Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Hamil?


__ADS_3

Hanya tinggal menghitung hari Bela bisa kembali pulang. setelah hampir dua bulan dirinya berada di desa terpencil yang sama-sekali tidak ada sinyal Hp. sudah selama itu pula Bela tidak menghubungi papanya dan juga Agam.


Hari ini tugas Bela adalah belanja bahan yang di butuhkan teman-temanya di pasar yang berada di pusat kota.karena semua teman-temannya sudah memiliki tugas masing-masing, Akhirnya hanya Bela seorang yang harus berbelanja.


Kesempatan ini akan Bela gunakan untuk menelpohon Agam, melepas semua rasa kerinduannya.


"Nak Bela bisa bawa motor?" Tanya pak kades menawarkan motor maticnya untuk di pakai Bela.


"Gak bisa pak!" Bela menggeleng canggung. Dan memang Bela belum pernah menaiki motor sebelumnya.


Kemudian pak kades berteriak memangil anaknya yang kebetulan sedang libur kerja.


"Rangga... Rangga...."


"Aya naon pak!" Teriak rangga dari dalam dengan bahasa daerahnya.


"Ini antar nak Bela belanja, katanya dia gak bisa bawa motor."


Rangga pun datang menghampiri. Menatap Bela dengan tatapan sinis.


"Jalma benghar sok nyusahkeun. teu bisa nanaon!" Walaupun Bela tidak mengerti ucapannya, sangat jelas dari nada bicara juga matanya, bahwa rangga sedang mengumpat kepadanya.


Pak kades Tersenyum sambil menggelengkan kepala dan tangannya menepuk bahu anaknya. Dan berlalu masuk kedalam rumah.


"Tongk kitu, teu sae!"


Rangga langsung menyalakan motornya, lalu melemparkan helm kepada Bela, untung saja Bela langsung menangkap helm itu, jika tidak pasti sudah jatuh mengenai kakinya.


"Kasar sekali." Umpat Bela dengan suara pelan dan mungkin Rangga mendengarnya.


Bela tahu kalau Rangga sangat tidak menyukainya. mungkin karena kejadian itu. Bela masih mengingat saat pertama kali datang ke desa. Dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang laki-laki, memang saat itu dia yang salah karena tidak memperhatikan jalannya justru sibuk mencari sinyal di hpnya.


Braakk...


Suara Benda hancur karena terjatuh. Bela hanya meliriknya sekejap lalu meneruskan mencari sinyal di Hpnya.


"Hai kamu berhenti!" Teriak laki-laki itu menghentikan langkah kaki Bela. Kemudian Bela berbalik dan melihat seorang laki-laki tengah menatap tajam kearahnya.


"Lihat yang kamu lakukan, semuanya hancur. Dan itu karena kamu." Laki-laki itu menyalahkan Bela atas semua yang terjadi.


Bukannya merasa bersalah, Bela justru berbalik kesal, merasa dirinya di tuduh dengan perbuatan yang tidak dia lakukan.

__ADS_1


"Itu karena kamu tidak hati-hati. Jalan pakai mata!" Bela menujuk ke arah matanya. dan meninggalkan laki-laki itu.


Mungkin karena sedang kesal, menyebabkan reaksi Bela yang berlebihan. Semenjak hari itu laki-laki yang diketahui bernama Rangga dan juga merupakan anak Pa kades selalu memandang sinis Bela.


Ini pertama kalinya Bela naik motor. Dia memejamkan matanya saat motor mulai melaju dengan kecepatan yang menurut Bela kencang, apalagi kanan dan kirinya tidak ada benda yang bisa di pakainya untuk berpegangan. dengan berat hati Bela melingkarkan tangannya erat di pinggang Ranga.


"Jangan ngebut Ngga, aku takut." Ucapnya dengan canggung.


Mendengar Bela ketakutan membuat Rangga tersenyum ingin menjahilinya. Kemudian dia menambah lagi kecepatannya. Sontak saja pelukan Bela menjadi semakin erat dan juga wajahnya dia benamkan di ceruk leher Rangga.


Bela sudah tidak bisa memkirkan apapun lagi, jantungnya seakan copot, dirinya seakan melayang tak berpijak. Dalam hatinya terus mengucapkan doa-doa dan kata maaf. Jika hidupnya hanya sampai saat ini, Bela sudah siap.


Sedangkan Rangga merasa ada yang aneh dengan dirinya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Pelukan erat yang semula biasa saja, menjadi sensasi yang luar biasa di rasakannya, di tambah lagi kulit lehernya bersentuhan langsung dengan kulit Bela membuat rangga bergairah. Sebenci apapun Rangga kepada Bela, dirinya tetap seorang laki-laki normal. melakukan kontak fisik seperti ini membuat jantungnya berpacu menginginkan sesuatu.


"Apa yang terjadi, kenapa aku seperti ini?" tanya memegang dadanya seendiri.


"Buka matamau, kita sudah sampai!" Rangga menpuk tangan Bela yang melingkar di pinggangnya.


Belapun perlahan membuka matanya, dilihatnya sekeliling yang ramai sekali orang, "Rupanya aku baik-baik saja." Mengontrol kembali kesadaranya dan mulai melepasakan tangannya dari pinggang Rangga.


"Kamu kenapa? Kita hanya naik motor Bela!" Tanya rangga yang menyeringai melihat keadaan Bela yang puca pasi.


"Ini gak lucu Rangga." Bela melemparkan helm yang di pakainya dan mengenai perut Rangga.


"Bela tunggu, kamu mau kemana? kamu gak tahu daerah sini?" Rangga berlari mengejar Bela. Dia khawatir jika menambah masalah baru, dengan hilangnya Bela di pasar.


