
Bela berlari menuju kamar mandi, saat melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul 10. Sedari pagi Bela belum keluar dari kamarnya, bahkan dia melewatkan sarapan paginya. Bela hanya bermalas-malasan di dalam kamar di temani Hpnya yang sedari tadi di mainkannya.
Setelah selesai Mandi Bela membuka lemarinya mencari pakaian yang akan di gunakan untuk bertemu Agam. Memilih satu demi satu pakaian yang cocok di pakainya. Namun dari semua pakaian di lemarinya tak ada satupun yang membuat Bela menentukan pilihannya.
"Uugghh... Kenapa aku harus repot mencari pakaian. aku hanya akan bertemu seorang Agam saja." Keluhnya dalam hati.
Bela menyadarkan diri, bahwa dia hanya akan bertemu Agam.dan tidak ada yang spesial dari itu.
Akhirnya Bela mengambil pakaiannya dengan asal. dan segera memakainya.
Celana jeans di padukan dengan kaos putih pendek, dan tidak lupa sepatu sneakers kesukaannya. Tidak terlalu berlebihan untuk bertemu Agam.
Bela masuk kedalam mobilnya dan berangkat menuju tempat yang sudah di janjikan.
Hanya butuh 30 menit untuk Bela sampai ketempat tersebut. Bela memarkirkan mobilnya tepat di depan cafe yang di janjikan. Disana ternyata sudah ada Agam, terlihat dari mobil yang terparkir tepat bersebelahan dengan miliknya.
"Rupanya kamu berniat sekali bertemu aku!" Ucap Bela dalam hatinya.
Bela melangkah masuk kedalam caffe tersebut, di carinya keberadaan Agam. Dan Bela melihat tangan laki-laki melambai menandakan dirinya sudah menunggunya di sudut cafe tempat mereka sering bertemu.
"Sudah lama?"Tanya Bela begitu sampai di hadapan agam.
"Baru saja, silahkan duduk!"
Agam pun berdiri menarik kursi mempersilahkan bela untuk duduk. Agam tetap memberikan perhatiannya kepada Bela.
"Thank you!" Ucap Bela sambil duduk di kursi depan Agam.
"Mau pesan apa?" Tanya Agam memberikan buku menu kepada Bela, dia tidak ingin membuat kesalahan seperti kemarin, saat dirinya memesan minuman untuk Bela tanpa bertanya terlebih dahulu.
Bela yang sudah sangat lapar, mengabil buku menu yang di berikan agam.
"Aku pesan spageti dan air mineral saja"
Agampun memanggil pelayan untuk memesan makanan untuk Bela dan dirinya.
"Om pesan yang sama dengan ku? biasanya om pesan kopi?" Tanya Bela saat Agam memesan minuman tidak seperti biasanya.
"Kamu masih ingat Bel?" Tanya Agam Tersenyum karena Bela masih mengingat kebiasaannya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku melupakan semua itu Gam!"
"Eemm... M-memang biasanya seperti itu kan? Apalagi untuk laki-laki seusia om, pasti tidak jauh dari minuman berkafein!" Dengan gugup Bela beralasan.
"Kamu bisa saja Bel, mencari alasannya!" Ucap Agam tersenyum dalam hati. Dia hanya ingin menggoda Bela. menguji apakah Bela masih mengingat tentang dirinya.
Bela yang sedari tadi menahan laparnya, menghabiskan makanannya dengan sangat cepat Bahkan dia tidak sadar jika Agam memperhatikannya saat makan.
"Oh ya, bagaimana kabar tante Reyna, dan juga Arka?" Tanya Bela, meletakan sendok dan garpunya.
"Reyna dan Arka baik-baik saja!" Jawab Agam yang juga sudah menyelesaikan makannya.
"Pasti Arka sangat lucu, Maaf aku belum sempat melihat Arka!" Bela memang belum sempat melihat anak Agam secara dekat. dia pernah melihat sekali pada acara pertunangannya.
"Nanti aku ajak dia untuk bertemu kamu!" Jawab Agam.
Bela hanya diam tidak menanggapi ucapan Agam.
"Apa yang om katakan semalam kepada papa?" Tanya Bela menatap Agam dengan serius.
"Aku mengatakan semua tentang Bram. Mereka bukan keluarga baik-baik Bela!"
"Apa yang Om Bram telah lakukan?"
"Apa? tidak mungkin om Bram melakukan itu, Mereka sudah bersahabat sejak lama." Bela menggelengkan kepalanya menyangkal semua ucapan Agam.
"Kamu harus percaya kenyataan itu. semua bukti sudah mengarah kepada Bram. Namun masalah ini tidak bisa di pidanakan, karena ini sudah lama terjadi."
