Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Hak Arka


__ADS_3

Bela sudah mendaratkan kakinya kembali ke negri singa. Hembusan angin malam mengingatkan kesendiriannya di malam itu. Namun dia tetap tidak merasa kesepian, karena hatinya saat ini sedang bahagaia dengan lancarnya segala urusan saat kepulangannya kemarin.


Hubungan jarak jauh yang harus dijalaninya bersama Rangga tak menjadi kekhawatirannya. Karena dia sudah menanamkan kepercayaanya. Bela yakin bahwa Rangga bisa menjaga cintanya. Rasa cinta hanya untuk Bela seorang.


Tit...tit...tit...


Suara klakson mobil menyadarkan Bela dari semua lamunannya.


Bela membungkukan Badan untuk melihat siapa yang berada di dalam mobil tersebut.


Dari dalam mobil seorang wanita menurunkan jendelanya seraya bertanya.


"Kamu Belakan? ayo naik!" Ajaknya tersenyum ramah, nampak wanita itu tidak sendiri Bela melihat seorang pria di sebelahnya. Mungkin saja itu kekasihnya. Rasanya canggu berada diantara mereka.


"Kak julie...! Ucapnya begitu saja, mungkin Bela terkejut, karena seorang julie yang baru saja ia kenal menawarkan tumpangan seolah-olah mereka teman dekat.


Julie sangat tahu bahwa gadis di depannya saat ini sedang merasa canggung.


"Jangan sungkan ayo naik!" Ucapnya terdengar memaksa.


Bela langsung masuk kedalam mobil, dia menghargai kebaikan julie.


"Terimakasih kak!"


"Oh ya Bel, kenalkan kekasih aku. Jery!" Sesuai dugaannya pria disamping julie adalah kekasihnya.


"Salam kenal." Bela mengangguk canggung. Dia sama sekali tidak bisa melihat bagaimana wajah kekasih julie, karena keadaan malam hari yang gelap.


"Kebetulan aku habis menjemput jery, terus melihat kamu yang melamun di jalan, sementara taxi kosong sudah lewat beberapa kali!" Ucapnya yang membuat Bela malu. Bela tidak sadar bahwa dirinya tengah melamun tadi.


"Oh my god, aku tidak menyadarinya kak!"


"Sepertinya kamu sedang banyak fikiran!" Tebak julie, Julie sangat berusaha Akrab dengan Bela. Dia merasa ada kesamaan dengan Bela dan yakin mereka berdua akan cocok dalam pekerjaan maupun pertemanan.


"Mungkin seperti itu!" Ucap Bela tak ingin menjelaskan lebih rinci.


Tak lama mobilpun berhenti tepat di depan asrama tempat Bela tinggal. Bela turun dengan mengeluarkan kopernya di bantu julie yang juga ikut turun.


"Terimakasih kak sudah mengantarkan aku sampai depan asrama!"


"Sama-sama, sampai bertemu besok di kantor!" Ucap julie sebelum masuk kedalam mobil dan melajukan mobil meinggalkan deoan Asrama.


Bela menarik kopernya untuk masuk kedalam asrama dengan masih memikirkan tentang julie.


Sikap Julie yang sangat terbuka dan baik kepada Bela membuatnya merasa canggung, karena jabatan yang Julie duduki jauh dari Bela, Dia khawatir jika orang-orang bergosip tentangnya.


Bela juga tidak mengerti mengapa Julie sangat baik, bahkan di pertemuan pertama mereka. mungkin karena sama-sama dari indonesia. Namun tetap saja Bela tidak mengerti dengan semua itu.


"Kapan datang Bel?" Tanya sheila begitu masuk kekamarnya.


"Baru saja, dari mana?

__ADS_1


"Aku dari supermarket depan, Besok hari pertama kamu kerja?" Tanya sheila sambil bersiap untuk tidur.


"Iya, aku udah gak sabar!"


"Lebih baik kamu cepat tidur, dan bangun besok pagi dengan keadaan fresh."


