pah, tapi tentang papa Reyna, Bagaimana papa kenal dengannya?"


"Papa Reyna adalah orang yang menolong papa di saat perusahaan papa di hancurkan Davinson dalan satu malam. sebelumnya papa sama sekali tidak mengenalnya. Dia datang saat papa sedang kesulitan dan sampai saat ini papa selalu berterima kasih kepadanya."


"Iya Agam tahu itu, makanya papa meminta Agam untuk menikahi Reyna. Terus apa papa kenal dengan pak Bram?"


"Siapa yang tidak kenal dengan Bram. orang yang dapat keuntungan dari hancurnya perusahaan papa, dia adalah sahabat Davinson!"


"Apa papa tahu, kalau Bram dengan papa Reyna bersahabat?" Tanyanya lagi.


"Jangan ngarang kamu Gam. Itu tidak mungkin terjadi. Papa mertua kamu gak mungkin mempunyai sahabat seperti bram."


"Memang orang yang seperti apa Bram itu?"


"Gam. papa peringatkan kamu. Jangan pernah dekat apa lagi berbisnis dengan Bram. Dia itu seperti srigala berbulu domba. Kamu tidak akan pernah tahu dia itu sebagai teman atau musuh."


"Kenapa papa bisa mengatakan itu? Apa papa tahu sesuatu?"


Harun bangun dari duduknya membuka laci yang terkunci. Sudah bertahun-tahun dia simpan rahasia besar ini. Mungkin ini adalah waktunya bagi Agam mengetahui semuanya.


"Apa ini pah? Tanya Agam saat Harun memeberikan map coklat yang sudah lusuh.


"Kamu buka saja nanti, hanya ini yang bisa papa berikan. Semoga itu bisa membantu rasa penasaran kamu tetang Bram."

__ADS_1


Setelah mendaptkan map itu, Agam langsung berpamitan untuk berangkat ke kantor.


Dipandangi map itu berulang kali. Ada perasaan ragu untuk membukanya. Agam takut dia tak hanya akan mengetahui tentang Bram tapi dia juga menemukan yang tidak dia ketahui tentang keluarga Davinson.


Agam perlahan membuka map yang di genggamnya. Dia sangat syok saat menemukan beberapa fhoto yang di lihatnya. Dia langsung berlari menuju parkiran mobil dan melajukan mobilnya dengan kencang kembali kerumah papanya.


"Kenapa kamu kembali lagi, apa ada yang tertinggal?" Tanya Mamanya begitu melihat Agam yang datang sambil berlari.


"Mana papa ma?" Tanya Agam langsung mencari keberadaan Harun.


"Di atas. ada apa Gam?" Tanya mamanya yang khawatir karena melihat wajah serius Agam.


"Maaf ma, aku harus segera bertemu papa!" Tanpa memperdulikan mamanya Agam berlari menaiki tangga dan masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Pah, apa maksud semua ini?" Tanyanya menujukan semua isi map yang baru saja di lihatnya.


"Kamu sudah membukannya!"


"Ya, dan ini semua ada di dalamnya!" Agam mengeluarkan semua fhoto yang ada di dalamnya.


"Kenapa papa hanya diam saja setelah mengetahui ini semua?" Bentak Agam kepada Harun.


"Apa untungnya buat papa melakukan itu semua?" Bukannya menjawab justru Harun bertanya kembali dengan wajah datarnya, seolah bukan hal penting untuk dirinya.


"Setidaknya papa bisa membuat David tahu siapa Bram sebenarnya."


"Biarkan saja. Biarkan Keturunan Davinson terus di manfaatkan oleh Bram."


...※※※※...


Bela keluar dengan gaun pengantin yang sudah menempel di tubuhnya, walaupun masih sedikit kebesaran, namun sudah terlihat sempurna di kenakan Bela.


"Waw.... kamu cantik sekali Bel" Daniel terperangah Begitu melihat Bela.


Mendengar pujian dari Daniel membuat pipi Bela bersemu memerah. Belapun melihat dirinya di cermin nampak apa yang di katakan Daniel adalah kebenaran.


