Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Pesta Maya


__ADS_3

Bela sudah sampai di tanah air. Dia menengok ke kanan dan ke kiri, mencari papanya yang akan menjemput, sudah setengah tahun dirinya tidak bertemu David.


Bela melihat papanya tak jauh dari tempat dirinya berdiri, melihat David membuat Bela semakin menyadari jika hubungan dengan Agam sulit untuk di jalani.


"Apa kabar sayang, papa kangen sekali!"David memeluk putri satu-satunya.


"Bela baik pah, bela juga kangen sekali!"


"Papa lihat itu, kamu sudah melewati semuanya dengan baik sayang!"


"Kamu tidak akan pulang dulu ke rumah?"


"Maaf pah, sebenarnya Bela masih kangen papa, tapi Bela harus segera ke Bandung, atau papa saja ikut Bela, pasti Maya senang!"


"Maaf sayang, Kerjaan papa tidak bisa di tinggal, papa titip salam saja untuk Maya."


Mamang rencana kepulangan Bela kali ini untuk menghadiri pertunangan sahabatnya. Dan papanya datang kebandara hanya untuk bertemu anaknya, melepaa kerinduan, walaupun hanya sekejap.


Sambil menikmati hidangan makan sianganya, Bela sedikit bercerita tentang kegiatannya di singapura, dan kepindahannya ke apartemen pemberian Rangga, dan itu yang David selalu inginkan. Namu Bela masih merahasiakan tentang pekerjaannya dan juga pertemuannya kembali dengan Agam.


Sebisa mungkin Bela harus menutupi tentang Agam. Karena dia belum siap berdebat kembali dengan David.


"Papa yakin tidak ikut saja ke Bandung?"


"Maaf sayang, papa titip salam aja!"


" Jaga anak saya, dan bawa mobil hati-hati!" Ucap David kepada Asistennya.


Mobilpun melaju melewati jalan menuju Bandung. Besok adalah hari spesial bagi Maya, sebagai sahabat Bela harus menemani Maya sehari sebelum acara di mulai.


Sepanjang perjalanan Bela hanya melihat keluar jendela, mengingat kembali kenangan sewaktu dirinya bersama Agam melewati jalan yang sama. saat dimana semuanya berawal.


"Bela... gw kangen banget. loe dari bandara langsung kesini?" Maya berlari memeluk sahabatnya, ketika Bela turun dari mobil.


"Gw juga kangen banget, Tadi gw langsung kesini, papa juga titip salam, katanya maaf gak bisa datang!"


"Gak aneh lagi, om David memang super sibuk, Masuk Bel...!" Ajak Maya masuk kedalam villanya.


"Gw kira acaranya di rumah nenek, ternyata di sini!"


Akhirnya Bela menginjak kembali villa yang menjadi saksi bisu pernyataan cintanya dahulu.


Bela Berjalan sambil melihat sekeliling, ada beberpa pekerja yang sedang mendekorasi untuk acara besok. ada juga yang tengah duduk beristirahat.


"Loe bisa istirahat disini, dan ini gw bikinkan kebaya seragam!" Maya membuka kotak yang sudah disiapkan di dalam kamar yang akan menjadi kamar Bela selama disana.


Belapun membuka kotak dan melihat isinya.


"Waahh... cantik banget!" Ucapnya saat melihat kebaya berwarna peach.


"Oh ya, loe utang penjelasan Bel!" Maya menatap Bela serius.


"Penjelasan apa?" Tanya Bela tidak mengerti.


"Siapa yang ada di apartemen loe waktu itu? cowok baru?" Tanya Maya mulai mengintrogasi sahabatnya.


"Cowok apa? Gak ada!" Ucapnya yang masih sibuk dengan kebayanya.


"Yakin gak ada, sumpah?" Maya memaksa, dia merasa ada yang Bela sembunyikan.


"Dia Agam!" Jawabnya kemudian, Bela hanya menundukan wajahnya. dia khawatir Maya akan bereaksi berlebihan.


