
Sendiri lagi, sepi lagi. Itu yang dirasakan Bela saat Rangga sudah kembali lagi ke indonesia. Ingin sekali memintanya untuk lebih lama menemani Bela. Namun dia tidak boleh egois. Karena Rangga juga punya kewajiban yang harus di jalankannya.
Ada waktu 2 minggu sampai pertemuan Berikutnya. Karena di hari Bela bertemu dengan Rangga kembali adalah Hari pertemuan dua keluarga. Bela sudah tidak sabar menantikan hari itu.
Bela sudah rapi dengan pakaiannya. Hari ini dia akan menemui Daniel. Karena sangat tidak adil bagi Daniel jika masih mengharapkan hubungan mereka kembali, sedangkan Bela sudah memiliki rencana masa depan dengan pria lain.
Bela sudah meminta izin kepada Rangga bahwa dirinya akan pergi menemui Daniel. Dia takut jika Rangga mengetahui tentang pertemuannya dengan Daniel dari mulut orang lain.
Bela sudah duduk menghadap jendela sambil menikmati kopinya menunggu kedatangan Daniel. Daniel mengatakan dirinya akan sedikit telat karena ada sedikit masalah di penerbangannya.
"Sorry, nunggu lama!"
"Gak masalah!"
"Apa yang ingin kamu tanyakan, apakah om Bram tidak menjelaskan secara menyeluruh?"
"Aku harus mendengar langsung dari mulut kamu Bel, alasan kamu membatalkan pernikaha kita."
"Ada banyak alasannya. Salah satunya adalah karena sejak awal kita berteman, membuat aku sulit untuk jatuh cinta kepada kamu Dan, aku sudah mencobanya, tapi aku tidak bisa membohongi diri sendiri. Aku mencintai orang lain."
"Aku mengerti, aku juga tidak bisa memaksakan pernikahan ini jika tidak di dasari cinta. Siapa orang yang beruntung mendaptkan cinta kamu?" Daniel sangat pengertian, yang awalnya Bela menyangka Daniel akan marah, tetapi justru Daniel sangat legowo.
"Kamu mengenalnya Dan. Aku akan menikah dengannya, aku harap kamu mengosongkan waktu, datang ke pernikahanku nanti."
"Dengan siapapun itu, aku ingin kamu selalu bahagia." Ucap Daniel berbesar hati.
"Aku juga berharap kamu segera menemukan wanita yang benar-benar mencintai kamu. Aku permisi Dan." Bela sudah selesai dengan urusannya bersama Daniel. Dia tidak ingin berlama-lama, karena itu sangat tidak nyaman.
...※※※※...
Fikiran Agam sedang kalut, pekerjaanya sedang bermasalah setelah pemutusan kontrak kerja dengan David.
Sudah lama dia tidak duduk di tempat ini, tempat pertemuan pertamanya dengan Bela. Dengan memandang Dj yang mengatur musik di depan sana. Agam membayangkan yang sedang bermain Dj adalah Bela.
Sesekali meneguk minuman dengan kandungan alkohol rendah. Mengingat kembali kenangan- kenangan dengan Bela di tempat ini.
"Hi bro, gw kira loe gak akan datang ke tempat ini lagi!" Tegur seseorang mengagetkan Agam.
"Kapan loe balik? bukannya di singapura lagi banyak kerjaan!" Tanya Agam yang terkejut melihat jery ada di club yang sama dengannya.
"Tenang bos, gw udah handle semua." Jawab Jery sebelum meneguk minumannya.
Jery yang juga ada di club itu, merasa mengenal sosok yang sedang duduk tak jauh darinya, setelah di dekati ternyata dia dalah bosnya.
"Loe emang top. gak salah gw pilih orang!"
Jery adalah teman nongkrong Agam. Jery yang baru saja kena PHK di kantornya mendaptkan tawaran pekerjaan dari Agam. Agam yang pada saat itu kelabakan karena harus bulak-balik singapura- jakarta membuatnya butuh seseorang yang dapat di percaya untuk mengurus bisnisnya di sana. Jadilah Jeri yang mengurus bisnis Agam di singapura, sementara Agam fokus dengan bisnisnya di indonesia.
"Terus, loe ngpain kesini? kerjaan, rumah tangga, atau selingkuhan?" Tanya Jeri menebak-nebak. Karena Biasanya Agam akan berada di club jika ada masalah dengan yang jery sebutkan tadi.
__ADS_1
Jery juga salah satu orang kepercayaan Agam, Dia tahu semua cerita cinta Agam, bahkan dengan Belapun Jeri tahu. karena dia juga menyaksikan bagaimana seorang Agam bertemu pertama kali dengan Bela. meskipun Jery tidak mengenal Bela.
"Semuanya. Gak sesuai dengan yang gw harapkan!" Jawab Agam menguk minumannya.
"Sabar bro. loe pasti nemu jalan keluarnya!"
"Terus loe ngpain kesini? ada masalah sama julie?" Tanya Agam balik.
"No. kami baik-baik aja. Gw cuma kangen tempat ini. lagi pula besok gw harus berangkat lagi. Ada pegawai baru di kantor, setidaknya gw harus ada di hari pertama dia kerja."
"Pegawai Baru?"
"Pegawai magang bos, gw kan udah kirim laporannya!"
"Ya, mungkin ke skipp. Pokoknya loe urus aja semuanya." Ucap Agam,mempercayakan semuanya kepda Jery.
Agam benar-benar sedang tidak fokus dalam pekerjaannya. setelah kehilangan keberadaan Bela, fokusnya hilang.
"Oke bos. Lupakan masalah pekerjaan, kita nikmati malam ini." Jery menuangkan minuman ke gelas Agam.
...※※※※...
