Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Wanita Lainnya


__ADS_3

Bela berbaring menghadap langit-langit apartemenya, tangannya sedari tadi membulak-balik tiket pesawat pemberian Agam, Bela bingung harus memberi keputusan apa, Paris adalah kota impian mereka berdua saat masih menjalin hubungan dulu.


Apa tidak terlalu cepat untuk Bela kembali bersama Agam, belum lagi pasti ada masalah yang akan mereka hadapi nanti. Memang setiap hubungan tidak luput dari permsalahan. Namun harus berkonflik lagi dengan David, membuat Bela enggan untuk mengambil keputusan secepat itu.


Bela terperanjat mendengar suara bel Apartmennya berunyi.


"Siapa sih malam-malam datang bertamu!" gerutunya dalam hati


Dengan malas Bela beranjak dari tempat tidur, tak lupa dia menyimpan tiket pesawat dengan rapi. sebelum pergi keluar kamarnya.


Ceklek....


"Kak Julie, Ada apa?" Tanya Bela ketika meliahat tamunya adalah Julie.


"Ikut aku" Julie menarik tangan Bela. Namun bela menahan dirinya Agar tidak melangkah mengikuti Julie.


"Tunggu dulu, kita mau Kemana?"


"Ketempat Agam, dia masak banyak makanan, ada Jery juga kok!"


"Baiklah tapi, Aku ganti baju dulu!"


"Udah gak usah, ayo!"


Dengan terpaksa Bela mengikuti Julie masuk ke apartemen Agam.


Bela membelakan mata ketika melihat tak hanya Jery yang ada di sana, ada sosok wanita yang juga turut hadir.


"Bela, ternyata kamu bertetangga dengan pak Agam?" Tanya Nesa saat Bela masuk.


"Dia sepupunya Jery!" Bisik Julie memberitahu.


Nesa adalah rekan satu timnya di kantor. Dan dia baru tahu bahwa Nesa adalah sepupu Jery dan sepertinya sangat akrab dengan Agam.


"Hai Nes!" Sapa Bela duduk di tempat yang masih kosong. tepat berhadapan dengan Nesa.


"Bukannya kamu tinggal di asrama,Sudah lama tinggal di lingkungan ini?" Tanya Nesa.


"Aku baru pindah kesini!"


"Waw, padahal susah loh bisa tinggal di kawasan elit ini!"


"Sudahlah nes kita lanjut makan saja!" Ucap Jery, Jery sudah menduga ini akan terjadi. Dia sangat mengenal sepupunya.


"Iya kak, aku hanya penasaran saja!"


Merekapun memulai memakan apa yang telah di sajikan Agam. Beberapa kali Nesa memberikan makanan yang dia sukai kepada Agam, beberpa kali juga Nesa mencoba menyuapi Agam, Namun selalu di tolak Agam. Dia terlihat seperti seorang istri yang sedang melayani suaminya.


"Hheemmm.... enak sekali, ini benar pak Agam yang masak? Wah calon suami idaman banget nih!" Ucap Nesa melebarkan senyum manisnya kearah Agam.


"Jery juga bisa masak nes, menurutku sudah umum laki-laki bisa masak." Ucap Julie menimpal.


"Kalau kak Jery memang bisa, tapi dia tidak seenak ini!" Ucap Nesa memuji masakan Agam.

__ADS_1


"Awas ya nes kalau kamu makan masakan aku lagi."


"Pak Agam, silahkan cicipi kue yang aku bawa, ini buatan ku loh! aku senang bikin kue, dan pak Agam juga senang memasak. bukankah kita cocok?" Ucapnya dengan percaya diri. Nesa mengambil satu kue yang akan di suapi ke mulut Agam.


Bela gerah melihat tingkah genit Nesa, ingin sekali dia mendepak Nesa dari hadapannya. Namun siapalah dia, dia hanya tamu yang diundang untuk menyaksikan ini semua.


"Ddheemm.... aku cicipi ya!" Bela merebut kue yang di pegang Nesa dan di masukan kedalam mulutnya.


"Ini enak loh Nes!" Puji Bela kepada Nesa.


"Itu kan buat pak Agam Bel." Ucap Nesa kesal, dia bermaksud untuk menyuapi Agam, Tapi kue itu di rebut Bela.


Agam mengulum senyumnya, melihat tingkah laku Bela. Agam tahu Bela saat ini terganggu dengan kehadiran Nesa, tapi ada baiknya juga, karena Agam bisa melihat bahwa Bela masih mencintainya.


"Terimakasih Nes, saya akan ambil sendiri!" Ucap Agam menenangkan Nesa.


Bela semakin gerah melihat Nesa yang terus menarik perhatian Agam.


"Kenapa aku harus merasa seperti ini?"


Bela merasa aneh kepada dirinya sendiri, melihat Nesa yang berusaha mendekati Agam membuat dirinya geram. seharusnya dia tidak boleh seperti itu. dia dan Agam sudah tidak ada hubungan apapun.


"Kak, aku keluar dulu ya!" Bela berbisik kepada Julie


Dia ingin mencari udara segar, menyegarkan hatinya yang sudah membara. melihat pemandangan itu membuat hatinya terus terbakar seperti api yang terus di lempari kayu.


