Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Status Baru


__ADS_3

Agam sedang menunggu Bela di depan mobil Bela yang terparkir dikampus. Dia berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di pintu Mobil. Sudah hampir satu jam lamanya Agam menunggu, namun sosok wanita yang di tunggunya tak kunjung datang.


Dari Jauh dia sudah melihat Bela memasang muka datar menghampiri dirinya, lebih tepatnya menghampiri mobilnya.


"Agam, ngpain kamu di sini?" Tanya Bela saat melihat Agam menghalangi pintu mobilnya.


"Bisa kita bicara? sebentar saja!" Ucap Agam, yang tak juga bergeser dari tempatnya berdiri.


"Apa yang akan kamu katakan? Kamu masih ingin membahas tentang hari itu?" Tanya Bela dengan kesal. Bela tidak ingin bertemu Agam jika hanya membicarakan tentang masa lalu.


"Bisa kita bicara di tempat lain?" Agam membuka telapak tangannya, meminta kunci mobil Bela.


Bela sempat ragu untuk memberikan kuncinya.Namun dia akhirnya memberikannya juga, karena penasaran dengan apa yang akan Agam katakan.


Akhirnya Agam masuk, mengambil alih kemudi mobil dan Bela duduk di kursi penumpang tepat di sebelah Agam.


"Sudah makan siang? Kita bisa membicarakannya sambil makan!" Tanya Agam dengan harapan bisa mengobrol santai sambil menikmati makan siang bersama Bela seperti dulu lagi.


"Aku tidak lapar, kita bisa bicara di kafe depan sana!" Tunjuk Bela dengan muka datarnya, kearah kafe di ujung persimpangan jalan.


Begitu sampai di depan kafe, Bela keluar dari mobil, mendahului Agam masuk kedalam kafe tersebut. Kemudian di susul Agam yang hanya tersenyum melihat Bela yang masih mengabaikannya.


Disinilah Agam harus bersabar dengan tingkah cuek Bela. karena itu merupakan salahnya sendiri yang menghilangkan senyuman manis dari bibir Bela.


Pelayan kafe datang menghampiri begitu mereka duduk, dan memberikan buku menu. Tanpa berfikir panjang Agam langsung memesan.


"ice coffe dua ya!" Ucap Agam memesan minuman kepada pelayan tersebut.


"Satu saja!" Ucap Bela menyela pesanan Agam.


"Kamu mau minum apa? bukankah itu minuman kesukaan kamu?" Tanyanya mengerutkan keningnya.


"Sudah tidak lagi!" Jawab Bela masih dengan muka datar tanpa ekspresi.


"Saya air mineral saja!" Ucap Bela kepada pelayan tersebut.


"Sorry, harusnya aku bertanya dulu!" Ucap Agam menyesal. Dulu saat mereka masih bersama, mereka selalu memesan kopi yang sama.

__ADS_1


"Apa yang akan kamu bicarakan?" Tanya Bela langsung kepada tujuan Agam ingin menemuinya.


"Sebenarnya, aku ingin meminta maaf. tidak seharusnya aku menyalahkan kamu. Apapun yang terjadi pada waktu itu aku tahu kamu tidak sengaja!" Ucap Agam dengan hati-hati.


"Stop Gam. Aku mengerti maksud kamu. Tapi, kamu harus tahu, kalau yang terjadi kepada Reyna itu tidak ada sangkut pautnya denganku!" Bela menarik nafasnya dalam. sampai saat ini pun Agam masih tidak mempercayai ucapannya.


"Iya mungkin seperti itu, Apapun yang terjadi, biarlah itu memang sudah terjadi, untuk kedepannya aku ingin kita kembali lagi seperti dulu, walaupun sekarang kita tidak memiliki hubungan apapun."


Bela terdiam sejenak, mencerna maksud dari perkataan Agam. Mungikn ini adalah waktu bagi mereka untuk berbaikan.


"Baiklah, Mari kita mulai lagi hubungan ini selayaknya seorang sahabat kepada anak sahabatnya." Bela mengulurkan tangan meminta persetujuan status baru mereka.


"Iya, mari kita mulai seperti itu!" Dengan senyum mengembang Agam menjabat tangan Bela.


...※※※※...


Kondisi Rangga sudah mulai membaik, dirinya sudah tak lagi duduk di kursi roda, namun hanya tangannya yang masih terasa sakit untuk di gerakan. sementara ini Rangga memanfaatkan hanya sebelah tangannya untuk aktifitas sehari-hari .


Tok...tok...tok...


Suara pintu rumah Rangga di ketuk. Karena kakinya sudah bisa digunakan lagi untuk berjalan, diapun Berusaha untuk berjalan dengan perlahan menghampiri pintu untuk di bukanya.


Rangga mempersilahkan Bela untuk masuk, dengan tetap di bantu Bela, Rangga berjalan masuk kedalam rumahnya.


