
Maya dan Adit sedang bersantai melepas rindu. membicarkan semua hal yang belum mereka bicarakan.
"Sayang, kamu udah dapet jadwal liburnya Daniel?" Maya bersandar di dada Adit.
"Sudah, dia dua hari kedepan Libur."
"Ayo kita buat mereka bertemu."
"Siapa?" Adit melupakan dengan tujuan maya menyuruhnya mencari tahu waktu libur Daniel
"Ya ampun Adit. ya, Bela dan Daniel dong." Maya yang sedikit kesal menegakan duduknya, memberi tatapan tajam kepada kekasihnya.
"Kamu masih ingin menjodohkan mereka?"
"Iya jelas dong. Aku masih tidak rela kalau Bela bersama Agam."
"Ayo kita kenalkan mereka, tapi kita sebagai sahabtanya tidak boleh memaksakan kehendak kita. Biarkan mereka yang memutuskannya." Adit menarik Maya, agar bersandar di dadanya kembali.
"Iya Dit, aku ngerti kok. Besok ya saat makan siang kita pertemukan mereka. Dduuhh... aku gak sabar Dit." Ucap Maya gemas, membayangkan apa yang akan terjadi di hari esok.
Maya pun tertidur di pelukan Adit. Setelah puas mencurahkan semua rasa rindu. Obrolan ringan dan hangat mereka yang mampu membuat mereka tetap bertahan satu sama lain. walaupun di tengah kesibukan, mereka tidak pernah lupa untuk memberi kabar. Dan juga waktu yang selalu mereka luangkan untuk sekedar bertemu dan menyapa. Itu adalah kebiasan yang membuat mereka awet, sampai memasuki usia hubungan yang tidak sebentar, bahkan sudah hampir 7 tahun.
...※※※※...
Bela terbangunkan dengan pantulan cahaya matahari yang menembus kaca kamarnya. Ingin sekali Bela menarik selimutnya menutupi tubuhnya berlindung dari sorotan matahari. Tapi Bela mengurungkannya, Bela tidak ingin mengisi liburannya dengan hanya berbaring bermalas-malasan di atas tempat tidur.
Bela maksakan diri untuk Beranjak dari kasurnya, dan memulai harinya di tanah singapura.
Dengan celana jeans, dipadukan dengan blouse biru muda, yang menampakan perut rata Bela. Tak lupa Bela memakai sneakers yang baru di belinya sebelum berangkat ke singapura.
Setelah siap Bela segera keluar dari kamarnya, perutnya yang sudah berbunyi meminta untuk segera di isi.
"Good Morning...!" Sapa Bela saat melihat Daniel sedang sarapan.
"Morning Bel, Apa rencana kamu untuk hari ini?"
"Aku belum tahu, karena sahabat aku yang mengatur semuanya."
Bela menyeka mulutnya saat sudah selesai dengan sarapannya.
"Aku pergi dulu Dan!" Pamit Bela kepada Daniel.
"Mau aku antar?" Tawar Daniel. Dia khawatir membiarkan Bela pergi sendiri, apa lagi ini bukan di jakarta.
"No. Thank you." Bela hanya melambaikan tangannya sambil terus menjauhi Daniel.
"Oke, Have a nice Day." Teriak Daniel, karena Bela sudah menutup Pintu Apartmennya.
__ADS_1
Dengan bermodalkan alamat yang di berikan Maya, Bela menyetop taxi dan berangkat menuju apartmen Adit. Dan ternyata jarak Apartmen Adit dan Daniel tidak terlalu jauh, bahkan jika jalan kaki hanya butuh waktu 5 menit. Bela merasa seperti orang Bodoh yang menaiki Taxi dengan jarak yang sangat dekat. Bela tidak tahu jika alamat Daniel satu kawasan dengan Adit. Kalau saja dia Bertanya terlebih dahulu kepada Daniel, pasti dia tidak akan se kaget ini.
Tok...tok...tok...
Pintu di bukakan Adit.
"Kalian tahu gw hanya naik taxi dalam satu menit ke sini. ternyata Apartmen yang gw tempati deket banget sama tempat tinggal loe Dit." Bela langsung mengomel Begitu masuk kedalam.
"Hahaha....Dan loe gak tahu kalau alamat itu sama?"
Omelan Bela ternyata mengundang gelak tawa Adit dan Maya.
"Justru itu gw gak tahu alamat anak temen papa itu."
"Bela...Bela, lain kali loe harus tahu keberadan loe sendiri, kemana tujuan loe, dan itu penting."
"Gw tahu keberadaan gw semalaman itu di rumah temen gw. Udah lah, ayo berangkat!"
Merekapun berangkat meninggalkan Apartmen Adit, menuju tempat makan siang.
Maya masih saja membahas tentang kebodohan Bela. karena baru kali ini Bela melakukan kesalahan sepele tapi bagi Maya adalah kesalah terlucu Bela. Sebelumya Bela adalah smart girl, melakukan kesalah seperti ini adalah bukan tipe Bela.
"Sudahlah May, jangan di bahas lagi. Kita langsung pesan makan aja!" Bela memohon agar sahabatnya melupakan kebodohannya kali ini.
