Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Syarat David


__ADS_3

Pagi hari yang berbeda, karena hari ini bela tengah menyiapkan sarapan untuk papanya, jika sebelumnya Bela terbiasa sarapan di kantor, pagi ini Bela menggunakan dapurnya.


"Sarapan dulu pah!" Bela mengetuk pintu kamar yang ditempati papanya.


Sambil menunggu papanya keluar kamar, Bela memainkan Handphonenya. Melihat kembali percakapan dengan Agam semalam.


"Kamu yang siapin ini semua?" Tanya David saat meja maknnya sudah tersaji menu sarapan kesukaannya.


"Kalau bukan Bela siapa lagi pah!"


David tersenyum dan memulai sarapannya. suasana hening menyelimuti pagi hari yang cerah saat itu.


"Papa ingin kamu pulang." Ucap David memecah keheningan.


"Pulang? tapi kuliah aku bagaiman pah?" Bela namapak terkejut dengan apa yang di dengarnya.


"Kamu bisa pindah atau apapun asal kamu bisa berada di dekat papa. Bukankah kamu ingin menikah dengan Agam? lebih baik memulai semuanya di negri sendiri."


"Iya pah, Bela akan diskusikan dengan Agam."


Suasana meja makan menjadi canggung, obrolan serius yang seharusnya tidak di bicarakan di pagi hari, karena itu merusak mood Bela. Apalagi tanpa sepengetahuan David Bela sedang bekerja dan terikat kontrak. dan juga pekerjaan Agam yang tidak mungkin dia tinggalkan lagi.


...※※※※...


Berbeda dengan Bela yang pagi hari sudah sibuk di dapur, justru Agam melewatkan sarapan paginya karena tiba-tiba David menghubunginya. David meminta untuk diantarkan kebandara. Mendaptkan permintaan mendadak seperti itu membuat Agam gugup, meskipun dirinya sudah mengenal David sejak lama, namun hari ini David bukanlah sahabatnya seperti dulu lagi, melainkan dia adalah calon mertuanya yang harus Agam hormati, dan segani.


Agam sudah berdiri di depan pintu apartmen Bela, menunggu David keluar. matanya tak lepas dari jam di pergelangan tangannya, rupanya Agam terlalu pagi menunggu David disana, tapi Agam pun tak ingin kembali masuk ke dalam apartmennya.


"Agam, ngapain disini?" Tanya Bela yang melihat Agam di depan apartemennya sudah rapi dengan stelan jas kerja.


"Agam akan mengantarkan papa ke bandara."


Agampun mempersilahkan David untuk berjalan terlebih dahulu, kemudian di ikuti Agam. Namun tak hanya mereka berdua, Belapun mengikuti dari arah belakang.


"Kenapa kamu masih mengikuti papa?" Tanya David yang mendengar suara sepatu hak tinggi yang di kenakan Bela.


"Aku juga ikut pah."


"Kamu gak usah ikut, ada yang ingin papa bicarakan dengan Agam!" David melarang putrinya untuk ikut mengantarkan kebandara, karena David akan mengatakan beberapa hal kepada Agam.


"Baik pah!" Ucap Bela mengalah. kemudian mendekatkan dirinya kepada Agam


"Aku tunggu di kantor" Bisik Bela di telinga Agam.


Diperjalanan mereka belum membuka pembicaraan. baik Agam atau pin David masih diam dengan pikirannya masing-masing.


"Jika kamu ingin segera menikah, daptakan restu dari orang tuamu juga, saya tahu pak Harun masih membenci keluarga Davinson. Saya tidak ingin Bela mendapatkan penolakan." David sangat tahu sejarah antara Harun dan keluraganya, dan diapun yakin Agam belum mengantongi restu dari orang tuanya. David tidak ingin Bela diperlakukan tidak layak oleh siapapun, terlebih lagi dari mertuanya kelak.


"Saya akan bicara dengan papa dan secara resmi melamar Bela!" Jawab Agam tegas. dia harus membuktikan keoada David bahwa dia serius dengan Bela.


"Saya tahu pekerjaan kamu ada disini, tapi saya ingin Bela ada di sekitar saya. Saya tidak ingin berjauhan lagi dengan Bela." Pinta David kemudian.

__ADS_1


"Baik, saya akan merencanakan secara matang langkah selanjutnya. Jangan khawatir, saya akan bawa Bela kembali pulang."


David tidak bermaksud membebani Agam, hanya saja dia ingin yang terbaik untuk putrinya, seorang laki-laki yang berani berkorban untuk putrinya.


"Saya titip Bela!" Ucap David setelah sampai di depan Bandara.


...※※※※...


Semula Bela ingin berangkat bersama Agam, karena banyak yang harus mereka bicarakan menyangkut restu yang baru saja mereka dapatkan dan juga langkah - langkah selanjutnya. Namun karena papanya melarang dia ikut bersama Agam, dengan terpaksa Bela berangkat kerja sendiri dengan menaiki taxi.


"Pagi semua!" Sapa Bela kepada rekan timnya yang sudah datang, termasuk Nesa yang sudah duduk di depan mejanya.


"Bel, bisa kita bicara?" Ajak Nesa menghampiri meja Bela.


Bela yang setuju langsung mengikuti kemana Nesa akan membawanya untuk bicara.