"Kamu bawa apa lagi sekarang?" Tanyanya saat melihat kantung pelastik di genggam Bela, Rangga sudah banyak sekali merepotkan Bela selama dia sakit. Setidaknya dia hraus tetap berbuat baik kepada wanita yang selalu ada di sampingnya itu.


"Kita makan siang bareng. Pasti kamu belum makan!"


"Hhmm... Kamu selalu datang di waktu yang tepat, kebetulan aku sudah lapar!"


Rangga mulai membuka mukutnya menerima suapan dari Bela. Karena tangan kanan Rangga yang masih terasa sakit sehingga Bela yang harus menyuapi.


"Bagaimana persiapan pernikahan?" Tanya Rangga dengan mulut penuh nasi.


"50 persen lah. Lusa aku harus fiting baju pengantin. Harusnya sih bareng Daniel, tapi kemungkinan dia gak akan bisa!"


"Ajak Maya saja!"

__ADS_1


"Dia masih sibuk sekripsi. Apa bareng kamu aja Ngga?" Ajak Bela, mengdipkan matanya.


"Ngaco kamu. Yang ada, aku ngerepotin kamu Bela. Lihat, tanganku saja masih susah bergerak!"


"Siapa tahu lusa kamu sudah sembuh Ngga. Ingat, perkiraan dokterkan 2 minggu kamu bisa beraktivitas lagi!"


"Iya, kalau lusa aku sudah baikan, aku akan antar kamu!" Janji Rangga kepada Bela. Dia hanya ingin melihat Bela selalu tersenyum.


...※※※※...


Kedua sudut bibir Agam terus mengangkat, membayangkan pertemuan kembali dengan Bela. Dia tidak menyangka hubungannya kembali membaik, setelah kesalahan dirinya yang seharusnya tak termaafkan.


Walaupun hubungannya tidak bisa seperti dulu, tapi Agam merasa sangat bersyukur. Rasa cintanya masih tetap ada untuk Bela.


"Kamu sepertinya lagi bahagia mas?" Tanya Reyna yang melihat Agam duduk menikmati kopinya di belakang rumah.


"Kamu sudah datang?" Bukannya menjawab justru Agam memberi pertanyaan lain.


"Iya, baru saja. Arka dimana?" Reyna menanyakan anaknya, Dari pagi sampai pulang sore hari Reyna belum melihat anaknya sendiri.


"Dia baru saja tidur. Rey, luangkan waktu kamu untuk Arka! Pinta Agam.


"Kamu fikir selama ini aku kemana, aku selalu meluangkan waktuku untuk Arka!" Jawab Reyna marah.


"Kamu selalu pergi pagi hari dan kembali di sore hari! Kapan waktu yang kamu luangkan untuk Arka?" Agampun jadi tersulut emosinya. Reyna tidak menyadari bahwa dia sudah abai kepada anaknya.


"Malam hari. Setiap malam aku selalu menengok Arka mas!" Teriak Reyna marah.


"Kamu hanya melihat Arka dari jauh Rey, selebihnya kamu tidur, Kemarin malam badan Arka panas, apa yang kamu lakukan? tidak ada! kamu hanya tidur, sementara aku dan babysister Arka yang bangun!"


"Cukup ya mas, kamu kenapa akhir-akhir ini kamu banyak protes. Aku tahu apa yang aku lakukan sebagai mamanya Arka." Reyna memilih pergi meninggalkan Agam. Agam selalu saja memprotes apa yang di lakukannya.


Agam hanya mengusap rambutnya, melihat kelakuan Reyna yang semakin berubah. Ada penyesalan tersendiri karena membatalkan perceraiannya. Jika saja dulu dia benar-benar melepaskan Reyna, mungkin dirinya tengah merasakan kebahagiaan bersama Bela.


Namun waktu tidak bisa diulang lagi, ini semua keputusan Agam,dan dia harus menanggunya. Untuk kembali bersama Bela pun sudah tidak ada lagi harapan. Dia telah menyakiti hati Bela dengan ucapan-ucapan kasar yang pernah ia lontarkan. Kini Dia hanya bisa merelakan Bela bahagia bersama laki-laki pilihannya.


Namun Agam tidak bisa begitu saja merelakan Bela kepada laki-laki yang hanya akan memanfaatka Bela beserta keluarganya. Agam akan mengungkapkan siapa Keluarga Bram sesungguhnya. Itu ia lakukan sebagai bukti cintanya keoada Bela.

__ADS_1


Walaupun bukan dirinya yang akan menjadi suami Bela kelak. setidaknya laki-laki itu seseorang yang tepat yang bisa memberi kebahagiaan kepada Bela.


~ Maafkan 🙏 author, Karena pulang kampung, jadi kemarin mabuk perjalanan. 😉


__ADS_2