Benar saja, Maya yang terkejut mengguncang tubuh Bela.


"Siapa? Agam? loe ketemu dia lagi?" Tanyanya yang mendaptkan anggukan dari Bela.

__ADS_1


"Sekarang dia single May!"


"Terus dia ngajak balikan lagi?" Tanya Maya, yang mendapati anggukan dari Bela.


"Gw bingung, loe tahukan reaksi papa dulu, saat tahu tentang gw dan Agam." Salah satu yang jadi pertimbangan Bela adalah Papanya. dia tidak siap hubungannya kembali renggang.


"Gw tahu Agam sampai saat ini masih cinta sama loe, terlepas kesalahan di masalalunya. Sekarang gw tanya, loe masih cinta gak sama Agam?" Maya menatap sahabatnya.


Bela menahan tawanya, bukannya menjawab Bela malah balik bertanya.


"Menurut loe gw masih cinta gak sama Agam?"


"Aduh Bela, loe bisa gak berhenti bercanda. Gw lagi serius nih!"


"Udah ah, nanti aja bahasnya. sekarang gw bantuin loe luluran, biar besok kulit loe ini bersinar!"


Bela mengalihkan pembicaraannya, bukan karena tidak mau terbuka dengan Maya, tapi Bela masih ragu dengan perasaannya sendiri.


...※※※※...


Acara lamaranpun dimulai, banyak tamu yang berdatangan, ada beberapa yang Bela kenal ada juga yang baru dilihatnya.


Diantara yang Bela kenal ada Daniel beserta keluarganya. Bela sempat ragu untuk menyapa. Sebisa mungkin dia menghindar, Bela berjalan mundur dengan mata masih melihat kearah keluarga Bram. sampai dirinya menabrak dada seseorang!


Bugh...


"Maaf saya tidak...." Ucapnya terpotong, Bela terkejut, ternyata dirinya menabrak seseorang yang tidak pernah dia bayangkan berada di tempat ini.


"Siapa yang sedang kamu hindari?" Tanya Agam menahan bahu Bela. Sedari tadi Agam melihat Tingkah aneh Bela.


Bela melepaskan dirinya dan berbalik menghadap Agam.


"Tidak Ada, aku hanya merasa sesak saja berada di banyak kerumunan!"


"Rupanya sekarang kamu pandai berbohong!" Agam menarik tangan Bela untuk menjauh dari tamu yang lainnya.


"Apakah tidak boleh aku berada di sini?"


"Kenapa kamu selalu menjawab dengan pertanyaan lagi?" Kesal Bela yang tidak mendapatkan jawaban pasti dari Agam.


"Aku hanya ingin membuat kamu penasaran!"


"Terserah. aku juga tidak ingin tahu!" Jawab Bela melangkah menjauhi Agam.


Bukan Agam namanya jika tidak mengikuti Bela.


"Kamu marah Bel?"


"Untuk apa?"


"Oke maaf, Aku di undang Adit. Karena aku tahu kamu pasti ada disini!" Bela menghentikan langkahnya ketika mendengar penjelasan Agam.


Tanpa sepengetahuan mereka berdua, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan.


"Rupanya selama ini kalian masih menjalin hubungan!" Ucap pak Bram.


Sontak saja mereka berdua mengalihkan pandangannya ke arah Bram.


"Seperti yang anda lihat, kami tidak menyembunyikan apapun." Agam meraih tangan Bela untuk di gengamnya di hadapan Bram.


"Sudah saya duga, kamu membatalkan pernikahan dengan anak saya hanya untuk pria seperti dia!"


"Apa maksud anda seperti dia, memangnya anda tahu apa tentang Agam? Jangan bersikap seolah-olah anda adalah pria paling benar." Bela mencengkram erat tangannya, melampiaskan kekesal, dia tidak terima ada yang merendahkan Agam, apa lagi dia adalah Bram, orang yang hanya memanfaatkan dirinya untuk keuntungannya sendiri.


