
Reyna tengah beraiap-siap untuk menghadiri acara pertunangan Bela dan Daniel. Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu, hari dimana tidak ada lagi harapan untuk Agam memiliki Bela. Walaupun saat ini Agam masih membenci Bela karena peristiwa itu, namun Reyna sangat yakin jika di hati Agam masih terukir jelas nama Bela.
"Mba, kenapa kalian belum bersiap-siap?" Tanya Reyna yang melihat kedua Babysister Arka masih memakai seragamnya.
"Maaf bu, kata pak Agam, Ibu saja yang membawa dek Arka ke pesta!" Jawab salah satu Babysister itu.
Reyna yang mendengar itu menjadi kesal.
"Apa? Sekarang pak Agam di mana?" Tanyanya mencari keberadaan Agam, dia akan melakukan protes tentang keputusan Agan yang sepihak.
"Di depan bu!" Jawab Babysister itu gemetar.
Reyna dengan gaun panjangnya berjalan mencari keberadaan sosok Agam. Yang ternyata sedang memepersiapkan mobil untuk mereka tumpangi.
"Mas, aku gak bisa bawa Arka sendiri ke pesta. Pokoknya kita harus ajak Babysister untuk menjaga Arka nanti!" Ucapanya dengan nada tinggi.
Agam hanya menoleh melihat sang istri sudah menatap tajam kearahnya.
"Berlebihan Rey, acaranya gak akan lama kok, Lagian ada aku yang pasti bantu kamu!"
"Aku gak mau mas. coba kamu lihat, Aku sudah cukup kesulitan dengan dress panjang ini, di tambah aku harus menggendong Arka, Belum kalau dia nangis minta susu, ataupun dia rewel karena pup, dan masih banyak hal lain yang tidak mungkin aku kerjakan sendiri."
"Itu memang tugas kamu sebagai seorang ibu!"
"Kalau masih bisa di kerjakan oleh orang lain kenapa harus aku? Lagipula aku sudah cukup kesakitan saat melahirkannya mas. Dan kamu tidak pernah meraskan itu."
Reyna kembali masuk kedalam rumah. Agam sudah sangat bingung bagaimana cara agar Reyna lebih peduli kepada anaknya sendiri.
"Mba, cepat kamu siap-siap. Kamu ikut kami kepesta. Dan jangan lupa pakaikan Arka jas ini!" Reyna sudah menyiapkan pakaian Arka yang di buat oleh desainer. walaupun usia Arka belum genap 2 bulan, Tapi Reyna ingin membuat Arka terlihat menawan sebagai penerus Agam.
Akhirnya mereka berangkat menuju Hotel tempat acara pesta pertunangan Bela dan Daniel di selenggarakan dengan membwa serta Arka dan satu orang babysister.
...※※※※...
Sudah ada satu jam Bela duduk, menerima beberapa pasang tangan yang sedang mensulap dirinya. Wajahnya di buat terlihat lebih dewasa, dengan garis alis yang tegas Dan tatanan rambut sanggul moderen.
Gaun slim fit dengan warna pastel sudah melekat di tubuh Bela, memperlihatkan bentuk tubuh yang selalu di jaganya.
Mungkin pesta di bawah sudah dimulai. Kini waktunya Bagi Bela untuk turun menunjukan kehadiran dirinya.
"Sayang, kamu sangat cantik!" Puji David begitu melihat anaknya sudah rapi berbalut gaun cantik.
"Kok papa nangis?" Rupanya airmata sudah membendung di pelupuk mata David.
"Papa bahagia sayang, sebentar lagi kamu tidak akan membutuhkan papa lagi, karena ada Daniel yang akan mencukupi sekuanya!"
"Bela akan tetap membutuhkan papa, karena papa yang sangat mengerti Bela." Bela memeluk erat David.
__ADS_1
"Ayo kita turun!"
Bela dengan di dampingi David dan juga Maya turun menuju tempat acara di selenggarakan. Jantung Bela berdetak dengan kencang, saat langkah kaki yang mulai berjalan masuk. Melihat semua tamu menatatap sambil bertepuk tangan menyambut kehadiran dirinya.
Tak lupa kedua sudut bibir Bela di naikan, dengan tatapan fokus ke depan melihat Daniel yang sudah menunggunya di ujung sana. Sesekali bela melirik matanya kekanan dan kekiri melihat satu persatu Tamu. Sebenarnya dia mencari kehadiran Rangga dan Agam. Tapi Bela belum menemukannya.
Sampai tapat sebelum Bela sampai di tempat Daniel berdiri. Matanya tepat sejajar dengan Rangga yang tersenyum kearahnya, Namun dengan sorot mata yang berbeda. Mata dan bibirnya tidak mengartikan arti yang sama.
Bela menyambut tangan Daniel yang sudah terulur. Berdiri berhadapan dan memulai prosesi tukar cincin sebagai tanda pertunangannya malam ini.
...※※※※※...
Agam berada di taman depan hotel. Dia tidak ingin menyaksikan acara tersebut. Hatinya masih sakit melihat Bela bertunangan, meskipun saat ini dirinya sudah lama tidak berkomunikasi dengan Bela. Tetap saja melihat wanita yang sampai saat ini masih di cintainya, harus bersanding dengan laki-laki lain dia tidak rela.
Berkali-kali Reyna menelphon menanyakan keberadaan dirinya, namun Agam selalu menjawab, bahwa dia akan segera masuk kedalam, namun kakainya enggan untuk melangkah.
Drrt....Drrtt....Drrtt...