Karena sebentar lagi acara pertemuan dua keluarga akan berlangsung, Rangga harus segera memberitahukan kepada orang tuanya di kampung. Dengan mengendarai mobil baru pilihan Bela, Rangga pulang untuk menemui orang tuanya.
"Bapak.... Anakmu pulang...!!" Teriak ibu Rangga memanggil suaminya.
"Ibu baik nak, kamu bagaimana kabarnya?"
"Rangga juga baik bu!"
"Wah, kamu gagah sekali nak. Itu mobil kamu?" Tunjuk ibunya.
"Iya bu." senyumnya penuh kebanggan.
"Kenapa bu teriak- teriak?" Ucap Bapak Rangga menghampiri.
"Anakmu datang pak, lihat dia bawa mobil Alus (Bagus) pak!" Ibunya pun sangat bahagia melihat anaknya ada perubahan.
"Bapak apa kabar?" Rangga juga mencium tangan Bapaknya dan juga memeluknya.
"Bapak baik nak!"
"Lebih baik kamu istirahat dulu nak, nanti ibu panggil kamu untuk makan!"
"Iya bu, Rangga rindu masakan ibu!"
Rangga masuk kedalam kamarnya, kamar yang sudah berbulan-bulan tidak di tempatinya namun masih terlihat bersih tak berdebu, pasti karena ibunya yang sering membereskan kamarnya. Walaupun tidak sebesar dan semewah kamar yang ia tempati di jakarta, namun kamarnya ini sudah menyimpan banyak sekali perjuangan menuju kesuksesannya saat ini.
Rangga mengambil helm di atas meja di dalam kamarnya. Dia mendekatkan ke hidungnya, menghirup aroma yang tertinggl di helm tersebut. Meskipun sudah tidak beraroma wangi, namun kenangan dengan helm itu yang membuat Rangga tersenyum. Helm yang di pakai Bela dan juga dilempar Bela ke perutnya. Kenangan saat dirinya pertama kali membayangkan wajah cantik Bela. Kenangan saat dirnya menyadari telah jatuh cinta kepada Bela.
__ADS_1
Setelah menikmati masakan ibunya, Rangga beserta ibu dan bapaknya bersantai di ruang keluarga, barulah disana Rangga mulai meminta restu orang tuanya.
"Pak, bu Rangga ingin meminta doa restu dari bapak dan ibu. Rangga sudah menemukan perempuan yang akan dijadikan istri Rangga. dan Rangga juga sudah melamarnya."
"Siapa Ngga? Kenapa tidak kamu kenalkan dulu kepada kami?" Tanya sang ibu. Karena umumnya si wanita akan diajak kerumah prianya untuk di kenalkan kepada kedua orangtua sebelum lamaran diadakan.
"Rangga minta maaf tidak memperkenalkannya secara langsung, kebetulan dia berada di singapura. Tapi, ibu dan bapak sudah mengenalnya!"
"Kami mengenalnya, siapa nak?" Tanya Bapaknya penasaran. Karena Rangga jarang sekali memiliki teman wanita.
"Dia Bela pak, ibu dan bapak ingat waktu ada mahasiswa dari jakarta datang kesini?" Rangga mencoba mengingatkan orang tuanya.
"Iya ibu ingat. Tapi Bela yang mana Ngga?"
"Ini pak,bu!" Rangga menunjukan photo Bela di Hpnya.
"Wah, neng geulis ini. kalau ini bapak ingat. Kamu selalu saja marah-marah kalau liat neng Bela." Akhirnya Bapaknya mengingat Bela.
"Bapak ingat kalau lihat yang cantik-cantik!"
"Ibu juga cantik!"
"Tapi Nak, apa keluarganya menerima kamu? Apa mereka tahu keadaan kita di kampung, asal usul kamu yang jelas jauh berbeda dari dia?" Ibunya justru sangat khawatir jika Rangga menikah dengan Bela, perbedaan status yang membuat ibunya khawatir.
"Iya Nak, Kenapa kamu tidak cari yang biasa saja nak?" Ternyata itu juga yang dirasakan sang bapak.
"Kenapa bapak dan ibu jadi merendah begini. memangnya kita kenapa pak,bu?"
"Kamu harus sadar Nak, kita ini bukan orang kaya, kamu saja beruntung bisa kuliah di luar negri dan sekarang jadi pengusaha muda. Tapi mereka pasti jauh lebih dari kamu Nak. Ibu takut kamu di rendahkan."
"Ibu tenang saja. Pak David tidak begitu dan Bela juga tidak begitu bu, apa lagi Bela sudah tahu kondisi kita."
"Jadi calon mertua kamu pak David. Kamu sudah menceritakan keadaan kami di sini?"
"Pak David sudah tahu kalau Rangga dari kampung dan bisa kuliah karena mendaptkan beasiswa. Tapi Pak David tidak masalah dengan latar belakang kita. Dia hanya ingin laki-laki yang bisa membuat anaknya Bahagia."
Rangga menjelaskan tentang keluarga Bela.
"Kalau kamu sudah yakin dengan keputusanmu, bapak dan ibu bisa apa, selain merestui kamu."
"Terimakasih pak, bu. Rencananya malam minggu Besok Rangga akan memperkenalkan ibu dan Bapak kepada keluarga Bela, dan juga membicarakan tentang penikahan kami."
"Bapak dan ibu ikut kamu saja."
"Ya sudah Ibu akan siap-siap, Berarti besok kita harus segera berangkat?" Ibunya sangat antusias untuk segera bertemu dengan calon menantunya.
"Iya bu." Ucap Rangga tersenym melihat ibunya bahagia.
"Ya sudah, Bapak teruskan saja mengobrol, ibu mau siap-siap untuk berangkat ke jakarta." Bapak Rangga hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat istrinya sangat bersemangat.
__ADS_1