
Ini adalah hari terakhir Bela dan Agam berada di indonesia, Siang ini mereka harus segera berangkat kesingapura, karena besok Bela harus sudah masuk kerja. Kesempatan satu-satunya untuk mendatangai David adalah di pagi hari sebelum ia berangkat ke kantor.
Agam dan Bela berusaha secepat mungkin untuk sampai di kediaman David, karena jika terlambat mereka terpaksa mendatangi David dikantornya namun itu bukan ide yang bagus, karena jika nanti ada pertengkaran pasti membuat gaduh satu kantor.
"Sepertinya papa belum berangkat." Ucap Bela yang melihat mobil papanya masih terparkir di halaman.
"Ya, ayo kita turun!"
Mereka pun turun dan melangkahkan kakinya mendekat pintu masuk rumah David. Dengan mengambil nafas dalam Bela mengetuk pintu rumahnya. sementara tangan satunya menggengam erat tangan Agam.
Tak lama pintu rumahnya terbuka, rupanya Asisten papanya yang membukakan pintu dan mempersilahkan masuk, diapun mengatakan bahwa David masih ada di kamarnya.
Bela dan Agam memutuskan untuk menunggu David di ruang tamu, sementara asisten David berlari keatas memberitahukan kedatangan Bela.
Terlihat jelas kegelisahan di wajah Agam dan juga Bela, tapi mereka harus melewati hal ini, karena untuk melangkah ke tahap selanjutnya adalah restu dari David.
Setelah mendaptkan kabar kedatangan anaknya David dengan bersemangat turun dari kamarnya, dia menduga bahwa Bela pulang untuk kembali bersamanya. Namun apa yang di lihat David adalah salah, Bela datang bersama lelaki disampingnya. David sangat terkejut dia langsung menghentikan langkahnya, matanya membara dan hatinya terbakar amarah melihat Bela bersama Agam
"Mengapa kamu bersama dengan Dia?!" Bentak David kepada anaknya.
Bela tersentak, bibirnya bergetar dia tidak bisa memberi jawaban apapun.
"Kami kembali bersama, dan saya sangat mencintai Bela, jadi saya ingin meminta izin untuk menikahinya!" Ucap Agam menjelaskan tujuannya. Namun David tidak menggubris ucapan Agam, justru David masih menunggu jawaban dari anaknya.
"Jawab papa Bela? mengapa kamu datang dengan dia?" Tannya lagi.
"Mamafkan Bela pah..." Ucap Bela lirih.
David mengerti dengan ucapan Bela, dia membenarkan apa yang baru saja dikatakan Agam. David pun menghampiri Agam dan membuat jarak mereka sangat dekat.
"Kenapa harus putriku? Banyak wanita di luar sana yang sepadan dengan kamu!" Teriaknya di depan wajah agam.
"Karena saya mencintai Bela!" Ucapnya menatap tajam mata David.
"Orang seperti kamu tahu apa tentang cinta. aku tidak akan memberikan Bela untuk kamu, Bela bisa mendaptkan pasangan yang pantas untuknya."
"Tidak pah, Bela ingin bersama Agam, Bela mencintainya!" Teriak Bela beruraian airmata.
David pun menoleh kearah putrinya,
__ADS_1
"Apa yang kamu bilang?"
"Bela mencintai Agam, Dari dulu sampai saat ini. Bela ingin menikah dengannya, Bela mohon beri restu papa." Bela menggengam tangannya mengumpulkan kekuatan untuk berani mengungkapkan isi hatinya kepada David.
"Tidak akan pernah, papa tidak akan membiarkan kamu bersamanya!" David menolak mentah-mentah.
"Beri alasan papa tidak bisa menrima Agam, karena papa lebih tahu bagaimana baik buruknya, karena Agam adalah sahabta papa."
"Dia pria yang tidak bertanggung jawab, bagaimana papa bisa merelakan kamu dengannya."
"Apa karena perceraiannya? itu tidak adil pah, Agam yang menjadi korbannya!"
"Cukup Bel, jangan memprovokasinya!" Agam mencoba menenangkan Bela yang sedang beradu mulut dengan papanya sendiri.
"Tidak gam, papa harus tahu semuanya, papa harus tahu apa yang terjadi kepada kamu!"
Bela merasa papanya sudah salah menilai Agam, memang papanya mempunyai prinsip, dia sangat membenci perceraian. Namun Agam berbeda. perceraian Agam berbeda.
"Bela perlu bicara berdua dengan papa!" Ajak Bela kepada David, dan disetujui David. Merekapun menuju ruang kerja David dan meninggalkan Agam menunggu di ruang tamu.