Suara getar Hp agam berbunyi, Agam sempat mengira itu adalah telphon dari Reyna. Namun ternyata dia mendapatkan telphon dari orang suruhannya.
"Hallo, Bagaimana kemajuannya?" Tanya Agam begitu menempelkan Hp di telinganya.
"Pak, anda perlu tahu, Saham pak Bram malam ini terus naik. mungkin ini imbas dari pertunangan dengan keluarga Davinson. Dan Pak Bram sudah merencanakan ini semua dengan matang."
"Ya, saya sudah memperkirakan ini semua. di balik pesta meriah ini dan para wartawan yang sudah stand by pasti ada maksud sebebarnya. Karena peluncuran beberapa produk baru perusahaan Pak Bram sangat berdekatan dengan acara pertunangan ini."
"Ada pak, ternyta pak Bram dan mertua anda adalah sahabat sejak sekolah. Mereka lebih dari rekan bisnis."
"Oke, terimkasih informasinya." Agam menutup telphon nya dan di simpannya lagi di saku celananya.
"Bram berteman dengan Davinson. Papa Reyna berteman dengan papa. mereka ada di kubu yang bermusuhan. Tapi mengapa Bram juga berteman dengan papa Reyna. Ada yang mencurigakan."
Lamunanya buyar ketika Reyna datang menepuk punggungnya.
"Mas, ternyata kamu disini. Apa kamu gak akan memebri selamat untuk mereka?" Tanya Reyna yang kesal karean dirinya sedari tadi sudah mencari keberadaan Agam.
"Apa sudah selesai? Agam balik bertanya.
"Iya, kamu sengajakan berada disini, karena tidak sanggup melihat Bela menjadi milik orang lain?"
"Jangan asal bicara. Kami sudah selesai!" Ucap Agam bangun dari duduknya. Dan melangkah masuk kembali ke dalam.
"Baguslah kalau begitu." Susul Reyna yang sedikit berlari mensejajarkan langkahnya dengan Agam.
Reyna melingkarkan tangannya di lengan Agam. dan Berjalan menghampiri David.
"S-selamat!" Agam sedikit gugup melihat Bela begitu anggun berdiri dengan tersenyum bahagia. Namun bukan dengan Agam yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
"Akhirnya kamu menemukan laki-laki yang pantas jadi pendamping kamu! Ucap Reyna menambahkan.
Bela menaikan sebelah bibirnya, mendengar ucapan selamat dari Reyna yang tidak ada ketulusan di dalamnya.
Di depan Bela sudah ada Rangga yang sedari tadi hanya menatap Bela dari kejauhan. Bela melambaikan tangannya ke arah Rangga dan Akhirnya Rangga memberanikan diri untuk datang mendekati Bela dan Daniel untuk memberikan selamat atas pertunangannya.
"Selamat ya, kalian sudah melewati tahap pertama untuk menuju akhir yang bahagia." Ucap Rangga menyalami Daniel dan juga Bela.
"Terima kasih Pak Rangga!" Jawab Daniel menimpal.
"Bisa kita bicara?" Ajak Bela kepada Rangga. namun keinginan Bela di cegah Daniel.
"Kita masih banyak tamu Bela."
"Benar Bela, kalian masih banyak tamu.Kita bisa bicara lain waktu. Karena aku harus segera pulang!"
"Kenapa, cepat sekali?" Tanya Bela lirih.
"Aku harus mempersiapkan rapat untuk besok." Ucapnya berbohong, Sebenarnya Rangga hanya ingin menenangkan hati dan fikirannya.
Bela hanya bisa menatap kepergian Rangga. matanya masih tertuju kepada Rangga yang mulai meninggalakan acara nalam ini.
"Ada apa antara kalian?" Tanya Daniel begitu Rangga pergi.
"Apa maksud kamu?" Bela membalikan badannya menghadap Daniel.
"Apa kalian sedekat itu?" Tanya Daniel lagi. sorot matanya sudah berubah menjadi membara.
"Bela, ikut aku!" Daniel menarik Bela menjauhi kerumunan para tamu yang sedang menikmati pesta.
"Katakan, ada hubungan apa kamu dan Dia?" Tanyanya begitu sampai di tempat yang sepi.
"Aku tidak mengerti Daniel, kenapa kamu mananyakan hal seperti itu?" Bela menytukan kedua alisnya, bingung dengan pertanyaan Daniel.
"Aku sangat tahu arti tatapan kalian berdua!"
"Tatapan seperti apa, aku hanya menatap Rangga seperti biasa Dan."
"Tidak Bela. Aku sangat tahu itu, sebab tatapan itu sudah sering aku lihat, saat kamu bersama Agam."
"Cukup Dan, aku lelah hari ini.lebih baik kita kembali kedalam." Bela berbalik untuk kembali kedalam.
"Tunggu Bela!" Cegah Daniel, Namun bela meneruskan langkahnya.
"Bagaimana bisa kamu mencintaiku, kalau hati kamu saja sudah kamu berikan untuk orang lain!" Bela berhenti ketika mendengar ucapan Daniel.
"Aku tahu kalian saling mencintai!" Tanpa menoleh Bela masih mendengarkan yang Daniel ucapkan.
__ADS_1
"Apa yang Daniel katakan benar, apa aku mencintai Rangga?" Tanyanya dalam hati. Bela sendiri masih tidak mengerti akan perasaan dirinya. Apakah yang di rasakan adalah rasa cinta atau hanya perasaan sesaat karena kekosongan hatinya.