Belapun langsung membaringan tubuhnya, dan meninggalkan barang-barangnya yang masih di dalam koper.


...※※※※...


"Kenapa akhir-akhir ini loe gelisah!" Tanya Naya yang melihat Reyna selalu murung.


Naya menemani Reyna di rumahnya sambil mengobrol santai menikmati beberapa kaleng minuman. Beberapa hari ini dia melihat sahabatnya merasa lelah, karena harus menjaga anaknya yang sedang di rumah sakit.


"Gw hanya khawatir tentang kesehatan Arka saja!"


"Loe gak bisa bohong Rey, Gw tahu ini bukan tentang kesehatan Arka!" Naya tidak percaya kalau Reyna mengkhawatirkan Anaknya, jelas-jelas yang membuat anaknya terbaring di rumah sakit adalah dia sendiri. Pasti ada sebab lain yang membuatnya seperti itu.


"Gw gak tahu apa yang harus gw lakukan!"


"Coba loe cerita semuanya Rey!"


"Gw punya firasat kalau Agam akan tahu siapa sebenarnya Arka, dan gw belum tahu langkah apa yang gw ambil nanti."


"Bagaimana dia bisa tahu, bukankah hanya kita saja yang tahu rahasia ini?"


"Agam mulai curiga, itu dimulai saat Agam mengetahui bahwa golongan darah mereka yang berbeda!"


"Oh... ****.... Kalau Agam tahu Rahasia ini, loe habis Rey, loe gak akan dapat sedikitpun kekayaan Agam." Naya sangat tahu perjanjian orang tua Reyna dulu. Di sini posisi Reyna salah. dia telah menipu semua orang, akibatnya sudah jelas. Dia tidak akan mendaptkan apapun.


"Loe harus minta hak Arka dari sekarang. loe fikirkan kapan waktu yang tepat untuk meminta itu semua dari Agam, hanya loe yang tahu kapan Agam dalam kondisi baik mau pun kondisi yang memungkinkan untuk dia melakukan yang loe mau." Naya memberi masukannya, terbukti dari masalah-masalah Reyna sebelumnya akan di selesaikan oleh ide berliannya Naya.


"Gw lega Nay, Makasih yah loe selalu ada saat gw kebingungan, dari dulu sampai sekarang loe selalu ada buat gw."


"Itu gunanya sahabat Rey." Naya mengatas namakan semuanya demi persahabatan padahal dia tengah meracuni Reyna dengan ide-ide busuknya.


...※※※※...


Agam bangun setelah mendengar tangisan Arka. Dia melirik jam yang ada di tangannya,


"Rupanya sudah pagi." Ucapnya langsung menghampiri ranjang Arka.


Agampun menggendong Arka untuk menenangkan tangisannya. Tangisannya selalu berhenti jika di gendongan Agam. Lalu agam membaringkan Kembali Arka di tempat tidur, di perhatikan anaknya yang kembali memejamkan mata.


"Kenapa mama kamu harus berbohong?"


Tanyanya kepada anak yang belum mengerti apapun. Rupanya Agam terganggu dengan Ucapan Bela, prihal Reyna yang berbohong tentang keberadaan Agam saat kecelakaan itu terjadi.


Sekeras apapun Agam berfikir namun dia tidak menemukan jawabannya. Kenapa Reyna harus berbohong? apa mungkin Reyna menyembunyikan sesuatu? Reyna seolah-olah tahu bahwa Dia dan Arka berbeda golongan darah. Agam sama sekali belum menemukan jawaban yang masuk akal.


Memikirkannya seorang diri membuat kepalanya ingin pecah. Kali ini dia tidak ada tempat untuk berkeluh kesah, Jika dulu dia mempunyai David namun sekarang dia harus memendamnya sendiri.

__ADS_1


"Mas, kamu bisa pulang sekarang. Bukankah kamu ada rapat penting?" Reyna datang untuk bergantian menjaga Arka.


