Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Masa Depan


__ADS_3

David mendatangi kantor Agam. Dia terpaksa datang untuk menyelesaikan kerjasamanya dengan Agam. Dia tidak ingin ada sangkut paut apapun lagi dengan Agam. Persahabatan yang terjalin lama pun tak bisa membuat David memaafkan Agam, dia merasa Agam sudah menodai persahabatannya, Kepercayaan David hilang bersama kebohongan yang Agam cipitakan.


Agam sangat canggung ketika David masuk kedalam ruangannya. Dengan wajah datar yang di tunjukan David membuat Agam tak berharap lebih dengan pertemuan ini.


"Silahkan duduk!" Agam mempersilahkan David untuk duduk. Suasana menjadi tegang dengan pembawaan David yang sangat serius.


"Sesuai kontrak kerja sama kita, akan berakhir di akhir bulan ini. dan saya tidak akan memperpanjangnya lagi. Mari kita akhiri semua kotrak kerjasama kita." Ucap David yang membuat Agam terkejut mendengarnya.


"Tapi vid, produk kita lagi naik daun. jika kita akhiri ini, sangat di sayangkan!" Agam masih berharap kerjasamanya berjalan.


"Maaf pak Agam. Saya tidak ingin bekerja sama dengan anda lagi."


"Vid kenapa sampai sejauh ini. Apa persahabatan kita selama ini tidak ada artinya bagi loe vid?"


"Iya. Kedepannya kita tidak harus saling bertemu lagi." David bangkit meninggalkan ruangan Agam.


"Tapi vid loe gak bisa begini, David tunggu....!"


David tidak ingin berlama-lama bersama Agam, kemarahannya masih ada. dia tidak ingin mengotori tangannya lagi jika berada terlalu lama disana.


Setelah menemui Agam, David kembali kekantornya. Dia termenung sambil memandangi photo saat dirinya dan Agam di masa muda. Sebenarnya David menyesal memutuskan tali persahabatan dengan Agam. Namun egonya meminta Agar David tidak pernah memaafkan Agam. Dia telah kehilangan orang kepercayaannya ,tempat curhatnya, dan orang yang selalu mendukungnya. Entah kapan kemarahannya akan mereda, tapi untuk saat ini dia tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan Agam.


Setelah pekerjaan selesai, David langsung pulang ke rumahnya. David membuka pintu merasakan kekosongan di rumah itu. Dirinya saat ini benar-benar sendiri. di tatapnya photo saat bersama keluarga kecilnya. Nampak senyuman dari sang istri yang sudah lama pergi mendahuluinya, dan juga wajah mungil nan cantik Bela anak satu-satunya.


"Apakah aku terlalu keras terhadap anak kita? Jika saja kamu masih ada." Tak terasa airmata David menetes mengingat mendiang istrinya.


David merasa kesepian setelah tidak ada Bela di dalam rumah besar itu. Ingin sekali membawa Bela untuk pulang, namun itu tidak mungkin. David tidak mungkin mengubah keputusannya secepat itu.


Tok...tok...tok...


Pintu rumahnya di ketuk. David heran karena jarang sekali ada tamu malam hari, kecuali itu Agam. Tapi tidak mungkin Agam berani datang ke ruamahnya.


Kreeekk..... suara pintu di buka David.


"Selamat malam om David!" Sapa Rangga ramah.


David langsung mempersilahkan Rangga untuk duduk. Di susul dirinya duduk di kursi depan Rangga."


"Tumben sekali datang kesini?" Tanya David kepada Rangga. Biasanya jika mengenai pekerjaan Rangga pasti menemuinya di jam kerja. Tapi malam ini dia datang di luar jam kerja dan memanggilnya om, sudah pasti ini bukan masalah pekerjaan.


"Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan!" Ucap Rangga menelan ludahnya.


"Silahkan, sepertinya sangat serius." Ucap David yang melihat wajah Rangga tegang.


"Tujuan saya kesini adalah ingin melamar anak om. Mungkin saya jauh dari kata mapan. Tapi saya janji akan membahagiakan Bela. Sebenarnya saya sudah melamar Bela secara langsung, dan Bela menerimanya. maksud saya datang menemui om untuk secara resmi meminta restu dari om David."


"Bela sudah menerima lamaran kamu?" Tanya David terkejut. pasalnya yang dia ketahu Bela mencintai Agam.


"Iya om, silahkan hubungi Bela untuk lebih jelasnya lagi!"


"Tidak perlu. Jika kamu yakin bisa membuat Bela bahagia om merestuinya. Tapi, jangan pernah sekalipun menyakiti hati Bela." Namun seperti harapan David saat memberikan Rangga nomor dan alamat Bela, dia berharap bahwa Rangga bisa memenangkan hati Bela. karena David tidak rela jika Bela besama Agam.


"Saya akan selalu membuat Bela bahagia." Ucap Rangga menatap yakin kearah David.

__ADS_1


...※※※※...


Setelah mengantongi restu dari David, Rangga langsung memesan tiket penerbangannya menuju singapura. Namun sebelum itu Rangga menyempatkan diri membeli cincin yang akan disematkan di jari manis Bela. Cincin yang lamaran yang terlambat Rangga berikan.


Rangga masuk ke gerai perhiasan. Dia memilih cincin berlian yang cocok di pakai jari lentik Bela. Dari gaya hidup Bela yang tinggi, Ranggapun memilih cincin yang simpel namun terkesan mewah. Karena usia Bela yang masih muda kurang cocok jika memakai perhiasan terlalau besar.


Perjalanan jakarta - sinagpura tidak terlalu lama, namun karena Rangga sangat menantikan pertemuannya dengan Bela kali ini, perjalananpun terasa sangat lama, apa lagi Rangga selalu melirik jam di tangannya.


