
Bela mengetik nomor Rangga di Hpnya, kemudian disentuhnya gambar gagang telphon.
Hallo....
Suara dari sebrang sana sudah menyapa, Bela masih diam belum juga memulai percakapannya. Dia masih mengumpulkan tekad dan menyingkirkan semua gengsinya.
"Jangan iseng ya. kalau tidak ada jawaban saya akan tutup telphon ini!" Ancam Rangga penuh penakanan.
"H-hallo!" Ucapnya terbata, Sebanrnya Bela tidak sudi menelphon Rangga lebih dulu, kalau saja dirinya tidak mengingat belanjaanya. pasti dia tidak akan pernah menekan nomor ini. "Aku mau belanjaan yang kamu ambil."
"Aku gak pernah ya, ngambil belanjaan kamu. justru aku membawanya karena kamu meninggalkannya disana!" Awalnya Rangga sempat bingun dengan siapa dia berbicara, tapi karena yang di bahas adalah tas belanjaan, maka sudah pasti dirinya sedang menerima telphon dari Bela.
"Whatever. Dimana kita harus bertemu?" Tanyanya tidak peduli dengan ucapan Rangga.
"Jalan xxx, itu alamat rumah aku!" Jawab Rangga Datar.
"Rumah kamu, aku harus datang kerumah kamu?"
"Kenapa? ada yang salah?" Tanya Rangga tidak mengerti dengan sifat gadis satu ini.
"Aku gak mau, kita ketemu di cafe xxx aja." Bela memebrikan alamat lain, dia tidak ingin mendatangi rumah Rangga, apalagi dirinya adalah seorang wanita.
"Aku gak bisa!" Jawab Rangga tak terduga.
Bela yang kesal karena mendaptkan penolakan meninggikan suaranya.
"Kenapa gk bisa? itu cafe dekat rumah kamu loh. kamu tinggal jalan sebentar. egosi banget!"
"Kamu tahu barang kamu sebanyak apa? aku naiki motor saja kesusahan karena membawa belanjaan kamu pulang!" Rangga tidak mengerti mengapa Bela sangat susah di ajak berkomunikasi, padahal di sini Bela yang sedang membutuhkan dirinya, tapi seolah-olah dirinya yang membutuhkan Bela.
"Kenapa kamu tidak biarkan saja disana! sok-sokan peduli, tapi ujung-ujungnya gak ikhlas juga." Bela kesal dan mematikan Hpnya, menyudahi pertengkaran dengan Rangga. padahal Belum ada keputusan mereka akan bagimana.
"Nyebelin banget, ada yah cowok kaya gitu? amit-amit. aku salut kalau ada yang kuat jadi pacarnya."
tubuh Bela merinding memikirkan tentang bagaimana sulitnya jadi pacar cowok pemarah seperti Rangga.
...※※※※...
"Daniel, kamu ada disini?" Tanyanya tekejut, ketika melihat Daniel sedang menikmati sarapan pagi bersama papanya.
"Aku sengaja datang kesini, aku mau ngajak kamu jalan!" Ajak Daniel dengan tersenyum.
"Oh ya, kemana?" Bela tak kalah antusianya.
"Adalah, kita sarapan aja dulu." Belapun duduk di sebrang Daniel.
"Papa brangkat ya, kalian berdua sarapan saja dulu." Pamit David kepada Bela dan juga Daniel.
Sedari tadi Daniel hanya menatap Bela, memperhatikan semua gerak geriknya. Dia melihat Bela sudah kembali normal, tapi dari sorot matanya sangat terlihat. hatinya pasti belum sembuh.
"Bagaimana kabar kamu?"
"Aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat." Bela menahan kedua ujung bibirnya tersenyum, Bulir air mata sudah mulai menumpuk di kelopak matanya. hatinya kembali merasakan sesak saat Daniel menanyakan kabarnya, yang sama sekali dia tidak dalam keadaan baik.
Daniel megetahui semuanya, senyuman Bela adalah kamuflase, untuk menyembunyikan segala kesedihanya.