"Sorry, kemarin aku bersikap kekanak-kanakan. Kamu dan pak Agam memang cocok."


"Makasih Nes, Aku yakin kamu pasti dapat yang lebih dari Agam."


"Apa kamu punya calonnya?" Tanya Nesa mengedipkan matanya.


"Hahaha... nanti aku cari satu untukmu."


Nesa akhirnya sadar, setelah Jery dan Julie memberikan nasihat panjang lebar. Keputusan Nesa untuk mundur dari mengejar cinta Agam adalah keputusan yang benar, karena Dia akhinya mengerti bagaimana perjuangan Agam dan Bela bisa sampai sekarang.


Saat Bela akan kembali ke ruangannya, dia melihat Agam yang memasuki ruangan, rupanya Agam baru datang setelah mengantarkan David.


tok...tok...tok...


"Masuk!" Ucap Agam dari dalam ruangan. Dengan langkah perlahan Bela memasuki ruangan Agam, kemudian diapun menutup pintunya pelan.


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Begitu penasarannya sampai kamu datang kesini?"


Bela menganggukan kepalanya cepat, diikuti kaki yang melangkah cepat mendekati Agam.


"Papa kamu cuma bilang, untuk melamar kamu secara resmi." Jawab agam, dia masih menyembunyikan keseluruhan keinginan David. dia tidak ingin Bela menjadi khawatir.


"Terus, apa lagi?" Tanya Bela kemudian.


"Hanya itu saja!"


"Syukurlah, aku khawatir papa mengatakan yang macam-macam. Aku kembali ke ruanganku!" Izin Bela pamit kembali bekerja.


"Bel,...."Panggil Agam saat Bela sudah memegang handel pintu, hendak meniggalkan ruangannya.


"Ya!" Bela menolehkan kepalanya.


"Apa kita pulang saja ke jakarta?" Ajak Agam menatap lurus kearah Bela, awalnya Agam ragu untuk mngucapkan kalimat itu, nanun jika tidak segera di ucapkan Agam akan terus tenggelam dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Apa maksud kamu Gam?"


"Aku pikir itu akan lebih mudah untuk kita mengurus pernikahan."


"Lalu, pekerjaanku, pekerjaan kamu, bagaimana?" Tanya Bela kembali mendekati Agam.


"Kamu bisa resign dan aku akan memberikan kepemimpinan kepada Jery!"


"Lalu, apa yang akan kamu kerjakan di sana?"


"Aku bisa memulainya lagi sayang." Jawab Agam seolah itu bukan hal berat baginya.


Bela tidak habis pikir dengan jalan pikiran Agam, semudah itu Agam membicarakan masa depan tanpa berpikir panjang.


"No gam, kamu tidak bisa asal bicara seperti ini, pikirkanlah secara matang. Pasti papa yang meminta itu, papa minta kamu membawa aku pulang kan?" Kemudian Bela teringat keinginan papanya untuk dirinya segera pulang.


"Nggak sayang, aku hanya ingin yang terbaik untuk kita. aku akan memikirkan ulang rencana ini, dan aku yakin kamu pasti akan setuju."


Agam masih saja menyembunyikan bahwa sebenarnya ini semua keinginan David. Agam tidak ingin Bela ikut mengkhawatirkan semuanya, terlebih lagi Agam adalah seorang laki-laki, sudah sepatutnya dia bertanggung jawab dengan masa depan istrinya kelak.


"Oke, tapi aku masih ada satu semester lagi. sebelum kuliahku selesai, aku tidak ingin pulang." Ucap Bela sebelum meninggalkan ruangan Agam.


Bela sangat kesal dengan David, namun Bela tidak bisa berbuat apapun, untuk marahpun Bela tidak berani, karena dirinya baru saja mendaptkan restu dari David.


...※※※※...


Setelah perdebatan kecil di ruang kerjanya tadi siang, Bela belum mengangkat telphone dari Agam. Bahkan Bela tidak membukakan pintu apartmen untuknya.


Saat ini Agam sedang menunggu Jery datang ketempatnya, Ada beberpa hal yang akan Agam diskusikan bersama Jery, termasuk tentang rencananya, memberikan jabatan yang belum genap satu tahun kepada Jery.


"Bela ada di tempat Julie, apa kalian bertengkar?" Ucap Jery saat datang ke aparteman Agam.


"Ternyata kamu disana, pntas saja kamu tidak membukakan pintu!"


"Ngga, kami baik-baik saja!"


"Ada Hal penting apa?"


Agam mulai menceritakan rencananya, nasib perusahaannya. Bahwa dia akan mengangkat Jery sebagai CEO di perusahaanya, dan Agam hanya akan memantaunya saja. Jika dulu Agam masih campur tangan maka kali ini Agam akan melepas sepenuhnya kepada Jery.


Jery yang mendengar itu merasa senang, karena dia akhirnya naik jabatan.


"Lalu apa yang akan kamu kerjakan disana?" Tanya Jery balik.


"Sepertinya aku akan kembali ke perusahaan dulu!"


"Bukankah itu sudah menjadi hak mantan istri kamu!"


"Belum sepenuhnya, karena ada fakta yang baru terkuak." Ucap Agam dalam hati


Baru saja Agam mendaptkan informasi tentang penyelidikannya, akhirnya Agam melihat titik terang dari penyelidikan yang selama ini dilakukannya.

__ADS_1


__ADS_2