"Beraninya kamu. memang ayah dan anak sama saja!" Ucap Bram geram. diapun pergi meninggalkan Agam dan Bela.

__ADS_1


Dengan senyum lebar Agam menatap Bela. Dia tidak menyangka Bela berani menatap dan menegur Bram langsung.


"Kenapa kamu sangat marah? aku tidak masalah dengan perkataanya!"


"Aku hanya kesal saja, dia sudah merendahkan kamu!" Ucap Bela yang tidak sadar bahwa saat ini dia tengah membela Agam.


"Aku rela, jika kamu membelaku seperti itu!"


"Aneh kamu!" Ucap Bela pergi meninggalkan Agam.


Dengan langkah cepat Agam mendahului Bela, Dan merengkuh membawa Bela kepelukannya.


"Terima kasih, kamu sudah membelaku!"


Bela terdiam, tangannya ragu untuk menyentuh bagian punggung Agam. Namun hatinya menuntun untuk membalas pelukan Agam.


Agam merasa hangat saat tangan Bela mengusap lembut bagian belakangnya.


"Aku tidak tahu apa yang sedang aku lakukan saat ini. Akupun merindukan pelukan ini. akupun merindukan kamu!"


Agam dan Bela kembali berbaur dengan yang lainnya, setelah tak sengaja bertemu Bram, untuk apa lagi dia menghindar.


"Kalian sudah bertemu!" Ucap Adit ketika Bela datang bersama Agam.


"Gak sengaja tadi di belakang, Jawab Bela datar,


dit kenapa loe undang Agam?" Bisik Bela pelan, dia tidak ingin Agam mendengarnya.


Adit hanya tersenyum mendengar pertanyaan Bela.


"Kita photo bareng dulu!" Ajak Maya. kepada Bela.


"Ayo!" Jawab Bela memposiiskan dirinya tepat di sebelah Maya.


Namun sesaat kemudian Adit memanggil Agam.


"Ayo Gam!" Ajak Adit.


Agampun memposisikan dirinya tepat disamping Bela. Diulurkan tangan Agam memeluk pinggang belakang Bela.


Bela tersentak, saat tangan Agam tepat berada di pinggangnya. Namun dia tidak menolak itu semua. karena puluhan pasang mata tengah memandang kearahnya. Termasuk pak Bram dan juga Daniel.


Setelah selesai, Daniel yang tak jauh dari tempat Bela berdiri datang menghampiri.


"Bel, apa kabar?" Sapanya kepada Bela, Saat itu Bela sedang sendiri karena Agam tengah berbicara dengan Adit tak jauh dari tempatnya.


"Hai Dan, aku baik."


"Kenalkan calon istriku!" Ucapnya kemudian.


Dengan rangkulan yang posesif Daniel menunjukannya kepada Bela, seolah ingin menyampaikan bahwa dirinya sudah bahagia dan mendaptkan pengganti Bela.


"Hai, aku Bela. Salam kenal!" Bela berjabat tangan dengan wanita yang di perkenalkan Daniel.


"Bulan depan aku akan menikah!"


"Wah.... selamat!"


"Kalian belum berencana menikah?" Tanyanya kemudian. Bela paham apa yang di maksud Daniel, dia hanya ingin tahu sedikit tentang Bela setelah batal menikah dengan dirinya.


"Secepatnya!" Ucap Bela asal. Entah menikah secepatnya dengan siapa, yang jelas dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan mantan tunangannya itu.


Setelah itu Danielpun pergi meninggalkan Bela dengan masih memeluk posesif calon istrinya itu.


"Apa yang dia katakan dan apa yang secepatnya?" Tanya Agam tepat setelah Daniel pergi,

__ADS_1


Bela terkejut mendapti Agam sudah ada di dekatnya lagi.


"Semoga Agam tidak mendengar yang aku ucapkan tadi" Mohonnya dalam hati.


__ADS_2