
Bela masuk kedalam kamaranya, dia membaringkan tubuhnya, dengan mata yang terpejam, terbayang wajah Rangga yang mampu membuatnya tersenyum meskipun hanya sebentar bertemu.
Bela membalikan badannya ke posisi terlungkap, membenamkan wajah dikasur empuknya. memikirkan mengapa bersama Daniel dirinya tidak senyaman saat bersama Rangga.
Menjelang hari pernikahan harusnya bertambah yakin dengan Daniel bukan menjadi ragu.
"Apa aku harus membatalkan pernikahan ini? Tapi, bagaimana dengan papa? Ya tuhan tolong aku!"
Tiba-tiba suara Bel rumah Bela berbunyi. Karena di dalam rumah hanya tinggal dia seorang, sementara para pembantu rumah tangga sudah pulang dan papanya Belum juga datang. Terpaksa Bela turun membukakan pintu.
"Siapa sih yang bertamu malam-malam!" Ucapnya sepanjang jalan.
Kreek....
Bela membukakan pintu, Namun saat di buka ternyata yang datang adalah Agam. Sedikit canggung bertemu Agam kembali, meskipun mereka sudah sepakat akan menjalin hubungan secara normal. Tapi tetap saja Bela merasa canggung bersama Agam.
"Om Agam! Silahkan masuk!" Bela mempersilahkan Agam untuk masuk. Terasa cangung harus mengganti panggilan kepada Agam, Namun itu lah yang seharusnya.
"Mau ketemu papa?" Tanyanya lagi kepada Agam.
"Iya, David ada?"
"Papa sebentar lagi pulang. Om tunggu saja sebentar, Bela ambilkan minum dulu!" Bela segera pergi kedapur untuk membuat minuman untuk Agam.
Bela tidak mau berlama-lama berdekatan dengan Agam. Setelah semua ini dia merasa salah jika tetap akrab dan melupakan semua yang telah terjadi. Perasaan di hatinya tidak serta merta hilang begitu saja. Bela khawatir jika memaksakan untuk tetap dekat dengan Agam ada kemungkinan perasaan cintanya timbul lagi.
Bela membawa minuman untuk Agam. Baru kali ini dia memperlakukan Agam selayaknya tamu di rumah ini.
"Silahkan om di minum!" Ucapnya meletakan gelas tepat di depan Agam.
"Terimakasih!"
"Om tunggu saja papa disini, Bela kekamar dulu!" Ucap Bela sebelum meninggalkan ruang tamu.
"Kamu di sini saja, temani aku ngobrol!" Agam menarik tangan Bela mencegah meninggalkannya sendirian. Langkah Bela terhenti saat lengannya di genggam Agam.
Ada persaan berdesir di hatinya, Bela menarik nafasnya dalam untuk menenagkan dirinya.
"Maaf om, aku...."
"Sudahlah tinggalkan semua pekerjaanmu, dan duduk disini!" Agam berdiri meraih kedua pundak Bela di bawanya untuk duduk di kursi sebelah Agam.
Dengan berat hati Belapun menurti Agam, walaupun dia harus menahan desiran dihatinya yang semakin bertambah saat dekat Agam.
"Bagaimna sekripsinya sudah selesai? Tanya Agam menatap wajah Bela, yang sedari tadi hanya menundukan pandangannya.
"Sudah selesai, hanya tinggal menunggu wisuda!" Jawab Bela tanpa melihat Agam.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak berani menatap kearahku Bel?" Tanya Agam dalah hatinya. Dia yang sedari tadi melihat Bela tidak mau menatap lurus kearahnya.
"Sepertinya papa datang, Aka keatas dulu ya om!" Ucap Bela saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya.
Bela bangun dan bergegas meninggalkan Agam, tanpa menoleh sedikitpun kearah Agam.
Barulah Bela bisa bernafas lega setelah berada jauh dari Agam. Semula dia yakin bahwa kembali berhubungan baik dengan Agam bukan masalah besar dan dia pasti bisa melaluinya, Namun setelah di jalani, dirinya tidak bisa mengatasi setiap Desiran darah dan hawa panas menjalar keseluruh tubuhnya.
David turun dari mobil, melihat mobil Agam sudah terparkir di depan rumahnya.
"Tumben sekali Agam datang malam hari!" Gumamnya masuk kedalam rumah.
"Hai Gam, lama nunggu?" Ucap David begitu masuk dan melihat Agam.
"Gw baru aja datang!"
"Ada apa? Sepertinya ada yang penting ya?"
"Gw ada sesuatu buat loe, loe harus tahu ini. Gw atas nama papa,minta maaf." Agam menyerahkan map coklat yang sedari tadi di bawanya.
"Tunggu gam,ini apa? kenapa juga loe harus minta maaf?"
"Di dalam sana ada rahasia yang seharusnya di ungkapkan papa bertahun-tahun lalu."
"Di dalam sini?" Tanya David menujukan map yang di pegangnya
"Iya, loe bisa buka sekarang!"