"Oke, gw gak akan bahas lagi. Tapi tunggu Bel, sebenarnya kita lagi nunggu satu orang lagi." Maya menarik tangan Bela yang hendak memanggil pelayan.
"Loe inget gak, kalau gw mau kenalin loe sama sahabatnya Adit, dan loe setuju bel."
"Shhiit.... May apa-apa sih loe, maksud loe apa kaya gini?" Bela membuka matanya lebar, Bela tidak mengharapkan maya melakukan itu.
"Sorry Bel, loe jangan ngambek dong. gw bisa begini karena loe udah setuju."
"Bel loe coba kenalan dulu, dia sahabat baik gw." Ucap Adit menimpal.
"Oke deh." Bela pasrah dengan bujukan mereka. Bela hanya menghargai Maya sebagai sahabatnya.
Tak lama datang laki-laki yang sedang di tunggu. Daniel berjalan sambil melambaikan tangan kearah Adit dan Maya. Sedangkan Bela duduk membelakangi Daniel. Bela sendiri enggan menoleh kebelakang. Dia hanya akan menunggu sampai Maya dan Adit memperkenalkannya.
"Apa kabar bro?" Sapa Daniel menyalami Adit dan Maya.
"Dan, kenalin sahabat gw!"
Daniel mengarahkan badannya menghadap Bela, begitupun bela menoleh kearah Daniel.
Bela tertawa ringan merasa lucu, melihat laki-laki di sampingnya ternyata Daniel, orang yang sudah di kenalnya.
Begitupun Daniel hanya tersenyum, karena wanita yang sering di ceritakan Adit, dan bahakan memaksa untuk menemuinya adalah Bela, wanita yang baru di kenalnya dan membuatnya nyaman.
__ADS_1
"Jadi yang kamu maksud pacar sahabat kamu itu, Adit ini?" Tanya Daniel masih menatap kearah Bela.
Bela mengangukan kepalanya cepat. Dia tidak menyangka dunia sesempit ini.
"Kalian saling kenal?" Tanya Maya yang melihat keakraban diantara keduanya.
"Iya. kita bertemu di acara ualng tahun pernikahan orang Om Bram."
"Oh my God. gw nyari waktu buat kalian saling ketemu, tapi kalian sudah saling kenal." Adit menepuk keningnya sendiri. Dia merasa tuhan sudah memberikan jalan untuk mereka.
Setelah yang ditunggu datang, Barulah mereka berempat memesan makanan. Mengobrol ringan tentang bagaimana awal mula Adit dan Daniel bisa bersahabat. Dan juga Maya dan Bela Bersahabat.
"Jadi loe tinggal di tempat Daniel?" Tanya Maya sambil mengunyah makannanya.
"Iya May, kalau gw tahu dari awal adalah Daniel, gw akan berangkat bareng." Bela meneguk minumannya sebelum menyudahi makannya.
Tak lama Hp Bela berdering, Dia langsung meraih hpnya dan melihat siapa yang menelphonnya. Beranjak dari tempat duduknya.
"Gw angkat telphon dulu." Ucapnya meminta izin menjauh.
"Pasti Agam yang nelphon!" Ucap Daniel pelan, tapi masih terdengar oleh Adit dan Maya.
"Loe udah tahu tentang Agam?" Tanya Maya terkejut saat Daniel menyebutkan nama Agam.
"Udah. Bela ada cerita, dan gw juga beberapa kali bertemu,. Gw prihatin sama hubungan percintaannya."
"Jangankan loe Dan, kita yang sudah lama mengetahuinya lebih dari prihatin. kita masih berharap Bela melupakan cintanya untuk Agam." Ucap Adit menjelaskan perasaannya.
"Bela sudah banyak menderita. Justru gw berharap loe bisa membuat Bela melupakan Agam." Ucap Maya yang membuat Daniel yang sedang minum tersedak.
"Uhuk..uhuk...
Gw May?" Tanya Daniel terkejut.
"Kalian ngobrolin apa sih, serius gitu?" Tanya Bela memecah keterkejutan Daniel.
"Gak bel, Kebetulan gw sama Adit harus Balik. Adit ada jadwal penerbangan nanti malam." Maya berdiri menyudahi makan siangnya. memberi kode kepada Adit, agar segera meninggalkan Bela bersama Daniel.
"Gw titip Bela ya Dan." Maya dan adit beranjak meninggalkan Bela dengan Daniel.
Bela menaikan kedua alisnya kearah Daniel. mempertanyakan mengapa Adit dan Maya pergi terburu- buru, begitu ia datang. Daniel pun membalas dengan senyuman dan mengangkat kedua bahunya.
"Tinggal kita berdua, aku tidak tahu singapura." Bela hanya duduk pasrah, setelah sahabtnya meninggalkannya hanya dengan Daniel.
"Ayo, aku akan bawa kamu ke tempat yang harusnya kamu datangi jika ke singapura."
Daniel menggengam tangan Bela mengajaknya masuk kedalam mobil. Dia akan membawa Bela ke merlion park. Patung kepala singa yang menjadi ciri khas dari negara ini.
__ADS_1