
Agam membawa Bela masuk kedalam mobilnya. Sepanjang perjalanan Bela hanya Diam saja. walaupun dirinya salah, tidak mengatakan kebenaran kepada Agam, tapi sampai saat ini dirinya tidak mengerti dengan sikap Agam mengenai Daniel.
"Kamu marah sayang?" Tanya Agam yang sekan tidak pernah terjadi perdebatan tadi.
Agam menggengam dagu Bela, karena tidak Ada jawaban yang bela berikan.
"Apa kamu akan seperti ini terus?"
"Aku sedang tidak ingin bicara!" Bela melepaskan Tangan Agam dari dagunya.
Agam merasa dia kembali menyakiti wanita yang sangat dia sayangi lagi.
Sampailah Agam di gedunga Apartmennya. Agam menurunkan koper Bela dan merangkul Bela memasuki Apartemannya.
"Kamu bisa tinggal disini." Agam menujukan Apartmennya yang tak kalah luas dengan milik Daniel.
"Aku ingin istirahat!" Ucap Bela dengan malasnya. Bela sedang tidak ingin di ajak bicara.
Agam menunjukan Bela kamarnya.Kamar yang juga akan di tempati Agam. Karena Apartmen Agam hanya ada satu kamar.
"Kamu bisa istirahat di sini, Aku akan menyiapkan makan malam."
Bela langsung menaiki tempat tidur, memiringkan tubuhnya seperti bayi dalam kandungan. Hatinya sangat sakit mengingat tatapan tajam Agam kepadanya. Tak terasa air mata Bela menetes. Walaupun tangisan bela tidak bersuara, tapi gerakan punggungnya memberi tahu Agam bahwa dia sedang menangis. Karena saat ini Agam sedang berdiri di depan pintu kamar memperhatikan Bela.
Bela sudah murung sejak meninggalkan rumah Daniel dan sampai saat ini. Agam sudah mengajaknya mengobrol untuk melupakan kejadian saat di Apartement Daniel, namun Bela sama sekali tidak menghiraukan Agam.
Agam berjalan menghampiri Bela dan memeluk Bela dari arah Belakang.
"Maafkan aku..., Aku tahu kamu sangat kesal saat ini. Tapi Bela, kamu harus mengerti perasaanku. Aku disini sedang berjuang agar bisa bersamamu. tapi di tengah perjuanganku, ada hambatan yang mungkin bisa menggagalkan semua usahaku, termasuk usaha kamu. disini adalah tugas kita. bisa tidak kita mengalahkan semua hambatan yang ada. Atau diantara kita ada yang berhenti karena hambatan itu. perjuangan kita masih sangat jauh. ada papa kamu yang harus aku hadapi. Dan kamu perlu tahu sesuatu, Reyna sudah setuju untuk bercerai."
Bela membalikan badannya menghadap Agam. wajahnya yang semula menekuk, kini Bela mendongkakan kepalanya menatap Agam.
"Apa kamu sudah selesai dengan Reyna?"
Akhirnya yang Bela tunggu-tunggu terwujud. Bela sangat ingin Agam membuang jauh Reyna dari hidupnya.
"Ya satu kali sidang lagi. kami resmi bercerai." Agam merubah posisinya menjadi berbaring, Dan dadanya menjadi sandaran kepala Bela.
"Aku masih tidak mengerti, kamu mengagap Daniel sebagai hambatan. Daniel selalu memberiku semangat Agar tetap yakin pada hubungan kita. Dia sangat mendukung kita Gam." Ucap Bela yang terus memainkan jemarinya di dada Agam.
"Ya, mungkin dia begitu. Tapi ada beberap pihak yang ingin kamu bersamanya. Dan itu sangat melukaiku Bela."
"Apa papa yang mengatakan itu semua? Maafkan aku Gam,aku tidak tahu kedekatan ku dengan Daniel di salah artikan papa."
"Itu sebabnya aku tidak ingin kamu dekat dengan Daniel."
"Aku mengerti, aku akan menjelaskna semuanya kepada papa. Dan juga kita akui saja hubungan kita!" Bela sudah lelah harus terus bersembunyi dari David dan orang sekitarnya.
__ADS_1
"Apa kamu siap?" Agam meraup wajah Bela dengan kedua tangannya.
"Jujur, sebenarnya aku takut Gam.Aku takut kita akan lebih sulit bertemu. Tapi jika seperti ini terus, aku juga tidak mau."
"Kamu sabar ya, ada saatnya kita ungkapkan hubungan kita. Setelah urusanku selesai dengan Reyna, ayo kita temui papamu!" Agam mengecup kening Bela. Sampai Akhirnya merekapun tertidur bersama.
...※※※※...
Reyna mendatangi kantor Agam, setelah semalam Agam tidak pulang kerumah. Reyna fikir Agam ada di kantornya. Tetapi ternyata Agam meninggalkan kantor kemarin siang, Dan sampai hari ini belum kembali.