"Bram...! jadi itu bukan kecelakaan. Bram yang telah membunuh ayah?" Tanynya meremas photo yang di genggamnya. Namun David tetap meredam amarahnya, mencoba menghadapi masalah dengan kepala dingin.
"Berdasarkan photo begitu, dan papa gw menyembunyikan ini semua." Agam tertunduk malu, karena kelakuan papanya.
"Gw mengerti alasan pak Harun menyembunyikan ini semua. Memang dari dulu orangtua kita bermusuhan. melihat hal ini, jelas pak Harun mengambil kesempatan untuk membuat gw berada di genggaman musuh yang sebenarnya.
"Gw langsung kesini begitu tahu ini semua. Sepertinya papa juga sudah tidak ingin menyimpan rahasia ini lebih lama lagi. Gw minta maaf untuk semuanya."
"Gw justru berterimakasih. Gw masih gak bisa mengerti mengapa Bram tega membunuh papa dan apa yang di inginkannya lagi, sampai berani mendekati gw dan Bela?"
"Menurut gw dia ingin seluruh perusahaan Davinson menjadi miliknya. Dengan menikahkan Bela dengan anaknya adalah jalan yang paling cepat untuk mencapai yang di inginkannya."
"Ya, itu masuk akal. Pernikahan ini tidak boleh terjadi. Hampir saja Gw memasukan Bela ke lubang hitamnya Bram. Terimkasaih Gam, entah bagaimna cara gw bales kebaikan loe."
"Kita sahabat vid. sudah seharusnya saling membantu!"
Agam menepuk pundak David memberi semangat untuk menghadapi masalahnya dengan Barm. Dengan menggalkan pernikahan Bela dan Daniel adalah langkah awal serangan balik untuk Bram. Dan Agam juga sangat menginginkan jika tidak ada pernikahan diantara mereka.
Setidaknya inilah bukti cinta dari Agam. Dia tidak ingin wanita yang di cintainya jatuh kedalam pelukan orang yang salah, yang hanya memanfaatkan keluarganya bahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
...※※※※※...
Setelah melihat mobil Agam meninggalkan rumahnya, Bela bergegas keluar dari kamar dan turun menemui papanya. Ingin menanyakan apa yang baru saja Agam katakan. karena jika Agam datang ke rumah, pasti bukanlah masalah kantor. Apa lagi agam, tadi rela menunggu sampai datang papanya.
"Pah, apa yang om Agam katakan?" Tanya Bela kepada David.
"Kita bicara di ruangan papa!" Jawab David pergi keruang kerjanya dan di ikuti Bela dari belakang.
David masuk keruang kerja, berdiri menghadap jendela membelakangi Bela yang duduk di kursi, siap mendengarkan apa yang akan David katakan.
"Batalkan pernikahan kalian!" Ucap David dengan nada tegas.
"Batal pah, Tapi kenapa?" Bela terkejut mendengar permintaan papanya. Karena alasan Bela mau menikah dengan Daniel adalah karena permintaan papanya juga.
"Kamu tidak perlu tahu alasannya. yang jelas tidak akan ada pernikahan."
Bela tidak bisa berkata apapun lagi, ada perasaan lega tapi juga bingung mengapa harus batal setelah persiapan yang di jalaninya, hanya tinggal sebar undangan saja yang belum di lakukan.
"Tapi, bagaimana cara Bela memberitahukan kepada Daniel?"
"Papa yang akan melakukannya."
"Baik pah, Bela serahkan semuanya kepada papa. Bela permisi."
David merasa aneh dengan sikap Bela yang langsung menuruti apa yang di perintahkannya. Tanpa ada perlawanan apapun.
"Apakah Bela terpaksa menjalankan perjodohan ini, demi menyenangkan diriku saja. Oh tuhan.... hampir saja aku merusak masa depan anakku satu-satunya." Ucap David menyesali semua keputusannya.
...※※※※...
Dikamar, Bela gelisah, berjalan kesana kemari, memikirkan tentang permintaan papanya tepat dengan kedatangan Agam kerumahnya.
"Apa yang telah agam katakan sampai papa membuat keputusan itu? Aku yakin Agam tahu sesuatu. Aku harus menanyakannya!"
Bela mengeluarkan Hpnya dan membuka kontak Agam di Hpnya. Dia mulai mengetikan kata demi kata untuk ia kirimkan kepada Agam.
"Apa yang om katakan kepada papa, sampai papa membuat keputusan itu?"
Selang beberapa detik Agam membalas pesan Bela. Itu tandanya saat ini Agam sedang dekat dengan Hpnya.
"Keputusan apa? Om tidak mengerti!"
"Papa memintaku membatalkan pernikahanku setelah om datang menemui papa, apa yang om katakan?"
"Lebih baik kita bertemu besok, aku tunggu kamu di cafe biasa."
"Kenapa harus bertemu sih, kan bisa dia jawab lewat pesan juga!" Bela menggerutu di depan layar hpnya.
__ADS_1
"Oke, sampai bertemu Besok!"
Namun rasa penasarannya lebih beaar dari rasa canggung bertemu Agam. Dia harus tahu alasan pembatalan pernikahan walaupun itu memang yang di inginkannya.