"Papa tidak akan lunak lagi, silahkan kamu membujuk papa seperti apa, yang jelas papa tidak akan memberikan restu untuk kalian!" Ucap David tetap bersikukuh dengan keputusannya.
"Kamu bisa mendaptakan laki-laki yang pantas untuk kamu, bukan Agam. dia...."
"Mungkin bagi papa dia adalah laki-laki yang gagal dalam membina rumah tangga sebelumnya, namun dia sudah mengupayakan semuanya, papa tahu, dialah korbannya, dia di tipu istrinya sendiri. dan perceraian itu jalan satu-satunya, tapi dia tidak meninggalkan tanggung jawabnya, bahkan dia berikan perusahaannya untuk Reyna dan juga Arka. Jadi menurutku Agam adalah laki-laki bertanggung jawab."
Bela membela Agam di depan papanya. Bela ingin membuat papanya melihat Agam dri sudut pandang yang berbeda.
"Papa tetap tidak akan merestui kalian!" Ucap David setelah anaknya menjelaskan panjang lebar. Hatinya sama sekali tidak tergerak dengan semua penjelasan Bela.
Ugghh....
Saura helaan Nafas Bela, dia sudah buntu, Bela tidak tahu bagaimana lagi untuk membuat David merubah keputusannya.
"Baiklah jika itu keputusan papa, maka hari ini adalah hari terakhir kita bertemu!" Bela keluar ruangan meninggalkan David.
"Bela, apa maksud kamu?"Teriak David mengikuti Bela dari belakang.
David tidak menyangka Bela akan mengeluarkan kata-kata yang membuatnya goyah.
__ADS_1
"Kita pergi sekarang. percuma papa tidak akan merestui kita!" Ucap Bela menarik tangan Agam untuk keluar dari rumahnya.
"Tunggu sayang, bukan ini tujuan kita!" Agam tidak tahu apa yang terjadi diantara Bela dengan papanya, Bela terlihat sangat kesal dan marah setelah keluar dari ruangan kerja David.
"Percuma gam, papa tidak akan mengubah keputusannya!"
"Tenang sayang, ini baru permulaan, kita bisa datang lagi untuk meminta restu papamu!" Agam memeluk Bela memberikan semangat, karena kakasihnya ini sudah putus harapan, dan Agam tidak ingin itu terjadi.
"Aku kesal Gam, kenapa papa seperti itu? kenapa papa tidak bisa menerima kita? apa dia tidak ingin melihat anaknya bahagia?"
"David pasti ingin melihat kamu bahagia hanya saja dia belum percaya kepadaku. Lebih baik kamu masuk kedalam mobil, aku akan kembali kedalam, setidaknya kita harus berpamitan!" Belapun mengangguk dan masuk kedalam mobil.
David bergegas masuk kembali dalam ruangannya, setelah melihat Agam akan kembali masuk kedalam rumahnya. Rupanya sedari tadi David mencuri dengar percakapan Bela dan Agam.
tok...tok...tok...
Agam mengetuk pintu ruang kerja David.
"Ada apa lagi?" Tanya David saat membuka pintu.
"Mungkin kali ini kamu belum memberikan restu untukku, tapi aku akan datang lagi. Aku akan terus datang sampai kamu memberikan restu." Ucap Agam sebelum pergi dari rumah David.
...※※※※...
Hari ini David tidak fokus bekerja, mengawali pagi dengan saraf yang tegang, membuatnya tidak bisa bekerja dengan baik. Apalagi Anak gadisnya pergi dengan Agam entah kemana.
"Apa yang kamu temukan, dimana Bela sekarang?" Tanya David kepada asistennya. David telah memberikan perintah untuk mencari keberadaan Anaknya,
"Mereka menginap di hotel xxx, dan sudah check out, saat ini mereka sedang di bandara, sepertinya Bela akan kembali kesingapura!" Jawab asistennya,
"Lalu bagaimana dengan Agam? dia ikut bersama Bela?" Tanya David kemudian.
"Maaf pak, sepertinya begitu!"
"Aarrgghh.... Sejak kapan mereka kembali bersama?"
David pikir Agam tidak akan pernah menemukan anaknya. David tidak habis pikir mereka masih bisa bertemu, meskipun David sudah mengirim Bela jauh.
"Kenapa pak David tidak memberikan restu saja untuk mereka?" Saran asiatennya yang di jawab dengan bentakan dari David.
__ADS_1
"Diam kamu! kamu tidak akan mengerti karena tidak mengalaminya sendiri!" David benar-benar kesal, bahkan asistennya menyarankan hal yang dibencinya.