"Iya, tapi nanti siang aku datang untuk jemput kalian."


"Apa Arka sudah boleh pulang?"


"Iya, Tadi dokter sudah membolehkan pulang, setelah infusnya habis!"


"Syukurlah, aku senang sekali Arka sudah boleh pulang!"


"Dokter juga berkata Agar kita menjaga Arka dengan lebih ekstra lagi!"


"Apa kita tambah Babysister lagi untuk Arka? Usul Reyna, kalau ditambah satu jumlah semua Babysister yang mengurus seorang Arka menjadi tiga.


"Untuk Apa? di rumah sudah ada kamu dan dua Babysister. Tinggal kamu saja yang harus lebih fokus memgawasi Arka." Namun saran itu di tolak Agam.


"Kamu masih saja menyalahkan aku tentang kejadian kemarin!" Reyna yang tersinggung dengan ucapan Agam menjadi marah.


"Aku tidak menyalahkan siapapun, aku hanya minta kamu lebih fokus lagi dalam menjaga Arka."


"Oke baiklah, aku akan lebih fokus, Bahkan aku siap berada di rumah 24 jam. Tapi, dengan satu syarat!" Reyna menemukan waktu yang pas untuk meminta hak Arka.


Agam tidak habis fikir ada syarat yang Reyna ajukan padahal ini untuk anaknya sendiri.


"Syarat? ini untuk Arak anak kamu!"


"Syarat yang akan aku ajukan juga untuk kepentingan Arka!" Reyna berdalih ini semua demi kepentingan anaknya, dan memang seperti itu syarat ini menguntungkan untuk Reyna dan juga Arka.


"Sebutkan syarat itu!" Agam sudah yidak peduli lagi, dia hanya tidak ingin berdebat lebih lama dengan Reyna, itu melelahkan.


"Aku mau kamu memberikan semua saham kamu di perusahaan untuk Arka!"


Agam terkejut mendengar syarat dari Reyna.


"Kamu sadar Rey, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan tentang saham perusahaan!"


"Ini waktunya Agam!"


"Untuk apa kamu meminta itu, perusahaan yang nantinya pun untuk Arka!"


"Aku hanya ingin kejelasan dari sekarang. Sejujurnya aku sudah tidak percaya dengan kamu mas, Bisa saja kelak kamu mengingkari janji kamu. Bisa saja kelak kamu memberikan perusahaan kamu untuk anak lain." Reyna sudah menyusun siasat agar Agam mau memberikan hak Arka.


"Apa maksud kamu dengan anak lain?"Agam semakin dibuat tercengang. Karena semua tuduhan Reyna yang sama sekali tidak beralasan.


"Aku tahu mas, akhir-akhir ini kamu berubah. sikap kamu terhadap Arka pun berubah."


"Aku lelah terus kamu curigai. Baiklah aku ikuti semua keinginan kamu. Aku akan memberikan semua yang menjadi hak Arka menjadi atas namanya sendiri.


Puas. aku permisi!"


Agam akhirnya membuat keputusan untuk memberikan semuanya kepada Arka dan juga Reyna. Dan memang perusahaan itu bukan sepenuhnya milik Agam. Justru Agam ada perusahaan lain namun Agam tetap menyimpann Rapat. Karena Reyna hanya tahu perusahaan tempat Agam bekerja saja.

__ADS_1


"Memang sudah seharusnya begitu!" Ucap Reyna yang masih terdengar jelas di telinga Agam.


Reyna merasa senang, karena sangat mudah meminta itu semua dari Agam. Setelah mendaptkan yang di inginkannya, sekalipun Agam meninggalkannya, Reyna sudah siap. Namun semoga saja itu tidak pernah terjadi. karena jika itu terjadi Reyna harus turun tangan mengurus perusahaannya, sedangkan Arka masih kecil belum mengerti apapun. Arka masih harus belajar banyak dengan Agam. Agar kelak dia bisa mengatur perusahaannya sendiri.


__ADS_2