__ADS_1
"Kamu bisa cerita semuanya ke aku!" Seketika Airmatanya tak dapat dibendung lagi, Bela menangis dihadapan Daniel.
Daniel langsung pergi kesisi Bela, dipeluknya Bela agar merasa lebih tenang.
"Aku gak tahu Dan, rasanya masih sangat sakit." Bela memukul dadanya.
"Kamu jangan seperti ini, ini hanya menyakiti diri kamu sendiri!" Daniel memgang kedua tangan Bela agar berhenti memukuli dirinya sendiri.
"Agam Dan, dia pergi. Dia meninggalkanku." Daniel terkejut, Ternyata dia salah menilai seorang Agam.
"Aku tahu yang kamu rasakan, aku mengert." ucap Daniel lembut.
"Gak Dan, kamu gak ngerti, karena kamu gak pernah seperti ini."
"Aku pernah berada di posisi seperti ini, aku hanya bisa melihat wanita yang aku cintai pergi dengan pilihannya."
"Terus, apa yang kamu lakukan?"
"Aku melepaskannya, karena itu yang dia inginkan. karena keinginannya sudah pasti membutnya bahagia. Aku hanya ingin melihat dia Bahagia, walaupun bukan denganku."
Bela menyimak semua cerita Daniel. yang Daniel ucapkan benar, Belapun ingin membuat Agam bahagi, jika pilihan Agam adalah Reyna seharusnya Bela melepaskan Agam agar bahagia. Tapi... Bela tidak yakin Agam bahagia dengan Reyna.
"Baiklah, aku sudah menceritakan kisah sedihku. sekarang, bukankah kita harus pergi?" Ajak Daniel mengulurkan tangannya.
Bela menyambut uluran tangan Daniel, merekapun Berangkat dengan menaiki mobil Daniel.
"Terimakasih dan, kamu sudah menyempatkan waktu datang menghiburku. ini adalah saat-saat yang berat, aku hanya punya Maya dan juga kamu yang bisa mendengarkan semua keluh kesahku."
"Kamu selalu bisa berbagi apapun denganku Bela."
Tetnyata Daniel mengajak bela menghabiskan waktunya di pesisir laut, menikmati angin yang berhembus kesetiap celah di tubuhnya, angin yang menghembus sampai kedalam hatinya.
aaa......
Teriak Bela melepas semua kekesalan, kemarahan, kekecewaan yang selama ini tertimbun di hatinya. waktunya bagi Bela untuk mengosongkan hatinya. mebiarkan dirinya terlepas dari semua rasa cintanya, rasa cinta yang kini hanya membuatnya menderita.
...※※※※...
Bela sedang menghapus jejak Agam di Hpnya, dari semua kenangan-kenangan, dia juga membuang foto-foto saat bersama Agam. bahkan nomor Hp Agam pun di hapusnya.
Tiba-tiba datang sebuah notif WA. Bela terperanjat saat melihat nama di layar Telephonenya.
"Si Pemarah?"
Bela langsung membuka isi pesan yang dikirimkan Rangga.
INI BARANG KAMU, KAPAN KAMU AKAN MENGAMBILNYA? KAMARKU JADI SEMPIT!" Rangga mengirimkan sebuah foto belanjaan Bela yang berada di kamarnya.
"Apa? hanya barang segitu membuat sempit kamarnya? Gerutunya dalam hati.
SEKECIL APA KAMAR LOE, SAMPE BARANG GW BIKIN SEMPIT?
Bela membalasnya cepat.
"Ih... nyebelin banget nie cowok. gak di desa gak di sini, gak ada perubahan."
__ADS_1
Bela kembali melanjutkan membuang semua fotonya bersama Agam di Hpnya. Beberapa menit kemudian Rangga membalas lagi pesan dari Bela.
AKU TUNGGU SAMPAI BESOK. KALAU TIDAK, TERPAKSA AKU BUANG!
"Apa! dia akan buang barang gw, gak bisa di biarin, gw harus cepet datang kerumahnya. Siapa dia berani buang barang orang, kalau gw minta ganti rugi, apa bisa dia balikin semuanya."
