Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Berjuang Bersama


__ADS_3

"Gam, kamu yakin kita masuk sekarang?" Tanya Bela menggenggam erat lengan Agam, nampak wajah gelisahnya terlihat jelas, jantungnya berdetak kencang selama perjalanan menuju rumah orang tua Agam, dan semakin bertambah ketika sampai dan berdiri di tepat di depan pintu.


"Iya sayang, masa kita harus pulang lagi?"


"Tapi Gam, aku sangat gelisah!"


"Kamu tenang ya sayang, coba tarik nafas dan hembuskan perlahan." Ucap Agam yang diikuti Bela. Bela menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan sesuai apa yang di intruksikan Agam.


Sebelumnya Agam sudah memberitahukan papanya bahwa dia akan berkunjung dengan membawa wanita pilihannya, Agampun mengatakan untuk berhenti menjodohkannya dengan Reyna, karena itu tidak akan terjadi.


Dan Harunpun mempersilahkan Agam untuk datang dan membawa wanita pilihannya itu. Harun tidak keberatan jika itu bukan Reyna. Namun berbeda dengan mamanya, ia sangat ingin Agam dan Reyna kembali.


Dengan menggenggam erat tangan Bela, Agam masuk kedalam rumah orang tuanya. Dia merasakan kegugupan di diri Bela dari tangannya yang sangat dingin.


"Selamat malam mah, pah!" Sapa Agam kepada kedua orang tuanya.


"Selamat malam om, tante!" Begitupun Bela yang juga menyapa calon mertuanya itu. Sebisa mungkin Bela tenang dan tetap menebar senyumannya.


"Selamat malam juga, silahkan duduk!" Ucap mamanya memeprsilahkan kepada Bela dan Agam untuk duduk.


Ternyata Orang tua Agam sudah menunggu anaknya, karena merekapun penasaran saat anaknya mengatakan akan membawa seseorang wanita. karena ini kali pertamanya Agam membawa wanita dan diperkenalkan kepadanya, karena sebelumnya dengan Reyna Harun sendiri yang membawanya.


"Kamu memang pandai memilih wanita Gam, pantas saja kamu sangat bersikukuh dengan pilihan kamu sendiri!" Puji Harun kepada Anak laki-lakinya.


Agam tersenyum merasa lega, karena mama dan papanya nampak menerima Bela saat pandangan pertamanya, namun Agam mulai Gelisah karena orang tuanya Belum memgenali siapa sebenarnya wanita di sampingnya itu.


"Jadi, siapa nama kamu?"Tanya Mamanya kemudian.


Disanalah Agam mulai tegang, diliriknya Bela yang masih cantik dengan senyumannya, wanitanya tidak mengetahui apa yang akan terjadi jika dia menyebutkan namanya, ingin sekali ia mencegah Bela untuk menyebutkan namanya, tapi, itu tidak mungkin.


"Saya Bela Davinson."


"Siapa? Davinson? jadi kamu anaknya David?" Sontak saja harun naik pitam. mendengar nama musuh nya terucap membuat amarahnya begejolak. Bisa- bisanya Agam membawa cucu dari musuhnya kedalam rumahnya.

__ADS_1


"I-iya...Om" Jawab Bela terbata, dia terkejut dan juga bingung melihat reaksi papanya Agam.


"Ooohh... jadi kamu yang membuat rumah tangga anak saya berantakan, kamu wanita yang selama ini menjadi pengganggu di hubungan Agam dan Reyna!" Ucap mama Agam menambahkan. Mamanyapun tak kalah marahnya.


Bela hanya menunduk mendengar setiap tuduhan yang terlontar, dia tidak bisa membuat pembelaan dari itu semua, karena masa lalunya memang hal yang salah dan Bela mengerti jika mamanya Agam berkata demikian.


"Hubungan aku dan Reyna tidak ada sangkut pautnya dengan Bela," Ucap Agam sambil mengenggam erat tangan Bela memberi kekuatan


"Papa tidak akan menyetujui hubungan kalian, apa lagi dia adalah keturunan Davinson. Bawa wanita lain selain anak cucu Davinson!" Bela memejamkan matanya di setiap nama kakeknya disebut.


"Tidak pah. Aku akan tetap bersama Bela, lagi pula aku kesini hanya ingin memperkenalkan Bela sebagai calon istriku, aku tidak perlu restu atau persetujuan dari papa, dan mama." Ucap Agam tegas. Dia tidak bisa melawan amarah papanya dengan emosinya. Sebisa mungkin Agam tetap hormat kepada orang tuanya.


"Ayo kita pergi dari sini!" Agam menarik tangan Bela, untuk segera pergi dan meninggalkan rumah Harun.


"Permisi" Ucap Bela sebelum mengikuti langkah Agam.


"Lepas Gam! Bela menarik tangannya ketika sudah berada di luar rumah, mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Agam.