"Sebenarnya kemana pak Agam pergi?" Desak Reyna kepada sekretarisnya. Sebenarnya ini adalah waktu yang menguntungkan Bagi Reyna untuk mengeledah kantor Agam. Tapi dia hanya penasaran, kemana suaminya pergi sampai mengabaikan pekerjaanya.
"Maaf bu, pak Agam tidak memberitahukan kepergiannya."
"Ya sudahlah, saya hanya jngin mengambil barang saya yang tertinggal di dalam."
"Silahkan bu."
Reyna langsung menggeledah meja kerja Agam. Dia membuka laci demi laci, Dan dia menemukan sebuah foto. Dia menatap Benci foto itu, kemudian di remasnya sampai tak berbentuk lagi.
"Sialan Gam, rupanya kalian sudah sejauh itu. Lihat saja Bela, kamu tidak akan lagi bisa bersama Agam."
Reyna kembali mencari seperti tujuan awalnya. Dan usahanya tidak sia-sia, Dia menemukan Berkas perceraian yang di carinya. Untung saja Agam belum menyerahkan kepada pengacaranya.
"Akhirnya ketemu juga."
Kemudian Reyna meninggalkan kantor Agam dan bertemu dengan Naya untuk membicarakan langkah selanjutnya.
...※※※※...
"Agam, apa kamu tidak akan kerja hari ini?" Tanya Bela saat keluar kamar dan menemukan Agam sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Jangan bicarakan pekerjaan Bela. Kapan lagi aku bisa berduaan dengan kamu."
"Akhir-akhir ini memang kita jarang bertemu, sekalinya bertemu kita kucing-kucingan." Bela tersenyum saat mengingat Agam mengendap-endap masuk rumahnya demi bertemu dengannya.
"Hhhmmm gemasnya." Agam menautkan ibu jari dan telunjuknya seolah-olah sedang mencubit Bela dari jarak jauh.
"Hari ini kamu mau kemana?" Tanya Bela memeluk Agam dari belakang.
"Kita ke pantai, Bagaimana? Sekalian kita ajak Maya dan Adit!" Ajak Agam masih dengan aktivitasnya di depan kompor.
"Ide bagus. Aku hubungi mereka dulu ya." Bela melepaskan pelukannya dan mengambil Hpnya di dalam kamar.
"Bagaimana?" Tanya Agam saat Bela kembali ke dapur.
"Mereka tidak bisa Gam. Adit ada penerbangan hari ini." Jawab Bela sedikit menundukan wajahnya. Bela kecewa karena tidak bisa pergi dengan pormasi lengkap.
__ADS_1
"Berarti hanya kita berdua." Digendongnya Bela ala Brid style. yang di sambut dengan teriakan Bela.
"Aaaaaa.... Agam, turunin aku...!" Bela sangat kaget, tiba- tiba tubuhnya di angkat Agam.
"Kamu sangat cantik sekali sayang."
Pipi Bela memerah, bibirnya terus melengkungkan senyuman. Pujian - pujian Agam membuat Bela merasa menjadi wanita sempurna.
Agam membawa bela kedalam kamarnya dan membaringkanya di tempat tidur.
"Kita jadi kepantai atau berdua saja di kamar ini?" Agam menggerakan alisnya naik turun dan tersenyum jahil.
"Itu sih maunya kamu Gam." Bela melemparkan bantal ke wajah Agam, berusaha menghindar dari terkaman Agam.
Agam hanya tersenyum melihat Bela berlari menghindarinya dan masuk kedalam kamar mandi.
...※※※※...
Flashback:
David mendengar kabar ayahnya kecelakaan, dia dengan membawa Bela kecil pergi menuju rumah sakit.
"Yah, apa yang terjadi?" Tanyanya Begitu sampai Di UGD
"David dengarkan ayah." David mendekatkan telinganya kepada ayahnya.
"ada satu nama yang kamu harus waspadai di industri kita ini. Jangan pernah kamu menampakan diri dan berurusan dengannya. Bukan karena kita tidk bisa menghadapinya, tapi karena memang dia tidak dapat di percaya."
"Ayah, David mohon simpan tenaga ayah." David meneteskan air matanya.Melihat ayahnya yang tak berdaya dan masih memberikan pesan kepadanya
"Kamu sudah tahu orangnya. ayah hanya ada satu musuh di dunia ini. Hanya dia."
David menganggukan kepalanya mengerti dengan maksud ayahnya.
"Aku tahu yah. Aku akan hati- hati menghadapinya."
"Ayah yakin penilaianmu terhadap seseorang tidak pernah salah."
"Satu hal lagi, sembunyikan Bela sampai usianya matang dan mengerti tentang bisnis keluarga kita."
"Ayah, aku mohon bertahanlah!" Pinta David di sela tangisannya.
"Ayah selalu menyayangimu nak." Davinson membelai wajah anaknya sebelum kesadaranya hilang.
"Ayah..." Teriak David saat tangan ayahnya terkulai lemas.
Itu saat terakhir David bersama ayahnya sejak saat itu David mengambil alih seluruh bisnis dan perusahaan ayahnya.
__ADS_1
flashback end