Setelah selesai dengan masalah gaun pengantinnya. Merekapun keluar butik untuk makan malam. Tak terasa matahari sudah tak lagi bertugas, di ambil alih bulan sebagai pengganti terangnya.


Mereka memilih duduk di area outdor untuk menikmati cahaya rembulan, Bela membuka galery Hpnya, di tunjukan beberapa contoh undangan yang akan mereka gunakan.


"Menurut kamu diantara semua ini, yang mana yang paling kamu suka?" Tanya Bela setelah menunjukan semua contoh undangan.


"Aku bingung...! Tapi aku lebih suka yang ini." Daniel memilih satu yang menurutnya elgan.


"Oke, kita pilih yang ini!"


"Tapi bel, apa kamu jug suka yang ini?"


"Aku suka semuanya Dan, aku sampai bingung memilihnya!"


"Bel, semoga lancar sampai hari nanti, aku sangat menantikan sekali hari dimana kita akan menjadi sepasang suami istri!"

__ADS_1


"Apa aku juga menantikaan itu? karena sampai detik ini aku masih ragu dengan pernikahan ini"


"Bel, ada apa? kok melamun?" Tanya Daniel yang menyentuh tangan Bela. Daniel melihat Bela yang menatap kelain arah dengan tatapan kosong.


"Ah... Iya Dan, Aku lelah, lebih baik kita segera pulang!" Ucapnya mengalihkan pembicaraan tentang pernikahan, yang Bela sendiripun tidak tahu apakah sudah siap atau Belum menjadi istri dari seorang Daniel.


Merka pun memutuskan untuk pulang, walaupun makanan yang mereka makan belum habis.


Sepanjang perjalanan Bela habiskan untuk diam. Danielpun tidak berani memulai pembicaraan, dia hanya sesekali melirik Bela dari sepionnya. Bela terlihat sangat lelah Dan dia ingin membiarkan Bela untuk beristirahat.


Mereka telah sampai di depan rumah Bela. Bela yang tertidurpun terbangun begitu mobil berhenti.


"Apa kita sudah sampai?" Tanyanya memicingkan mata.


"Iya baru saja!"


"Tunggu Bel, biar aku bawa kamu ke dalam!" Daniel menawrkan diri, untuk menggendong Bela sampai dalam rumah.


"Tidak Dan, kamu langsung pulang saja." Bela menolak tawaran daniel untuk menggendongnya kedalam dan menyurhnya untuk pulang.


Daniel pun tidak memaksa. Tapi tetap saja hatinya merasa Bela belum sepenuhnya membuka diri untuknya. Akhirnya Daniel memerkirkan mobilnya untuk pulang.


Setelah Mobil Daniel meninggalkan pekarangan rumahnya Bela berjalan perlahan untuk masuk kedalam rumah, namun dia melihat mobil yang di gunakan Rangga sudah berada di parkiran depan rumahnya.


Bela menghampiri mobilnya lalu menginitip kedalam mobil. dia melihat Rangga sedang tertidur di dalamnya.


tok...tok...tok...


Kaca mobil di ketuknya.


Rangga yang mendengar ketukan langsung terbangun dan menoleh kearah luar. Dia terperanjat melihat wajah Bela sangat dekat dengan dirinya namun terhalang kaca mobil.


Ranggapun bergegas membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil Bela.


"Apa yang kamu lakukan disini Ngga?"


"Menunggu kamu. Ini, aku hanya mengantarkan mobil kamu" Rangga menyerahkan kunci mobil milik Bela.


"Kenapa harus diantarkan? Biar saja besok aku ambil mobil ini ke rumah kamu. Terus sekarang bagaimana kamu pulang?"


"Aku bisa naik taksi!"


"Disini jarang taksi Ngga."


"Kalau gitu aku order ojek online."


"Lebih baik kamu kembali naik bawa mobil ini pulang ke rumah kamu. Atau perlu aku yang antar kamu pulang?"


"Baiklah, aku bawa mobil kamu lagi, Besok aku jemput, Masuklah, istirahat!" Rangga mengambil kembali kunci yang ada ditangan Bela.


"Aku tunggu besok ya!"

__ADS_1


Bela melambaikan tangannya sebelum masuk kedalam rumah.


__ADS_2