Sebenarnya ada apa? Mengapa papamu bereaksi seperti itu saat mendengar namaku?" Tanya Bela bingung dengan situasi yang di alaminya di dalam, karena dia tidak mengerti kemarahan papa Agam tadi, apa lagi mereka menyebut nama kakeknya.


"Bicaralah Gam, apa yang sedang kamu sembunyikan?" Tanyanya lagi, Bela berusaha tetap tenang, ia tetap mengontrol amarahnya. bagaimana dia tidak marah, papa Agam begitu memandang rendah dirinya dan keluarganya.


"Sebenarnya, Ada kejadian di masa lalu yang membuat papaku sangat membenci kakek kamu!" Ucap Agam begitu dirinya sudah siap dengan kata-katanya.


"Kejadian apa?"


"Dulu perusahaan papa pernah hancur, dan Papaku berpikir yang membuat perusahaannya hancur adalah pak Davinson."


"Gak mungkin, kakekku gak mungkin berbuat seperti itu!" Bela terkejut, dia tidak percaya dengan apa yang Agam katakan.


Walaupun dirinya tidak mengenal sang kakek, tapi Bela tahu dari cerita yang selalu papanya ceritakan, apa lagi papanya yang sangat mengagumi sang kakek. David pernah mengatakan bahwa papanya adalah panutannya, terlihat dari cara David bersikap. Jadi tidak mungkin kakeknya berbuat seperti itu.


"Iya, aku juga tidak percaya, dan aku masih menyelidiki itu semua!" Sudah selama ini Agam menyelidik tentang hubungan Harun dengan Davinson, tapi dia belum juga menemukan titik terang.

__ADS_1


Agam tak mendengar Bela mengajukan pertanyaan lagi, Agam sedikit lega, karena Bela tidak bereaksi berlebihan, Agampun membukakan pintu mobil untuk Bela, karena sedari tadi mereka berdebat di depan rumah orang tua Agam.


"Gam, kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?"Tanya Bela lagi.


Agampun menutup pintu mobilnya lagi, rupanya perdebatan ini masih sangat panjang.


"Maafkan aku!" Ucap Agam memegang kedua pundak Bela.


"Jika kamu tahu, aku takut kalau kamu tidak menerimaku kembali."


"Setidaknya kamu mengatakan sebelum kita datang kesini, aku merasa kamu tidak mempercayaiku!" Ucapnya lirih,


"Kamu salah sayang, aku sangat percaya kamu, aku hanya tidak ingin kamu terbebani."


"Aku tidak mau hal ini terjadi lagi, jika ada yang masih kamu tutupi, lebih baik kita pikirkan ulang lagi semuanya!" Ucap Bela mengancam. lebih tepatnya dia memberi ultimatum Agar Agam tidak lagi menyembunyikan sesuatu, apalagi hal penting seperti ini.


"Jangan sayang, maafkan aku! Aku janji tidak akan menutupi apapun lagi!" Agam meraup wajah Bela, menatap keduamatanya.


"Janji?"


"Janji. Tapi aku mohon kamu jangan pernah mengucapkan kata-kata perpisahan lagi!" Agam memeluk Bela, dia tidak rela jika Bela harus lepas lagi dari pelukannya, pergi meninggalkannya.


...※※※※...


Di dalam rumah Harun, istrinya masih mengomel gara-gara kehadiran Bela.Wanita yang dia tahu hanya sebatas nama saja. Nama yang selalu Reyna sebutkan di setiap curhatannya.


"Bagaimana kamu tidak mengenali cucunya Davinson mas? bahkan kamu memujinya tadi!" Omelan terlontar dari mamanya Agam


"Aku tidak tahu, dimana pikiran Agam, bisa-bisanya membawa gadis itu kesini!"


"Pantas saja Reyna tersingkirkan. Matanya sangat jeli jika itu menyangkut wanita. buah jatuh memang tak jauh dari pohonya!" Ucapnya, memutar kembali memori buruk yang pernah terjadi pada dirinya bertahun-tahun silam.


"Apa kamu akan membahas itu lagi?"

__ADS_1


"Kenapa? kamu sudah berjanji akan selalu mendengarkan jika aku membahas ini. Kamu muak mendengarnya? kelakuan kamu di masa lalu masih sangat aku ingat, bahkan sampai detik ini. Rasa sakit yang kamu beri, masih menyisakan bekas luka di hati ini." Mama Agam mengeluarkan semua isi hatinya, kejadian di masa lalu yang sangat menyakitkan, menorehkan luka yang begitu dalam, bahkan belum sembuh meski tahun telah berkali-kali berganti.


"Kamu bisa terus mengungkit itu dan aku akan terus meminta pengampunan kamu!" Ucap Harun menggengam tangan istrinya.


__ADS_2