"kemana? aku ikut!" Julie mengajukan diri untuk menemani Bela, dia tahu pasti ada yang julie ingin katakan.


"Apa kamu terganggu dengan Nesa?" Tanya Julie begitu sampai di luar unit Agam.


"Aku gak tahu kak, aku bingung dengan perasaanku sendiri!"


"Nesa sepertinya menyukai Agam. Dia sering mencari informasi tentang Agam dari Jery."


"Aku gak tahu kalau Nesa sepupunya Jery, pantas saja dia sangat tahu tentang Agam!"


"Apa dia pernah menceritakan tentang Agam?"


"Aku pertama kali mendengar bahwa bos kita bernama Agam dari dia, makanya aku mencari tahu apakah dia orang yang sama dengan Agam yang aku kenal."


"Apa kamu akan membiarkan Nesa terus berdekatan dengan Agam?"


"Apa yang bisa aku lakukan, sepertinya Agampun menikmatinya."


"No. Dia seperti itu karena menghargai Jery."


Julie sangat gemas melihat Bela yang tidak ada semangat juang. Dia tahu Bela masih mencintai Agam, tapi Bela masih saja menghindar dari perasaanya sendiri.


"Sudahlah kak, lebih baik kita masuk lagi!" Ajak Bela kembali masuk kedalam Apartemen Agam.


"Kalian dari mana?" Tanya Agam ketika Bela dan Julie masuk.


Bukannya menjawab, Bela justru berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


"Pak Agam, terimakasih makan malamnya!" Ucap Bela sebelum meninggalkan Apartemen Agam.


Agam bingung dengan Bela yang tiba-tiba berpamitan. Agam menaikan kedua alisnya melirik ke arah julie, lalu Julie menaikan kedua pundaknya sebagai isyarat bahwa julie tidak tahu apapun.


Agam hendak mengejar Bela, namun dirinya di cegah oleh Nesa. Agam tidak bisa membiarkan Bela begitu saja, karena dia yakin saat ini Bela tengah salah paham terhadapnya. Jika tidak di selesaikan secepatnya, maka dia akan kehilangan Bela lagi.


"Sorry Nes, aku harus kejar Bela." Nesa diam terpaku mendegar ucapan Agam.


Diapun duduk kembali. dia hampir meneteskan airmata, ucapan Agam yang didengarnya sangat menusuk di hatinya.


"Kak ada apa diantara mereka? Kenapa Agam mengejar Bela? Bukankah Bela sudah memiliki calon suami?" Tanya Nesa kepada Jery, dia butuh penjelasan.


Memang kedekatnya dengan Agam terbilang baru, namun dia sudah memupuk hatinya untuk Agam.


"Akukan sudah bilang, jangan dekati Agam!"


"Jadi maksud kak Jery, wanita yang selama ini Agam cintai adalah Bela?" Tannyanya lagi, sebab sebelumnya dia bertekad bisa membuat Agam melupakan wanita itu.


"Bukankah sudah jelas yang kamu lihat tadi." Ucap Julie datar. Julie sebenarnya tidak suka melihat Nesa mendekati Agam, karena yang dia tahu, Nesa hanya mendekati lelaki kaya raya.


"Ayo, sebaiknya kita pulang saja!" Ajak Jery kepada julie dan Nesa untuk meninggalkan Apartemen Agam.


...※※※※...


"Bela, tunggu!"


Agam menahan pintu yang hendak di tutup Bela, dengan sekuat tenaga Bela mendorong pintu agar Agam tidak bisa masuk, namun tentu saja kekuatannya tidak sebanding dengan Agam.


"Kenapa kamu harus pergi?"


"Aku ngantuk, ini sudah jam tidur aku gam, memangnya kamu kira apa?" Aku cemburu melihat kalian berdua? tentu tidak!"


"Apa kamu yakin? kamu baik-baik saja melihat Aku dengan Nesa?" Agam terus berjalan maju mendekati Bela, dan Bela semakin mundur menghindari Agam.


"Aku tidak masalah!" Ucapnya sambil menahan nafas, karena jarak Agam yang semakin dekat dengannya, sementara dia tidak bisa mundur lagi, karena dinding menghalanginya.


"Aku tidak ada hubungan apapun dengan dia!"


Bela menghembuskan nafasnya, setelah di beri ruang oleh Agam. Agam menarik dirinya sendiri duduk di sofa ruang tamu Bela.


"Aku tidak perlu tahu itu!"


"Tapi aku ingin kamu tahu, aku ingin kamu tahu kalau aku masih mencintai kamu!"


Bela memejamkan matanya mendengar pengakuan cinta dari Agam.


"Kamu sudah lupa, meskipun kita kembali bersama, itu masih sulit untuk kita berdua!"


"Aku akan menghadapi apapun kesulitan itu. asalakan kamu ada disisiku!"


Agam berjalan menghampiri Bela, yang masih berdiri di tempatnya tadi. Dia memeluk erat Bela seraya berbisik.


"Kali ini percaya padaku, aku akan memperjuangkan kamu!"

__ADS_1


__ADS_2