"Bela, Aku hanya bercanda. aku sudah biasa seperti itu!" Ucap Rangga yang terus mengejar Bela.


Bela menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri Rangga.


"Bercanda? aku takut setengh mati Rangga, dan kamu bilang itu hal yang biasa?Kamu tahu bagaimana takutnya aku tadi?" Sambil menangis Bela mengeluarka semua kekesalanya kepada Rangga.


"Oke, maafkan aku. aku akui aku salah." Rangga membawa Bela kepelukannya, dia sangat menyesali perbuatannya.


...※※※※...


"Agam, Aku hamil. aku tengah hamil anak kamu."


Agam tidak bisa berkata-kata,dirinya merasa di hantam batu besar. Bibirnya seakan membeku, Dia hanya menundkan kepalanya mencoba mengingat kembali. memutar memorinya kebeberapa bulan kebelakang,karena seingatnya, dia tidak pernah melakukannya lagi bersama Reyna.


"Gam, kenapa kamu hanya diam saja, Apa kamu tidak menginginkan anak ini? atau kamu lupa saat melakukannya?" Reyna terus menanykan kebungkamannya.

__ADS_1


Agam bingung harus mengatakan apa.Tapi melihat Reyna yang begitu yakin bahwa sedang mengandung anaknya membuat Agam menjadi ragu dengan keyakinannya sendiri.


"Apakah benar ini anakku?" Tanya Agam dengan suara lemah


"Maksud kamu? Apa kamu masih tidak percaya? Kamu tega Gam. Malam itu kamu datang dengan keadaan mabuk. aku tidak tahu ada masalah apa sampai kamu mabuk seperti itu, yang jelas kamu meminta maaf kepadaku atas semua kesalahan kamu dan kita melakukannya malam itu." Reyna mencoba mengingtkan Agam tnetang malam itu, yang sudah pasti Agam tidak akan pernah mengingatnya. Karena itu ingatan palsu yang di buat Reyna, dan Agam harus percaya.


"Sshhiitt.... aku tidak mengingatnya." Umpatnya dalam hati.


"Maafkan aku. untuk saat ini beri aku waktu untuk berfikir, karena aku sulit membayangakn ini semua."


Dengan langkah gontai Agam menuju ruang kerjanya. Dia bukan lelaki berengsek yang akan lari dari tanggung jawab. Tapi untuk saat ini Agam perlu berfikir jernih. Karena ini bukan hanya tentang Reyna, tapi juga tentang wanita yang sedang menunggu untuk bersama dengannya.


Agam berdiri menghadap jendela, menatap pantulan dirinya. Apakah dia tidak di takdirkan untuk bersama Bela? Hanya satu langkah lagi dirinya akan meraih Bela, namun dengan kenyataan yang ada, Agam harus mundur jauh, sampai tak terlihat lagi sosok wanita yang di cintainya.


Agam membuka matanya, Dia baru saja bangun dari tidurnya, dengan harapan, yang terjadi semalam adalah mimpi. Dia menoleh kearah sampingnya, di lihatnya Reyna yang masih tertidur. kemudian Agam mengusap wajahnya kasar. Ternyata semalam bukan lah mimpi. dengan dirinya tidur di samping Reyna adalah tanda bahwa tidak akan ada perceraian antara mereka.


"Pagi mas!" Reyna mencium pipi Agam. Hal baru yang di lakukannya sebagai seorang istri, sebab Naya memberitahukannya untuk lebih memberi perhatian dan kasih sayangnya kepada Agam. memerankan sosok istri sebagaimana mestinya.


"Apa kamu bisa antar aku ke dokter kandungan? Aku harap kamu bisa menemaniku. karena, sebagai calon ayah kamu juga harus tahu perkembangan anak ini."


"Jam berapa?"


"Jam satu siang, kita bisa makan siang dulu sebelum berangkat, Bagaiman?"


"Baikalh, aku jemput sebelum makan siang!"


"Makasih mas, aku yakin kamu bisa jadi ayah yang baik." Puji Reyna sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Ada satu hal lagi yang Reyna lakukan, dia mengantar Agam sampai depan rumah saat berangkat kerja.


Sebenarnya Agam sedikit tersentuh dengan semua perlakuan baik Reyna pagi ini. dari menyiapkan baju kerjanya sampai mengantakannya sampai depan rumah. Agam mengira itu adalah hormon ibu hamil, mungkin Reyna berubah karena sedang hamil.


"Batalkan semua rapat hari ini, saya tidak ingin di ganggu!" perintah Agam kepada sekretarisnya.


Di dalam ruanganya Agam terus berfikir Bagaiman cara mengatakan semua ini kepada Bela. pasti Bela akan terluka mendengar ini semua.


Sudah terlalu banyak hal yang di janjikan Agam untu Bela dan sekarang semua itu hanya jadi kebohongan.


BATALKAN PERCERAIAN KAMI.


Agam memberi tahu pengacaranya melalu pesan teks, untuk membatalkan kasus perceraiannya denga Reyna. saat ini agam tidak ingin berbicara dengan siapapun. dia sedang mengalami pergulatan Batin yang menyiksa dirinya.

__ADS_1


Maafkan aku Bela, ini jalan yang harus kita lalui. aku dengan jalanku yang tanpa dirimu dan kamu tanpa diriku.


Agam tidak bisa memilih antar Bela dan anaknya. Dia tidak mungkin membuang Bayi tidak berdosa dengan egois memilih cintanya. Sedangkan Bela pasti akan menemuka pria yang lebih baik dari dirinya.


__ADS_2