"Kalau memang benar om Bram melakukan iti, mengapa dia ingin aku bersama Daniel? setidaknya dia akan bersembunyi dari papa karena suatu saat rahasianya pasti akan terbongkar."
"Itulah Bram Bela. Dia seperti musuh dalam selimut. Karena yang dia tahu tidak ada saksi atas kejahatannya, karena yang mengetahui ini semua sudah tiada!"
"Siapa?"
"Papa Reyna. Aku tahu ini semua dari photo-photo yang di ambilnya. Aku tidak tahu kenapa papa Reyna memotret Bram pada saat itu."
"Tidak masuk akal!" Bela masih tidak mengerti dengan semuanya. Keterlibatan papa Reyna dengan kakeknya serta Bram
"Bela semua bukti sudah ada di tangan David. Satu-satunya cara membalas Bram adalah dengan membatalkan pernikahan kalian. Kamu tidak boleh menikahi Daniel. Apa kamu mencintai Daniel?" Tanya Agam menatap kedua mata Bela, mencari kejujuran didalam matanya.
__ADS_1
"Aku tidak mencintai Daniel, tapi kamu tidak harus tahu itu" Bela yang saat itu sedang menatap tajam kearah Agam, mengalihkan pandanganya.
"Maaf Om Aku harus pergi!" Alih-alih menjawab pertanyaan Agam, Bela justru beranjak dari tempat duduknya pergi meninggalkan Agam yang sedang menanti jawabannya.
Agam ingin memastikan apakah Bela sudah mulai mencintai Daniel sebagai penggantinya atau masih mencintainya yang juga masih menyimpan cinta untuk Bela. Namun gadis itu kembali menggantung harapannya. Jika saja Bela sudah menemukan laki-laki yang di cintainya mungkin Agam akan merelakan bela sepenuhnya.
...※※※※...
"Pah, apa yang om Agam katakan benar?" Tanya Bela begitu masuk kedalam ruangan David.
Setelah bertemu Agam, Bela langsung pergi ke kantor David untuk menanyakan kebenaran dari semua yang Agam ucapkan.
"Tenang dulu sayang, Kamu duduk dulu!" Ucap David menenagkan Bela.
"Pah katakan! apa alasan kita harus membatalkan pernikahan adalah karena apa yang telah di lakukan om Bram kepada kakek?" Tanyanya lagi. Bela sudah tidak sabar mendengar jawaban dari papanya.
"Iya. Tapi kenapa kamu bertanya kepada Agam?" David membenarkan semua yang bela ucapkan.
"Karena papa menyembunyikan itu semua dariku!"
"Papa tidak bermaksud begitu. Papa hanya ingin kamu tidak terlibat dengan masalah ini. Cukup papa saja yang merasa menyesal hampir membuat kamu menjadi bagian keluarga Barm."
"Tidak pah, aku memang tidak ingin menikah dengan Daniel, papa tidak usah khawatir, aku sama sekali tidak mencintai Daniel. Jadi ayo kita batalkan pernikahan ini tanpa beban apapun."
"Maaf kan papa Bel, papa terlalu memaksakan kehendak papa!" David memeluk anak kesayangannya. Dia merasa menyesal atas semuanya. Memaksa Bela untuk menikah dengan Daniel. dan sekarang dia harus membatalkannya di saat berita pernikahan sudah terdengar oleh semua rekan-rekan bisnisnya.
David sudah memikirkan matang-matang. Dia harus mengambil resiko dari pembatalan ini. sahamnya yang melonjak karena isu pernikahan kemungkinana akan turun saat mendengar pengumuman pembatalan.
Namun ia harus melalui ini semua dari pada harus menyerahkan putrinya kepada Bram.
"Lebih baik sekarang kamu pulang,tunggu di rumah. papa harus menemui Bram untuk membatalkan pernikahan kalian." David beranjak dari duduknya. dan menyuruh Bela untuk segera pulang.
"Bela ikut pah, Bela tidak ingin terjadi sesuatu kepada papa seperti kakek." Namun bukannya pulang, justru Bela ingin pergi bersama David menemui Bram.
"Kamu tenang saja, papa lebih tenang jika kamu berada di rumah."
"Tapi pah,..." Bela terus memaksa. Dia khawatir jika Bram melukai papanya.
"Papa mohon dengarkan papa. lagipula papa tidak akan sendirian ada om Agam yang akan menemani papa." Ternyata David akan menemui Bram bersama Agam. Dan itu membuat Bela sedikit tenang.
__ADS_1
"Baiklah pah, papa hati-hati!" Ucap Bela membiarkan papanya pergi.
Bela pun segera keluar dari kantor papanya untuk pulang, dan menunggu kabar dari papanya. Namun perasaan Bela tidak tenang. Bela merasa akan teradi sesuatu kepadanya. Semoga itu hanya perasaannya saja.