"Ada apa sayang? papa dengar dari tadi terus mengomel." Tanya Papanya yang mendengar Bela terus mengomel. Semenjak keluar, kamar sampai menuruni tangga.
"Biasa pah." Jawab Bela enggan memberitahukan David, karena menurutnya ini hanya masalah biasa.
"Mau kemana?" Tanya David ketika Bela membuka pintu rumah.
Belapun menoleh ke arah David.
"Aku mau ke rumah Maya, ada belanjaan Bela tertinggal di sana." Ucapnya bohong.
Bela membawa mobilnya melaju ke alamat yang sudah Rangga berikan. sampailah Bela di sebuah rumah. Tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil, menurutnya pas untuk seorang Rangga, yang pastinya hanya tinggal sendiri.
Bela menakan Bell yang sudah tersedia di samping pintu, menunggu Rangga untuk membukakan pintu. Namun Nampaknya tidak ada kehidupan di dalam rumah itu.
Bela kembali menekan Bell, bersandar di dinding sambil menyilangkan tangannya, kakinya sedari tadi diketuknya. Melirk jam di Hpnya, Rupanya Bela sudah menunggu selama 15 menit.
Sebelumnya memang Bela tidak memberitahu Rangga kalau dirinya akan datang mengambil barangnya. Itu karena dirinya yang telanjur kesal dengan semua pesan yang Rangga kirimkan.
Bela memandang nama kontaknya 'si pemarah' di Hpnya. Dia bingung, antara menelphon Rangga, atau pulang saja. Tapi memgingat dia sudah berada di depan rumah Rangga, Dengan terpaksa Belapun menyentuh gambar gagang telphon.
"Cepet keluar, gw ada di depan rumah!" Ucapnya datar.
"Siapa ini?" Rangga yang langsung mengangkat telphon tanpa melihat nama di layar Hpnya.
"Rangga, loe gak save no gw? gw Bela. cepet loe keluar, gw pegel dari tadi berdiri nunggu loe buka pintu." Omel Bela.
"Oke tunggu bentar."
Rangga langsung bangun dari tidurnya, tak lupa membasuh wajahnya untuk menghilangkan kantuknya.
"Kenapa kamu gak ngasih kabar sebelumnya, kalau mau ngambil barang jam segini?"
"Ini belum terlalu malam Ngga. atau jangan-jangan loe udah tidur?" Bela memicingkan matanya, sedikit mengejek, karena ada laki-laki baru jam 8 malam sudah tidur.
"Ada yang salah?!" Tanya Rangga kesal.
"No, Hanya aneh saja." Rangga langsung berbalik masuk kedalam rumahnya untuk mengambil belanjaan milik Bela.
Bela memperhatikan tubuh atletis Rangga, ternyata kalau di perhatikan Rangga memiliki daya tarik tersendiri. Selain wajahnya yang ganteng, dengan hidung mancungnya. ternyata tubuh Rangga juga sangat proposional. hanya saja matanya yang dingin dan juga mulutnya yang kasar. mengurangi nilai plus yang dia punya.
"Ini barang kamu. Aku akan bawakan sampai mobil!" Rangga datang dengan tangan penuh tas belanjaan Bela.
"Gak usah. Gw bisa sendiri." Ucap Bela sinis.
Bruk!
Rangga menjatuhkan kesepuluh tas belanjaan Bela. Niat baiknya di tolak mentah-mentah. kemudian Rangga kembali masuk kedalam dan langsung menutup pintu rumahnya. Meninggalkan Bela dengan kesepuluh tas belanjaannya yang masih berada di teras depan rumahnya.
"Gak peka banget sih!" Umpat Bela sedikit menendang pintu rumah Rangga. Lalu Bela memasukan satu persatu belanjaannya, sambil terus mengomel.
__ADS_1
"Sebel banget. harusnya dia tetep bantu gw walaupun gw nolak. Emang cowok Nyebelin."
Bela meninggalkan rumah Rangga dengan segala kekesalaan.