Jauh di sana telah berdiri sosok yang sangat Rangga rindukan. Berdir melambaikan tangan, menunggu Rangga datang menghampiri.


"Kangen kamu...!" Ucap Bela memeluk erat Rangga.


"Aku juga kangen kamu!"


"Aku punya sesuatu!" Rangga merogoh tasnya membawa cincin yang sudah dipersiapkannya. Kemudian berlutut di hadapan Bela, menatap sorot mata Bela yang berkaca-kaca.


"Bela Davinson, will you marry me?"


Bela tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, terharu dengan apa yang di lakukan Rangga. Walaupun ini kali kedua Rangga melamarnya, namun lamaran resmi dengan sebuah cincin juga di nantikan Bela.


"Yes!" Jawab Bela.


Mereka berpelukan di tengah aktifitas orang-orang yang berlalu lalang di bandara.


Bela ikut bersama Rangga menuju sebuah hotel. Rangga sudah reservasi sebuah kamar hotel, karena tidak mungkin dia tinggal dengan Bela di asrama kampus.


"Berapa hari kamu disini?" Tanya Bela mendaratkan dirinya bersadar di kepala ranjang.


"Bagaimana dengan papa, kamu sudah menemui papa kan?"


"Sudah. Papa kamu merestuinya. dan juga dia minta bertemu dengan orang tuaku. Rencananya saat kamu wisuda nanti, akan ada pertemuan dua keluarga!"


"Apa kita akan LDR walaupun sudah menikah?"


"Sepertinya begitu, sampai kamu lulus kuliah. tapi kamu tenang saja, aku akan memperluas bisnisku di sini."


"Kalau aku di terima bekerja di perusahan xyz, apa aku boleh terus bekerja?"


"Jika kamu suka dengan pekerjaan kamu, dan tidak keberatan menjalaninya, aku akan izinkan apapun itu, yang penting kamu bahagia."


"Makasih sayang. Aku masih tidak menyangka aku membicarakan masa depan dengan kamu!"


"Kenapa? apa aku tidak pernah ada di bayangan masadepan kamu?


"Tidak. aku tidak berani membayangkan masa depan dengan siapapun setelah..." Bela menghentikan ceritanya.


"Katakan saja, aku tetap menghargai masa lalu kamu. Bersama Agam?" Tanya Rangga bangun dari posisi tidurnya.


"Iya, setelah hari itu aku tidak mau lagi membayangkan masa depanku. karena aku takut."


Rangga memegang kedua pipi Bela. menatap mata Bela tajam.


"Aku tidak tahu bagaimana kamu saat bersama dengan Agam. Tapi aku berjanji satu hal, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

__ADS_1


Dibawanya Bela kedalam pelukannya.


Krruuccuukk....krrucukk... Suara dari dalam perut Bela.


"Kamu lapar?" Tanya Rangga


"Iya, aku melewatkan sarapanku tadi pagi!" Bela tersenyum malu, mendapti perutnya yang bunyi terdengar Rangga.


"Ya ampun, maafin aku, harusnya aku ajak kamu makan dulu tadi. kita pesan makan saja atau kita keluar?" Rangga merasa menyesal telah membuat calon istrinya kelaparan.


"Kita pesan aja. aku nyamam disini!"


"Nyaman disini atau nyaman di pelukanku?" senyumnya jahil.


"Nyaman di pelukan kamu!" Ucap Bela teraenyum menggoda Rangga.


Ranggapun mengambil gagang telphon untuk memesan makanan. Dan kembali lagi duduk dengan kepala Bela bersandar di dadanya.


"Ngga, aku boleh tanya sesuatu?" Tanya bela memaikan telapak tangan Rangga.


"Apa?"


"Sejak kapan kamu mulai mencintaiku?"


"Coba kamu tebak!"


"Sejak ciuman kita pada malam itu?" Tebaknya kembali kemasa lalu.


"Salah!" Jawab Rangga yang membuat Bela mengerutkan keningnya.


"Terus kapan dong?"


"Sebenarnya saat kamu memeluk aku di motor saat pergi kepasar. Tapi aku baru sadar setelah aku membuat kamu menangis!"


"Tapi kenapa saat kita bertemu lagi di jakarta, kamu masih saja mengesalkan. Itu bukan sikap orang yang memendam cinta, tapi memendam dendam." Ucap Bela penuh penekanan.


"Kamu masih saja ingat. Waktu itu, aku terlalu terkejut bertemu kembali dengan kamu, aku tidak pernah membayangkan kita akan bertemu lagi."


Agam tidak berani menanyakan kapan saat Bela mulai jatuh cinta, dia hanya akan mendengar jika Bela yang mengutarakannya tanpa di tanya.


"Kalau boleh jujur, aku mulai merasakan getaran aneh saat kamu mencium aku di malam itu. Padahal sebelumnya aku sangat membenci kamu Rangga." Gemas Bela mengingat masa lalu mereka yang aneh, dari benci menjadi cinta.


"Tapi aku belum puas mencium kamu malam itu, andai saja tidak ada pengganggu." Jawab Rangga melengkapi cerita Bela.


"Aaaa... Rangga kamu mesum!" Teriak Bela membawa bantal dan akan dia lemparkan ke arah Rangga. Namun sayang tanggannya di tahan Rangga.


"Bukankah itu yang membuat kamu jatuh cinta?" Ucap Rangga mendekatkan wajahnya sehingga berjarak hanya beberapa senti saja. Bela menutup matanya, menahan nafas ketika wajah Rangga semakin mendekatinya.


••••••


Bayangkan saja sendiri, kira-kira apa yang terjadi di antara Rangga dan Bela setelah itu.


Mohon dukungannya, jangan lupa like dan komennya. di tunggu!!!🙃

__ADS_1


__ADS_2